Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.16


__ADS_3

Ichal kembali menatap tajam Salsa dan Chika yang masih melongo.


Ichal lalu sigap membuka tali sepatu Hani dan perlahan membuka sepatu dan kaus kaki Hani dengan hati-hati karena Hani terus mengerang.


Ichal terkejut saat melihat kedua telapak kaki Hani benar-benar bengkak dengan warna merah seperti kulit yang terkena iritasi parah.


"I-ini kenapa?" sekarang Ichal ikut tergagap setelah melihat kondisi Hani.


Barsena yang sedari tadi melongo perlahan tersadar karena mendengar Hani terus mengerang. Dia berlari menghampiri Hani dan Ichal.


"Cabe!" teriak Barsena setelah melihat kondisi kaki Hani yang bengkak.


"Apaan sih lu cabe apaan? Buat apa?" teriak Ichal frustrasi saat mendengar Barsena meneriakkan hal yang menurutnya kurang penting.


"Lo campur apa aja di air ini?!" bentak Barsena pada Salsa, membuat Salsa tersentak mengerjapkan matanya karena kaget.


"Gu-gue campur sama air cabe," Salsa benar-benar mati kutu saat dua laki-laki ini membentaknya.


"Siaaaalll! Lo tahu gak seberapa bahayanya ini?!" Barsena terus membentak Salsa sambil mengacak rambutnya frustrasi.


Salsa hanya melongo sambil gemetar.


"Chal, Hani alergi cabe. Ini bahaya banget buat Hani!" pekik Barsena, sekarang orang yang mengetahui tentang Hani di sini hanya Barsena.


Ichal terkejut saat mendengar itu, dia melihat wajah Hani mulai pucat, bibirnya kering dan suara erangannya mulai terdengar serak.


Dengan sigap Ichal memangku Hani dan berlari menuju UKS. Dengan langkah setengah sadar Ichal terus menggendong Hani yang lemas.


Saat di UKS dr.Inne langsung melihat keadaan dua anak muda itu, dia melihat Ichal yang basah kuyup dan Hani yang nyaris kehilangan kesadarannya.


Dia memeriksa kaki Hani yang terlihat semakin merah dan bengkak.


"Kita harus bawa Hani ke rumah sakit Chal, disini tidak ada antibiotik untuk alergi Hani!" ucap dr.Inne dengan suara naik satu oktaf karena ini benar-benar kejadian darurat.


"Siaaal!" Ichal mengumpat setelah mendengar itu, lalu kembali menggendong tubuh Hani yang sekarang benar-benar terkulai lemas hilang kesadaran.


Dia kembali berlari menuju parkiran, beruntung hari ini dia membawa mobil untuk ke sekolah. Dia perlahan menidurkan Hani di kursi belakang, tiba-tiba dokter Inne masuk ke mobil Ichal dan dengan sigap mendudukan Hani.


"Akan sangat bahaya jika menidurkan pasien seperti ini, saluran pernafasannya bisa tersumbat. Akan lebih baik jika didudukkan seperti ini!" ucap Inne.


Ichal langsung melesat mengemudikkan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit. Tangan Ichal bergetar saat mengemudikan mobilnya, dia melirik kondisi Hani dari kaca spion dengan wajah panik.


"Jangan khawatir Hani pasti baik-baik saja! Dia anak yang kuat!" ucap Inne menenangkan kekhawatiran Ichal. Seolah mengerti dengan perasaan yang sedang Ichal rasakan sekarang.


Akhirnya sampai juga di rumah sakit, Ichal kembali menggendong Hani keluar dari mobilnya. Kini kondisi Hani benar-benar parah, Ichal membaringkan Hani di kasur dorong khusus pasien.


Dia mengikuti kemana Hani akan di bawa, saat Ichal akan ikut masuk ke ruangan itu dokter Inne menahan Ichal agar tidak ikut masuk.


"Sampai di sini serahkan pada saya, sekarang lebih baik kamu ganti dulu pakaian kamu Chal!" ucap dokter Inne lalu menutup pintu dan menangani Hani.


Ichal terduduk dengan lunglai, dia begitu cemas dengan apa yang menimpa Hani. Dia bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa secemas ini pada Hani yang menurutnya sangat menyebalkan.


Dia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang, dia terus mondar-mandir di depan pintu ruang IGD. Saat pintu terbuka Ichal langsung menghampiri dokter Inne yang keluar.


"Hani baik-baik saja, sekarang dia sedang tertidur. Kamu boleh melihatnya asalkan ganti pakaian kamu, karena sepertinya baju kamu juga terkena air cabai itu." ucap Inne lalu berjalan meninggalkan Ichal sambil menepuk punggung Ichal yang masih tampak cemas.


Ichal melihat Hani yang terbaring dengan selang infus di tangannya dan selang oksigen yang menutup mulut dan hidungnya. Dia sekarang benar-benar khawatir.

__ADS_1


Ichal berjalan memasuki mall yang tidak jauh dari rumah sakit, dia membeli baju ganti karena tidak ingin pulang karena rumahnya cukup jauh dan akan membuat dia meninggalkan Hani sendirian cukup lama.


Setelah selesai dia kembali ke ruangan tempat Hani di rawat, dia menatap Hani dengan tatapan nanar. Sekilas dia terbayang sosok Laras sahabatnya.


Ichal membenamkan kepalanya ke kasur pasien tempat Hani. Tanpa sadar Ichal meneteskan air mata.


***


Sementara itu Barsena menarik tangan Salsa dengan kasar, dia membawa Salsa ke ruang kepala sekolah untuk melaporkan kejadian itu.


Salsa bersikeras menolak dan mencoba melepaskan genggaman tangan Barsena yang membuat pergelangan tangannya sakit. Sementara Chika mengekor di belakangnya.


"Aww! Sakit Barsena!" keluh Salsa.


"Lo tahu? Sakit lo gak seberapa sama sakitnya Hani sekarang!" bentak Barsena sambil terus menyeret Salsa.


Salsa menyadari tatapan orang-orang yang terlihat senang melihat dirinya diseret seperti ini.


Andri dan Bintan melihat kejadian itu dengan melongo, mereka penasaran apa yang membuat Salsa diseret seperti itu oleh Barsena di depan orang-orang.


"Eh busyeeet itu nenek lampir kenapa diseret kayak koper gitu sama itu bocah?!" ucap Andri terdengar antusias.


"Rasain!" ujar Bintan.


***


"Barsena lepasin gue! Sakit aww!" Salsa terus meringis kesakitan.


Barsena tidak bergeming sedikitpun kali ini dia benar-benar murka dengan Salsa.


"Awww!" Salsa mengerang dengan keras saat Barsena melepaskan genggaman tangan Salsa tepat di depan pintu ruang bimbingan konseling.


"Gue tahu koneksi keluarga kalian kuat, dan kepala sekolah udah pasti punya koneksi kuat sama keluarga kalian makanya gue bawa ke sini setidaknya guru BK bisa kasih hukuman kalian sikat seluruh toilet di sekolah ini!" ketus Barsena.


***


"Hmmmffh!" perlahan Hani membuka kedua bola matanya.


"Isshh!" Hani meringis saat menggerakkan kakinya.


Ichal yang sedari tadi membenamkan kepalanya di samping Hani dengan cepat mengangkat kepalanya.


"Lu udah sadar? Bentar gue panggil dokter dulu!" Ichal bangkit dari duduknya berniat lari keluar memanggil dokter.


"Chal!" ucap Hani dengan lirih.


"Kenapa?!" Ichal masih menampilkan sosok yang dingin di depan Hani, padahal dari tadi dia tidak bisa berhenti menangis karena khawatir pada Hani.


Hani terdiam tanpa kata-kata dia hanya menatap Ichal yang tengah berdiri menunggu jawabannya.


"Oke, tunggu gue panggil dokter dulu." ucap Ichal lalu keluar dari ruangan itu.


***


"Ah, sepertinya alergi kamu benar-benar parah. Pasalnya hanya dengan sedikit air cabai yang kena kaki kamu saja, benar-benar sudah membuat gawat!" ucap dokter yang memeriksa Hani.


Hani hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan dokter. Sesaat kemudian dokter itu meninggalkan ruangan Hani.

__ADS_1


"Chal?" ucap Hani lirih.


"Apa?!" jawab Ichal datar.


"Makasih!" ucap Hani sambil tersenyum lembut.


Degh!


Jantung Ichal berdebar saat melihat bibir tipis Hani yang terlihat kering itu menyunggingkan senyuman yang sangat lembut dan manis.


"O-oh, okee. Gue keluar dulu!" pekik Ichal tergagap.


Dia keluar dengan tergesa-gesa menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di depan pintu.


"Loh? Diaz kamu ngapain disini? Tumben ke rumah sakit bukannya kamu gak mau periksa keadaan kamu ya?" sapa seorang dokter yang melihat Ichal sedang menyender di depan pintu.


Ichal tersentak mendengar seseorang menyebut namanya. Dia kemudian melirik orang itu, "Ah, Dokter Rizky!" gumamnya.


"Ayo ikut ke ruangan saya Chal!" pinta dokter Rizky.


"Saya tidak mau!" ucap Ichal tegas.


"It's okay, Chal! Saya akan tunggu sampai kamu bersedia menemui saya demi kesehatan kamu!" ujar Rizky dengan santai menepuk pundak Ichal lalu kembali berjalan menuju ruangannya.


"Haaaaah!" Ichal menghela nafas panjang saat melihat dokter Rizky mulai menjauh.


***


Hani yang lemah hanya bisa menatap langit-langit kamar rumah sakit, dia akan kesulitan berjalan sampai beberapa hari.


Sekarang dia benar-benar bingung karena ia hanya hidup sendiri tidak ada yang bisa merawatnya saat sakit. Padahal dia mati-matian menghindari cabai yang bisa memicu alerginya kambuh, tapi Salsa dengan mudahnya membuat rencana jahat seperti itu.


Walaupun hanya sedikit yang mengenai kaki Hani tetap saja terjadi luka iritasi parah di sana.


Hani perlahan mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Dia duduk dengan kaki menjuntai di sisi ranjang. Kakinya masih dibungkus perban agar mengurangi terjadinya gesekan permukaan yang terluka dengan selimut.


"Mau kemana lu?" tanya Ichal saat melihat posisi Hani seperti itu.


"Aku mau pulang!" jawab Hani lirih.


"Bahaya! Lu belum boleh pulang!" ujar Ichal tegas.


"Ta-tapi," ucap Hani terpotong karena telunjuk Ichal sudah menempel di bibir tipisnya.


"Syuuuuut! Lu jangan banyak omong! Suara lu tuh bikin pusing tau gak? Udah lu turutin aja biar cepet sembuh! Biar gue juga gak perlu nungguin lu!" Ichal terus mengomel dengan dinginnya.


Hani tersenyum melihat Ichal yang seperti ini. Ichal mencoba seolah tidak peduli dengan Hani padahal Ichal adalah tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


"Kamu gak usah khawatir!" seru Hani lalu tersenyum memandang Ichal.


"HAH? Khawatir? Siapa? Gue? Khawatir sama lu? Jangan mimpi!" hardik Ichal dengan wajah yang memerah.


Hani tersenyum geli melihat reaksi heboh Ichal. Hani turun dari ranjang menginjakkan kaki kanannya perlahan ke lantai. Namun sayang kakinya terlalu lemas tidak kuat menopang bobot tubuhnya sendiri, alhasil tubuhnya lunglai hendak jatuh ke lantai.


Brukkk!


Ichal dengan sigap menahan tubuh Hani yang terkulai lemas.

__ADS_1


"Tuh kan, gue bilang apa? Jangan so kuat deh! Mending lu tidur biar gak nyusahin!" omel Ichal sambil mengangkat tubuh Hani dan kembali membaringkannya di ranjang dan menyelimutinya hingga ke leher.


"Lu tenang aja, gue bakal tunggu lo di sini!" ucap Ichal.


__ADS_2