
Kini Hani sudah kembali ke rumahnya, dia kembali teringat kejadian tadi di bianglala.
"Udah gil* ya! Kalau gak berani sama ketinggian ngapain ngajak naik itu sih Hani?! Bikin malu aja! Mana udah ejek Ichal lagi! Kyaaaa!" teriak Hani frustrasi sambil membenamkan wajahnya ke atas bantal.
***
Matahari mengintip di balik tirai, perlahan menyoroti wajah tampan seorang pemuda yang masih memejamkan matanya.
"Udah pagi aja! Gue bahkan belum bisa tidur dari semalem!" gumamnya.
"Chal, Andri telepon! Katanya kenapa ponsel kamu gak aktif!" teriak Tamara di balik pintu kamar Ichal.
"Ini juga! Pagi-pagi ngapain sih udah ganggu aja!" gumam Ichal kesal.
Dia bangkit dari kasurnya dan merogoh ponsel yang terletak di atas nakas. Dia menekan ponselnya tapi tidak menyala.
"Pantesan, gue lupa charger," gumam Ichal.
"Ngapain juga si Andri telepon gue? Gak tahu apa? Gara-gara omongan dia, gue jadi makin susah tidur karena kepikiran!" gumam Ichal kesal.
Tring!
Sebuah pesan masuk saat ponsel Ichal kembali menyala, dia membaca pesan itu dari Andri.
[Nyet, pasti lagi bersenang-senang sama Hani ya? Gue telepon juga kagak diangkat! Gimana? Udah yakin sama perasaan lu? Cieee ... jatuh cinta wkwkwk]
Begitulah isi pesan dari Andri.
"Ternyata cuma mau ledek gue aja! Dasar si b*ngs*t itu!" teriak Ichal kesal.
"Mana gue tahu ini cinta atau bukan!" batin Ichal frustrasi.
***
"Mau kemana Chal?" tanya Tamara saat melihat Ichal berlari keluar rumah.
"Rumah Andri," jawab Ichal singkat.
Tamara menggelengkan kepalanya melihat Ichal yang sudah keluar rumah dan menaiki motornya.
"Padahal ini hari minggu Chal, mamah lagi libur!" gumam Tamara.
"Kemana anak kurang ajar itu?" tanya Edi yang melihat motor Ichal sudah melesat.
"Katanya sih rumah Andri," jawab Tamara sambil menyodorkan segelas kopi hangat pada suaminya.
"Bukannya belajar, malah keluyuran! Sifat pembangkangnya malah makin menjadi, disuruh periksa kesehatan aja susahnya minta ampun. Disuruh makan obat susahnya minta ampun, apalagi kalau di suruh belajar buat bisnis!" murka Edi sambil menyeruput kopi yang sudah disiapkan oleh isterinya.
"Bwaaah ... Panah! Kohinya panah!" teriak Edi setelah menyemburkan kopi yang diminumnya.
"Udah tahu panas, kenapa gak ditiup dulu Pah! Makanya hati-hati dong!" Tamara tertawa melihat suaminya yang kepanasan.
***
"Nyet! Nyet! Buka pintu nyet!" Ichal terus mengetuk pintu rumah Andri, tetapi tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
"Kemana sih tuh anak!" gumam Ichal.
"Loh, Nak Ichal! Andrinya pasti lagi di kamar mandi," ucap seorang wanita dengan ramah saat melihat Ichal tengah berdiri di depan pintu.
"Eh, Ibu! Dari tadi saya ketok pintu gak ada yang buka ternyata Ibu lagi di luar ya hehe," Ichal menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya, ibu baru aja pulang dari pasar! Ayo masuk, sekalian sarapan bareng. Pasti Nak Ichal belum sarapan 'kan? Soalnya masih pagi udah kesini," ucap wanita itu sambil membuka pintu.
"I-iya Bu, terima kasih," Ichal mengekor wanita itu memasuki rumah.
"Andri pasti ada di kamarnya, kamu masuk aja!" wanita itu lalu meninggalkan Ichal menuju dapur.
Ichal berjalan menuju kamar Andri, sejak dulu rumah kecil dan sederhana ini selalu menajadi tempat pelarian Ichal kalau ada masalah di rumahnya. Andri dan ibunya selalu membuka tangan lebar untuk menerima Ichal kapanpun, karena memang Andri dan Ichal sudah bersahabat sejak lama.
"Woy, Nyet!" teriak Ichal sambil menggedor pintu kamar Andri yang ternyata tidak dikunci.
Ichal masuk ke kamar Andri dan mendengar suara gemericik air.
"Woy, lagi ngapain lu? Mandi? Haha gak mungkin!" teriak Ichal di depan pintu kamar mandi Andri.
"Gue lagi bok*r b*ngs*t! Jangan ganggu gue! Pergi sana! Gue lagi konsentrasi!" bentak Andri dari dalam, dengan suara seperti sedang mengeden.
__ADS_1
"Nyet! Kayanya gue udah tahu perasaan gue," ucap Ichal dengan lemah.
Hening, tak terdengar suara sedikitpun setelah Ichal mengucapkan kalimat itu. Bahkan suara gemericik air yang sebelumnya terdengar dari dalam 'pun tidak terdengar sama sekali.
"Nyet, lu gak papa 'kan?" tanya Ichal memastikan saat tak terdengar apapun dari dalam.
"Nyet! Nyet! Lu gak papa!" teriak Ichal mulai terdengar cemas.
"Busyeeeet!!! Berisik banget sih! Gue lagi konsentrasi, jangan ganggu gue!" bentak Andri kesal.
"Tapi gue udah tahu perasaan gue Nyet!" teriak Ichal.
"Gue gak peduli! Sekarang gue harus keluarin t*i! Jadi gue butuh konsentrasi!" bentak Andri, membuat Ichal tak bisa menahan tawanya.
Dia tertawa terbahak-bahak sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur Andri.
"Dasar! Nyet ... Nyet!" gumam Ichal.
Brak!
Suara pintu yang dibuka dengan kasar terdengar nyaring di kamar Andri. Ichal melirik Andri yang berdiri dengan ekspresi kesal di hadapannya.
"Sekali lagi lu ganggu gue lagi bok*r, gue santet lu!" teriak Andri kesal.
"Ih, bau! Lu belum cebok ya?" ejek Ichal.
"Sembarangan aja lu! Nih makan bau!"
"Eh, tapi ngomong-ngomong tadi lu bilang lu udah sadar perasaan lu. Jadi perasaan lu apa?" tanya Andri penasaran.
"Kayanya gue beneran suka sama dia!" gumam Ichal.
"HAH? APAAN?!" teriak Andri.
Pletak!
Sebuah wortel mentah mendarat di kepala Andri.
"Dasar anak kurang ajar! Orang tua dari tadi ngomong nyuruh makan! Gak denger hah?! Malah teriak-teriak!" bentak seorang wanita sambil berkacak pinggang.
"Ayo Nak Ichal, makan dulu!" ajak wanita itu dengan ramah.
"Curang! Kenapa sama Ichal ramah banget, giliran sama anaknya aja bentak-bentak! Rasanya jadi kaya anak tiri!" keluh Andri sambil mengeleus kepalanya yang terkena wortel mentah itu.
"Udah! Ayo makan! Jangan kebanyakan ngeluh!" ucap wanita yang ternyata ibunya Andri.
***
"Waaaaah, ini baru namanya sarapan enak!" kagum Ichal saat melihat menu makanan yang tersaji di meja makan.
"Apaan? Sayur asem, tempe, tahu, sama ikan asin doang! Di rumah lu pasti banyak makanan yang lebih enak dari ini kan? Orang kaya!" keluh Andri saat mendengar ucapan Ichal.
Pletak!
"Aww! Sakit Bu!" ringis Andri saat ibunya kembali memukulnya menggunakan centong sayur.
"Ayo makan Nak Ichal! Maaf ya ibu cuma bisa masak ini aja!" ucap ibu Andri dengan ramah.
"Baik bu,"
Akhirnya Ichal sudah selesai dengan makanannya.
"Sebenernya lu pagi-pagi ke rumah orang mau ngapain sih Nyet?" tanya Andri.
Ichal melirik Andri dengan dingin. "Emang gue gak boleh ke sini?"
"Maksud gue bukan gitu! Bukannya lu ada jadwal buat periksa ke dokter?" ucap Andri.
"Jangan bilang lu, pergi ke sini buat menghindari itu? Ayolah Chal gue mau lu sembuh!"
"Jadwalnya besok Nyet, ini hari minggu lu lupa?" jawab Ichal datar.
"Oh, iya! Gue lupa hahaha!" Andri menertawakan dirinya sendiri.
"Dah lah gue pulang dulu," Ichal beranjak dari kursi.
"Apaan, lu ke sini cuma buat numpang sarapan doang?!" teriak Andri kesal.
__ADS_1
Ichal hanya tertawa sambil berpamitan kepada ibunya Andri.
"Wah ... wah! Dasar anak orang kaya gak tahu malu!" teriak Andri, Ichal yang mendengar itu hanya tertawa sambil menaiki motornya.
***
Sementara itu di tempat lain.
"Mana anak kurang ajar itu!" teriak Baron.
"Dia harus diberi pelajaran, berani-beraninya dia tinggalin anak Surya Pratama di jalanan sendiri!"
"Ayah jangan Ayah! Sabar! Kemaren Kakak anterin aku makanya dia ninggalin Kak Andin!" Kira mencoba menahan Baron yang akan mendobrak pintu kamar Barsena.
"Lepasin! Dasar anak gak guna!" Baron menghempaskan Kira dengan kasar ke lanatai.
Brak!
Barsena membuka pintu kamarnya dengan kasar, dia menatap tajam wajah ayahnya. Terlihat sekali amarah benar-benar menguasai dirinya.
"Jadi si manja itu lapor ke Ayah?" Barsena tersenyum getir sambil membantu adiknya berdiri.
"APA?! Si manja? Kurang ajar kamu Barsena!" bentak Baron sambil memukul wajah Barsena dengan keras, Kira yang melihat itu menjerit ketakutan.
"Jadi anak Ayah itu aku atau si manja itu?!" teriak Barsena sambil mengelus wajahnya yang terasa sakit.
"Kamu tahu gak artinya Surya Pratama untuk bisnis Ayah?!" bentak Baron.
"Barsena gak peduli pentingnya mereka untuk Ayah!" teriak Barsena lalu keluar meninggalkan rumahnya.
"Bagus! Pergi saja, jangan pulang lagi kalau bisa!" teriak Baron melihat punggung Barsena yang semakin menjauh.
Plakk!!!
Satu tamparan mendarat di pipi Kira dengan keras.
"Semua ini, gara-gara kamu! Dasar j*l*ng! Ayo ikut!" bentak Baron sambil menyeret kasar tangan Kira.
"Ayah lepas Yah! Lepasin Kira! Kira mau di bawa kemana?!" teriak Kira sambil terus meronta dan mulai berurai air mata.
"Lepasin Kira Ayah!" Kira terus menjerit dan terisak.
Ketakutan mulai terlihat di wajah Kira. Kira terus meronta mencoba melepaskan cengkeraman tangan ayahnya. Dengan kasar Baron mendorong Kira memasuki kamar dan menuncinya.
"Ayah! Lepasin Kira Yah! Jangan kurung Kira!" Kira terus berteriak dengan air mata yang terus mengalir.
"Kakak! Tolong Kira!" gumam Kira di sela isakannya.
Sementara itu Barsena memacu mobilnya dengan kencang, dia benar-benar marah. Dia bahkan meninggalkan adiknya bersama ayahnya yang berbahaya.
Mobil Barsena berhenti di depan sebuah rumah mewah yang terlihat sudah lama kosong.
"Laras," gumamnya.
Dia cukup lama berhenti di depan gerbang rumah itu. Kemudian kembali memacu mobilnya dan berhenti di tempat pemakaman.
Dia sampai di makam seseorang. Tertulis nama 'Marisa' di batu nisannya.
"Ibu, Barsena dateng buat berkunjung. Maafin Barsena yang jarang buat ke sini!" lirih Barsena disertai isakan.
"Hari ini 'pun tetap sama, Ayah tetap kasar dan baru aja dia pukul Barsena,"
"Beruntung Barsena masih punya Kira,"
Barsena mengusap air mata yang berlinang di pelupuk matanya.
"Barsena kelilipan jadi ada air mata,"
"Nggak ko, Barsena gak nangis!"
Barsena terus menggumam sendiri.
"Barsena pergi dulu ya Bu,"
Barsena lalu berdiri dan berjalan menyusuri area pemakaman yang sangat luas itu. Dia kembali berhenti di sebuah makam.
"Hay, Ras! Aku dateng, kamu pasti kaget karena aku baru bisa dateng berkunjung sekarang," gumam Barsena.
__ADS_1