
Ichal melirik Hani, lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Hani membuat Hani kaget dan berdebar di dadanya.
"Ke-kenapa Chal?" tanya Hani gugup saat wajah Ichal makin dekat ke wajahnya.
Kini jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja, refleks Hani memejamkan mata.
"Lu ngapain tutup mata?" tanya Ichal heran.
Hani membelalakan mata saat Ichal bertanya itu.
"Jangan-jangan lu mikir aneh-aneh ya? Berarti emang yang mesum tuh elu ya? Hahaha!" ejek Ichal.
Wajah Hani kembali merona karena malu, ternyata Ichal mendekatkan wajahnya hanya untuk memasangkan sabuk pengaman untuk Hani.
"Gil*! Hani kamu mikir apaan sih?" batin Hani kesal.
***
"Jadi kita mau kemana?" tanya Hani memecah kesunyian di dalam mobil.
"Rumah Laras." jawab Ichal singkat sambil tetap fokus mengemudikkan mobilnya.
"Hah? Kenapa?" tanya Hani heran.
"Bukannya lu penasaran siapa Laras," jawab Ichal.
Hani terdiam lalu melirik Ichal, kali ini Hani benar-benar khawatir jika harus membahas ini lagi. Pasalnya kemarin malam dia baru saja melihat Ichal tak sadarkan diri karena Hani bertanya macam-macam pada Ichal.
"Ka-kamu yakin mau cerita sama aku?" tanya Hani meyakinkan.
"Iya!"
Hani menghela nafas panjang mendengar jawaban singkat Ichal.
Sepanjang perjalanan hanya kesunyian yang menemani kedua insan muda itu, hanya sesekali helaan nafas panjang yang silih berganti keluar dari kedua insan muda itu.
Perlahan mobil Ichal berhenti di depan gerbang rumah mewah yang digembok dan tertulis 'Rumah Ini dijual'.
"I-ini rumah Laras?" tanya Hani penasaran.
Ichal mengangguk lalu mematikan mesin mobilnya. Tanpa keluar dari mobil, Hani meneliti rumah yang tampak sudah lama sekali kosong ditinggal penghuninya.
"Dulu Laras hidup bersama Ayah dan Bundanya di rumah mewah ini dengan segala limpahan kasih sayang dan kebutuhan yang tercukupi dengan baik," Ichal membuka suaranya dengan bergetar.
Hani menatap wajah Ichal dari samping, dia dengan jelas melihat wajah Ichal yang seketika menjadi keruh dan sendu.
"Laras adalah orang baik, polos, dan ceroboh yang dari kecil gue kenal. Gue bersahabat sama dia udah dari kecil karena orang tua gue dan bundanya Laras juga bersahabat," lanjut Ichal dengan nada suara lebih bergetar.
Hani meraih tangan Ichal dan menggenggamnya. "Kalau kamu gak kuat, gak usah cerita Chal! Jangan paksain diri kamu!" lirih Hani.
Ichal menatap wajah Hani lamat-lamat, terdapat perasaan yang tak dapat dijelaskan dalam hatinya saat melihat wajah Hani di sampingnya.
"Menurut lo, kalau lo lompat dari atas sana, bakal sakit gak?" tanya Ichal sambil menunjuk balkon lantai tiga rumah Laras.
Hani tersentak dengan pertanyaan Ichal, matanya mengikuti arah telunjuk Ichal dan melihat balkon rumah mewah itu.
"Ya, sa-sakit lah gimana sih?" jawab Hani terbata.
"Pasti Laras juga waktu itu sakit banget!" tangis Ichal pecah di depan Hani.
__ADS_1
Kali ini Ichal benar-benar tidak mengingat tentang harga diri laki-laki yang menangis, yang jelas dia merasakan luka di dalam hatinya kembali menganga dengan mengingat sahabatnya Laras.
Hani pun ikut berlinang air mata melihat Ichal yang menangis dengan menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan diterusin Chal!" cegah Hani sambil mengelus punggung Ichal yang naik turus seiring dengan isakannya.
Beberapa menit hanya isakan Ichal yang terdengar, Hani benar-benar khawatir dengan Ichal yang ada di sampingnya sekarang.
"Waktu itu, gue yang menyaksikan Laras lompat dari sana," kali ini Ichal meraung sambil tetap menutup wajahnya yang kini benar-benar basar oleh air mata.
Hani benar-benar terkejut mendengar pengakuan Ichal, dia jadi mengerti kenapa Ichal bisa merasakan sakit seperti ini.
"Gue gak bisa cegah Laras buat lompat dari sana," raung Ichal.
Hani melepaskan sabuk pengaman yang melilit dirinya, dia meraih punggung Ichal dan memeluknya dengan erat. Dia mengelus punggung Ichal, tanpa sadar Hani pun ikut meneteskan air mata seolah Hani bisa merasakan luka di hati Ichal.
Sedikit demi sedikit Hani jadi mengerti kenapa Ichal bisa seperti ini. Kehilangan sahabat baiknya saja sudah bisa menjadikkan sebuah kesakitan yang teramat sangat terlebih lagi menyaksikan kematian sahabatnya itu secara langsung dan tragis.
Tentunya ini akan menimbulkan trauma pada Ichal, dan orang yang sekarang dalam pelukan Hani ini hanya menyimpan lukanya sendiri tanpa bisa bercerita pada orang lain.
Hani jadi makin merasa bersalah karena mengungkit trauma Ichal dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu pribadi.
"Maafin aku Chal, aku salah karena terlalu penasaran," sekarang giliran Hani terisak sambil memeluk Ichal.
Beberapa saat hanya keheningan di dalam mobil sport mewah itu. Perlahan Hani mengurai pelukannya dengan Ichal, dia melihat Ichal tengah sibuk menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Aduh! Gue kelilipan apaan sih?" ujar Ichal sambil sibuk menghapus air matanya.
Hani tersenyum mendengar Ichal, kini Hani kembali melihat Ichal yang so kuat dan datar di sampingnya. Dan entah kenapa melihat Ichal yang seperti ini perasaan Hani jadi terasa tenang.
"Ayo jadi sekarang kita mau jalan kemana lagi Chal?" tanya Hani dengan senyum.
Hani sengaja menelan pertanyaan tentang sebab Laras lompat dari sana, karena menurutnya pertanyaan itu benar-benar akan membuat luka Ichal kembali terbuka.
"Aku udah ngerti garis besarnya, pokonya ayo jalan lagi!" ujar Hani sambil memasang kembali sabuk pengamannya.
Dia sengaja cepat-cepat mengajak Ichal pergi dari tempat itu karena menurut Hani tempat ini kurang baik bagi mental Ichal karena traumanya.
Ichal kembali menjalankan mobilnya dengan perlahan. Hani melirik Ichal yang sedang fokus melihat jalan sambil mengemudikan mobilnya.
Selintas terulas senyum di bibir tipis Hani.
Mobil Ichal kembali berhenti di sebuah jembatan yang sangat tinggi. Hani tersentak saat menyadari jembatan ini adalah tempat pertama dia bertemu dengan Ichal karena kesalahpahaman. Saat itu Ichal mengira Hani akan melompat dari jembatan itu.
"Ke-kenapa kita ke sini?" tanya Hani terbata saat ingatan masa lalu saat bertemu dengan Ichal untuk pertama kalinya kembali terlintas di benaknya.
"Waktu itu, gue lihat lu di sisi pagar jembatan itu," ucap Ichal sambil menujuk pagar jembatan yang terlihat sangat berkarat.
"Iya, dan kamu nyangka aku mau lompat dari sana! Hah, gil*!" ujar Hani sambil menghela nafas.
"Waktu itu, gue gak pikir panjang dan nyangka lu bakal lompat dari sana. Sekilas yang gue bener-bener inget adalah kejadian Laras, dan gue gak mau kejadian orang lompat depan gue kejadian lagi!" ungkap Ichal sambil menatap Hani.
"Ya, tapi kan aku gak ada niat buat mat* lompat di sana," elak Hani.
"Iya gue tahu, buktinya lu sekarang bisa ada depan gue!" ucap Ichal sambil menatap wajah Hani.
Deg!
Hani merasakan debaran di dadanya saat bertatapan dengan Ichal.
__ADS_1
"Aduh! Panas banget nih di sini ayo jalan lagi!" pekik Hani salah tingkah sambil mengipaskan tangannya ke wajahnya. Ichal hanya tersenyum tipis saat melihat reaksi heboh Hani.
"Panas apaan sih, orang mobil ini pake AC!" ucap Ichal terkekeh sambil kembali melajukan mobilnya.
Wajah Hani sekarang semakin memerah karena ucapan Ichal itu, dia makin malu karena reaksi bodohnya.
***
Kini mobil Ichal melaju di jalan yang ramai oleh pengendara lain.
"Di sana gue dulu pertama kali bertemu Barsena," suara Ichal memecah kesunyian.
Untuk kesekian kalinya Hani tersentak oleh ucapan Ichal yang tiba-tiba. Dia melirik telunjuk Ichal yang menunjuk trotoar jalan.
"Di sana gue pertama kali lihat kondisi Barsena yang mencemaskan, waktu itu umur gue sekitar delapan tahun. Laras yang mengajak Barsena buat temenan sama kita, dan akhirnya kita berteman," ungkap Ichal dengan tatapan nanar.
"Setelah Laras pergi, gue sama Barsena gak pernah ketemu lagi dan baru saat dia pindah sekolah gue ketemu lagi sama dia. Dan ternyata dia mantan lu!" ucap Ichal penuh penekanan seolah ada rasa kesal di balik ucapannya itu.
Hani tertunduk saat mendengar ucapan Ichal.
"Aku putus karena Barsena di jodohin," lirih Hani.
"Padahal Barsena adalah cinta pertama aku." ucap Hani sambil tertawa hambar.
Ichal melirik Hani yang tertunduk. "Makanya gue bilang kalau Barsena itu br*ngs*k!" umpat Ichal.
***
Kini mobil Ichal berhenti di sebuah kafe, Ichal turun dan membukakan pintu mobil untuk Hani. Walaupun sikapnya datar ternyata ada sisi manis pada sikap Ichal.
Hani turun sambil menyampirkan tas di pundaknya. Dia melirik mata Ichal yang sembab karena terlalu banyak menangis.
"Kelilipan apaan sih sampai sembab gitu?" ucap Hani dengan nada mengejek.
Wajah Ichal merona saat mendengar itu.
"Gil*! Gue mikir apaan sih sampe nangis depan dia!" batin Ichal.
Mereka melangkah memasuki kafe itu, dan memesan beberapa makanan.
"Chal, kalau boleh tahu ayah sama bundanya Laras pindah kemana ya?" tanya Hani ragu-ragu, tapi dia terlalu penasaran sampai tak sadar pertanyaan itu meluncur dari mulutnya.
"Gue gak tahu, sepeninggal Laras mereka seperti sengaja menghilang dari dunia," jawab Ichal.
Hani mengangguk mendengar jawaban Ichal, sambil memasukan makanan ke mulutnya.
"Sumpah ya, lu tuh cewek kalau makan tuh yang rapi dikit lah!" omel Ichal saat melihat ada saus di bibir manis Hani.
"Kenapa sih? Protes mulu!" keluh Hani.
Ichal meraih tisu lalu menghapus noda saus itu dengan lembut. Waktu seolah berhenti berputar saat wajah mereka kembali dekat seolah tanpa jarak.
"Aduh kenapa sih? Suka tiba-tiba deket gini!" keluh Hani frustrasi.
Ichal tersenyum sambil mengelus rambut Hani dan menyelipkan di telinganya, membuat Hani kembali berdebar karenanya.
"Ih, Ichal kenapa sih! Bikin orang salah paham aja!" batin Hani kesal.
"Kenapa rambutnya gak diiket sih, jorok tahu kena makanan!" keluh Ichal sembarangan, padahal dia tak kuasa melihat wajah Hani yang terlihat lebih cantik dengan rambutnya yang tergerai.
__ADS_1
"Terserah aku dong! Rambut-rambut aku!" ketus Hani sambil kembali melahap makanan di depannya.
"Dasar aneh!" gumam Ichal.