Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.14


__ADS_3

"Kenapa sih kalian selalu nangis kalau udah urusan sama bocah b*ngs*t itu?" Ichal terus mengumpat dalam hati sambil mengulurkan tisu pada Hani. Dia sekilas teringat sosok Laras sahabatnya saat melihat Hani terisak di depannya.


***


Waktu istirahat pun berakhir, Ichal dan Hani bergegas menuju kelas. Dia berjalan bersama-sama dengan santainya, Hani sekarang benar-benar memutuskan untuk menjadi kepala batu dan tidak menghiraukan tanggapan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan iri dan dengki karena dia berjalan bersama Ichal.


Pak Akbar yang akan melanjutkan pelajarannya yang sudah terpotong waktu istirahat sudah berada di kelas. Dia menggenggam hasil kuis dadakan tadi yang sudah siap diumumkan pada anak murid di depannya.


"Bapak kali ini cukup takjub sekaligus senang, karena ada satu orang yang bisa mendapat nilai seratus di kelas ini! Padahal selama bapak mengajar di kelas ini paling nilai terbesar tidak sampai angka 8." jelas pak Akbar dengan senyum semringah.


"HAH?! Gil* seratus?" Andri berteriak karena kaget saat mendengar ucapan pak Akbar.


"Siapa pak?!" tanya Andri penasaran.


"Yang pasti bukan kamu!" jawab pak Akbar sambil tertawa. Membuat semua murid juga ikut tertawa mengejek Andri.


"Ya elah pak! Saya juga sadar otak saya yang kecil ini mana mungkin bisa jawab angka yang bapak bikin!" Andri menggerutu mendengar jawaban mengejek pak Akbar.


"Baik saya akan menyebutkan siapa yang dapat seratus di kelas ini. Orang pertama yang lembar jawabannya bapak baca berarti dia orangnya!" ucap pak Akbar sambil memisahkan satu lembar kertas.


"Jadi ... orang yang dapat nilai seratus adalah ...," pak Akbar sengaja menahan kata-katanya untuk membuat murid penasaran. Dan benar saja semua mata muridnya membulat menahan rasa penasaran.


"Aduuuuh! Lama banget sih, Pak. Tinggal bilang aja kan, Salsa yang dapet nilai seratus! Gitu aja ko susah amat sih!" ujar Salsa sambil mengibaskan rambutnya penuh dengan percaya diri.


"Huuuuuh pede banget sih jadi orang! Siapa tau kan malah gue yang dapet hahaha!" hardik Andri sambil tertawa saat mendengar Salsa berbicara dengan pede-nya.


"Hani Putri Amelia!" ucap pak Akbar membuat semua orang melongo setelah mendengar itu.


Termasuk yang punya nama juga ikut tersentak saat mendengar namanya di sebut.


"Sa-saya pak?!" Hani mengangkat tangannya ragu-ragu.


"Nah iya kamu! Ayo ke depan!" perintah pak Akbar.


Hani berjalan dengan ragu-ragu sambil merasakan tatapan yang menusuk dari Salsa.


"Wahahaha ... beneran kan lu tuh jangan kepedean Sal! Malu sendiri kan!" Andri mencibir Salsa yang tadi sangat percaya diri merasa dirinya yang akan dapat nilai seratus.


Salsa yang mendengar itu hanya mampu menahan emosi dan malu sambil mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.


"Sabar Sal! Si Andri emang ngeselin!" ucap Chika mencoba menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat kesal.


"Nah sudah anak-anak! Kalian harus bisa meniru Hani. Padahal soal yang bapak kasih cukup mudah kenapa hanya Hani yang bisa menyelesaikan soalnya tanpa kesalahan sedikitpun." ujar pak Akbar sambil memberikan kertas hasil kuis pada Hani.


Hani kembali ke kursinya, sesaat dia melirik Barsena yang tersenyum padanya.


"Diaz Angga Ananta!" pak Akbar kembali menyebut sebuah nama. Membuat sang empunya nama tersentak saat mendengarnya.


"Saya kenapa pak?!" Ichal bertanya dengan kaget saat mendengar namanya disebut.


"Kamu harus belajar banyak dari Hani, karena nilai kamu paling jelek di kelas ini bahkan lebih jelek dari Andri!" pak Akbar membicarakan hal itu dengan entengnya tanpa memikirkan perasaan malu yang di tanggung Ichal.


"Wahaha ... gue kira lu dapet nilai terbesar kedua setelah Hani, ternyata lebih parah dari gue hahaha!" Andri mengejek Ichal sahabatnya yang mendapat nilai jelek.


"Diem lu nyet!" bentak Ichal kesal.


"Barsena Adilova Utama!" pak Akbar kembali menyebut nama.


"Saya pak!" Barsena mengangkat tangan dengan santai.


"Nah, nilai kamu juga luar biasa! Kedua terbesar kamu dapat nilai 95 luar biasa!" pak Akbar sangat antusias saat mengatakan itu.


Akhirnya semua nama sudah disebut, termasuk Salsa yang mendapatkan nilai 75 yang kembali mendapat ejekkan dari Andri yang mendapat nilai 50.


"Baiklah. Sekarang kalian boleh pulang!" ucap pak Akbar menyudahi pelajaran hari ini.


Semua orang berhamburan keluar kelas. Sementara Andri terus tertawa mengejek Salsa, padahal nilai Andri tidak lebih besar dari Salsa tapi dia begitu puas mengejek Salsa karena ada Hani yang bisa mengalahkan Salsa.


Salsa keluar dari kelas dengan perasaan dongkol diikuti oleh Chika yang mengekor di belakangnya.


***

__ADS_1


Tring!


Barsena mendapat pesan, dia melihat nama Kira tertulis di sana. Buru-buru dia membaca pesannya.


[Kak, di rumah ada kak Andin nyari kakak! Kira takut, dia terus marah-marah nyari kakak!]


Saat Barsena membaca itu, dia langsung berlari dari dalam kelas. Hani yang melihat itu merasa heran karena Barsena sebelumnya tidak pernah seperti itu.


"Ebuseeet ... kenapa tuh bocah?! Buru-buru amat! Kebelet boker kali ya?!" Andri yang melihat itu juga ikut heran.


***


"Barsena mana sih? Jangan-jangan kamu umpetin ya?!" Andin membentak Kira.


"Kakak lagi sekolah, dia belum pulang! Kenapa sih kak Andin selalu ganggu kakak? Kak Andin gak tahu apa, kakak menderita gara-gara kak Andin! Gak cukup apa, bikin kakak menderita karena sifat manja kak Andin itu!" Kira menjawab dengan lantang dan berani pada Andin.


"Heh?! Dasar bocah gil* berani-beraninya lo bentak gue!!!" Andin kembali membentak Kira.


"Cukup Andin!!! bentak Barsena yang sudah sampai dan melihat Andin membentak adiknya seenaknya.


"Eh, Barsena kamu udah pulang? Aku dateng ke sini bawain makanan kesukaan kamu loh!" ucap Andin dengan manis, berbeda dengan saat berbicara dengan Kira.


"Dasar cewek munafik gak tahu malu!" gumam Kira melihat sifat Andin yang berubah 180 derajat saat berbicara dengan kakaknya.


Barsena hanya bisa menghela nafas panjang tanpa bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun banyak bicara pun tidak akan mempan pada Andin yang keras kepala.


Dia menerima makanan yang dibawa Andin dengan malas. Andin terus menyuapi Barsena dengan paksa, Barsena membuka mulutnya dengan terpaksa menerima suapan Andin.


***


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Hani hanya menatap jalanan sambil memiringkan kepalanya ke kaca jendela taxi yang ditumpanginya.


Pikirannya terus melayang terhadap ucapan Barsena saat berbicara dengannya waktu istirahat tadi.


"Iya. Bahkan Ichal udah bawa kamu mengunjungi makam Laras,"


Kalimat Barsena itu terus berputar di otaknya. Hani merasa heran kenapa Barsena berbicara tentang Ichal dan seseorang bernama Laras itu seperti benar-benar mengenalnya dengan dekat.


"Laras? Siapa juga dia? Kenapa Barsena bisa tahu dia?" Hani terus bertanya-tanya tentang hubungan mereka.


"Tau ah makin dipikir makin bikin pusing!" jerit Hani frustrasi membuat pengemudi taxi itu tersentak karena kaget.


Kini Hani sudah sampai di rumahnya, dia menatap rumah besar yang hanya ditempati dirinya sendiri itu.


"Apa aku pindah rumah aja kali ya? Ke rumah yang lebih kecil!" gumam Hani sambil membuka kunci rumahnya.


"Permisi, apa benar ini rumahnya Nyonya Sundari?"


Saat Hani memutar kenop pintu hendak membuka pintu, tiba-tiba seseorang bertanya padanya membuat Hani tersentak.


"Iya benar." jawab Hani sambil memutar badannya melihat seseorang yang bertanya padanya.


Terlihat seorang laki-laki dengan setelan jas hitam, terlihat rapi. Orang itu berdiri sambil menggenggam sebuah amplop biru di tangannya.


"Ah syukurlah, saya kira saya salah rumah karena ada anda di rumahnya." pekik orang itu sambil mengelus dadanya karena merasa lega sambil tersenyum puas.


"Maaf, anda siapa ya? Ada perlu apa anda mencari rumah Nenek saya?" tanya Hani penasaran karena orang itu terlihat sangat puas saat tahu rumah neneknya.


"Ah saya hanya utusan dari kenalan nyonya Sundari untuk menyampaikan beberapa hal pada beliau," ucap orang itu.


Hani tersentak, tubuhnya mulai gemetar, matanya mulai kabur karena air mata yang mulai menutupi kelopak matanya. Itu karena dia kembali teringat akan neneknya yang sudah beberapa bulan tiada.


"Ah, maaf Nona, apakah anda baik-baik saja? Saya rasa sepertinya anda kurang sehat, apakah anda baik-baik saja?" orang itu terlihat panik saat melihat Hani hampir jatuh lunglai ke lantai dengan sigap orang itu menyambar tubuh Hani.


"A-ah sa-saya baik-baik saja!" ucap Hani tersenggal merasakan sesak di dadanya.


Hani duduk di kursi ruang tamu dengan dibantu orang asing itu. Kini mereka duduk berhadapan, Hani terus menatap orang itu dengan tajam.


"Maaf Nona, saya harus bertemu dengan Nyonya Sundari. Waktu saya tidak banyak, bisakah anda memberi tahu saya dimana beliau?" orang itu terus menanyakan keberadaan nenek Hani.


"Haaaah, sebenarnya saya tidak ingin memberi tahu anda karena anda adalah orang asing. Tapi urusan anda sepertinya sangat mendesak sehingga terus memaksa saya memberi tahu dimana nenek saya," Hani menghela nafas panjang sambil menatap orang itu.

__ADS_1


"Nenek saya sudah tiada!" ucap Hani dengan suara gemetar.


Orang itu terlihat sangat terkejut dengan pengakuan Hani.


"A-apa?! Sa-saya tidak salah dengar kan?" orang itu terus memastikan.


Hani hanya mengangguk perlahan dengan tatapan kosong.


"Baiklah saya akan kembali pada tuan saya untuk memberitahukan hal ini, saya permisi Nona!" orang itu berpamitan lalu menghilang meninggalkan Hani yang masih sedih karena lukanya kembali terbuka karena orang itu.


"Siapa sih? Dasar orang aneh!" batin Hani kesal saat melihat orang itu pergi tanpa menghiraukan dirinya yang kembali terluka.


***


Hari rabu yang cerah, Ichal sedang bersiap dengan seragam sekolahnya. Terdapat lingkaran hitam di bawah matanya, seperti biasa dia memang kesulitan untuk tidur.


"Ichal sayang, sarapan kamu udah siap," ujar Tamara dari meja makan.


"Huh! Tumben orang si sibuk itu jam segini masih di rumah!" ujar Ichal dalam hati saat mendengar suara ibunya, padahal dia melihat jam sudah menunjukan pukul 07:58 menit.


Ichal turun dengan santai tidak peduli walaupun saat ini dirinya memang sudah sangat terlambat.


"Sarapan Chal!" perintah Tamara.


"Tumben belum ke kantor?" tanya Ichal dingin.


"Ah ... Mamah nunggu kamu Chal, mamah udah lama gak sarapan bareng sama kamu," jawab Tamara tersenyum sambil menatap anaknya.


"Padahal mamah gak usah paksain ini terlebih lagi untuk saya, lihat papah juga gak pernah sarapan bareng!" ucap Ichal dingin.


"Chal, mamah mohon kamu jangan kaya gini sama mamah!" Tamara menggenggam tangan anaknya sambil menatapnya dengan sedih.


"Saya udah telat, makasih mamah udah luangin waktu buat sarapan sama saya!" Ichal lalu berdiri dari kursinya memaksa genggaman ibunya lepas dari tangannya.


"Gimana jantung kamu Chal? Masih suka sakit?" tanya Tamara dengan gemetar menghentikan langkah Ichal.


"Mamah gak usah khawatir sama saya, mamah urus aja bisnis mamah!" Ichal menjawab dengan suara dingin, lalu kembali berjalan meninggalkan rumahnya.


"Chal, mamah sama papah kerja itu buat kamu sayang. Biar kamu bisa secepatnya kamu bisa sembuh dan bebas dari rasa sakit kamu itu!" pekik Tamara dalam hati melihat anaknya begitu dingin padanya.


***


Sementara itu, di hari rabu yang panas ini merupakan jadwal pelajaran olahraga di kelas Hani. Semua siswa sudah berkumpul di lapangan. Mata Hani terus berputar mencari seseorang yang sedari pagi belum terlihat olehnya.


Dia mencari sosok Ichal, yang sudah jam segini masih belum juga berada di sekolah.


"Aduuuh ... panas banget sih pak, nanti kulit saya bisa gosong!" rengek Salsa sambil mengipaskan tangannya.


"Ih lebay banget sih lu jadi cewek! Perasaan cewek yang lain biasa aja tuh!" hardik Andri yang kesal mendengar rengekan Salsa.


"Apa sih lo nimrung aja, jangan ngomong sama gue! Lo tuh gak level sama gue!" ujar Salsa dengan suara melengkingnya sambil mengibaskan rambut di depan Andri sambil bergidik.


"Awas ya ngomong gitu, nanti malah jatuh cinta sama abang Andri yang tampan ini hahaha!" ujar Andri sambil tertawa menggoda Salsa membuat orang yang mendengar itu ikut terkikik. Sementara Salsa terus bergidik jijik.


"Sudah-sudah jangan ribut! Siapa yang hari ini tidak hadir?" tanya pak Alex guru olahraga yang sudah berdiri di depan barisan para siswa yang mulai kepanasan.


"Seperti biasa, Ichal sayang gak ikut olahraga pak!" ujar Salsa. Pak Alex hanya mengangguk.


"Hah? Biasa? Bener-bener deh si Ichal bisa seenaknya aja dia sekolah disini!" batin Hani kesal saat mendengar Ichal yang sudah biasa tidak ikut kelas olahraga.


Setelah satu jam yang melelahkan dan panas, jam olahraga pun berakhir. Hani sudah mengganti kembali pakaiannya, dia melihat Ichal sudah duduk di kursinya sambil menelungkup seperti biasa.


Hani menggelengkan kepala melihat Ichal yang tampak santai tidak ikut pelajaran dan malah tidur di kelas.


"Padahal kamu bilang gak bakal lulus, tapi malah tetep aja seenaknya," bisik Hani.


Ichal mengangkat kepalanya melihat Hani. "Terus masalah buat lu?"


Hani tersentak mendengar jawaban dingin Ichal, dia hanya berdecak mendengar itu.


"Sumpah ini orang punya masalah hidup apa sih? Susah banget dikasih tahu!" Hani terus mengumpat dalam hati mendengar jawaban Ichal.

__ADS_1


__ADS_2