Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.27 Jawaban Rasa Penasaran


__ADS_3

"Atau jangan-jangan ... Ichal?!"


Mendadak Hani mengingat Ichal yang pernah bercerita tentang Laras yang meninggal bunuh diri di hadapannya.


"A-apa ini mungkin kejadian yang sama?" ucap Hani bergetar sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Hani bergegas keluar dari kamar neneknya dengan membawa surat dan kertas yang bertuliskan nama dan alamat itu.


Dia berlari tanpa menghiraukan sakit di lututnya yang tadi terbentur tangga. Dia menaiki taksi dengan tergesa.


"Ke jalan melati nomor 54 ya Pak!" pinta Hani pada sopir taksi.


Sopir taksi itu mengangguk lalu melajukan mobilnya. Beberapa menit kemudian taksi berhenti karena tertahan macet, Hani sudah tidak bisa duduk dengan tenang karena terlalu gugup.


Sesekali dia mengepalkan tangannya untuk menguatkan dirinya sendiri sambil menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


Namun Hani tetap bergetar dia terlalu takut untuk mengetahui kebenaran yang nantinya akan ia ketahui.


Kemudian mobil kembali melaju dengan lancar. Dan berhenti di alamat yang Hani tuju.


"Sudah sampai Non," ucap sopir taksi itu.


Hani membayar ongkos lalu turun dari mobil dengan tergesa.


"Ternyata emang bener," gumam Hani.


Seketika tubuhnya lunglai dan tak mampu berdiri dengan benar, kakinya terlalu lemas untuk menopang bobot tubuhnya.


Sangat jelas diingatan Hani jika beberapa waktu lalu Hani pernah ke tempat ini bersama Ichal.


Sekarang yang ada di otak hani hanya berisi milyaran pertanyaan tentang hubungan dirinya dengan semua kejadian mengejutkan ini. Hani tak bisa menahan air mata yang mengalir membasahi pelupuk matanya.


Dia terduduk di depan gerbang sebuah rumah mewah yang nampak sudah tidak terawat. Hani kembali teringat Ichal yang menceritakan kejadian menyedihkan itu.


"I-Ichal!"


Hani lalu bangkit hendak berlari menuju jalan utama agar bisa menyetop taksi tapi kakinya terlalu lemas. Dia hanya bisa berjalan dengan tertatih sambil sesekali meringis. Bahkan lutut Hani sekarang mengeluarkan darah karena lukanya.


Saat berjalan samar Hani melihat seseorang yang tengah duduk membungkuk di dekat rumah itu. Dengan langkah tertatih Hani menghampiri orang itu, dan terdengar isakan dan nafas berat dari orang itu.


Makin dekat, Hani makin bisa mendengar dengan jelas. Walaupun suasana di sana cukup gelap tapi anehnya Hani dengan jelas bisa tahu siapa orang yang kini tepat ada di depannya.


"Ichal! Hiksss ...." tangis Hani pecah sambil memeluk seseorang yang membungkuk di depannya yang memang benar itu adalah Ichal.


Ichal mengangkat kepalanya perlahan.


"Besok peringatan Laras mening--"


"Aku tahu Chal! Aku tahu!" ucap Hani memotong ucapan Ichal.


Hani kembali memeluk Ichal dengan erat. Dia mengusap punggung Ichal dengan lembut mencoba menenangkan Ichal padahal pikiran Hani sendiri pun sedang sangat kacau.


Tanpa mereka sadari Barsena tengah melihat mereka dengan wajah yang juga basah oleh air mata.


***


Beberapa saat lalu.


"Kak, ayo makan!" suara cempreng Kira memanggil Barsena yang tengah asik menonton televisi.


"Iya De." jawab Barsena sambil berdiri menghampiri hendak Kira.


"Kalau udah gak ditonton, matiin tv nya!" perintah Kira.


"Iyaaa!" Barsena mengambil remot tv hendak mematikan televisi.


Gerakan Barsena terhenti saat sebuah berita menarik perhatiannya.


"Besok bertepatan dengan peringatan kematian putri angkat pebisnis Srindra Adamar. Yang mana publik sudah ketahui, mendiang Larasati Utari Adamar adalah anak angkat dari pebisnis sukses Nyonya Srindra. Namun nahas pada umurnya yang baru menginjak 16 tahun, mendiang Laras nekat mengakhiri hidupnya,"


Tangan Barsena bergetar saat mendengar berita itu. Dia kembali teringat ucapan Ichal tempo hari.


"Elu beneran gak ada rasa bersalah sama sekali? Laras meninggal setelah dia ketemu sama lu!"


Itu adalah ucapan Ichal yang terus terngiang di kepalanya. Tubuh Barsena ambruk ke sofa dengan kasar, tatapannya mulai kabur, telinganya berdengung tak dapat mendengar dengan jelas.


"Jadi Laras bunuh diri? Kenapa? Karena gue?" gumam Barsena sambil menekan kepalanya keras dengan kedua telapak tangannya.


Kira melihat tingkah aneh kakaknya, dengan perasaan cemas Kira menghampiri Barsena yang terus menggumam tak jelas.


"Kak! Kak Barsena? Kenapa?" Kira benar-benar cemas.


Dia melirik tayangan berita yang tadi dilihat kakaknya.


Mata Kira membulat saat melihat berita itu.


"Kakak itu 'kan ...," batin Kira saat melihat foto Laras ditampilkan di tayangan berita itu.


Barsena bangkit lalu berlari keluar rumah, beberapa detik kemudian terdengar suara mobil Barsena melesat keluar.


"Kak! Mau kemana?!" teriak Kira.

__ADS_1


Mata Kira kembali terfokus pada berita yang tengah tayang. Dia tak bisa menahan gemetar di sekujur tubuhnya.


"Bunuh diri?" gumam Kira sambil menggigit ujung kukunya.


"Apa karena waktu itu?" gumam Kira dengan ekspresi penuh arti.


***


Barsena memacu mobilnya dengan cepat, namun terhenti karena tertahan macet. Berulang kali Barsena membunyikan klakson mobilnya berharap kemacetan ini segera terurai.


Air mata Barsena terus mengalir seiring dengan berita yang terus terdengar karena memang itu adalah siaran sentral jadi hampir semua stasiun televisi maupun radio sedang membahasnya.


Akhirnya mobil Barsena bisa kembali melaju dengan lancar.


Kini mobil Barsena sudah terhenti di depan rumah mewah yang nampak sudah tak terawat. Ya, itu adalah rumah Laras.


Barsena menatap nanar rumah itu.


"Jadi kamu meninggal karena sakit itu bohong Ras, kenapa aku jadi orang yang paling gak tahu apa-apa Ras?" tangis Barsena pecah saat mengucapkan itu.


Barsena terduduk di depan gerbang dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.


Samar Barsena mendengar isakan dari arah samping. Dia melirik namun tidak ada seorang pun, dengan langkah gontai Barsena memeriksa isakan siapakah itu.


Langkah Barsena terhenti saat melihat dengan jelas Hani tengah terisak sambil memeluk seseorang yang tengah duduk membungkuk yang dia yakini adalah Ichal.


Barsena menatap nanar kedua orang itu dengan wajah yang basah oleh air mata dan tangan yang mengepal.


***


"Kakak dari mana sih?" tanya Kira pada Barsena yang baru saja tiba di rumah.


"Barusan ada perlu," jawab Barsena.


"Kalau gitu makan dulu!"


"Kakak gak laper,"


Barsena langsung memasuki kamarnya, dia menutup pintu lalu menyender di pintu. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai hingga akhirnya Barsena terduduk.


Dia kembali tak bisa menahan air mata yang mengalir. Kemudian dia menangis dari isakan halus hingga akhirnya meraung sambil memeluk lututnya.


Kira berlari menuju kamar Barsena karena mendengar suara tangisan Barsena.


"Kak, kenapa? Kak?" Kira menggedor pintu dengan cukup keras karena cemas.


Namun tangisan Barsena semakin terdengar memilukan di balik pintu kamarnya. Kira malah ikut menyandarkan badannya di pintu kamar Barsena.


"Kenapa semua orang yang sama gue selalu menderita?" gumam Barsena.


"Kenapa gue hidup?"


"Laras meninggal gara-gara gue?"


"Hani pergi dari gue,"


"Kenapa gue hidup?!" teriakan frustrasi Barsena terdengar.


"Kak, kenapa? Kakak cerita sama Kira!" bujuk Kira.


"Kakak gak papa de, kakak cape mau tidur," balas Barsena.


***


Pagi yang cerah, Hani tengah bersiap untuk sekolah. Entah apa yang terjadi, namun hari ini senyum tampak terlukis di bibir tipisnya.


Seperti telah mendapatkan sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga. Dia tidak berhenti bersenandung sambil mengikat rambutnya lalu merapikan poni tipisnya.


"Kenapa aku senyum-senyum sendiri sih?" gumam Hani saat melihat pantulan dirinya di cermin.


"Oke, ayo berangkat!" teriak Hani semangat sambil menggendong tasnya.


Sementara itu di rumah Ichal, Tamara tampak beberapa kali mengetuk pintu kamar Ichal. Namun Ichal belum juga menampakan dirinya.


"Chal, ayo berangkat sayang! Nanti kamu telat loh, kamu lupa mulai sekarang kan kamu gak bisa akses kendaraan kamu," teriak Tamara.


Krieeet!


Terdengar pintu kamar Ichal terbuka dengan perlahan. Munculah sosok Ichal yang berjalan menuruni tangga menghapiri Tamara.


"Astaga! Chal, kamu kenapa? Kamu ko kusut banget?" Tamara kaget saat melihat anaknya yang tampak lusuh tanpa semangat.


"Ayo berangkaaaaat," ucap Ichal lemas.


Ichal berjalan terhuyung diikuti oleh Tamara yang masih merasa heran dengan sikap anaknya.


Di dalam mobil, Ichal hanya menatap kosong ke jendela mobil sambil sesekali menghela nafas panjang.


"Udah sampe sayang," ucap Tamara saat sudah beberapa menit Ichal tak kunjung turun dari mobil.


"Oh, oke!" Ichal keluar dengan terhuyung.

__ADS_1


Tamara menggeleng pelan melihat tingkah anaknya yang terasa aneh. Karena biasanya dia akan memasang wajah yang ketus, datar, dengan dahi yang selalu berkerut. Tapi hari ini Ichal malah sudah serupa kangkung yang sudah layu tak ada kekuatan sedikitpun.


"Woy, Chal lu kenapa?" sapa Andri saat melihat Ichal di gerbang dengan kondisi yang lemas tanpa tenaga.


"Loh, sejak kapan lu dianter sama mamah lu? Itu kan mobil Tante Tamara, mobil sama motor lu kemana?" cecar Andri.


"Disita sama papaaaah," ucap Ichal.


"Lu kenapa sih? Mabok lu?" ejek Andri.


"Nyet, gue harus gimana?" rengek Ichal sambil mencengkeram bahu Andri lalu mengguncangnya dengan cepat.


"Aduuh! Kenapa sih lu? Biasanya juga lu gak pernah gini?" Andri merasa heran


Ichal hanya menatap Andri lalu menghela nafas panjang. Dia melepaskan bahu Andri lalu berjalan dengan terhuyung menuju kelas.


"Chal, Chal itu Hani!" bisik Andri sambil menepuk punggung Ichal lalu menunjuk ke gerbang.


Ichal tersentak saat mendengar nama Hani disebut. Dia lalu mengikuti arah telunjuk Andri dan melihat Hani tengah berjalan dengan senyum manisnya.


Deg ... deg ... deg ....


Ichal merasakan debaran di dadanya seiring dengan langkah Hani yang makin mendekat. Dia meraba dadanya sendiri untuk merasakan debarannya.


"Aaaarrrgghhhh!!! Gue bisa gil*!" teriak Ichal frustrasi sambil berlari meninggalkan Andri.


"Lah, kenapa tuh bocah?" ucap Andri heran melihat tingkah aneh Ichal.


Hani yang melihat Ichal berlari juga merasa heran dengan sikap Ichal.


"Ichal kenapa Dri?" tanya Hani.


"Gak tahu, emang aneh tuh bocah!" hardik Andri.


"Kenapa nih tanyain Ichal, kamu mulai suka ya sama Ichal?" goda Andri.


"Ih, apaan sih?!" kesal Hani.


Ichal membungkuk di meja sambil mengintip sedikit di celah tangannya. Dia melihat Hani yang makin dekat dengan jaraknya.


"Chal awas aku mau duduk!" ucap Hani.


Ichal berdiri sambil menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan, Hani sekilas melirik tingkah aneh Ichal lalu duduk di kursinya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Hani heran.


"Gu-gue gak papa!" jawab Ichal lantang, padahal Hani bertanya dengan setengah berbisik tapi jawaban Ichal malah seperti berteriak.


Orang-orang yang ada di kelas juga ikut melihat ke arah Ichal, membuat Ichal kembali merasa malu.


"B*ngs*t gue kenapa sih? Tenang Chal itu cuma Hani, lu cuma harus tenang!" ucap Ichal Ichal dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.


***


Saat jam istirahat, Andri menghampiri Ichal yang seharian bertingkah aneh.


"Lu kenapa sih Chal?" tanya Andri sambil menepuk punggung Ichal yang tengah membungkuk di mejanya.


"Nyet gue harus gimana?" Ichal bertanya dengan nada merengek pada sahabatnya.


"Kenapa?" ucap Andri santai.


"Semalem gue sama Hani ud--,"


"Lu ngapain sama Hani?" tanya Andri memotong ucapan Ichal.


"Lu udah 'itu'?"


Pletak!


Ichal menampar dahi Andri dengan keras.


"Sakit b*ngs*t!" bentak Andri sambil mengelus dahinya.


"Kebiasaan otak lu tuh kotor!" ketus Ichal.


"Terus apa? Lu sama Hani apa?"


"Gue suka sama Hani!" ucap Ichal lalu terkulai lemas sambil menghela nafas panjang.


"Wahahahaha ...!" Andri tertawa dengan puas mendengar jawab Ichal.


"Kenapa ketawa?" ketus Ichal.


"Jadi semalem lu tembak Hani terus ditolak gitu? Makanya sekarang lu kagak ada semangat gini?" tanya Andri sambil terus tertawa dengan puas di depan Ichal.


"Bukan gitu b*ngs*t!" bentak Ichal sambil kembali memukul dahi Andri membuat Andri meringis.


"Lah terus gimana?"


"Jadi semalem gue ...,"

__ADS_1


Andri menatap wajah Ichal dengan serius menunggu kelanjutan dari ucapan Ichal.


__ADS_2