Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.57 Penjelasan 2


__ADS_3

Hani mengikuti langkah Srindra dengan ragu-ragu. Hingga akhirnya sampai di depan pintu sebuah kamar yang cukup tak asing untuk Hani karena saat menginap beberapa waktu yang lalu, Hani tidur di kamar itu. Kamar yang kata Srindra adalah kamar milik Laras, yang segala sesuatu yang terdapat di dalam ruangan itu didekorasi dan ditempatkan semirip mungkin dengan kamar Laras yang dahulu.


"Ini kamar Laras." Ucap Srindra memecah keheningan.


Hani menatap Srindra yang mulai berubah air mukanya. Ada garis kesedihan terlambat jelas di wajahnya.


"Laras, kakak kamu, Hani Sayang," ucap Srindra.


Hani terus menatap Srindra, ada getaran di hatinya saat mendengar itu. Walaupun ada sedikit rasa ragu dalam hatinya, Hani tetap ingin mendengarkan semua cerita Srindra.


"Bunda gak tahan, sekarang sudah saatnya kamu tahu semuanya."


Srindra menarik tangan Hani dan kembali membawanya ke ruangan Srindra. Dia berhenti tepat di depan pintu yang tadi membuat Hani penasaran. Srindra membuka laci di meja kerjanya, dan mengeluarkan sebuah kunci. Hani masih mematung memperhatikan orang tua itu sibuk membuka pintu, hingga akhirnya pintu terbuka dan Srindra mengajak Hani masuk.


Srindra menekan saklar lampu, hingga ruangan yang semula gelap gulita itu menjadi terang benderang. Hani mematung saat melihat isi dari ruangan itu.


Jantungnya berdebar kencang tatkala melihat semua foto yang terpasang di dinding ruangan itu. Tanpa sadar air matanya jatuh, entah mengapa dada Hani terasa begitu sesak.


"Itu, foto Adamar dan Marwah, Papah dan Mamah kamu," ucap Srindra. Suaranya terdengar lebih bergetar dari sebelumnya.


Srindra menunjuk sebuah foto dengan ukuran sangat besar tergantung di dinding. Seorang laki-laki yang terlihat gagah dan tampan dengan setelan rapi berjas, dengan seorang perempuan cantik dengan gaun putih yang tampak indah sekali.


"Foto itu diambil sebelum kalian lahir. Itu foto pernikahan mereka," ungkap Srindra.


Lagi-lagi itu membuat hati Hani berdesir, tubuhnya bergetar, air matanya lagi-lagi menetes. Dia terus menatap foto itu, terlihat bahagia sekali kedua orang di foto itu.


Hani beralih ke foto lainnya. Dia tersenyum getir melihat seorang gadis kecil berumur sekitar dua tahunan sedang menatap seorang bayi yang tampak baru dilahirkan, karena bayi tersebut masih berada dalam inkubator.


Srindra melirik Hani, hatinya 'pun ikut sakit menyaksikan Hani melihat semua benda kenangan orang-orang terkasihnya.


"Itu, foto Laras. Dia bahagia sekali saat tahu adiknya telah lahir. Bayi itu kamu, Hani." Ucapan Srindra lagi-lagi terdengar bergetar.


Hani meraih foto itu, dia mengusap lembut lalu memeluknya. Hatinya sakit benar-benar sakit. Kenyataan yang benar-benar tak bernah terpikirkan sebelumnya ternyata begitu rumit dan menyesakan hati.


Hani melihat-lihat lagi, ada foto satu keluarga. Ada Adamar, Marwah, Laras kecil, dan Hani bayi. Terlihat senyuman bahagia pada foto itu. Bahkan, Hani yang melihat foto itu 'pun ikut tersenyum.


"Ini, foto kapan, Bunda?" Tanya Hani sambil menunjuk foto itu.


Srindra terdiam cukup lama, dia kembali mengingat-ingat foto itu.


"Foto ini diambil sebelum kamu diberikan pada Sundari," ucap Srindra.


"Nenek?" tanya Hani.


Srindra mengangguk. "Iya, wanita yang kamu sebut, Nenek," jawabnya.


"Tapi kenapa aku malah diberikan pada orang lain? Apakah kelahiran aku, memang tidak diharapkan?" lirih Hani.


"Tidak! Bukan seperti itu, Sayang!" sanggah Srindra.


Srindra benar-benar terkejut dengan anggapan Hani.


"Tidak ada sedikitpun rasa tidak bahagia setelah kamu lahir, kami benar-benar merasakan sukacita dan kebahagiaan yang teramat besar," lirih Srindara. Dia mengelus kepala Hani dengan lembut.


"Lalu kenapa, aku malah diberikan pada orang lain, Bunda?" lirih Hani.


"Karena, foto ini juga diambil sebelum kecelakaan mobil menimpa kedua orang tua kamu. Orang tua kamu, mau kamu selamat, saat itu jalan satu-satunya adalah dengan membiarkan Sundari merawat kamu. Kedua orang tua kamu sudah tahu, bahwa nyawa mereka sudah terancam, oleh orang-orang biadab yang mengincar perusahaan ayahmu." Ungkap Srindra dengan terisak. Batinnya hancur jika harus mengingat kejadian itu.


Begitupun Hani, setelah mendengar itu tubuhnya seakan menjadi lemas, tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Si-siapa, orang-orang itu?"


"Surya Pratama dan Joko Gunawan," tegas Srindra.


"Ya Tuhan." Hani menangis sejadi-jadinya.


Hatinya sakit, benar-benar sakit. Apa yang sudah diperbuat ayahnya sehingga kejadian mengerikan itu menimpanya, kira-kira itulah yang sekarang memenuhi pikiran Hani.


Ichal bersandar di pintu ruangan Srindra, dia dengan jelas bisa mendengar suara isak tangis Hani. Hatinya 'pun ikut hancur mendengar tangisan pilu Hani.


"Kamu, kuat, Han!" batinnya.


Srindra memeluk erat Hani yang tengah menangis, dia mengelus kepala Hani untuk menenangkan Hani.


"Bunda," lirih Hani.


"Iya, Sayang,"


"Ceritakan bagaimana saat aku lahir, bagaimana bahagianya mereka," lirih Hani.


Srindra mengangguk, dia mulai menceritakan semuanya dari awal. Hani masih dalam pelukan Srindra.


***


Delapan belas tahun yang lalu ....


"Oeeeee ... oeeeee ... oeeeee ...."


Suara tangisan bayi terdengar hingga ke luar ruangan bersalin. Semua orang yang menunggu dengan wajah tegang perlahan mulai saling tersenyum lega.


"Syukurlah," gumam seorang pria yang tampak lebih tegang dari orang lain yang juga ikut menunggunya.


"Terima kasih, Kak. Sekarang aku bisa merasa lega," ungkap Adamar.


Seorang dokter keluar dan menghampiri orang-orang yang menunggu kelahiran itu.


"Selamat, Pak. Bayi anda perempuan cantik sekali, lahir dengan sehat tanpa kurang suatu apapun." Ucap Dokter itu dengan senyum.


"Syukurlah! Terima kasih, Dok!"


Tak lama kemudian wanita yang sudah berjuang melahirkan bayi itu pun dibawa keluar, dia hendak dipindahkan ke ruang inap. Lalu tak lama kemudian menyusul, seorang bayi yang masih berada dalam inkubator ikut dibawa keluar juga.


"Laras, lihat, Nak. Itu adik kamu," ucap Adamar. Dia menggendong gadis kecil, bernama Laras dan menunjuk pada inkubator berisi bayi itu.


Gadis kecil itu pun ikut tersenyum, dia bertepuk tangan kegirangan melihat makhluk kecil imut yang katanya adiknya itu.


"Terima kasih, Sayang." Adamar mengecup kening isterinya.


Beribu-ribu syukur dia ucapkan pada Tuhan dan beribu-ribu ucapan terima kasih dia ucapkan pada isterinya yang sudah berjuang.


"Mana bayi kita, Mas?"


Suara wanita itu terdengar lemah sekali, namun wajah bahagianya tak dapat disembunyikan.


"Sebentar, Mas akan minta perawat untuk membawa bayi kita." Ucap Adamar lalu keluar dari ruangan itu.


Beberapa saat kemudian seorang perawat membawa bayi itu.


"Waaah, cantik sekali. Persis seperti kamu, Marwah," pekik Srindra.

__ADS_1


Wanita bernama Marwah itu tersenyum lembut. Dia meminta untuk menggendong anaknya. Perawat itu mengeluarkan bayi itu dan menyerahkan ada Marwah.


"Akan kamu beri nama apa, anakmu ini?" tanya Srindra.


"Hani, namanya, Hani," jawab Adamar. Dia tersenyum menatap bayi yang ada di pelukan Marwah isterinya.


"Foto dulu, yuk," ajak Srindra. Dia menyerhakan kamera pada asitennya untuk memotret mereka bersama.


"Laras, lihat! Itu Hani, ayo tenang. Papah akan foto kamu." Adamar terus sibuk mengarahkan Laras kecil agar mau di foto bersama Hani bayi.


Marwah hanya sesekali tersenyum melihat tingkah suaminya yang begitu heboh mengarahkan Laras agar mau menghadap ke kamera tapi nihil, Laras malah terus menatap Hani yang berada dalam inkubator.


"Sudahlah, Mas. Kamu jangan memaksa Laras, lihat dia bahagia sekali sudah mempunyai adik!" ucap Marwah.


Laras kecil terus menatap adiknya. Adamar menghampiri Marwah lalu mengecup keningnya lembut. Mereka berdua tersenyum menatap kedua puteri mereka.


Seminggu kemudian ....


Marwah tengah sibuk di dapur bersama dua orang asisten rumah tangganya, sementara Adamar akan pergi bekerja.


"Joko, tolong siapkan berkas yang saya perlukan untuk rapat siang ini!" perintah Adamar pada seseorang di seberang telepon lalu kembali memutus sambungan telepon.


"Mas, sarapan dulu!"


Suara Marwah terdengar setengah berteriak dari ruang makan, Adamar tersenyum saat mendengar suara melengking isterinya itu. Melengking namun membuat hatinta damai.


"Pelan-pelan, Sayang. Mas, bisa denger kamu, kok!" ucap Adamar.


Dia memeluk pinggang ramping isterinya dengan lembut membuat Marwah sedikit berontak karena malu diperhatikan oleh asisten rumah tangga yang sedari tadi membantunya memasak sarapan.


"Mas, ih. Malu!" pekik Marwah.


"Mas, sangat bahagia. Terima kasih, Isteriku!" bisik Adamar.


Marwah tersenyum lembut. Namun, adegan romantis itu harus terpotong saat suara tangisan bayi terdengar dari kamar. Marwah langsung bergegas menghampiri, Hani bayi tengah menangis di keranjang bayi ada Laras kecil juga berdiri di sana.


"Cup ... cup ... anak mamah,"


Marwah langsung menggendong Hani dan menenangkannya di pelukannya. Tangisan itu langsung hilang, Hani langsung diam. Marwah lagi-lagi tersenyum.


"Ayo, Laras, sarapan dulu!" ajak Marawah.


Dengan Hani di pangkuannya, dia menuntun tangan Laras agar mau mengikutinya ke ruang makan.


***


"Joko, saya 'kan sudah bilang, agar kamu menyiapkan berkas untuk rapat saya siang ini!" ujar Adamar.


Ada kekesalan yang terlukis di raut wajah Adamar saat mendapati sekretarisnya tidak melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan.


"Maafkan saya, Pak. Saya belum sempat mengerjakan apa yang, Bap—,"


"Alasan terus, kalau kinerja kamu terus seperti ini, akan sangat sulit bagi saya untuk terus mempekerjakan kamu!"


"Tapi, Pak. Sa—,"


"Keluar!" bentak Adamar.


Adamar benar-benar murka dengan sekretarisnya. Bukan sekali, dua kali dia gagal melaksanakan tugas. Namun, sudah berkali-kali hingga bosan rasanya Adamar mendengar alasan dia.

__ADS_1


Joko Gunawan namanya, sekretaris yang dia pekerjakan satu tahun lalu.


__ADS_2