Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.35 Niat Salsa


__ADS_3

Sinar matahari mengintip di sela tirai kamar Hani dan sedikit menyorot matanya yang semalaman tak bisa terpejam. Otaknya terus memikirkan perkataan Barsena yang tidak dia mengerti.


"Gara-gara kepikiran omongan Barsena, aku jadi makin gak bisa tidur! Akhirnya semaleman aku tetep bangun!" gumam Hani.


"Omong-omong Barsena kenapa sih? Aneh banget!"


"Terus semalem juga dia langsung pergi lagi gitu aja setelah bikin orang kepikiran dan khawatir,"


Hani bangkit lalu bersiap berangkat ke sekolah. Tak disangka Ichal sudah menunggunya di depan rumahnya.


"Kamu kok pagi banget udah disini?" tanya Hani heran.


"Sengaja, biar bisa cepet ketemu kamu," jawab Ichal.


Pipi Hani seketika merona setelah mendengar jawaban Ichal.


"Issshhh, kenapa sih?!" ucap Hani malu.


"Loh, kamu semalem gak tidur?" tanya Ichal sambil mendekatkan wajahnya melihat lingkaran hitam di bawah mata Hani.


"Semalem aku gak bisa tidur sama sekali!" kesal Hani.


"Loh, kok aku malah tidur nyenyak ya? Berarti kompromi kamu sama Laras berhasil dong!" Ichal terkekeh kembali mengingat saat Hani mengunjungi makam Laras.


"Aduh tahu ah! Kayanya sekarang malah aku yang punya masalah susah tidur!" Hani mengerucutkan bibirnya kesal.


"Aduh manis banget sih!" ucap Ichal sambil mengusap pucuk kepala Hani dengan gemas.


"Ih, apaan sih aku bukan anak kecil!"


"Udah ayo masuk!"


"Kamu tidur aja selama di jalan, lumayan 'kan sampe ke sekolah cukup lama juga." ucap Ichal sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Hani.


Tanpa Ichal sadari Hani sudah tertidur.


"Dasar! Bener-bener kaya bocah!" Ichal tersenyum melihat gadis kesayangannya tertidur lelap bahkan sebelum Ichal selesai memasangkan sabuk pengamannya.


Ichal menjalankan mobilnya dengan pelan dan hati-hati seolah sedang membawa telur yang mudah sekali pecah.


Dia takut akan membangunkan Hani sebelum sampai di sekolah.


***


Setelah sampai disekolah cukup lama Ichal malah menatap wajah Hani yang terlelap di mobilnya tak berniat membangunkannya.


"Mmhhh ... udah sampai Ya? Kok kamu gak gak bangunin aku?" gumam Hani sambil mengerjapkan matanya melihat sekeliling.


"Kamu tidur kaya bayi gitu, mana sanggup aku bangunin kamu!"


"Ih, Diaz apaan sih!" ucap Hani malu.


Bagaimana 'pun kemampuan Hani untuk tidur sembarangan tak bisa diragukan lagi, tapi anehnya mengapa bisa Hani semalaman tidak tidur sama sekali.


Bu Rahma sang wali kelas mengabsen satu persatu murid yang hadir.


"Barsena Adilova Utama!"


Cukup lama Rahma berhenti di nama Barsena dan matanya beredar melihat keberadaan siswa yang dimaksud.


"Barsena gak hadir?" tanya Rahma saat tidak melihat keberadaan Barsena.


Siswa dan siswi yang semula tampak tenang 'pun mulai ikut mengedarkan pandangan ke bangku milik Barsena.


Hani berbalik untuk melihat bangku Barsena yang tepat di belakangnya.


"Apa dia sakit ya gara-gara tadi malam hujan-hujanan?" batin Hani.


"Kenapa Han?" tanya Ichal yang melihat Hani terus menatap kursi kosong milik Barsena.

__ADS_1


"Barsena kenapa ya? Dia bukan tipe orang yang bakal bolos sekolah!"


Tanpa sadar pertanyaan itu meluncur dari mulutnya, seketika ekspresi wajah Ichal 'pun berubah.


"E-eh, maksud aku ... aku," ucap Hani terbata saat melihat Ichal kesal.


Ichal tampak tak bergeming dia membenamkan wajahnya ke atas buku pelajaran, tanpa berniat mendengarkan pelajaran yang tengah berlangsung.


Pelajaran pertama usai namun kekesalan Ichal masih tetap sama. Mungkin itu yang dinamakan cemburu, ketika orang yang tersayang malah membicarakan tentang pria lain di hadapannya. Ichal tengah merasakan hal itu, cemburu.


Ichal beranjak dari kursinya dengan dingin, Hani dengan perasaan tak enak mengikuti Ichal di belakangnya. Dengan susah payah Hani berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah panjang Ichal.


"Maafin aku dong, kamu marah?"


Ichal hanya melirik Hani lalu melangkah dengan wajah datar meninggalkan Hani.


"Kenapa sih? Aku 'kan gak salah apa-apa!" Hani bergumam kesal.


Kembali dia menyusul Ichal yang makin menjauh. Ichal berhenti di taman belakang sekolah, lalu duduk di salah satu bangku yang tampak sangat berkarat tak terawat.


"Ayolah Diaz, maafin aku!" rengek Hani dengan nafas tersenggal.


Dengan susah payah Hani berusaha mengatur nafasnya. Dia duduk di samping Ichal yang tampak mendongakan kepalanya ke langit dengan mata terpejam.


"Maafin aku!"


"Kenapa minta maaf?"


"Ahhh ... itu ... tadi aku gak sadar malah omongin Barsena."


"Iya!"


"Tuh 'kan kamu marah!"


"Siapa yang marah?"


Ichal berdiri lalu kembali meninggalkan Hani yang masih berusaha mengatur nafasnya.


Hani kini benar-benar gemas dengan tingkah laku Ichal yang tak biasa.


Sementara itu Barsena menatap nanar sebuah foto yang tak lagi terbingkai. Foto tiga orang yakni Ichal, Laras, dan dirinya saat masih bersama-sama dan tampak bahagia. Tanpa sadar air mata mengalir saat barsena menatap foto itu.


"Ras, aku gak tahu sekarang aku harus gimana?"


Tangis Barsena pecah, hatinya benar-benar hancur saat melihat foto itu. Kenyataan bahwa keluarganya yang membuat Laras bun*h diri adalah hal yang paling membuat perasaan Barsena.


Ayahnya yang telah tega menodai gadis sebaik Laras dan membuat dia mengakhiri hidupnya karena trauma dan depresi.


"Ras, bahkan aku gak pernah bisa nyatain perasaan aku sama kamu Ras. Sebenernya aku suka sama kamu Laras!"


Barsena meraung sambil memeluk foto itu, dia duduk di bawah ranjang lalu memeluk kedua lututnya. Menyedihkan sekali melihat Barsena yang seperti itu, dia benar-benar hancur dan tak tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan.


Kira mengintip dari sela pintu kamar Barsena dengan air mata yang sama-sama berurai. Dia melihat Barsena yang tampak benar-benar menyedihkan.


"Ini semua salah Kira Kak! Kira yang udah bikin Kak Laras jadi gitu," gumam Kira terisak.


***


"Diaaaaaz!!! Ayo dong maafin aku!" teriak Hani saat tak bisa mengikuti langkah Ichal yang benar-benar panjang.


"Lah, kenapa mereka malah kaya bocil sih! Kesel banget gue lihatnya!" gerutu Andri saat melihat Hani dan Ichal yang terus bertingkah seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar karena mainan.


"Lo kesel karena lo jomblo!" sahut Bintan ketus.


"Eh, siapa bilang abang Andri jomblo? Kan ada Yayang Bintan, jadi abang Andri gak jomblo!" jawab Andri menggoda Bintan.


"Jijik banget gue! Ogah!" Bintan bergidik mendengar Andri.


Andri tertawa puas melihat reaksi Bintan dan malah terus menggodanya.

__ADS_1


"Sal, ayolah balik ke kelas! Lo mau sampai kapan liatin kebucinan Ichal sama Hani yang ada lo makin sakit hati!" ucap Chika sambil santai mengupil sambil sesekali menguap menunggu Salsa yang malah asik melihat Ichal dan Hani yang terus bolak balik.


"Gue gak rela Ichal sayang harus sama cewek aneh itu!" ucap Salsa kesal.


"Ya, terus lo mau ngapain? Mau rebut? Yaudah sana!" ucap Chika malas.


"Gue juga gak tahu harus gimana Chika! Huwaaaaa!!!" rengek Salsa sambil memeluk Chika.


Chika menepuk pundak Salsa dengan malas.


Tring!


Sebuah pesan masuk di ponselnya Salsa.


"Siapa nih? Gak ada namanya?" gumam Salsa saat melihat nomor tak dikenal mengirimi pesan padanya.


[Hai, gue Andin. Gue tahu lo lagi patah hati karena cowok yang lo suka malah jadian sama cewek lain yang standarnya jauh dari lo. Dan gue punya cara buat lo bisa rebut dia.]


"Ih, siapa sih so kenal banget?" gumam Salsa.


"Siapa Sal?" Chika penasaran.


"Gak tahu, tiba-tiba kirim pesan kaya gini?"


Salsa memperlihatkan isi pesan yang barusan diterimanya pada Chika yang penasaran.


Tring!


[Gue tahu cewek itu namanya Hani dulu dia juga jadian sama cowok yang gue suka. Kalau lo mau rebut cowok itu dari Hani, pulang sekolah temuin gue di cafe xxx, see you Salsa!]


Salsa menyeringai saat membaca pesan itu, seolah telah benar-benar mendapat angin segar.


"Tunggu aja Hani, sebentar lagi Ichal bakal jadi milik gue!"


"Sal, lo yakin mau ketemu sama orang gak jelas itu? Gue rasa gak perlu deh Sal!" Chika berusaha mencegah Salsa.


"Loh, kenapa? Terserah gue dong! Gue harus bisa rebut Ichal dari cewek aneh itu!"


Sepertinya Salsa benar-benar bertekad dengan seluruh hidupnya untuk merebut Ichal dari Hani. Chika yang mendengar jawaban yakin Salsa hanya menghela nafas malas, pasalnya dia bisa apa untuk melarang kemauan Salsa.


Pulang sekolah Salsa bergegas menemui Andin di sebuah cafe tempat mereka berjanji untuk bertemu.


Salsa menjelajahi setiap sudut cafe itu mencari keberadaan gadis bernama Andin itu. Tepat saat melihat ke meja yang berada di pojok, Salsa melihat seorang gadia melambai padanya. Salsa menyeringai saat meyakini bahwa gadis itu yang bernama Andin.


Andin menyeringai melihat Salsa yang berjalan ke arahnya.


u hardik Andin dalam hati saat pertama kalinya melihat Salsa.


"Hai, gue Andin lo Salsa 'kan?" Andin tersenyum manis saat menyapa Salsa.


Salsa menerima uluran tangan Andin, lalu duduk di kursi dan memesan beberapa kudapan.


"Jadi, cara lo buat rebut cowok lo dari Hani gimana?" Salsa enggan berbasa-basi lagi, dia langsung menanyakan inti dari pertemuan mereka.


"Air mata!" Andin menyeringai.


"Hah! Air mata?!" Salsa tak percaya dengan pendengarannya.


"Iya, lo nangis-nangis depan orang tua lo sambil ancam mau mati. Gue yakin orang tua lo bakal langsung bantu lo!" Andin menjawab pertanyaan Salsa dengan entengnya sambil menyeringai lalu menyedot minuman yang ada di hadapannya.


"Gil*! Gil*! Ini cewek gil*!" batin Salsa ngeri.


"Gue tahu orang tua lo pemilik yayasan 'kan? Justru itu bakal lebih mudah buat lo dapetin cowok yang lo suka!"


"Lo tinggal manfaatin kekuasaan orang tua lo buat neken cewek itu supaya bisa putusin cowok yang lo suka!" Andin lagi-lagi menjawab dengan entengnya sambil menyeringai.


"Oke, saran lo gue terima. Gue balik duluan daaah!" Salsa tergesa-gesa meninggalkan Andin.


"Itu cewek gil* banget! Gue gak mau urusan sama cewek gil* kaya gitu!" gumam Salsa saat memasuki mobilnya.

__ADS_1


"Cih! Cewek lemah kaya gitu, gak bakal pernah dapetin apa-apa!" hardik Andin dengan ekspresi merendahkan melihat Salsa yang mulai menjauh.


__ADS_2