
Barsena lalu berdiri dan berjalan menyusuri area pemakaman yang sangat luas itu. Dia kembali berhenti di sebuah makam.
"Hay, Ras! Aku dateng, kamu pasti kaget karena aku baru bisa dateng berkunjung sekarang," gumam Barsena.
Barsena menatap makam Laras dengan nanar, kesedihan nampak jelas terlukis di wajah tampannya.
"Lu ngapain ke sini?" hardik seseorang di belakang Barsena.
Barsena cukup tersentak mendengar itu, tapi kemudian kembali tenang karena menyadari suara yang tak asing di telinganya.
"Kenapa? Emang gue gak boleh ke sini Chal?" ucap Barsena santai sambil berbalik menghadap Ichal yang tengah berdiri di belakangnya.
"Lu berani nampakin wajah lu di sini, padahal jelas-jelas penyebab Laras meninggal tuh elu!" bentak Ichal sambil menunjuk-nunjuk wajah Barsena.
"Maksud lu apa hah?!" hardik Barsena sambil menarik kerah Ichal dengan kasar.
"Elu beneran gak ada rasa bersalah sama sekali? Laras meninggal setelah dia ketemu sama lu!" teriak Ichal.
"A-apa? Ketemu gue? Kapan? Maksud lu apa?" cecar Barsena dengan wajah menahan amarah.
"Lu parah banget Barsena!" Ichal tersenyum getir sambil melepaskan cengkeraman tangan Barsena di kerahnya dengan kasar.
Ichal berbalik meninggalkan Barsena yang masih dengan ekspresi tak tahu apa-apa dan banyak sekali pertanyaan berputar di kepalanya.
"Dasar br*ngs*k! Dia sama sekali gak sadar kesalahannya, sedangkan gue selama ini yang menderita!" umpat Ichal dalam hati.
Barsena berjalan gonta menuju mobilnya. Selama dia berjalan perkataan Ichal terus terngiang di kepalanya.
"Maksud lu apa Chal!" teriak Barsena frustrasi sambil mengacak rambutnya lalu membenturkan kepalanya ke setir mobil.
***
Ichal memacu motornya dengan kencang di jalanan yang cukup ramai. Hal ini tentu sangat membahayakan bagi dirinya maupun orang lain. Dia bahkan setengah sadar memacu motornya itu, yang ada dalam dirinya sekarang hanya amarah.
Saat motor Ichal memasuki jalanan yang sepi dia makin memacu motornya dengan kencang, hingga dia hampir saja menabrak seseorang yang akan menyeberang jalan. Beruntung dia sigap mengerem motornya hingga dia jatuh terguling-guling di aspal.
"Kyaaaaa!!!" teriak seorang gadis yang hampir tertabrak oleh motor Ichal.
Dia berlari dengan gemetar menghampiri Ichal yang masih menelungkup di aspal.
"Ka-kamu gak papa kan?" tanyanya dengan ragu-ragu.
Ichal bangkit lalu membuka helm nya.
"Haaaaaaaah! Kalau nyebrang tuh hati-ha--," ucapan Ichal terhenti saat melihat gadis di depannya.
"Aduh gil*! Pasti gue beneran gil*! Kenapa gue malah bayangin si cewek aneh itu sih!" umpat Ichal dalam hati saat melihat gadis di depannya.
"Loh! Ichal? Kamu kebiasaan ya, kalau bawa motor suka kebut-kebutan!" omel gadis itu.
"Lu beneran Hani ya?" tanya Ichal memastikan.
"Maksud kamu apa sih? Dasar aneh!" hardik Hani sambil berdiri dan meninggalkan Ichal.
"Eh, tu-tunggu!" tanpa sadar ucapan itu meluncur dari mulut Ichal.
"Kenapa?" Hani memutar badannya malas.
"Sa-sakit!" ucap Ichal ragu.
"Makanya hati-hati!" Hani memutar bola matanya malas.
Hani kembali menghampiri Ichal, dan memeriksa bagian yang katanya sakit. Dia melihat di bagian sikut sedikit luka foreman.
"Apaan luka gini doang!" ejek Hani.
Ichal hanya terdiam melihat Hani yang terus mengoceh tentang lukanya. Hani tersadar sedari tadi Ichal hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, ekspresi Hani mulai berubah dia seperti merasa bersalah sudah mengejek Ichal.
"Sa-sakit banget ya Chal? Aduh gimanadong, bentar aku beli obat dulu ke apotik," ujar Hani dengan nada panik.
Saat Hani berdiri hendak berlari ke apotik Ichal menahan tangan Hani.
"Ke-kenapa Chal?" tanya Hani kaget.
"Gue su ... gue ... su ... su ...," entah mengapa, lidah Ichal seketika kelu tak bisa mengucapkan maksudnya dengan jelas.
"Su apaan sih? Aneh banget! Mau susu? Oke aku beliin sekalian, tunggu ya!" ujar Hani sambil melepaskan genggaman tangan Ichal dan berlari menuju apotik.
"Maksud gue, gue suka sama lu Hani!" batin Ichal sambil menatap nanar punggung Hani yang berlari makin menjauh.
***
Kini Hani sudah kembali dan membawa obat merah dan juga plester untuk Ichal.
"Mana sini aku lihat luka kamu!"
Hani mengoleskan obat merah ke sikut Ichal lalu menempelkan plester dengan hati-hati. Walaupun lukanya hanya goresan kecil, tapi itu cukup perih dan membuat Ichal meringis.
"Nah udah deh! Nih susu, tadi kamu bilang mau susu 'kan?" Hani menyodorkan susu dalam bentuk kemasan kotak.
"Apaan nih? Gue udah gede, mana mungkin minum susu," hardik Ichal dengan wajah memerah.
"Udah terima aja." ucap Hani sambil memberikan susu itu pada Ichal.
"Aku pulang dulu, kamu hati-hati bawa motornya!" ucap Hani.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Ichal berdebar saat mendengar ucapan Hani itu, seolah baru pertama kali Ichal mendengar kalimat seperti itu.
__ADS_1
"Tu-tunggu!" teriak Ichal menahan Hani.
"Kenapa lagi?" Hani memutar badannya dan menghentikan langkahnya.
Dia melihat Ichal yang tampak salah tingkah, dengan wajah merona dan terus menggaruk bagian tubuh yang sudah jelas tidak gatal.
"Anu ... itu, gue anterin lu!" ucap Ichal gugup.
"Gak perlu!" jawab Hani tegas sambil kembali berjalan.
"Sial! Gue di tolak! Malu banget b*ngs*t!" umpat Ichal dalam hati.
Akhirnya Ichal melewati malam tanpa bisa tertidur sedetik 'pun karena terlalu gelisah setelah dia menyadari jika dia benar-benar jatuh cinta pada Hani si cewek aneh.
***
Hari senin yang cerah, Hani berjalan menuju ruang kelas dengan senyum sumringah entah apa yang sedang dirasakannya yang jelas hari ini dia benar-benar terlihat ceria.
"Eh, Hani!" panggil Bintan saat melihat Hani berjalan di depannya.
Hani memutar kepalanya menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Bintan!" jawab Hani dengan senyum manis.
"Wow, kenapa nih pagi-pagi semangat banget?" goda Bintan saat menyadari senyum ceria Hani.
"Kenapa gitu?"
"Gak papa sih, cuman ada yang beda aja gitu. Hari ini kamu kaya ceria banget!" ujar Bintan.
"Ah, gak ada apa-apa kok!" kilah Hani sambil menggandeng Bintan menarik ke kelas.
"Ayang Bintaaaaan!" teriak Andri sambil berlari menghampiri Bintan.
"Ishhh ... dasar kutu air!" gumam Bintan kesal.
"Wah, ada apa nih? Kalian jadian?" tanya Hani antusias.
"Ogah! Itu gak mungkin! Mustahil!" tegas Bintan.
"Jangan gitu dong Ayang! Nanti beneran jodoh sama abang Andri gimana?" goda Andri sambil menyenggol sikut Bintan.
"Ogah!" kesal Bintan.
Andri hanya terkekeh melihat reaksi Bintan. Hani melirik sudut kelasnya, Ichal belum terlihat sama sekali. Biasanya dia pasti berangkat bareng dengan Andri.
"Ichal bakal telah hari ini, soalnya lagi ada perlu," goda Andri saat menyadari Hani seperti sedang mencari seseorang.
"Ih, apaan sih? Gak penting juga kali!" kilah Hani.
Andri kembali terkekeh saat melihat reaksi salah tingkah Hani.
***
Ichal mendengus saat mendengar itu, dia memakai kaus kaki dengan santai seolah sengaja agar dia bisa terlambat.
"Ayo sayang, nanti telat!" teriak Tamara kembali.
Ichal berdiri dan berjalan santai membuka pintu, dia melihat Tamara sudah siap dengan setelan yang elegan.
"Mau ke rumah sakit aja dandanannya heboh banget," gumam Ichal.
"Ayo sayang, mulai hari ini kamu gak usah bawa motor atau mobil. Mamah aja yang anterin kamu!"
"Apa? Saya gak mau!" teriak Ichal.
"Kunci motor sama kunci mobil kamu di simpan sama papah, jadi kamu gak bisa bawa kendaraan lagi mulai hari ini!" tegas Tamara.
"Apa?! Tapi kenapa? Gak adil!" keluh Ichal.
"Kalau itu, kamu tanyain aja sama papah kamu!"
"Ayo berangkat!" ajak Tamara.
Ichal dengan berat hati mengikuti langkah ibunya. Padahal kemarin dia masih bisa mengakses kendaraannya dengan bebas, tapi kenapa sekarang dia bahkan tak tahu dimana letak kuncinya.
Kini Ichal dan ibunya sudah berada di rumah sakit, tepatnya berada di ruang tunggu. Menunggu giliran karena kebetulan dokter Rizky tengah memeriksa pasien lain.
"Saudara Ananta silahkan masuk!" terdengar suara lembut seorang perawat mempersilakan Ichal masuk.
"Ayo sayang," ajak Tamara pada Ichal.
Dengan malas Ichal mengekor di belakang ibunya.
"Waaah luar biasa! Akhirnya kamu bersedia menemui saya," seru dokter Rizky.
Ichal hanya mendelik mendengar seruan dokter di depannya.
"Ah, maaf Dok. Seperti yang Dokter tahu butuh waktu lama untuk membujuk Ichal untuk sekedar memeriksa 'kan keadaannya." ucap Tamara sambil duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Percuma periksa tiap hari juga kalau akhirnya tetep bakal mat*!" ketus Ichal.
Dokter Rizky hanya menggeleng mendengar ucapan Ichal. Setelah rangkaian pemeriksaan yang lumayan lama akhirnya selesai sudah.
Ichal langsung berdiri dan keluar dari ruangan disusul oleh Tamara yang beranjak dari kursinya.
"Maaf Bu Tamara, bisa kita bicara sebentar?" tanya dokter Rizky saat Tamara sudah berada di ambang pintu.
Tamara memutar kepalanya dan sedetik kemudian dia menganggukan kepalanya menyetujui.
__ADS_1
"Seperti yang sudah Ibu ketahui, kondisi Ichal semakin hari semakin memburuk. Walaupun Ichal tidak memperlihatkan kondisinya secara jelas, tapi sudah jelas jika kondisi Ichal benar-benar parah. Ditambah lagi dengan trauma pada dirinya, membuat serangan itu lebih sering terjadi dan tidak bisa dipungkiri jika itu berdampak pada kondisi Ichal," jelas Rizky.
"Lalu bagaimana dengan donor itu Dok?" suara Tamara terdengar bergetar.
"Untuk saat ini belum ada donor yang cocok untuk Ichal Bu, tapi kami sedang berusaha mencari donor yang cocok untuk Ichal,"
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya! Saya akan bayar berapapun yang rumah sakit ini dan Dokter minta, pasti saya akan membayarnya!" tangis Tamara mulai pecah.
"Seperti yang Ibu ketahui, ini bukan masalah uang tapi ini masalah tentang kecocokan dan itu cukup sulit," sesal Rizky.
"Saya harap Ibu bisa mengawasi kebiasaan Ichal agar risiko terjadinya serangan lagi bisa terhindar, juga jangan mengungkit trauma yang dialami Ichal itu juga salah satu cara untuk menghindari serangan yang akan terjadi sewaktu-waktu. Karena sekarang periode serangannya lebih sering dari perkiraan," jelas Rizqy.
Tamara berpamitan dan langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Ichal mana sih? Dia 'kan harus berangkat sekolah," gumam Tamara.
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponsel Tamara.
[Saya berangkat duluan naik taksi, jadi Mamah gak usah cari saya!]
Tamara menghela nafas panjang setelah membaca pesan dari anaknya, dia lalu bergegas menuju parkiran dan melesat menuju kantornya.
***
Ichal termenung di dalam taksi, sebenarnya saat dokter Rizqy dan ibunya berdiskusi tentang kondisi dirinya, Ichal dengan jelas mendengar isi percakapan tersebut.
"Kenapa gue gak mat* aja sekalian!" batin Ichal.
"Kenapa gue malah nyusahin orang-orang di sekitar gue?!"
Ichal membayar ongkos taksi dan langsung berjalan menuju kelasnya. Terlihat banyak sekali yang memperhatikan dirinya, karena sekarang sudah jam istirahat dan Ichal baru tiba di sekolah.
Ichal langsung duduk di kursinya, tepat di samping Hani.
"Chal, lu baru dateng?" tanya Andri.
"Hmmm," Ichal hanya menggumam.
"Gimana hasil periks--,"
Bukk!
Ichal memukul perut Andri dengan cukup keras untuk menghentikan ucapan Andri.
"Sial! Lu kenapa sih tiba-tiba pukul gue!" bentak Andri.
"Sengaja gue mau tahu kekuatan lu," jawab Ichal asal.
"Dasar aneh!" hardik Andri.
Hani yang melihat itu hanya melongo, dia merasakan ada yang aneh. Kenapa jam segini Ichal baru datang, memang tadi pagi Andri bilang kalau Ichal ada urusan tapi itu terlalu berlebihan jika harus dilakukan saat jam sekolah.
"Kamu dari mana sih? Jam segini baru dateng, seenaknya aja dateng siang-siang!" tanya Hani gemas.
"Bukan urusan lu!" jawab Ichal ketus.
Hani berdecak mendengar jawaban Ichal.
"Aku tahu kamu benci belajar, tapi sialnya buat tugas proyek aku sama kamu satu kelompok," ucap Hani malas.
"Gue sama lu sekelompok?" teriak Ichal tak percaya.
"Hmmm,"
"Mat* gue!" batin Ichal.
"Oh, iya pulang sekolah kita langsung kerjain tugasnya di perpus. Aku gak mau telat bikin tugas gara-gara kamu males!" ucap Hani dengan mata berdelik.
Ichal tercengang mendengar Hani, gadis yang biasanya tak berani menatap ataupun berbicara dengannya malah dengan berani mengolok dan memerintah dirinya.
***
Ichal menghela nafas panjang saat sudah di perpustakaan dan melihat siapa saja yang ada di kelompoknya.
Di depannya selain Hani, ada juga Andri, Salsa, dan Barsena.
"Haaaaaaah!" kelimanya menghela nafas panjang.
"Ini bakal jadi tugas kelompok paling berat buat aku!" jerit Hani dalam hati.
Bagaimana 'pun juga anggota kelompoknya adalah orang-orang yang pernah terlibat masalah dengannya terutama Salsa.
Salsa menatap tajam Hani yang duduk bersebelahan dengan Ichal.
"Oke, gue gak mau ya nilai gue turun gara-gara gue satu kelompok sama orang-orang yang gak level sama gue, kecuali Ichal sayang," ketus Salsa lalu tersenyum saat menatap Ichal.
Andri bergidik saat mendengar ucapan Salsa.
"Gue juga gak mau kalau lo semua nyusahin gue!" tegas Salsa.
"Dan satu lagi gue gak ma--,"
Tangan Barsena membungkam mulut Salsa yang terus bicara ini dan itu.
"Iiiwww ... apaan sih jorok banget!" keluh Salsa.
"Diem!" bisik Barsena.
__ADS_1
"Ini bakal bener-bener sulit!" batin Hani saat melihat kekacauan di depannya.