
Hani menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur, dia menyentuh bagian dadanya yang tak bisa berhenti berdebar karena kelakuan Ichal.
Sementara Ichal terus melambaikan tangannya dengan senyum yang perlahan mulai memudar. Jika dilihat sekilas oleh Hani dari kejauhan mungkin tidak akan terlihat kalau Ichal sebenarnya mengeluarkan air mata.
Bahkan saat dia melambaikan tangan, Ichal terus mengeluarkan air mata. Dia menangis, dadanya serasa terkoyak saat melihat Hani yang tersenyum bahagia tanpa tahu apa-apa tentang dirinya.
Sebenarnya awalnya Ichal berniat memberitahu tentang penyakitnya. Namun saat mendengar suara Hani, lidah Ichal tercekat dan akhirnya tidak bisa mengungkapkan rahasianya.
Ichal menangis di dalam mobil cukup lama dia membenamkan wajahnya pada setir mobil.
"Aku harus gimana Han?"
"Aku sayang kamu, tapi sepertinya semesta gak mendukung kita buat bersama!"
"Han, aku sakit Han!"
"Jantung aku gak bisa bertahan lebih lama lagi! Mungkin aku bisa meninggal hari ini besok atau lusa aku gak tahu!"
"Aku gak mau bikin kamu nangis Han!"
Ichal menggumamkan semua isi hati yang tak bisa dia ungkapkan pada Hani. Dia kembali terisak di tengah heningnya malam.
***
Pagi yang mendung, seolah menambah rasa malas untuk beraktivitas. Hani masih terlelap dengan selimut membungkus tubuhnya seperti sebuah lemper. Cuaca pagi ini terasa sangat dingin, sehingga makin malas dia untuk bangun padahal hari ini masuk sekolah.
Suara alarm yang berkali-kali berbunyi 'pun tak dihiraukannya dia masih tetap terlelap. Bahkan ponselnya yang terus bergetar di sampingnya pun tetap tak dihiraukan. Padahal kalau dia dalam kondisi sadar pasti dengan sekejap dia akan mengangkat teleponnya, apalagi jelas tertulis nama kekasihnya di layar ponsel itu.
Sudah hampir sepuluh menit bunyi alarm dan ponselnya berbunyi namun Hani tetap terlelap. Sementara Ichal yang berdiri bersandar di samping mobilnya mulai kesal sekaligus cemas pasalnya sudah sekitar sepuluh menit dia menelepon Hani tapi tetap tidak ada jawaban.
"Kenapa sih? Masih tidur? Atau lagi mandi?" gumamnya kesal.
Hani mulai bergerak dengan mata masih tetap tertutup rapat meraba sekitarnya hendak mematikan bunyi alarm yang mengganggu tidur lelapnya. Lalu meraih ponselnya yang sedari tadi terus bergetar. Dia membuka matanya sedikit lalu melihat siapa yang sedari tadi menghubunginya.
Hani benar-benar langsung terperanjat kaget saat melihat nama kekasihnya tertulis di sana. Dengan cepat dia mengangkat telepon dengan suara serak dan nyaris tak terdengar dia berbicara. Lalu kembali menutup teleponnya dan segera berlari ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
"Aduh! Sorry aku telat bangun, semalem baru bisa tidur pas udah lewat yang empat!" ucap Hani.
Sambil berlari ke aras Ichal yang tengah bersandar pada mobilnya menunggu Hani sejak pagi. Terlihat sekali raut wajah kesal padanya.
"Ayo berangkat!" ucap Ichal singkat.
Kali ini dia benar-benar terlihat kesal dan dingin. Padahal biasanya dia akan tertawa geli melihat Hani yang terburu-buru. Ichal langsung masuk ke mobilnya tanpa membukakan pintu mobil untuk Hani, padahal biasanya dia selalu memperlakukan Hani bak puteri kerajaan.
Hani sedikit kaget dengan perubahan sikap Ichal yang drastis. Padahal semalam sikap Ichal benar-benar manis sehingga membuat Hani tak bisa tidur dibuatnya karena jantungnya yang terus berdebar karena sikap manis Ichal.
Ichal langsung menjalankan mobilnya dengan ekspresi datar dan dingin tanpa melihat ke arah Hani. Padahal biasanya Ichal senang sekali menatap wajah Hani sambil tersenyum sebelum menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Hani melirik Ichal dengan ekspersi heran dan merasa bersalah karena dia merasa Ichal menjadi seperti ini karena ulahnya pagi ini yang telah membuat Ichal kesal.
"Diaz, mmmhhh ... kamu marah?" tanya Hani ragu.
Ichal masih diam saja dan tetap memasang wajah datar setelah mendengar Hani. Akhirnya selama perjalanan menuju sekolah hanya kebisuan yang mengelilingi mereka berdua. Hani yang dihinggapi perasaan bersalah dan juga penasaran karena sikap Ichal yang berubah.
Sampai saatnya mobilnya pun berhenti tepat di depan sekolah mereka masih tetap membisu. Ichal turun terlebih dahulu dengan datar di susul Hani dengan perasaan campur aduk.
Ichal langsung berjalan menuju kelas meninggalkan Hani yang masih berdiri mematung tak mengerti apa-apa.
"Ih, kenapa sih dia?!" batin Hani kesal.
Ichal berjalan sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dengan keren. Ekspresi datar dan dingin kembali terpasang di wajahnya. Dia meninggalkan Hani yang mencoba menyusul langkah panjangnya.
Banyak yang memperhatikan mereka berdua. Apalagi Ichal yang biasanya menempel pada Hani pagi ini jelas-jelas meninggalakan Hani. Orang-orang mulai berpikir kalau Hani dan Ichal mungkin sudah berakhir alias putus.
"Chal!" terdengar Andri berteriak memanggil Ichal.
Ichal menoleh dan melambaikan tangan pada Andri dan tetap tak menghiraukan Hani yang jelas-jelas sudah berdiri tepat didepannya.
Andri langsung merangkul bahu Ichal dan sekilas melirik Hani dengan ekspresi heran pula.
"Kalian berdua kenapa?" bisik Andri.
Ichal hanya mendelik malas lalu kembali berjalan. Andri tak punya pilihan lain selain mengikuti Ichal dan meninggalkan Hani.
"Woy, Nyet! Lo putus sama Hani?" Andri kembali bertanya sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Ichal.
"Pindah! Gue mau duduk di sini!" ucap Ichal pada Chika yang tengah duduk sambil asik memainkan ponselnya.
"Udah gil* ya!" umpat Chika yang kesal.
"Gue bilang pindah! Gue mau duduk di sini! Lo gak denger!" bentak Ichal, sementara Chika hanya mendengus kesal lalu bangkit dari kursinya.
Hani yang baru sampai ke kelas melihat keributan itu. Dia lagi-lagi di hantui pertanyaan akan sikap Ichal yang malah berubah kembali pada sikapnya yang dulu.
Barsena yang baru tiba di kelas pun ikut merasa heran dengan Ichal. Hani masih mematung di depan kelas melihat Ichal duduk di kursi yang berbeda. Barsena berdiri tepat di belakang Hani sambil menatap Ichal yang juga menatapanya.
"Kyaaa ...! Ichal sayang, mau duduk bareng aku?" teriak Salsa heboh.
Dia juga baru saja tiba di kelas dan langsung melihat Ichal duduk di kursi dekatnya yang biasanya ditempati oleh Chika.
Hani berjalan dengan kaki gemetar lalu duduk di kursinya yang biasanya selalu dengan Ichal. Di susul Barsena yang ikut duduk di samping Hani tepat di kursi yang biasanya ditempati Ichal.
Hani menatap nanar punggung Ichal yang berdiri di baris yang berbeda dengan dirinya. Sementara itu Barsena melirik Hani dengan ekspresi sedih lalu sekilas melirik punggung Ichal.
"Jadi udah mulai ya Chal?" batin Barsena.
__ADS_1
Hani memalingkan wajahnya yang sedih ke arah jendela saat melihat Salsa merangkul lengan Ichal dengan mesra. Tak bisa dipungkiri hatinya benar-benar sakit melihat Ichal yang seperti itu.
"Han, kamu gapapa kan?"
Barsena menyentuh bahu Hani dengan lembut, namun dengan sekejap tangan Barsena ditepis oleh Hani. Sampai jam istirahat tiba, Ichal hanya menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Dia hanya tertidur selama pelajaran, seperti yang dulu sering dia lakukan.
Saat jam istirahat tiba, dia langsung bangkit dan berjalan keluar menuju kantin. Hani yang melihat pergerakan Ichal langsung mengikutinya.
"Diaz! Tunggu! Aku bilang tunggu!" teriak Hani yang tak dihiraukan oleh Ichal.
"Heh! Kamu kenapa sih?!" teriak Hani kesal.
Kini mereka berdua berdiri di taman belakang sekolah. Entah mengapa mereka berdua bisa sampai ke taman itu.
"Kamu kenapa sih? Kalau aku ada salah, aku minta maaf! Jangan kaya gini, Diaz!" teriak Hani dengan suara bergetar menahan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Ichal hanya mendengus sambil tersenyum hambar melihat gadis di hadapannya. Sementara Hani sudah hampir menangis melihat pemuda di hadapannya.
"Jawab Diaz!" teriak Hani.
Kini air matanya mulai jatuh membasahi pipi Hani. Ichal tak menghiraukan dan tak mempedulikan Hani yang kini menangis di hadapannya.
"Berisik!" hardik Ichal.
Lalu meninggalkan Hani yang kini terduduk sambil menangis. Ada rasa sakit di hatinya saat diperlakukan seperti itu oleh Ichal.
"Bangun Han!" ucap seseorang sambil menarik tangan Hani lembut, memaksa Hani untuk bangun dari posisinya yang terduduk.
"Diaz!" pekik Hani sambil tersenyum.
Sedetik kemudian senyum itu hilang saat Hani melihat bahwa orang yang menarik tangannya bukan orang yang dia harapkan. Bukan Ichal yang ada di hadapannya melainkan Barsena.
"Oh, Barsena," ucap Hani lemas.
"Maaf kalau aku bukan Ichal, ayo bangun Han!"
"Ichal kenapa sih?" Barsena bertanya saat mereka sudah duduk di kursi taman.
Hani menggeleng pelan sambil menghela nafas panjang, sejujurnya Hani 'pun tidak mengerti kenapa Ichal seperti itu. Barsena merasa sedih melihat Hani yang juga bersedih.
"Ayo balik ke kelas!" ajak Barsena.
Hani mengangguk lalu berjalan dengan lunglai diikuti Barsena yang juga khawatir terhadap Hani. Saat perjalanan ke kelas, hampir semua siswa menatap Hani dengan sinis dan juga mencemooh. Padahal sudah lama Hani tak mendapat pandangan seperti itu, setidaknya jika saat bersama Ichal karena pasti Ichal akan membentak mereka yang berani menatap Hani dengan tatapan yang tak pantas.
Barsena masih mengikuti langkah lunglai Hani. Hingga tiba-tiba langkahnya ikut terhenti saat Hani berhenti.
"Diaz," gumam Hani.
__ADS_1
Walaupun menggumam tapi Barsena masih dengan jelas mendengar suara lemah Hani yang bergetar. Barsena melirik Hani sebentar lalu melihat ke arah pandangan Hani. Dia dengan jelas melihat Ichal tengah makan bersama dengan Salsa, lagi-lagi Hani merasakan ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya saat menyaksikan Ichal seperti itu.
"Kenapa dia kaya gitu, Barsena?" Hani menggumam lalu memutar kepalanya menatap Barsena yang kini berdiri tepat di sampingnya.