
Jam istirahat sudah tiba, Barsena berjalan melewati bangku Hani dan Ichal hendak keluar kelas. Namun saat tepat di depan pintu Barsena kembali berputar dan menyelipkan secarik kertas di sikut Ichal yang sedang membungkuk di mejanya.
Barsena lalu kembali melenggang keluar. Ichal yang menyadari ada sesuatu yang mengganjal sikutnya, mengangkat kepalanya dia mengambil kertas itu lalu membukanya.
"Gue tunggu lo di belakang sekolah!"
Tertulis kalimat itu. Ichal menghela nafas panjang saat membaca tulisan itu walaupun dia tidak melihat siapa yang menyimpan kertas itu, tapi dia tahu dengan pasti siapa yang menyimpan kertas itu.
"Barsena!" gumam Ichal lalu bangkit dari kursinya.
Dia langsung berjalan santai ke luar kelas.
"Woy! Nyet lu mau kemana?" Andri bertanya dengan berteriak saat melihat Ichal menjauh dari pintu kelasnya.
"Lah? Dasar! Kenapa lagi tuh bocah?" Andri menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang punya sifat seperti itu.
"Temen lo itu emang punya kecendrungan gak mau dengerin orang ngomong ya?" tanya Bintan yang juga melihat Ichal melenggang keluar tanpa mendengar Andri.
"Waah ... tumben bebeb Bintan nanya-nanya abang Andri! mata Andri berbinar saat mendengar Bintan berbicara padanya.
"Ih dasar kutu air nyebelin!" umpat Bintan.
"Han, ke kantin yuk!" ajak Bintan.
"Eh, mending Bintan bareng bang Andri aja," ucap Hani menggoda Bintan sambil terkikik.
"Ih ... ogah banget!" Bintan bergidik sambil melirik Andri yang nyengir di sampingnya.
Bintan bangkit dari kursinya lalu menarik tangan Hani memaksanya agar ikut ke kantin. Hani dengan pasrah mengikuti kemauan Bintan.
***
"Ternyata beneran lu," ucap Ichal dingin, dia sudah berada di belakang sekolah, melihat Barsena yang sedang menyender di tembok.
"Ngapain manggil gue?" tanya Ichal masih dengan nada datar dan dingin.
"Lo gak banyak berubah ya Chal," Barsena menatap wajah datar Ichal dengan sedikit menyunggingkan senyuman.
"Kenapa lo manggil gue?!" Ichal kembali bertanya.
Barsena tersenyum, "Gue cuma iri sama lo!" ucapnya.
"Hah? Iri?" Ichal memastikan pendengarannya tidak salah. Pasalnya pemuda berotak sempurna yang ada di hadapannya ini merasa iri padanya.
"Dulu maupun sekarang, lo selalu bisa akrab sama orang-orang yang baik dan punya orang-orang baik di sekeliling lo!" Barsena tersenyum getir.
"Maksud lu apaan sih b*ngs*t otak gue gak nyampe sama omongan so pinter lu!" bentak Ichal.
"Maksud gue Laras sama Hani," ucap Barsena lirih.
Grepp!
Ichal menarik kerah Barsena dengan mata yang membulat.
"Lu masih berani sebut nama Laras dengan mulut lu itu? Gak tahu malu!" Ichal benar-benar murka.
"Maksud lo apa? Emang gue gak boleh sebut nama Laras?!" Barsena balas menarik kerah baju Ichal.
__ADS_1
"Asal lu tahu Laras meninggal karena ...," Ichal menghentikan kalimatnya dengan bibir gemetar.
"Kenapa? Laras kenapa? Lo kalau ngomong tuh sampai beres jangan setengah-setengah!" Barsena muak dengan Ichal yang tidak membereskan ucapannya.
"Aaarrrrgghhh!!!" Ichal mengerang sambil melepaskan kerah Barsena dengan kasar, dia mengacak rambutnya frustrasi.
"Kenapa Chal? Laras kenapa?" Barsena terus menuntut sebagian kalimat Ichal yang terpotong.
"Lu masih baik-baik aja setelah Laras pergi? Luar biasa Barsena!" Ichal tersenyum getir lalu meninggalkan Barsena yang mempunyai jutaan pertanyaan.
Ichal berjalan beberapa langkah lalu berhenti sejenak dan membalikkan badannya.
"Lu juga sama Barsena dulu maupun sekarang lu selalu dicintai orang-orang yang baik!" Ichal lalu kembali berjalan dengan kedua tangan masuk ke saku celananya.
Barsena yang mendengar itu merasa bingung. "Dulu maupun sekarang? Maksud lu apa?!" teriak Barsena.
Ichal terus melenggang pergi, beberapa saat lalu dia terlihat kuat dan baik-baik saja saat berhadapan dengan Barsena namun seiring dengan langkahnya dia mulai merasakan sesak di dadanya.
Dia terduduk di bawah pohon sambil memejamkan matanya mencoba mengurangi rasa sesak di dadanya dia bahkan menepuk-nepuk dadanya dengan brutal.
"Haaah ... haaah ... haaaah!!!" berulang kali Ichal mengambil nafas panjang mencoba mengurangi rasa sesak di dadanya.
Makin lama nafasnya makin terasa berat, dengan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya. Dia dengan gemetar merogoh sesuatu di saku celananya. Ternyata sebotol kecil obat penenang atau obat pereda rasa nyeri, dengan tangan gemetar dia mengeluarkan beberapa butir lalu menelannya tanpa bantuan air.
Beberapa saat kemudian nafasnya mulai tenang dan berangsur kembali normal. Ichal lalu menatap langit siang ini yang terasa sangat panas hingga membuat Ichal bermandikan keringat di bawah pohon rindang itu.
Angin sepoy-sepoy menyapu rambut pendek Ichal. Dia meletakkan punggung tangannya di dahinya dengan mata terpejam. Sesaat yang lalu dia baru merasakan sakit di rongga dadanya.
"Haaaaah ... Laras!" Ichal terus menggumam disela helaan nafas panjangnya.
***
Dia kembali teringat dengan kebiasaan buruk Ichal yang seenaknya. Kemudian penasaran dengan hubungan Ichal, Barsena, dan seseorang bernama Laras. Hani menghela nafas panjang sambil mengunyah makanannya dengan tatapan kosong.
"Kenapa Han?" tanya Bintan yang heran.
Hani masih terus mengunyah makanannya dengan tatapan kosong dia tidak menyadari Bintan yang berkali-kali bertanya padanya.
"Hani?!" Bintan menggoyangkan pundak Hani mencoba menyadarkan Hani dari lamunannya.
"A-ah ke-kenapa Tan?" Hani tersentak.
"Justru aku yang harus nanya itu sama kamu, kamu kenapa dari tadi melongo aja?" ujar Bintan.
"Gak papa kok, cuma ada beberapa hal aja yang ganggu pikiran aku!" ungkap Hani.
"Kenapa? Cerita dong!"
"A-ah gak penting ko hehe!"
"Aaah ... gak seru nih kamu mah punya rahasia!" Bintan mengerucutkan bibirnya.
"Aahh ... ummm ... Tan aku ke wc dulu ya, kamu kalau mau ke kelas duluan boleh kok!" Hani lalu beranjak dari kursinya dengan tergesa.
***
Hani keluar dari toilet dengan terus melamun, dia berjalan dengan tatapan kosong. Tanpa Hani sadari di tikungan menuju tangga ke kelasnya Salsa dan Chika tengah bersiap dengan satu ember air yang sudah di campur dengan segala sesuatu sehingga membuat bau air itu benar-benar tidak enak.
__ADS_1
Salsa berniat menumpahkan air itu kepada Hani saat Hani berbelok menuju tangga ke kelasnya. Hani yang tidak menyadari bahaya tetap berjalan dengan tatapan kosong, otaknya dipenuhi dengan pertanyaan ini dan itu.
Barsena yang sedang berjalan di seberang lapangan bisa melihat Salsa dan Chika yang memegang ember air dengan jelas. Awalnya dia tidak peduli dengan kelakuan aneh dua orang itu, tapi saat melihat Hani yang berjalan menuju ke arah mereka Barsena menjadi benar-benar panik.
Dia melompati tembok pembatas koridor dan berlari ke tengah lapangan yang di penuhi anak-anak lain yang sedang bermain basket saat jam istirahat. Dia menabrak siapapun yang menghalanginya, namun jaraknya terlalu jauh untuk menahan Hani agar jangan melewati tangga itu.
Dia terus berusaha berlari sekuat tenaga, namun Hani tinggal beberapa langkah lagi akan berbelok.
"Haniiiiiii?!" Barsena berteriak sambil berlari menabrak semua yang menghalanginya.
Hani menghentikan langkahnya melirik pelan Barsena yang berlari ke arahnya dengan tatapan kosong.
Byuuurrrrr!
Suara air yang menyembur dari ember terdengar sangat nyaring walaupun suasana sangat ramai tapi suara air itu masih terdengar sangat jelas, sesaat Salsa dan Chika bisa tersenyum puas.
Braakkk!
Salsa tanpa sadar menjatuhkan ember yang dipegangnya wajahnya melongo saat dia sadar telah menyiram seseorang yang bukan Hani.
Dia melihat punggung sesorang yang terlihat tidak asing di matanya. Punggung itu terlihat melengkung seolah melindungi sesuatu dipelukannya.
"Haa ... I-ichal!" Salsa menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.
Ternyata Ichal yang entah datang dari mana telah melindungi Hani dari semburan air bau itu. Lalu Barsena?
Ternyata Barsena tengah berdiri di depan mereka dengan wajah yang juga melongo. Dia telat beberapa langkah tapi beruntung Ichal bisa sigap menjadikkan tubuhnya tameng pelindung Hani.
Hani tersadar dari lamunannya, dia melihat genangan air yang membasahi sepatunya.
"A-air?" gumam Hani heran sambil tetap dalam dekapan Ichal.
"Lu gak papa?" suara Ichal berbisik terdengar lembut dan merdu di telinga Hani nyaris membuat Hani serangan jantung karena degup Jantungnya mendadak tidak normal.
Hani hanya menggeleng pelan saat mendengar bisikan Ichal. Dia tak kuasa mengeluarkan suara, tenggorokkannya tercekat tak bisa mengeluarkan suara.
Ichal masih mendekap Hani dalam pelukannya seolah dia takut kehilangan Hani. Seluruh badan bagian belakang Ichal basah karena semburan itu dan terasa dingin, namun anehnya badan bagian depan yang mendekap Hani terasa sangat panas.
Dia mulai merasakan degup jantungnya tidak normal, jantungnya terus berdebar. Hani 'pun merasakan hal yang sama. Perlahan Ichal mengurai pelukannya dan memastikkan Hani tidak terkena air bau itu. Setelah yakin Hani baik-baik saja, Ichal berbalik menatap Salsa yang masih melongo karena kejadian tak terduga barusan.
"So-sorry Chal a-aku gak se-sengaja!" Salsa bergetar hebat menyadari tatapan tajam Ichal yang mengintimidasi.
"Gak sengaja?!" bentak Ichal, sekarang dia benar-benar marah.
"Keterlaluan Sal, tahu gak ini tuh ba--"
"Aduh!" Hani mengerang sambil terduduk di tembok pembatas koridor. Dia merasakan nyeri di kedua telapak kakinya.
Ichal yang belum menyelesaikan ucapannya pada Salsa langsung berbalik menghampiri Hani yang hampir menangis karena sakit di telapak kakinya.
"Sa-sakit!" Hani terus mengerang.
Ichal yang melihat ekspresi Hani langsung panik.
"Ke-kenapa? Lu kenapa?" Ichal benar-benar panik.
"Panas ... perih ... sa-sakit Chal aduuuh!" ucapan Hani tersenggal karena menahan sakit.
__ADS_1
Ichal benar benar panik.