Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.63 Amerika?


__ADS_3

"Ada yang perlu Papah sama Mamah, obrolin sama kamu, Chal," ucap Edi.


Edi lalu mengajak Ichal untuk duduk di sofa, dengan wajah heran bercampur penasaran Ichal mendaratkan tubuhnya di sofa empuk itu. Ichal melirik Tamara lalu Edi bergantian, keduanya belum mengatakan apapun pada Ichal.


"Kenapa, Mah, Pah? Kalian gak biasanya kayak gini."


"Begini, Chal. Untuk cari donor kamu, Papah berencana untuk pindah ke Amerika." Edi menghentikan ucapannya, dia menatap Ichal dengan seksama.


Jelas sekali perubahan air muka Ichal. Dia menjadi bingung, pindah ke Amerika bukan hal mudah. Dia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang asing baginya, apalagi dia harus meninggalkan Hani kesayangannya.


"Amerika?" tanya Ichal. Suaranya pelan dan bergetar. Padahal biasanya dia akan langsung berteriak dan membentak apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.


"Iya, Amerika. Dokter Rizky bilang, ada donor yang cocok untuk kamu di sana," jawab Edi.


Tamara meraih tangan anaknya, dia mengelus mencoba menenangkan. Jelas sekali Ichal ingin menangis dengan sejadi-jadinya.


"Kenapa harus sekarang, Mah, Pah?"


"Gimana sama Hani, Mah, Pah? Gak mungkin aku tinggalin Hani."


"Dokter Rizky bilang, kondisi kamu sudah benar-benar gawat. Sudah saatnya kita mengambil keputusan untuk tindakan kamu selanjutnya, dan Papah sama Mamah mau kamu jalani operasi itu, Chal," ucap Edi.


"Mamah bisa bantu buat jelasin pelan-pelan sama Hani, dia pasti ngerti kondisi kamu, Chal," timpal Tamara.


Ichal berdiri, dengan gontai dia berjalan menuju kamarnya lalu merebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur. Dia menatap nanar langit-langit kamar. Seketika senyuman manis Hani terbayang di kepalanya. Senyuman manis yang menenangkan jiwanya.


"Operasi itu aja gak yakin bakal berhasil. Kalau gue akhirnya mat* karena gagal operasi, gimana? Apa Hani bakal sedih?" gumam Ichal.


"Gue gak mau tinggalin Hani," batin Ichal gusar.


"Han, aku harus gimana, Han?" gumam Ichal.


***


"Hoaaaaam." Hani menguap lalu merebahkan tubuhnya.


Pikirannya sedikit tenang setelah mendengar kabar Andin sudah masuk rumah sakit jiwa. Akhir-akhir ini kondisi kehidupannya sedikit membuat tenang. Dia sudah tahu tentang jati dirinya dan sudah tahu juga tentang Laras. Bahkan tentang kondisi Ichal pun dia sudah tahu. Walaupun kondisi Ichal masih belum bisa membuat dirinya tenang.


Perasaan takut akan ditinggalkan oleh Ichal benar-benar membuatnya gusar. Perlahan Hani terlelap.


Hingga akhirnya matahari pagi menyorot tepat ke wajahnya. Hani mengerjapkan matanya karena silau, dengan malas dia bangun dari pembaringan.


"Selamat pagi dunia!" gumam Hani.


Dia sudah bersiap-siap berangkat sekolah. Sudah menyantap sarapan pula bersama Srindra. Tak lama kemudian Ichal datang menjemput Hani. Setelah berpamitan pada Sindra, Hani langsung berlari dan langsung masuk ke mobil Ichal.


"Han." Ichal membuka suara setelah beberapa saat keheningan yang mengelilingi mereka dalam mobil.


"Hmmm." Hani hanya menggumam menjawab Ichal.


"Hari sabtu besok kita kencan, yuk," ajak Ichal.


Hani mendadak terbatuk mendengar ajakan Ichal.


"Ke mana? Tiba-tiba?" tanya Hani heran.


Pasalnya Ichal bukan tipe orang yang suka mengajak jalan-jalan Hani, kalaupun ada waktu, Ichal lebih suka menghabiskan waktu berbincang di tempat yang dekat atau hanya sekedar taman. Sudah lama sejak Hani dan Ichal berpacaran, tapi Ichal baru kali ini mengajak untuk jalan-jalan terlebih lagi dengan embel-embel 'kencan'.


"Ke pantai." Ichal tetap fokus melajukan mobilnya.


"Serius?" Mata Hani berbinar saat mendengar tempat tujuan Ichal mengajaknya kencan.


"Aku serius, kamu mau gak?" Ichal kembali bertanya.


"Mau, ih, mau banget!" ucap Hani antusias.


"Kalau gitu, nanti pulang sekolah aku minta izin sama Bunda. Kalau diizinin hari sabtu kita berangkat," ucap Ichal.

__ADS_1


Dengan cepat Hani mengangguk, dia benar-benar bersemangat. Sudah sejak lama dia ingin berjalan-jalan apalagi ke pantai dan bersama Ichal pula.


***


Hari ini di sekolah tampak sepi, tak ada lagi kerumunan wartawan yang mencari Hani dan Salsa. Mungkin mereka bosan atau mungkin juga sudah mendapat berita yang mereka inginkan, entahlah.


"Gini dong, baru sekolahan elit!" teriak Andri.


"Duh, berisik banget, sih! Chika, suruh pacar Lo diem dong! Cowok kok bawel!" keluh Salsa.


"Tenang, Princess Salsa. Abang Andri, gak akan bawel lagi," goda Andri.


"Diem." Chika mencubit perut Andri yang tak bisa diam hingga Andri mengerang meminta ampun.


Salsa dan Barsena hanya tertawa melihat tingkah Andri dan Chika. Tak lama kemudian Ichal dan Hani pun tiba dengan senyum cerah ceria.


"Selamat pagi, Pasangan terbaik tahun ini!" sapa Andri yang sebenarnya menggoda Hani dan Ichal.


"Diem, Nyet!" Ichal memukul kepala Andri dengan keras hingga membuatnya mengerang kesakitan.


"Yayang, lihat! Abang Andri dianiaya!" rengek Andri manja pada Chika.


"Bodo amat, Dri." Chika tak menghirukan rengekan Andri.


Lagi-lagi hal itu membuat yang lain menertawakan Andri karena tingkah lucunya. Andri memang orang yang humoris, terkadang bisa menyebalkan, tapi terkadang juga menyenangkan.


Hani menatap kursi kosong di depannya, biasanya ada Bintan duduk di sana. Namun, hari ini bangkunya tampak kosong.


"Bintan gak masuk hari ini?" tanya Hani sambil menunjuk kursi kosong milik Bintan.


"Oh, Bintan. Katanya sih, keluarganya pindah ke luar kota. Jadi, dia juga ikut pindah, tapi gue gak yakin sih, pasti dia pindah karena takut sama omongan Ichal kemaren," jawab Salsa.


"Jadi, Bintan pindah," batin Hani.


Padahal dulu waktu awal Hani masuk sekolah ini, Bintan orang pertama yang menolong dia saat di-bully Salsa. Namun, ternyata Bintan melakukan itu karena ada maksud terselubung.


***


Sampai akhirnya jam pulang pun tiba, semua siswa yang semula tampak lemas, saat bel pulang berbunyi mendadak menjadi bersemangat.


"Hoaaaaaam, akhirnya selesai juga penderitaan gue hari ini." Ichal menggeliat dari kursinya.


"Tumben, Lo serius merhatiin pelajaran," ejek Barsena.


"Biar pinter," sahut Ichal.


Ichal langsung menarik tangan Hani membawanya ke luar kelas.


"Ke mana, Chal? Buru-buru amat," tanya Andri.


"Ketemu calon mertua," jawab Ichal tanpa menoleh ke arah yang bertanya.


***


Saat sampai di rumah, Hani dan Ichal langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk di ruang tamu Srindra. Terlihat Ardi bolak-balik keluar masuk rumah karena tengah sibuk mengurus sesuatu.


"Om Ardi, bunda mana?" tanya Hani.


Ardi berhenti sejenak. "Di ruangannya, Nona."


"Oh, gitu ya, Om. Yaudah deh, nanti aku ke sana aja," sahut Hani.


"Ada perlu apa, Nona? Nyonya tampaknya sedang sangat sibuk."


"Diaz mau ketemu sama bunda, ada sesuatu yang harus diomongin," jawab Hani.


Ardi mengangguk lalu langsung kembali melanjutkan kegiatannya mengurus ini dan itu.

__ADS_1


"Gimana dong, bunda-nya lagi sibuk," keluh Hani.


"Ya, aku tunggu aja," jawab Ichal santai.


Matahari sudah terbenam. Namun, Srindra tak kunjung selesai dengan kesibukannya. Memang Srindra bekerja dari rumah, jadi dia tak perlu pergi ke kantor. Ichal bahkan sudah ketiduran di sofa itu karena menunggu Srindra. Begitupun dengan Hani yang sudah sangat bosan.


"Loh, Ichal masih di sini?" pekik Srindra.


"Bunda, kok lama, sih?" keluh Hani.


"Iya, banyak banget yang harus diurus. Ada apa?" tanya Srindra sambil menatap Ichal.


"Ichal mau minta Izin sama Bunda,"


"Izin? Ngapain?" tanya Srindra penasaran.


"Besok Ichal mau ajak Hani jalan-jalan ke pantai." Ichal meremas jemarinya, harap-harap cemas dengan jawaban Srindra.


"Oh, ya udah boleh. Bunda izinin kamu!" ucap Srindra.


"Eh, ko gampang banget?" batin Ichal heran.


"Asiiiiiiik!" pekik Hani senang.


"Asal ingat pesan bunda, hati-hati. Bunda izinin kamu bawa Hani, karena bunda percaya sama kamu."


"Iya, Bunda."


***


"Kamu siap-siap, ya. Besok aku jemput kamu," ucap Ichal.


Hani mengangguk cepat, dia benar-benar bersemangat. Pergi ke pantai benar-benar menyenangkan, saking bersemangatnya mungkin malam ini dia tidak akan bisa tidur.


Ichal langsung pulang ke rumahnya. Sudah cukup lama juga Ichal tidak membawa Hani ke rumahnya. Saat sampai di rumahnya, Tamara dan Edi tampak sangat sibuk.


Ya, hari senin besok Ichal dan keluarga akan terbang ke Amerika. Ichal bahkan belum menceritakan hal ini pada Hani. Entah bagaimana caranya dia nanti menceritakan hal ini pada Hani.


Pindah ke Amerika untuk operasi jantung Ichal. Sebenarnya Ichal masih sangat ragu, tapi ayah dan ibu-nya sudah sangat yakin. Jadi, Ichal tak punya pilihan lain selain menuruti mereka.


Tujuan Ichal mengajak Hani jalan-jalan besok, adalah untuk memberikan kenangan indah pada Hani sebelum dirinya pergi. Ichal takut kalau operasi ini mungkin akan gagal, dan dia bisa saja meninggal. Oleh karena itu dia ingin membuat kenangan indah bersama gadis kesayanganya.


"Chal, kamu segera siapin barang yang mau kamu bawa, nanti mamah beresin," ucap Tamara.


Ichal hanya mengangguk pelan lalu masuk ke kamarnya. Dia sudah tak punya semangat lagi, rongga dadanya terasa sangat sakit. Sakit di hatinya terasa lebih parah dari pada sakit yang dideritanya.


Dengan lemas, dia menelan obat lalu merebahkan tubuh di kasur. Ichal meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya.


Dia bangkit lalu menuju lemari pakaian, dia harus mengeluarkan pakaian dan perlengkapan lain yang akan dia bawa ke Amerika.


Kalau boleh jujur, mungkin Ichal ingin menangis dengan kencang saking membingungkannya keadaan dia sekarang.


Tok!


Tok!


Terdengar suara pintu di ketuk, Ichal menghela nafas panjang sambil menoleh ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Ichal.


"Gue," jawab orang itu di balik pintu.


Ichal berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Terlihat sosok Barsena berdiri di sana.


"Kenapa? Gak biasanya, Lo ngirim pesan ke gue," tanya Barsena.


Lagi-lagi Ichal menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2