Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.11 > Rumah Nenek Ichal


__ADS_3

Hahaha iya iya!" Ichal tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Hani.


Sementara itu Hani yang melihat tawa Ichal membuat wajahnya kembali menjadi merah merona.


Deg ... Deg ... Deg!!!


Hani bahkan bisa mendengar degup jantungnya sendiri, dia menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak karena degupan jantungnya. Dia takut kalau Ichal mendengar suara degup jantungnya.


"Stop jantung! Kenapa harus berdebar gini sih, padahal Ichal cuma ketawa." batin Hani.


"Kenapa lu? Sakit?" tanya Ichal sambil menyentuh dahi Hani dengan tangan kirinya, memastikan keadaan Hani karena dia melihat wajah Hani sangat merah.


"Kyaaa ... Jangan sentuh sembarangan ih bahaya!" jerit Hani sambil menepis tangan Ichal dari wajahnya.


Ichal hanya tersenyum melihat reaksi heboh Hani. Lagi-lagi Hani yang melihat itu bertambah berdebar, baginya Ichal yang selalu memperlihatkan wajah garang dan sangar yang selalu mengerutkan dahi jika berbicara dengan siapapun sangat berbeda dengan Ichal yang hari ini dia lihat.


"Bisa gak sih jangan bikin orang sakit jantung!" batin Hani kesal.


Perlahan mobil Ichal memasuki area perumahan mewah, Hani memperhatikan rumah-rumah yang memiliki desain sangat mewah.


"Ini dimana?" tanya Hani sambil matanya berputar melihat rumah-rumah yang terlihat sangat mewah.


"Elu gak perlu tahu!" jawab Ichal lempeng.


"Nanya doang, gak boleh! Dasar pelit!" Hani memutar bola matanya.


Perlahan mobil Ichal berhenti di depan rumah yang terlihat lebih sederhana dari rumah-rumah tadi yang sebelumnya dilihat Hani.


"Rumah siapa nih?" tanya Hani penasaran.


Ichal tidak menjawab, dia langsung turun dari mobil dan berjalan membuka 'kan pintu mobil untuk Hani keluar.


"Turun!" perintah Ichal.


"Aku sih ogah!" ujar Hani sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Buruan! Dasar aneh!" Ichal menggertakan giginya kesal, sambil menarik tangan Hani agar mau turun dari mobil.


"Aaaa ... Gak mau! Ngapain sih di sini?!" rengek Hani mendadak manja.


Kini Hani sudah berada di luar mobil Ichal, dengan tangan di dada dan bibirnya mengerucut tanda kesal. Ichal kembali membuka pintu kursi belakang mobilnya, dan mengeluarkan seikat bunga mawar putih serta sebuah box yang berisi kue strowberry.


Hani yang melihat itu merasa heran dengan apa yang dibawa Ichal. Terlebih lagi dia tidak tahu ini dimana dan di rumah siapa.


"Ayo ikut!" perintah Ichal.


Hani yang malas, hanya mengekor di belakang Ichal. Ichal mengetuk pintu, lalu seorang wanita membuka pintu untuknya.


"Loh, den Diaz? Ayo masuk!" ucap wanita itu dengan ramah.


"Makasih bi." ucap Ichal.


"Ayo masuk!" Ichal menarik tangan Hani yang masih berdiri dengan wajah tak mengerti apa-apa.


"E-eh bentar Chal, ini rumah siapa?" tanya Hani sambil berusaha mengimbangi langkah kaki Ichal yang menariknya masuk.


"Nyonya ada di belakang den, lagi di taman." ucap wanita tadi, Ichal hanya mengangguk lalu kembali menarik tangan Hani.


***


"Nenek! Selamat ulang tahun!" teriak Ichal sambil menghampiri neneknya yang sedang duduk sambil minum segelas teh di taman belakang rumahnya.


Neneknya mendengar itu lalu membalikkan badannya melihat sumber suara.


"Aaah cucu kurang ajar kesayanganku!" pekik neneknya sambil memeluk Ichal dengan hangat lalu tertawa.


Hani yang melihat itu hanya bisa tersipu, dia benar-benar melihat sosok Ichal yang berbeda dari Ichal yang setiap hari di lihatnya.


Ichal yang sekarang dilihatnya benar-benar manis, lembut, dan terlihat penyayang. Tidak sadar jantung Hani kembali berdebar melihat adegan antara cucu dan nenek yang begitu manis dan mesra.


"Loh, yang cantik itu siapa Chal? Pacar kamu?" tanya nenek tiba-tiba saat melihat Hani yang berdiri mematung.

__ADS_1


Ichal dan Hani tersentak dengan pertanyaan itu. Lalu mereka serempak berkata, "Tidaaaak!"


Nenek yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Ayo sini, duduk samping nenek!" ajak nenek sambil merangkul Hani dengan lembut.


"Nama kamu siapa cantik?" tanya nenek lembut.


"Hani, ne-nek!" jawab Hani ragu untuk memanggil nenek.


"Oh, Hani. Cantik sekali!" puji nenek sambil mengelus rambut Hani.


"Cantik ... Cantik!!! Udah deh nek jangan kebanyakan dipuji, nanti malah terbang!" ujar Ichal dengan dingin.


Hani menatap Ichal lalu berkata, "Iri? Bilang sahabat!"


Nenek yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Lalu mereka pindah ke ruang makan untuk makan malam bersama, Hani yang awalnya terpaksa ikut Ichal perlahan-lahan mulai menikmati. Suasana hangat yang baru dia rasakan kembali setelah neneknya meninggal.


"Jadi kalian beneran pacaran?" tanya nenek tiba-tiba.


Uhukk ... Uhukk.


Ichal tiba-tiba tersedak saat menelan makanannya. Dia kaget mendengar pertanyaan itu lagi dari nenek.


"Ya ampun nek, udah jangan tanya itu lagi!" ucap Ichal kesal lalu meneguk segelas air sampai habis tak tersisa.


"Lah siapa yang nanya elu? Orang gue nanya Hani, jadi gimane Han?" tanya nenek dengan logat betawi yang sangat kental.


Uhukk....


Kini giliran Hani yang tersedak setelah tiba-tiba ditanya seperti itu.


"Pada kenape sih? Ditanya malah pada batuk semuanye!" nenek lalu tertawa.


"Chal kalau udah selesai tolong pasangin lampu di kamar nenek dong, mati lampunya!" perintah nenek.


"Aduh kenapa gak panggil tukang aja sih nek?" Ichal menggerutu.


Hani benar-benar merasakan kehangatan saat bersama mereka. Dia melihat Ichal dan neneknya begitu akrab, walaupun Ichal dan neneknya selalu bicara blak-blakkan namun itu menjadikan mereka sangat akrab.


"Ichal perasaan sama ibunya gak kayak gini deh!" ujar Hani dalam Hati.


Ichal lalu bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menaiki tangga menuju kamar neneknya dengan malas.


"Bae-bae awas jatoh cu!" goda nenek pada Ichal yang nampak malas.


***


"Jadi kalian pacaran?" tanya nenek pada Hani secara tiba-tiba. Dia kembali memastikan apa hubungan Ichal dan Hani.


Hani kembali tersentak kesekian kalinya oleh pertanyaan itu.


"Enggak nek, kami cuma temen satu kelas aja. Lagian dia juga galak!" ujar Hani blak-blakkan.


"Aneh!" ucap nenek.


"Ma-maksud nenek apa?" tanya Hani ragu.


"Ini pertama kalinya Ichal bawa perempuan ke rumah nenek setelah hampir 4 tahun lalu!" jawab nenek.


"Hah 4 tahun lalu?" tanya Hani memastikan, dia begitu kaget dengan pernyataan nenek.


"Iya 4 tahun lalu, namanya Laras tapi sayang dia sudah tiada. Dia cantik, manis, dan ceria seperti kamu. Namun sayang umurnya tidak panjang! Setelah Laras tiada, Ichal baru sekarang lagi bawa perempuan ke rumah nenek yaitu kamu!" jelas nenek.


"Laras pacarnya Ichal ya nek?" tanya Hani penasaran. Serta perasaan aneh yang menyelimuti hatinya.


"Setahu nenek sih bukan. Ya, serupa kamu sekarang cuma menganggap cucu kurang ajar nenek itu cuma teman!" jawab nenek lalu tertawa.


Hani menjadi kikuk setelah mendengar jawaban nenek, wajahnya merona menahan malu.


"Pada ngobrolin apaan nih?" tanya Ichal yang sudah berdiri di depan mereka.

__ADS_1


"Bukan apa-apa!" jawab Hani ketus.


***


Kini Ichal dan Hani sedang di perjalanan pulang. Ichal mengantarkan Hani pulang, sementara itu Hani yang mengantuk tertidur di dalam mobil.


Mobil Ichal sudah sampai di rumah Hani, tapi dia tidak tega membangunkan Hani. Dia malah menatap wajah wanita yang tertidur di sampingnya itu dalam-dalam.


"Elo tuh cantik, tapi sayang aneh banget!" ucap Ichal dalam Hati, sambil mengelus rambut Hani yang menutupi wajahnya.


Hani membuka mata saat merasakan seseorang menyentuh wajahnya. Dia melihat wajah Ichal begitu dekat dengan wajahnya.


Degh!


Jantung mereka berdegup seiring dengan posisi yang sangat dekat. Aneh tidak biasanya Hani membiarkan wajah Ichal sedekat ini, biasanya dia akan buru-buru berteriak jika posisi mereka sedekat ini.


Tapi saat ini mereka malah saling menatap dalam waktu yang cukup lama, dan dengan jantung yang terus berdebar.


"Dasar cowok mesum!" teriak Hani tiba-tiba, dia baru tersadar dengan posisinya barusan.


Ichal tersentak, lalu menjauhkan wajahnya dari Hani. Dengan jantung yang terus berdegup kencang.


"Ha-ha udah sampe ya? Aku masuk dulu ya ha-ha!" ucap Hani dengan canggung.


"Makasih ya Han!" ucap Ichal sambil tersenyum manis pada Hani.


"Aduuuh gak tahu ah! Aku masuk dulu!" Hani keluar dengan tergesa-gesa. Dia begitu salah tingkah saat mendengar Ichal mengucapkan terima kasih dengan manisnya.


Ichal melihat Hani masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa, hanya tersenyum.


"Dasar aneh!" gumam Ichal lalu kembali tersenyum.


"Jantung please berhenti berdebar!" ucap Hani dan Ichal dalam hati masing-masing.


***


Hari minggu terlewati dengan begitu saja. Kini hari senin sudah tiba, itu artinya waktu kembali masuk sekolah.


"Males banget ya ampun!" pekik Hani sambil menggeliat saat keluar dari taxi, lalu berjalan masuk ke area sekolahnya.


"Cewek itu kan?"


"Iya, cewek itu yang di peluk kak Ichal!"


"So cantik banget gak sih!"


Hani yang berjalan sendiri tidak sengaja mendengar celotehan adik kelasnya yang membicarakan tentang dirinya yang tempo hari digendong Ichal.


"Selamat datang hari berat!" pekik Hani dalam hati.


Entah sejak kapan, Hani menjadi lebih tegar dari biasanya. Dia sekarang lebih banyak tak ambil pusing dengan tanggapan orang-orang tentang dirinya.


"Kalo jalan tuh yang cepet! Biar lu kagak usah denger omongan gak penting!" ucap Ichal yang tiba-tiba datang dan menyambar tas Hani lalu menyeret Hani sambil tersenyum puas.


"Kyaaa!! Kamu apaan sih dateng-dateng, lepasin aku!" Hani terus meronta-ronta mencoba lepas dari cengkraman Ichal tapi itu sia-sia.


"Kyaa! OMG kak Ichal ganteng banget!"


"Kalau lihat dari deket makin ganteng banget!"


Hani yang mendengar teriakan adik kelas yang meneriaki Ichal hanya bisa mendengus sambil terus diseret oleh Ichal.


"Aneh! Cowok yang hobinya nyeret orang kok bisa banyak banget yang suka?!" Hani terus menggerutu.


"Itu semua karena gue terlahir dengan wajah yang ganteng!" ucap Ichal narsis.


"Huweek! Jijik!" Hani hampir muntah mendengar itu.


"Lihat aja pembalasan gue Hani! Dasar cewek sint*ng gak tahu malu!" gumam Salsa sambil mengepalkan tinjunya, yang melihat Hani dan Ichal terlihat makin akrab.


Sementara itu Barsena yang melihat itu juga hanya tersenyum getir. "Coba kalau waktu itu gue gak hianatin Hani, pasti sekarang kita lagi ketawa bahagia!" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2