Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.33 Pertengkaran


__ADS_3

Hari minggu yang cerah, Hani tampak masih bermalas-malasan di atas kasurnya. Padahal jika mendiang neneknya masih ada, mana mungkin dia akan berani bermalas-malasan karena pasti neneknya akan memarahinya.


"Aaaaah senangnya hari minggu," gumam Hani dengan suara serak khas bangun tidur.


Tring!


[Han, aku di depan rumah kamu ayo berangkat!]


Hani membaca pesan itu antara sadar dan tidak.


Dia sesaat kembali memejamkan mata, dan menyimpan ponselnya kembali.


"Berangkat? Berangkat kemana sih pagi-pagi?!" gumam Hani.


"Hah?! Rumah Srindra Adamar! Bener aku harus cari tahu ada hubungan apa dia sama Papah, Mamah, dan Nenek!" jerit Hani saat teringat akan janji hari ini.


"Bentar aku mau mandi dulu!!!" teriak Hani dari atas balkon rumahnya.


Ichal tersenyum melihat tingkah polos gadis yang sekarang menjadi kekasihnya.


"Dasar! Makin sini makin kaya bocah aja!" gumam Ichal tersenyum.


***


"Ayo berangkat!" ajak Hani saat sudah siap.


"Udah sarapan? Mau sarapan dulu gak?" tanya Ichal sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Hani.


"Aku gak laper!" jawab Hani sambil menggeleng.


Namun suara perutnya lebih nyaring terdengar membuat Hani malu dibuatnya.


"Oke, kita sarapan dulu aja," Ichal tersenyum.


"Ih, dasar perut gak bisa diajak kompromi!" batin Hani menjerit malu.


Ichal menghentikan mobilnya di sebuah restoran makanan cepat saji.


"Ayo makan!" Ichal menyodorkan roti lapis untuk Hani.


"Kamu gak makan?" tanya Hani heran karena Ichal sedari tadi hanya menatapnya saja, bahkan makanan yang dipesan 'pun hanya satu porsi untuk Hani saja.


"Aku udah makan," ucap Ichal lembut sambil menatap Hani yang tengah makan dengan lahap dihadapannya.


"Aku harap senyum manis kamu tetap bertahan selamanya!" gumam Ichal.


"Apa?!" Hani sekilas mendengar Ichal berbicara namun tak terdengar jelas.


"Gak papa Hani!"


"Aku yakin deh barusan kamu ngomong sesuatu!" ucap Hani dengan mata sengaja disipitkan sambil mengunyah roti lapis di mulutnya membuat pipi gadis itu terlihat menggembung menggemaskan.


"Kamu salah denger pasti, udah ayo abisin dulu makanannya!" perintah Ichal sambil mengusap pucuk kepala Hani dengan lembut.


"Apa sih jadi malu 'kan?" batin Hani.


Sekarang jantung Hani benar-benar berdebar begitupun dengan wajahnya yang sangat merona.


***


"Oh, jadi ini alamat rumah Bunda yang baru," ucap Ichal saat telah sampai di rumah mewah yang penuh dengan penjagaan yang cukup ketat.


"Ayo turun Han!"


"Iya,"


Hani mengekor di belakang Ichal, Hani cukup terkejut saat seorang penjaga yang berbadan kekar dengan kepala botak menanyakan maksud dan tujuan kunjungan Ichal dan Hani.


Namun Ichal meraih tangan Hani agar tenang, dan mengungkapkan alasan kunjungannya atas undangan dari Srindra itu sendiri.


"Gimana tadi gampang gak cari alamatnya?" tanya Srindra saat menyambut kedatangan Ichal dan Hani.


"Luar biasa cukup sulit sih Bun, pantesan Ichal susah banget cari keberadaan Bunda selama ini," jawab Ichal lesu.


"Pasti Hani juga kaget ya kenapa rumah Bunda sampai penuh penjagaan gini?" Srindra mengelus kepala Hani dengan lembut.


"Lumayan sih Bun, tapi gapapa 'kan ada Diaz," jawab Hani tersenyum.


"Ya sudah ayo duduk!" Srindra mempersilakan duduk.


Ichal dan Hani mengangguk pelan.


"Tolong siapkan minuman dan kudapan untuk tamu saya!" perintah Srindra.


Tak lama kemudian dua orang pembantu datang dan membawakan kudapan serta minuman untuk Hani dan Ichal.


"Ayo silahkan, jangan malu-malu,"


Ichal terfokus pada beberapa foto yang dipajang di ruang tamu rumah Srindra.

__ADS_1


Ardi datang dengan tergesa dan membisikan sesuatu pada Srindra, seketika mimik wajah Srindra berubah saat mendengar bisikan dari Ardi tersebut.


"Kalian boleh lihat-lihat sekitar rumah, Bunda ada urusan sebentar. Bunda tinggal dulu ya." ucap Srindra dengan senyum lalu beranjak meninggalkan ruang tamu disusul oleh Ardi.


"Haaaaah," Hani berdiri sambil menghela nafas panjang.


Dia melihat-lihat interior mewah di rumah Srindra, Hani benar-benar kagum dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa semua orang kaya selalu punya rumah sekeren ini sih?" gumam Hani kagum saat melihat sebuah lampu gantung dengan model klasik yang terlihat sangat mewah dan mahal.


"Kita nikah, aku bikin rumah yang lebih keren," bisik Ichal menggoda Hani.


"Ih, apaan sih?!" ucap Hani sambil menepuk punggung Ichal.


"Aku boleh lihat-lihat 'kan?" tanya Hani memastikan. Ichal mengangguk sambil tersenyum melihat Hani yang benar-benar antusias.


"Oke, sekarang aku harus cari petunjuk tentang hubungan Srindra Adamar dengan orangtua aku," batin Hani.


***


"Ardi coba ulangi apa yang tadi kamu bilang!" suara Srindra terdengar seperti tidak percaya.


"Dokter yang menangani Nyonya Sundari mempunyai hubungan cukup kuat dengan Baron Utama, sedangkan Baron Utama diketahui sering mengunjungi rumah Surya Pratama secara pribadi," ungkap Ardi.


"Berarti ada kemungkinan bahwa kematian Sundari juga tidak wajar?" Srindra bertanya untuk meyakinkan pemikirannya.


"Betul, Nyonya!" Ardi menjawab sembari mengangguk.


"Kurang ajar!" murka Srindra menggebrak meja kerjanya.


"Kapan saya bisa menampakan diri ke publik? Apakah waktunya masih lama?"


"Untuk saat ini masih cukup berbahaya untuk anda keluar Nyonya, kami masih mempersiapkan untuk kembalinya anda," jawab Ardi.


"Baik, sampai saatnya tiba. Saya minta tetap awasi dan jaga Hani jangan sampai dia terluka ataupun dalam bahaya! Saya tidak mau kehilangan lagi!" tegas Srindra.


"Baik Nyonya! Saya permisi." Ardi mengangguk lalu meningalkan ruangan Srindra.


"Baron Utama, Surya Pratama, manusia licik macam apa mereka?!" gumam Srindra menggertakan giginya.


***


"Loh, Nona? Kenapa anda ada di sini?" tanya Ardi saat melihat Hani berada di area yang seharusnya tak dimasuki oleh sembarang orang.


"Astaga!!! Kaget banget! Saya sedang melihat-lihat rumah ini, tapi saking luasnya saya malah nyasar ke sini," jawab Hani.


"Kalau begitu ayo saya antar anda kembali ke ruang tamu!" Ardi mempersilakan Hani untuk jalan duluan.


"Gagal! Aku gak nemuin apapun yang bisa jadi petunjuk," batin Hani kesal.


"Nona, lewat sini! Jika anda lewat sana anda akan ke taman belakang," ucap Ardi saat melihat Hani akan berbelok ke arah yang salah.


"Luar biasa! Seluas apa sih rumah ini, sampai-sampai bikin pusing banget!" batin Hani takjub.


"Loh, Han kamu dari mana? Aku dari tadi nyari kamu juga," tanya Ichal.


"Aku fokus lihat-lihat, sampai gak sadar aku nyasar di rumah gede ini. Luar biasa!" jawab Hani sambil tertawa takjub.


"Om Ardi, Bunda sibuk ya? Kalau gitu kita pulang aja, udah sore juga," kata Ichal.


"Oh, kalian sudah mau pulang? Aduh Bunda jadi gak enak," ucap Srindra tiba-tiba.


"Sudah sore, lagipula Ichal harus anter Hani jangan sampai kemaleman juga," ungkap Ichal.


"Baiklah, kalian hati-hati ya!" Srindra memeluk kedua anak muda itu dengan penuh kasih sayang.


"Ichal, jaga Hani ya!" teriak Srindra saat Ichal sudah memasuki mobilnya.


"Siap Bun!"


Ichal memacu mobilnya dengan hati-hati dan penuh konsentrasi.


"Tumben pelan banget, biasanya juga kebut-kebutan!" ucap Hani saat menyadari Ichal menyetir dengan penuh hati-hati.


"Sekarang aku udah punya kamu, jadi takut mat*!" jawab Ichal enteng.


"Waktu itu aja kamu bawa aku kebut-kebutan banget!" Hani tertawa saat tiba-tiba terkenang dengan masa awal kenal dengan Ichal yang masih menyebalkan.


"Tapi 'kan sekarang udah beda," ucap Ichal.


"Iyaa ... iyaa ... Mr. Ananta!" Hani kembali tertawa.


"Eh, tapi Bunda baik banget ya orangnya. Lembut banget gitu!" Hani tersenyum saat mengingat sosok Srindra yang lembut.


"Emang, dari dulu beliau gak berubah tetap sama penyayangnya walaupun Laras udah gak ada, beliau tetep aja baik sama aku," ungkap Ichal.


Hani mengangguk-ngangguk mendengar cerita Ichal tentang Srindra.


"Udah sampai nih, kamu gak mau mampir dulu?" tanya Hani.

__ADS_1


"Gak usah, sampai ketemu besok," ucap Ichal sambil tersenyum.


"Dadaaah!" Hani melambaikan tangannya.


Hani memasuki rumahnya tanpa sadar dengan seseorang yang tengah mengawasinya.


"Jadi di sini rumah lo!" gumamnya.


***


Tring!


Ichal membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


[Gue mau ngomong sama lo]


Ichal mendengus membaca pesan dari nomor yang tak bernama itu. Namun, Ichal tahu pasti siapa yang mengirim pesan kepadanya.


Tring!


[Gue tunggu lo di depan rumah lama Laras]


Sebuah pesan kembali masuk, lagi-lagi Ichal mendengus setelah membaca pesan itu. Ichal langsung memutar balik mobilnya, dan memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.


Dengan kasar Ichal menginjak rem mobilnya saat sampai di tempat yang dituju. Dan dengan kasar pula Ichal membanting pintu mobil saat keluar dari mobilnya dan melihat seorang laki-laki tengah berdiri di depan gerbang rumah kosong itu.


"Mau apa lo?" tanya Ichal dengan nada kesal.


"Gue perlu tahu semua yang terjadi sama Laras, Chal!" jawab Barsena dengan suara sedikit bergetar.


"Kenapa lo mau tahu? Padahal jelas-jelas lo udah tolak Laras?!" nada suara Ichal mulai meninggi.


"Maksud lo apa? Gue gak pernah tolak Laras!"


"Gue tahu Barsena! Gue tahu, sebelum Laras meninggal dia minta gue anterin dia buat ke rumah lo buat ketemu sama lo, Laras tuh cinta sama lo! Tapi lo malah nolak dia!!!" teriak Ichal.


"Nolak? Ke rumah gue? Laras cinta sama gue? Maksud lo apa?!" kini suara Barsena benar-benar bergetar.


"Kenapa lo selalu pura-pura ga ngerti kenyataannya Barsena? Kenapa cuma gue yang harus menderita?!" kali ini Ichal benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya.


"Gue emang gak tahu Chal, gue tahu Laras bun*h diri aja dari berita. Kenapa lo sebagai sahabat gue gak pernah kasih tahu hal ini? Padahal gue juga sahabat Laras!" suara pelan Barsena yang bergetar terdengar menyedihkan.


Ichal terdiam dengan nafas terengah-engah, ada rasa sakit di rongga dadanya melihat orang yang di hadapannya. Apalagi saat Ichal kembali teringat sosok Laras.


"Haaaaah ... haaaah ... haaaah ...," nafas Ichal sudah tak beraturan, dia menekan dadanya dengan kuat.


Barsena melihat ada sesuatu yang aneh pada Ichal.


"Lo kenapa? Lo sakit?" Barsena mencoba menyentuh pundak Ichal tapi Ichal menepis tangan Barsena dengan kuat.


"Jangan sentuh gue!!!" teriak Ichal disela hembusan batasnya yang berat.


Sementara dia makin merasakan sakit di rongga dadanya. Seketika tubuhnya ambruk dan Ichal tak sadarkan diri.


"Chal, Chal, bangun Chal!!!" Barsena yang melihat kejadian itu benar-benar panik.


Dengan segera dia membawa Ichal ke rumah sakit.


"Dokter! Suster! Siapapun tolong!" teriak Barsena saat sampai di rumah sakit.


Dengan cepat, beberapa perawat membawa Ichal ke ruang gawat darurat.


"Mohon tunggu di luar pasien akan segera kami tangani!" kata seorang suster sebelum pintu ruang gawat darurat ditutup.


Barsena terduduk di kursi dengan lemas, perasaannya kini benar-benar campur aduk. Namun dari berbagai perasaan itu, perasaan cemas lebih mendominasi.


Ketakutan akan kehilangan sahabatnya kembali menyerang Barsena.


"Lo kenapa sih Chal? Dua kali gue lihat lo kaya gini," gumam Barsena.


Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan, dengan cepat Barsena menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Ichal.


"Ichal baik-baik saja, beruntung kamu cepat bawa Ichal ke sini," ucap dokter itu.


"Dokter kenal Ichal?" pertanyaan itu tak sadar meluncur dari mulut Barsena.


"Tentu saja, Ichal adalah pasien saya," jawab dokter itu.


Barsena melihat name tag di jubah putih dokter itu dan membacanya 'dr.Rizky' tertulis disana.


"Pasien anda? Berarti Ichal sudah sering seperti ini Dok?" Barsena benar-benar penasaran.


Dokter itu mengangguk menanggapi pertanyaan Barsena.


"Kalau boleh tahu Ichal sebenarnya kenapa?"


"Karena yang kamu tanyakan sudah termasuk privasi dari pasien, saya tidak bisa menjawab pertanyaan kamu. Jika kamu penasaran, kamu bisa menanyakannya langsung pada Ichal," jelas Rizky.


"Oh, iya saya hanya minta sama kamu untuk tidak mengungkit trauma Ichal. Karena hal itu akan memperburuk kondisinya, yang memang sudah sangat buruk. Kalau begitu saya permisi." lanjut Rizky lalu meninggalkan Barsena yang masih berdiri dengan wajah penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Berapa banyak hal yang gue gak tahu dari dunia ini?!" batin Barsena menjerit.


__ADS_2