Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.62 Perkelahian Para Gadis


__ADS_3

"Bintan, kamu gak bosen cerita keburukan orang lain? Aku gak nyangka, padahal dulu kamu baik banget," ucap Hani.


"Baik? Gue gak sebaik yang Lo kira, Han! Lo terlalu naif, makanya Lo gampang ketipu bahkan sama cowok Lo sendiri!" hardik Bintan.


"Lo tuh banyak omong banget sih, Tan! Hampir semua omongan Lo itu gak baik buat pendengaran gue!" teriak Chika.


"Hey, santai dong gak usah teriak-teriak!" hardik teman rumpi Bintan.


"Apa, Lo? Lo juga ikut-ikutan masalah ini, padahal Lo sendiri gak ngerti! Mampus kemakan bac*tan si Bintan!" teriak Chika.


Perdebatan antara gadis-gadis itu terus terjadi di dalam toilet wanita, hingga orang lain yang ingin ke toilet menjadi takut.


Sementara Salsa, hanya diam mendengar mereka saling membalas teriakan.


"Cih, woy cewek bus*k! Kenapa Lo dari tadi diem aja! Pasti Lo nyesel kan, udah jahat sama anak-anak lain," hardik Bintan pada Salsa.


"Cewek bus*k." Salsa tertawa terbahak-bahak sampai hampir mengeluarkan air mata.


"Udah gil*!" hardik Bintan.


"Hey, Bintan. Dengerin gue baik-baik! Iya, gue nyesel dan gue minta maaf. Dari semua yang bikin gue nyesel adalah kenapa gue harus biarin, Lo sekolah di sini." Salsa menghela nafas sejenak.


"Mau gue sekarang kaya gini, kita tetep gak se-level tau!" lanjut Salsa dengan penuh penekanan.


Ucapan Salsa itu membuat Chika tertawa dengan keras mengejek Bintan yang sepertinya makin tersulut emosi. Wajahnya merah padam karena emosi. Tiba-tiba Bintan menarik rambut Salsa dengan keras hingga Salsa mengerang kesakitan.


"Dasar cewek gil*! Lepasin! Aw, sakit," erang Salsa.


Chika yang melihat itu langsung mencoba menarik tangan Bintan dari rambut Salsa. Namun, tiba-tiba teman rumpi Bintan juga ikut-ikutan menarik tangan Chika, alhasil Chika pun ikut mengerang dan mengumpat. Tak kehabisan akal Chika pun menarik rambut orang itu, hingga terjadilah pertandingan tarik menarik.


Hani yang kebingungan juga ikut membantu untuk melepaskan tangan mereka dari rambut yang ditariknya. Namun, tangan Bintan langsung menarik rambut Hani juga.


"Lepasin! Aw, sakit, Bintan!" teriak Hani.


Salsa yang kesal langsung mencoba meraih rambut Bintan dan menariknya hingga kini giliran Bintan yang mengerang kesakitan.


"Lepasin! Sakit!"


"Sakit!


"Aaaaaawww!"


Teriakan, erangan, umpatan, terus terdengar sampai ke luar toilet. Hal itu memancing perhatian siswa lain untuk melihat pertandingan tarik-menarik di antara gadis-gadis itu.


Entah bagaimana, akhirnya gadis-gadis itu keluar dari toilet masih dengan tarik-menarik rambut.


***


"Bro, cewek-cewek pada berantem!" teriak seorang siswa dengan terengah setelah berlari.


Ichal, Barsena dan Andri langsung terpernajat. Padahal siswa itu tak memberi tahu siapa gadis yang bertengkar, tapi mereka bisa yakin kalau yang dimaksud adalah gadis-gadis mereka.


"Di mana?!" teriak Andri.


"Depan toilet."

__ADS_1


Ichal langsung berlari dengan cepat disusul Barsena, lalu Andri yang sedikit lambat.


Saat Ichal sampai di tempat kejadian perkara, banyak sekali orang yang berkerumun menonton mereka dengan bersorak seolah mendukung pertandingan itu.


Ichal langsung menerobos masuk dan saat melihat kondisi ke-lima gadis itu, Ichal benar-benar kaget apalagi saat melihat Hani. Kalau yang lain mungkin biasa saja karena sudah sering bertengkar apalagi Salsa dan Chika, tapi untuk Hani itu sangat mengejutkan.


Ichal melihat tangan Hani menarik rambut Bintan lalu menarik rambut temannya Bintan, hal itu makin membuat suasana makin heboh dengan sorakan. Barsena dan Andri yang baru datang pun sama kagetnya seperti Ichal. Gadis-gadis itu tampak lebih liar dari sebelumnya.


Ichal langsung menarik Hani untuk melepaskan pegangan tangannya, begitupun dengan Andri dan Barsena yang langsung menarik Chika dan Salsa.


Gadis-gadis itu terengah-engah setelah melalui pertandingan panjang dan menyakitkan.


"Bubar kalian!" teriak Ichal pada siswa-siswa lain yang berkerumun hanya untuk menonton tanpa berniat memisahkan mereka.


Akhirnya mereka membubarakan diri walau kecewa karena pertunjukan yang disajikan sudah berakhir.


"Kalian juga kenapa, sih? Ke toilet malah pada berantem." Ichal mengelus rambut Hani untuk merapikannya.


"Cewek gil*, itu yang mulai!" hardik Salsa menunjuk Bintan lalu merapaikan rambutnya dibantu Barsena.


"Yayang, kamu 'kan jago karate, kenapa malah jambak-jambakan?! Dasar cewek." Andri juga ikut heboh melihat penampilan Chika yang juga berantakan.


"Bod*h banget kalian, mau aja pacaran sama cewek-cewek gil* kaya mereka!" hardik Bintan dengan senyum hambar mengejek.


"Apa Lu bilang? Cewek-cewek gil*? Yang cewek gil* di sini tuh, Lo!" bentak Ichal.


"Ganteng doang, tapi mau aja pacaran sama cewek gini," hardik Bintan.


"Apa, Lo?!" teriak Ichal.


Barsena menatap Bintan dengan tajam, lalu membuang nafas kasar. Dia tersenyum hambar menatap Bintan.


"Gue selalu bertanya-tanya dari mana Andin tahu keadaan di sini, padahal Andin ada di sekolah yang berbeda. Ternyata, Lo orangnya, Tan." Barsena mendengkus kesal.


"Ma–maksud, Lo apa?" tanya Bintan dengan gelagapan. Jelas sekali raut wajah Bintan menjadi cemas.


"Lo, orangnya. Lo, mata-mata Andin!" bentak Barsena.


Bintan langsung bergetar ketakutan. Rahasianya sudah terbongkar, bahwa Bintan adalah orangnya Andin. Dia yang selalu melaporkan pada Andin apapun yang Barsena lakukan.


Orang yang paling ketakutan di sini bukan hanya Bintan, tapi juga Hani. Hanya mendengar nama Andin saja cukup membuat seluruh tubuh Hani bergetar ketakutan. Sekilas kembali terbayang perlakuan jahat Andin pada Hani.


"Ja–jadi, kamu mata-mata Andin, Tan?" tanya Hani.


"Cih, gue rasa Lo juga bakal masuk penjara, Tan. Kejahatan Andin bukan cuma masalah kenakalan remaja doang, tapi dia udah nyulik orang dan Lo terlibat sama itu semua, Bintan!" ucap Ichal.


Tubuh Bintan bergetar hebat. Dia benar-benar ketakutan setengah mati setelah mendengar ucapan Ichal.


"Nggak! Gu–gue gak terlibat sama Andin! Bu–bukan gue o–orangnya." Bintan langsung berlari ketakutan.


Bruk!


Tubuh Hani lunglai dan hampir jatuh ke lantai jika Ichal tak menahannya. Mengingat Andin membuatnya ketakutan, terlalu banyak kejadian traumatis yang terjadi pada Hani yang dilakukan Andin.


"Aku anterin kamu pulang, Han! Kamu istirahat di rumah aja." Ichal langsung mengangkat tubuh Hani.

__ADS_1


***


[Gue udah ketahuan sama Barsena, gue gak bisa bantu, Lo lagi. Sorry, Din.]


"Br*ng*k!" umpat Andin saat membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.


Dengan kasar dia langsung membanting ponselnya ke lantai hingga hancur.


"Kenapa jadi gini, sih? Nyesel kenapa gue gak bun*h aja cewek-cewek itu! Om Baron gak becus, malah sekarang dia masuk penjara." Andin mengacak rambutnya frustrasi.


"Gimana kalau gue juga masuk penjara," gumam Andin cemas sambil menggigit-gigit ujung kukunya.


"Papah juga udah masuk penjara, gue gak mau masuk penjara!" teriak Andin.


Andin duduk di pojok kamarnya sambil terus menggigit-gigit kukunya hingga lama kelamaan jarinya berdarah oleh gigitannya sendiri. Kondisinya benar-benar menakutkan sekaligus memprihatinkan.


Kamarnya gelap dan berantakan, banyak barang pecah yang sepertinya habis dibanting oleh Andin. Rambutnya berantakan hingga menutupi sebagian wajahnya. Dia terus menggumam-gumam tak jelas. Dia menangis lalu tertawa dengan sendirinya lalu menangis lagi. Menjerit histeris, lalu tertawa terbahak-bahak. Dari dulu Andin memang memiliki gangguan kecemasan sehingga sering sekali menyakiti dirinya sendiri, makanya Surya Pratama—ayahnya selalu memberikan apapun yang Andin minta agar Andin tak menyakiti dirinya sendiri.


Sekarang Surya Pratama sudah mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya pada keluarga Hani. Andin pun sendirian, tak ada lagi yang mau menemaninya.


Sudah beberapa hari setelah Surya Pratama ditangkap polisi, Andin mengurung dirinya sendiri di kamar, tanpa makan dan minum.


Pembantu di rumahnya saja sudah ratusan kali menggedor kamarnya yang terkunci untuk memberikan makan pada Andin. Namun, Andin tidak mau membuka pintunya. Pembantu terus mendengar suara jeritan, tangisan, dan tertawa Andin yang lama-lama menjadi menakutkan.


Karena sudah cemas dan juga ketakutan akhirnya pembantu itu menelpon rumah sakit jiwa. Dengan susah payah karena Andin melawan petugas rumah sakit itu, akhirnya Andin bisa juga dibawa ke rumah sakit jiwa untuk dirawat. Kondisi mentalnya sudah sangat parah dan memerlukan perawatan.


***


"Aku baru dapat kabar, Andin dibawa ke rumah sakit jiwa, Han," ucap Ichal.


Hani menghela nafas panjang mendengar kabar itu. Entah apa artinya itu.


"Dapat kabar dari siapa?" tanya Hani.


"Gak tahu, nomor gak dikenal. Nomor ini juga yang udah ngasih aku alamat tempat kamu disekap waktu itu," jawab Ichal.


Hani meraih ponsel Ichal dan membaca pesan yang masuk.


"Kamu yakin gak tahu ini siapa?" tanya Hani memastikan, sementara Ichal hanya mengangguk.


"Kamu tahu nomor ini, Han?" tanya Ichal yang dibalas oleh gelengan cepat oleh Hani.


"Aku harus ucapin terima kasih sama dia, karena dia aku bisa nyelamatin kamu waktu itu."


Hani hanya mengangguk pelan mendengar Ichal. Mereka berdua berbincang di taman belakang rumah Sindra yang luas. Karena tadi Hani sempat syok akhirnya Ichal mengantar Hani pulang.


"Han, aku pulang sekarang, ya."


"Iya, hati-hati."


Ichal langsung melajukan mobilnya keluar dari area kediaman Srindra. Sesampainya di rumah, Ichal langsung di sambut oleh Tamara dan Edi yang tampak sedikit berbeda dengan biasanya. Tampak ekspresi serius di wajah keduanya.


"Tumben, Papah sama Mamah udah di rumah jam segini," ucap Ichal. Dia heran pasalnya kedua orang tuanya tak biasa pulang kurang dari jam tujuh malam.


"Ada yang perlu Papah sama Mamah, obrolin sama kamu, Chal," ucap Edi.

__ADS_1


Edi lalu mengajak Ichal untuk duduk di sofa, dengan wajah heran bercampur penasaran Ichal mendaratkan tubuhnya di sofa empuk itu.


__ADS_2