Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.55 SaBar Couple?


__ADS_3

"Padahal mamah udah tua," gumamnya.


"Apa, Chal? Ngomong apa kamu?" teriak Tamara.


Ichal mendengkus memutar bola matanya malas sambil menyumbat telinganya agar tak mendengar suara berisik ibunya. Sementara Hani hanya terkikik.


"Han, nanti kalau kamu udah sembuh, udah keluar dari rumah sakit, kita shopping bareng. Mau kan? Tante udah dari lama bayangan shopping bareng calon mantu," ucap Tamara. Dia melirik ekspresi Ichal yang tampak memerah mendengar ucapan Tamara.


"A–ah, ca–calon mantu?" tanya Hani.


Entah mengapa Hani mendadak gugup mendengar kalimat Tamara. Begitupun Ichal wajahnya merah padam hingga daun telinganya pun ikut memerah. Ichal menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, dia jadi begitu salah tingkah setelah mendengar kalimat Tamara.


"Mau 'kan? Kita shopping sepuasanya berdua aja!"


"Jangan mau, Han! Cape, nanti kaki kamu sakit lagi," sahut Ichal.


"Yang salting diam aja deh! Mamah gak ngomong sama kamu," ucap Tamara. Dia terkikik setelah menggoda Ichal yang kini tampak makin salah tingkah.


Hani tertawa melihat reaksi salah tingkah Ichal.


"Han, gimana sama bunda?" tanya Ichal tiba-tiba.


Hani menatap Ichal lalu menghela nafas panjang.


"Aku gak tahu, aku masih belum mengerti. Semua ini terlalu mendadak buat aku," jawab Hani.


"Aku tahu nama Papah aku memang Adamar. Aku tahu itu dari surat yang gak sengaja ketemu di kamar nenek, tapi kalau soal ternyata Papah adalah adik bunda dan ternyata Laras adalah kakak aku, aku bener-bener masih bingung! Gak mudah buat aku mencerna itu semua," ungkap Hani.


Berkali-kali dia menghela nafas panjang. Kenyataan yang baru sekitar dua hari yang lalu dia ketahui dari Srindra. Ya, Srindra sudah menceritakan semuanya langsung pada Hani. Cerita tentang kebenaran yang sudah lama ingin Hani ketahui.


Namun, setelah mendengar kebenarannya, Hani malah tampak lebih bingung. Semua kenyataan itu terlalu sulit untuk dia cerna dalam satu waktu, terlebih lagi dia hampir meninggal di tangan orang-orang yang tak menginginkan keberadaannya yang mengancam mereka.


Dua hari lalu setelah Srindra menjelaskan pada Hani, Hani meminta waktu untuk berpikir apakah dia akan mempercayai Srindra atau tidak. Dan Srindra dengan wajah sedih langsung meninggalkan Hani yang kala itu masih lemah.


"Bunda bilang sih, mau cerita semuanya setelah aku keluar dari rumah sakit, tapi aku masih bingung, semuanya terlalu mendadak buat aku," ungkap Hani.


Ichal mendekati Hani lalu meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Dia ingin memberikan kekuatan untuk kekasihnya itu. Apapun keputusan Hani, dia pasti akan mendukungnya.


"Barsena, gimana?" timpal Tamara.


Ichal menggeleng pelan. Dia pun tak tahu bagaimana nasib sahabatnya. Sudah tiga hari pasca operasi, dia belum juga siuman. Mungkin peluru yang ayahnya letuskan lebih mengenai lubuk hatinya bukan fisiknya. Barsena sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Barsena masih belum juga siuman," jawabnya.


"Lalu, Salsa?" sahut Hani.


"Salsa aku lihat baik-baik aja. Dia sama sekali gak mau pindah dari samping Barsena. Aneh banget kan? Orang paling angkuh sedunia itu, kok bisa gitu sama Barsena." Ucap Ichal mengungkapkan rasa anehnya seperti halnya Andri dan Chika.


"Husss ... jangan gitu! Salsa juga bisa berubah, gak mungkin dia terus angkuh 'kan?" ujar Hani.


Ichal mengangguk pelan menyetujui Hani.


"Dasar, bisanya ngomongin orang yang berubah. Padahal sendirinya yang paling aneh, orang paling dingin sekarang cuma bisa nurut sama Hani," batin Tamara. Dia tersenyum melihat Ichal yang hanya melihat Hani, hanya mendengarkan Hani, dan hanya menurut pada Hani.


"Mamah, pulang ya. Mamah ada rapat penting di butik, nanti mamah ke sini lagi deh," ucap Tamara.


"Gak usah, Mah. Mamah berisik!" timpal Ichal.


"Mamah gak peduli, yang penting Hani bahagia. Tante pulang ya, Sayang." Tamara mengecup kening Hani lembut dan tersenyum pada Ichal yang cemberut lalu meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Aku khawatir banget sama Barsena," ucap Hani.


Ichal menatap Hani lalu tersenyum dengan lembut. "Kamu tenang aja, aku tahu Barsena itu orang kuat. Dia udah hampir meninggal beberapa kali, tapi akhirnya dia selamat. Jadi kamu tenang aja sekarang juga pasti gitu, dia bakal selamat!" ucapnya.


Ichal terus tersenyum pada Hani yang terlihat gusar.


"Aku juga khawatir sama kamu, Diaz!" lirih Hani.


Perlahan senyuman Ichal memudar mendengar ucapan Hani.


"Bener, gue mimpiin apaan sih? Gue mimpi hidup bahagia sama Hani? Jangan bercanda, Chal! Waktu lo udah gak lama lagi!" batin Ichal.


"Kenapa? Aku baik-baik aja, lihat!" ucap Ichal. Dia berpura-pura kuat, padahal dari kemarin rongga dadanya begitu sakit.


"Kamu jangan tinggalin aku." Hani terisak, bergegas Ichal memeluk Hani dan membisikan kalimat-kalimat untuk menenangkan Hani.


"Aku bisa apa kalau kamu gak ada." Hani terus terisak di pelukan Ichal.


Kenapa nasib mereka malang sekali. Sekarang nasib Hani dan Salsa jadi nyaris sama.


***


Salsa terus menatap nanar mata barsena yang masih tertutup. Mulut dan hidungnya tertutup selang oksigen, di tangannya tertusuk jarum infus. Hanya suara alat deteksi detak jantung yang terdengar di kesunyian itu.


"Sakit banget ya, Barsena?" gumam Salsa.


Hening, lagi-lagi suara sebuah alat yang terdengar. Salsa menghela nafas, dia berdiri dari kursinya.


Bruk!


Tubuhnya terlalu lemah jika harus berdiri apalagi sudah terlalu lama dia duduk di kursi itu, mungkin kakinya lemah untuk menopang bobot tubuhnya.


"Mmmmh,"


"Barsena!" pekik Salsa. Dia melihat Barsena membuka matanya.


"Dokter! Barsena udah bangun!" teriak Salsa.


Barulah seorang dokter dan beberapa orang suster masuk ke ruangan Barsena. Mereka langsung memeriksa kondisi Barsena.


"Kondisi Barsena sangat stabil ... bla ... bla ... bla ...," jelas dokter itu.


Salsa mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan panjang dokter.


Salsa meraih tangan Barsena, dia menatap Barsena dengan mata berkaca-kaca. Barsena tersenyum, dia mengelus rambut Salsa dengan lembut.


"Gue mimpi panjang banget," ucap Barsena.


Salsa menatap mata Barsena. "Mimpi apa?" tanyanya.


"Rahasia." Barsena tertawa pelan melihat eksperi Salsa yang langsung berubah kesal.


Buk!


Salsa memukul perut Barsena. Pukulan pelan, namun Barsena meraung kesakitan membuat Salsa panik.


"Bercanda ko! Khawatir ya sama gue?" ejek Barsena. Dia kembali tertawa.


"Ih, rese! Udah ah, gue balik. Lo juga udah gak jadi mat*!" ketus Salsa. Jelas kalau dia berpura-pura tak peduli dengan Barsena, ternyata gengsinya memang tak berubah sedikitpun.

__ADS_1


Salsa langsung berjalan meninggalkan Barsena dengan sedikit menyeret kakinya, kakinya keram karena terlalu lama duduk.


"Gue mimpi ketemu ibu gue, dan dalam mimpi itu gue lihat lo nangis minta gue balik," ucap Barsena.


Langkah Salsa langsung terhenti.


"Gue ngerasa harus balik buat denger jawaban dari lo,"


Salsa masih mematung membelakangi Barsena.


"Karena gue beneran jatuh cinta sama lo, Salsa Si Putri Angkuh!"


Tubuh Salsa mulai bergetar, kakinya terasa lebih lemas setelah mendengar kalimat demi kalimat yang Barsena katakan dengan suara paraunya.


"Gue harus denger jawaban dari, Si Putri Angkuh itu langsung,"


Entah sejak kapan, air mata mulai membasahi pipi Salsa.


"Lo mau kan jadi pa—,"


Ucapan Barsena terpotong karena Salsa tiba-tiba langsung menghambur ke pelukannya dengan isakan tangis pilu. Barsena tersenyum lalu membalas pelukannya dengan belaian lembut pada rambut Salsa.


"Lo jahat, Barsena!"


Salsa terus terisak dalam pelukan Barsena. "Gimana kalau misalnya lo gak balik? Gimana gue bisa hidup setelah gue tahu perasaan lo? Selama gue hidup, gue gak bakal bahagia!"


"Lo jahat, Barsena!"


Barsena mempererat pelukannya. Dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya.


"Jadi? Lo mau 'kan?" bisik Barsena.


Salsa langsung bangkit dan melepaskan pelukannya pada Barsena. Dia menatap tajam Barsena. Terus terang sekarang Barsena sedang merasa gugup menunggu jawaban Salsa, apalagi dilihat dari ekspresi Salsa sepertinya kurang menyenangkan.


Perlahan Salsa merubah ekspresinya yang semula tajam menjadi lebih lembut.


"Gue mau bod*h!" pekik Salsa.


Dia kembali menghambur ke pelukan Barsena sambil kembali terisak.


"Yes!" pekik Barsena.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dari balik kaca pintu.


"Tuh, 'kan aku bilang apa? Salsa sama Barsena tuh ada apa-apa!" bisik Ichal.


Ternyata Ichal yang tengah berdiri memperhatikan mereka. Sementara Hani yang duduk di kursi roda tak bisa melihat kejadian dramatis itu.


"Udah ah jangan ngegosip!" bisik Hani.


"Kamu lihat sendiri kan? Barsena sama Salsa tadi lagi pelukan. Sampai gak sadar kalau kita tadi udah masuk," bisik Ichal.


"Iya, jadi gak enak nih. Mending nanti aja lihat Barsena nya, kalau mereka udah gak pelukan lagi,"


"Mending sekarang aja, biar Barsena malu!"


"Husss ... gak boleh gitu ah, ayo balik ke ruangan aku aja!" ajak Hani.


Ichal langsung menuruti Hani. Dia mendorong kursi roda Hani menuju kamar pasien tempat Hani. Sebenarnya tadi mereka mendapat kabar bahwa Barsena sudah siuman, langsung saja mereka berniat melihat Barsena. Namun, saat sudah membuka pintu mereka melihat Salsa dan Barsena tengah berpelukan erat sekali. Karena merasa tidak enak, Hani langsung meminta Ichal untuk membawanya kembali ke luar.

__ADS_1


Namun, Ichal yang penasaran malah mengintip mereka di balik kaca pintu ruangan pasien Barsena. Hani hanya menggeleng pelan saat melihat tingkah Ichal yang tampak seperti anak-anak.


Ichal terus mengoceh tentang Barsena dan Salsa sambil mendorong kursi roda Hani. Hani hanya sesekali menghela nafas panjang mendengar ocehan Ichal. Kenapa juga Ichal jadi heboh tentang mereka? Begitu pikiran Hani. Ternyata motif dari hebohnya Ichal adalah dia akan merasa bebas dari gangguan Salsa dan Barsena pun tak akan memikirkan Hani lagi. Itulah yang membuat Ichal begitu heboh dengan kejadian ini.


__ADS_2