
"Hoaaaam!!!" Ichal menguap tanda bosan dengan pelajaran yang sedang berlangsung.
Semua orang melihat Ichal yang masih terus menguap dan sesekali menggeliat, tidak peduli dengan tatapan orang lain. Ini jelas membuat Hani tidak nyaman, dia berusaha tetap fokus pada pelajaran meskipun sesekali dia melirik Ichal yang sedang menggeliat.
"Diaz Angga Ananta!" teriak guru yang sedang mengajar di depan. Dia merasa kesal dengan kelakuan Ichal.
"Hmmm ...," Ichal hanya menggumam.
"Gil* ini anak gak ada takut-takutnya sama guru hiiiii." batin Hani ngeri setelah mendengar Ichal hanya menggumam setelah diteriaki oleh gurunya.
"Jika kamu tidak memperhatikan pelajaran saya dengan baik, silahkan kamu keluar dari kelas saya!" bentak guru itu.
Ichal tiba-tiba bangkit dari kursinya dan langsung melenggang keluar tanpa basa-basi.
"Sumpah itu cowok gak waras!" batin Hani sambil melihat betapa santainya Ichal keluar dari kelas.
Barsena yang melihat itu hanya tersenyum puas dia lalu pindah tempat duduk ke samping Hani di kursi Ichal.
"Nga-ngapain kamu?!" tanya Hani tersentak kaget setelah menyadari Barsena pindah ke sampingnya.
"Aku mau lebih dekat lagi sama kamu Han." jawab Barsena lalu tersenyum di depan wajah Hani.
Hani hanya melirik Barsena dengan memperlihatkan ekspresi seolah bilang "Oh" lalu kembali fokus dengan pelajaran.
Sementara itu Ichal berdiri di balik pintu dan melihat Barsena mendekati Hani.
"Barsena b*ngs*t!" gumam Ichal sambil mengepalkan tangannya membentuk tinju yang seolah siap melayang pada sasarannya.
Dia lalu berjalan dengan perasaan kesal menuju taman, di bawah pohon besar yang rindang dia duduk menyender. Perlahan dia memejamkan matanya lalu tertidur.
"Kamu janji kan mau bantuin aku sama Barsena?"
"Iya aku janji."
"Barsena gak mau sama aku ya? Selamat tinggal Ichal."
"Tidaaaak jangaaaaan!!!" Ichal berteriak lalu membuka matanya, dia baru saja bermimpi.
"Sial mimpi itu lagi." gumam Ichal lalu terdiam menatap langit yang tampak berwarna lebih biru dari biasanya.
***
Bel terakhir sudah berbunyi waktunya semua orang untuk pulang.
Hani berjalan santai menuju gerbang sekolah, dia memutuskan menunggu taksi untuk pulang sekolah.
"Ayo gue anterin!" ucap Ichal yang tiba-tiba berada disampingnya dengan menaiki motornya.
"Gak usah aku bisa naik taksi." jawab Hani.
"Lu mau nunggu taksi di sini? Sampe lebaran monyet juga, itu taksi gak bakal ada yang ke sini! Lu kalau mau naik taksi harus jalan lagi ke depan keluar dari area sekolah ini!" Ichal terus nyerocos.
"Hah kenapa?!" tanya Hani kaget.
"Ini sekolahan elit semua orang bawa kendaraan sendiri atau kalau engga pada di jemput sopirnya kagak ada yang jalan kaki kaya lu ke sekolah!" jawab Ichal.
"Udah lu naik aja!" perintah Ichal.
Dengan terpaksa Hani kembali menaiki motor Ichal, terhitung sudah dua kali Hani menaiki motor dan diantar Ichal.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari Barsena sedari tadi sedang memperhatikan mereka. Sementara itu Barsena juga tidak menyadari jika sedang diawasi oleh seseorang.
Sementara itu Hani sedang berada diantara hidup dan mati, dia di bawa dengan kecepatan tinggi oleh Ichal.
"Pelan-pelaaaaan!!!" teriak Hani sambil menepuk punggung Ichal.
Ichal tidak menggubris, dia hanya tersenyum sambil terus memacu motornya dengan kencang sambil sesekali melirik ekspresi panik Hani di kaca spionnya. Sial bagi Ichal, semakin melirik Hani dia semakin tidak bisa mengontrol degup jantungnya.
Akhirnya Ichal memarkirkan motornya didepan rumah bercat putih yang mewah. Dia membuka helmnya perlahan.
"Kok kita ke sini? Ini bukan rumah aku." ucap Hani heran.
Ichal terkejut setelah mendengar suara Hani yang terdengar tepat di belakangnya. Dia dengan cepat memutar kepalanya dengan niat mencari sumber suaranya.
Degh... Degh... Degh...!!!
Jantung mereka berdegup dengan kencang karena posisi wajah mereka yang hampir tidak ada jarak sama sekali. Kedua pipi anak muda itu merona seketika.
"Gawat ini terlalu dekat!" batin Hani, sambil refleks menutup kedua matanya.
"Gil* gue kenapa sampe bawa ini cewek ke rumah, dan lagi kenapa dengan posisi ini?!" batin Ichal sambil terus menatap wajah Hani dalam posisi sedekat itu.
"Ehemmm!!!" ibu Ichal yang tidak sengaja berdehem di samping mereka membuyarkan posisi mereka lalu bergegas turun dari motor.
"Sorry!!!" ucap Hani dan Ichal berbarengan membuat mereka kembali salah tingkah.
"Mau langsung mamah siapin makan Chal?" tanya ibu Ichal yang sedari tadi di sampingnya.
"Gak usah! Saya mau balik lagi anterin dia." jawab Ichal dengan ekspresi judesnya. Hani hanya menatap Ichal dengan heran.
"Ini anak judes amat sama emaknya." batin Hani. Dia sekilas melirik ibunya Ichal yang terlihat sedih lalu kembali melirik Ichal yang tampak dingin.
"Lu gak usah ngomong sama dia! Pegangan kita pulang!" perintah Ichal dingin. Hani hanya menurut dengan perintah Ichal, dia sekilas tersenyum kepada ibunya Ichal sebelum motor Ichal kembali mengebut meninggalkan rumah mewah Ichal.
"Baguslah sekarang kamu mulai move on dari Laras, Chal." gumam ibunya lalu tersenyum.
Kini Hani sudah sampai di rumahnya.
"Mau masuk dulu?" tanya Hani dengan suara sangat pelan hampir terdengar seperti berbisik sambil menundukan kepalanya tak kuasa menatap wajah dingin Ichal.
"HAH? APAAN?" teriak Ichal sambil mendekatkan telinganya ke wajah Hani.
Blussshhh ..., dengan jarak sedekat ini membuat pipi Hani merona dan detak jantungnya berdegup dengan kencang.
"Ah si*lan jangan deket-deket dong bikin orang sakit jantung aja!" teriak Hani kesal lalu berbalik menutup pintu dengan keras.
"Imut." gumam Ichal tersenyum melihat reaksi Hani yang menurutnya sangat imut.
"Gil* ya? Mikir apa sih!" gumam Ichal kembali menyadarkan pikirannya.
Hani mengintip Ichal dari balik gorden yang mulai menjauh dari pekarangan rumahnya.
"Aku ngapain sih?!" gumam Hani kesal setelah menyadari apa yang dilakukannya.
***
"Yang tadi itu pacar kamu ya Chal?" tanya ibunya dengan senyum kepada Ichal yang baru tiba di rumahnya.
"Jangan so akrab sama saya!" jawab Ichal dingin.
__ADS_1
"Chal sampai kapan kamu mau kaya gini sama mamah!" lirih ibunya dengan suara bergetar.
"Sampai mamah gak gila uang dan gila kerja, sampai mamah punya waktu lagi buat saya!!! Puas?!" bentak Ichal membuat ibunya menangis.
"Maafin mamah sama papah Chal, semua yang mamah sama papah lakuin ini buat kebaikan kamu sayang." jawab ibunya sambil menangis.
"Asal mamah tahu, semenjak kalian jadi penggila uang, Ichal yang mamah kenal udah m*ti!!!" ucap Ichal membentak lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras pula.
"Sial!!!" teriak Ichal sambil mengacak rambutnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.
Sebelumnya kehidupan Ichal dan keluarganya tidak seperti ini. Dulu keluarga Ichal adalah keluarga yang sangat harmonis, selalu ada senyum dan kebahagiaan didalamnya. Namun setelah Edi Angga Ananta ayahnya Ichal berhasil dalam bisnisnya, ayahnya jadi terlalu berambisi untuk terus berada di puncak.
Dia terus memaksa Ichal kecil untuk belajar bisnis alhasil Ichal yang tidak setuju dengan paksaan ayahnya menjadi berontak dan jauh dari keluarganya. Di tambah lagi dengan Tamara Ananta ibunya Ichal yang seolah terlalu sibuk dengan urusan kantor dan kegiatan sosialita nya menjadikan waktu dia kurang dalam hal mengurus Ichal. Dan jadinya tumbuhlah pemuda tampan dengan akhlaq minus.
Ichal perlahan menutup matanya yang lelah karena setiap malam pasti jam tidurnya tidak lebih dari 2 jam, karena insomnia yang tak kunjung bisa dihilangkan. Ini yang membuat setiap di sekolah yang dilakukannya hanya tidur yang padahal itu hanya pura-pura.
"Ichal, Barsena gak suka ya sama aku?"
"Bukan gitu!"
"Barsena gak suka sama aku, makanya dia mau aku mat* aja!"
"Selamat tinggal Ichal."
"Tidaaak Laras jangaaaaaan!"
"LARAS JANGAAAAAAAN!!!" teriak Ichal terbangun dengan peluh membasahi wajahnya.
Nafasnya tersenggal dengan peluh terus menetes di wajahnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Ichal sayang, kenapa nak? Tadi mamah denger kamu teriak." tanya Tamara di balik pintu kamar Ichal yang dikunci dari dalam, suaranya terdengar panik.
Ichal hanya menatap pintu kamarnya dengan nafas yang masih tersenggal. Dengan perlahan dia mengambil air minum di samping tempat tidurnya.
"Mimpi itu lagi." gumam Ichal.
Di tempat lain, mobil Barsena memasuki gerbang sebuah rumah yang terlihat sangat mewah. Dengan perlahan dia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu.
Dia membuka pintu dengan santai, tiba-tiba ....
Bugh!!!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah tampannya, Barsena meringis menahan sakit di wajahnya.
"Bocah gil*!!! Maksudnya kamu berani pindah sekolah itu buat apa?!" bentak seorang laki-laki yang terlihat sangat marah kepada Barsena.
"Kamu tau gak hah? Gara-gara kamu Surya Utama marah!" lanjut laki-laki itu dengan suara lebih meninggi.
"Memangnya itu penting buat Barsena? Emang ayah pernah mikirin perasaan Barsena gimana?" jawab Barsena dengan suara tak kalah tinggi.
"Anak kurang ajar dibiarin malah makin ngelunjak!" teriak laki-laki yang ternyata ayahnya itu sambil melayangkan tangannya berniat memukul Barsena.
"Jangan ayah! Maafin kakak sekali ini aja!" ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang dan menahan tangan ayahnya yang hendak memukul Barsena.
"Lepaskan! Dasar perempuan jal*ng!" bentak ayahnya sambil membanting wanita itu dengan keras membuat dia terjerembab ke lantai dengan cukup keras.
"Ayah cukup! Cukup ayah siksa Barsena aja jangan siksa Kira juga!!!" Barsena murka setelah melihat Kira adiknya meringis menahan nyeri di lututnya.
__ADS_1
"Sumpah anak-anak gak berguna m*ti aja sana susul ibu jal*ng kalian!"