Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.23


__ADS_3

"Terserah aku dong! Rambut-rambut aku!" ketus Hani sambil kembali melahap makanan di depannya.


"Dasar aneh!" gumam Ichal.


Kini Hani dan Ichal sudah selesai dengan makanannya, Ichal perlahan berdiri dari kursinya.


"Mau kemana?" tanya Hani saat menyadari Ichal beranjak dari duduknya.


"Toilet. Apa? Mau ikut?" jawab Ichal sambil terkekeh.


"Iiiiih ... ogah!" ucap Hani sambil bergidik.


Saat masih di depan Hani, Ichal berjalan santai menuju toilet. Tapi saat mulai menjauh dari Hani, dia tergesa memasuki toilet dengan nafas memburu dan terasa sesak.


"Haaaah ... haaaaah ...!"


Ichal mencoba menarik nafas panjang untuk mengatur nafasnya agar kembali normal, tapi sia-sia dia malah merasa makin sesak. Dia mencondongkan tubuhnya sambil berpegangan pada wastafell agar tubuhnya tidak roboh.


Perlahan dia menatap bayangan wajahnya di cermin. Kini wajahnya benar-benar penuh dengan peluh, dia mengusap peluh di dahinya dengan kasar tapi kembali peluh itu membasahi wajahnya.


"Obat ... o-bat gue!" gumam Ichal sambil terus merogoh saku celananya tapi yang dicari tak kunjung ditemukan.


Sekilas dia teringat kalau obat miliknya tertinggal di mobilnya. Ichal terkulai lemas dengan nafas memburu karena sesak di lantai toilet.


***


Hani melirik jam di pergelangan tangannya, dia menunggu Ichal sudah sekitar setengah jam belum juga kembali ke mejanya.


"Issshh ... mana sih? Lama banget!" gumam Hani kesal.


Hani beranjak dari kursinya, dia berniat menyusul Ichal ke toilet.


"Waah! Gue gak salah lihat nih? Bukannya ini si cupu Hani? Hahaha ...," teriak seseorang saat Hani melangkahkan kaki hendak menyusul Ichal.


Hani berputar melihat siapa yang memanggil namanya.


Degh!


Hani sangat terkejut saat melihat Andin ada di hadapannya, dia menggandeng Barsena yang terlihat sangat terpaksa.


"Ngapain lo di sini? Emangnya cewek miskin dan cupu kayak lo, pantes ke tempat gini?" hardik Andin dengan nada merendahkan.


"Cukup Andin!" tegas Barsena.


"Kenapa? Kamu masih sayang sama cewek ini? Hah, bagus belain aja!" ucap Andin sambil melirik Hani dengan tatapan yang juga merendahkan.


"Lo dateng ke sini sendiri? Kasian banget sih! Ayo sayang kita duduk!" hardik Andin sambil menarik tangan Barsena.


Hani hanya terdiam dengan tubuh yang terus bergetar saat melihat Andin dan Barsena, dia kembali teringat kejadian saat Hani harus berpisah dengan Barsena karena Andin.


Hani mengepalkan tangannya saat melihat Andin memaksa untuk menyuapi Barsena.


"Ayo dong sayang, aaaaa ...!" ucap Andin manja sambil menyuapkan makanan ke mulut Barsena.


"Apasih Din! Gak usah berlebihan deh, aku bisa sendiri!" ketus Barsena sambil merebut garpu yang digenggam Andin.


Andin menyadari Hani sedari tadi melihat kegiatannya bersama Barsena, dia menatap Hani lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri Hani.


"Bisa gak sih lo gak usah liatin gue sama Barsena sampai segitunya! Bilang aja kalau lo iri sama gue," ucap Andin dengan tangan dilipat di depan dadanya dengan angkuh.


"Siapa juga yang lihatin kamu sama Barsena, kamu gak usah geer Andin!" jawab Hani santai namun penuh penekanan.


Hani yang biasanya takut saat berhadapan dengan Andin, kali ini benar-benar terlihat santai.


"Karena aku udah biasa sama Salsa, jadi gak terlalu takut kalau harus berhadapan sama Andin gini!" ucap Hani dalam hati.


"Wow ... lihat! Si cupu yang biasanya gak bisa ngomong sama gue, tiba-tiba berani jawab omongan gue! Berani lo sama gue!" bentak Andin sambil melayangkan tangannya hendak memukul Hani.


Barsena yang awalnya memperhatikan mereka, langsung bangkit dari duduknya saat melihat Andin akan memukul Hani.


Grep!


Tangan Andin ditahan oleh Ichal yang tiba-tiba ada di hadapan mereka. Dia menatap tajam Andin, lalu menghempaskan tangan Andin dengan kasar.


"Lo siapa berani sentuh tangan gue!" bentak Andin sambil mengelus pergelangan tangannya.


"Justru gue yang harus tanya, siapa lu berani sama Hani!" balas Ichal.


"Kenapa lo ikut campur masalah gue sama cewek jal*ng ini? Oh, atau jangan-jangan lo korban selanjutnya ya setelah Barsena?" ucap Andin sambil tersenyum merendahkan.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Andin, Hani dengan keras menampar Andin di depan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.


"Jaga omongan kamu Andin! Aku emang gak pernah lawan kamu walaupun aku selalu dihina dan direndahkan sama kamu. Tapi kali ini kamu benar-benar keterlaluan Andin!" bentak Hani dengan suara bergetar.


Barsena bergegas menarik tangan Andin yang hendak membalas tamparan Hani. Dia terus menarik tangan Andin dengan kasar walaupun Andin terus berontak minta dilepaskan. Dengan kasar Barsena mendorong Andin agar mau masuk ke dalam mobilnya.


"Aww! Sakit Barsena! Kamu kenapa sih? Aku harus bales cewek jal*ng itu! Berani-beraninya dia pukul aku!" teriak Andin.


"Cukup Andin! Cukup!" bentak Barsena.


Andin cukup tersentak saat mendengar bentakan Barsena. Barsena yang selalu diam saja saat Andin melakukan apapun kini dia berani membentak Andin.


"Berani kamu? Hah, berani kamu bentak aku? Dasar gak tahu diuntung!" hardik Andin.


"Kamu sadar gak sih? Kamu udah langgar perjanjian, Barsena!"

__ADS_1


Barsena menatap wajah Andin yang tersenyum seolah merendahkan dirinya dengan tangan yang mengepal menahan amarah yang seolah akan segera meledak.


***


"Kamu gak papa kan Hani?" tanya Ichal cemas sambil menggenggam kedua pipi Hani dan meneliti wajah Hani.


"Aku gak papa Chal!" jawab Hani santai sambil melepaskan tangan Ichal yang menggenggam kedua pipinya.


"Cewek gil* itu gak sentuh kamu kan?" Ichal kembali memastikan.


"Ngga!" jawab Hani tegas.


"O-oke!" Ichal duduk di kursinya lalu menyedot jus yang ada di mejanya.


"Iiiih ... Ichal, itu kan punya aku!" teriak Hani saat menyadari Ichal meminum habis jusnya.


Uhukk!!!


Ichal tersedak saat mendengar Hani, dia melihat bahwa gelas jus miliknya sudah kosong. Dan ternyata memang benar dia malah meminum jus milik Hani.


"So-sorry gue gak sadar!" ucap Ichal sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


"Ayo pulang!" ucap Hani sambil berjalan ke arah pintu keluar.


"Eh, tu-tunggu dong!" teriak Ichal sambil berlari menyusul Hani.


"Sial malu banget gue!" batin Ichal.


Beberapa saat lalu saat dada Ichal kembali terasa sesak dia hampir tak sadarkan diri di toilet, sampai akhirnya berhasil mengatur membali nafasnya.


Saat akan kembali ke mejanya dia melihat Hani sedang berdebat dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya, dia melihat wanita itu akan memukul Hani. Dengan sigap Ichal datang dan menahan pukulan wanita itu.


Dan yang makin membuat Ichal kesal adalah keberadaan Barsena yang tidak bisa melerai perdebatan yang ada di depan matanya. Bahkan hampir saja Hani terkena pukulan wanita itu, walaupun akhirnya malah Hani yang memukul wanita itu.


***


"Secinta itu ya kamu sama cewek jal*ng itu? Sampai-sampai kamu ngajak aku makan di restoran yang ada dia 'nya?" ketus Andin.


Barsena yang masih fokus mengemudikan mobilnya tidak menghiraukan Andin yang terus berbicara ini itu di sampingnya.


"Barsena?! Jawab dong! Aku lagi ngomong sama kamu!" teriak Andin sambil menggoyangkan tangan Barsena yang tengah menggenggam setir mobil membuat mobil Barsena oleng dan hilang keseimbangan.


"Kyaaaa ... hati-hati dong! Kamu mau bunuh aku, hah?!" bentak Andin saat Barsena berhasil mengerem tepat waktu sebelum mobil itu menabrak pohon di tepi jalan.


"Apa?! Sekarang kamu nyalahain aku?! Dasar manja!" hardik Barsena sambil membanting pintu mobil dan meninggalkan Andin yang masih syok di dalam mobil.


"Heh, br*ngs*k! Mau pergi kemana kamu?! Barsena?!" teriak Andin dari dalam mobil saat melihat Barsena berjalan meninggalakan Andin.


Barsena terus berjalan tak tentu arah, dia benar-benar kacau ketika harus terus terjebak bersama Andin. Menurutnya bersama dengan Andin adalah sebuah penderitaan yang teramat sangat menyulitkan hidupnya.


"Loh, Kakak ngapain? Eh, beneran Kak Barsena 'kan?" teriak seorang gadis di seberang jalan saat melihat Barsena berjalan sambil mengacak rambutnya.


Barsena melirik siapa yang memanggilnya.


"Loh, Kira ngapain di sini? Kenapa belum pulang?" jawab Barsena saat menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Kira adiknya.


Barsena lantas langsung menyeberang jalan untuk menghampiri Kira yang berdiri di seberangnya.


"Ini udah sore banget, kenapa kamu belum pulang Kira?" tanya Barsena sambil menggandeng Kira dan mengacak rambutnya.


"Aku baru aja pulang dari tempat les, Kakak sendiri ngapain jalan kaki? Angkutan umum banyak Kak!" Kira berdecak sambil melihat Barsena.


"Apaan les hari sabtu? Kamu bohong ya? Pasti kamu abis pacaran 'kan?" ejek Basena.


"Kira tuh anak rajin gak ada waktu buat main apalagi pacaran, masih kecil juga ngapain pacaran!" ucap Kira sambil berjalan mendahului Barsena.


Barsena tertawa sambil menyusul langkah adiknya, dia kembali menggandeng adiknya sambil terus mengacak rambutnya.


"Kakak ih! Kira udah gede ya, jangan acak rambut Kira!" teriak Kira frustrasi saat Barsena terus memperlakukan dirinya seperti anak kecil.


"Apaan umur baru 15 tahun aja so jadi orang gede," ejek Barsena.


"Terserah Kira dong!" ucap Kira sambil mencubit lengan Barsena dengan cukup keras membuat Barsena mengaduh.


"Awas ya kamu!" teriak Barsena sambil berlari menyusul adiknya yang tertawa sambil menjulurkan lidahnya mengejek dan meninggakan Barsena.


***


"Kita sekarang mau kemana Chal?" tanya Hani ragu saat Ichal kembali menjalankan mobilnya.


"Pulang!" jawab Ichal singkat.


"Pu-pulang? Jam segini udah mau pulang," ucap Hani terdengar kecewa.


"Terus lu mau kemana?" tanya Ichal sambil tetap fokus melihat jalan.


"Aku mau ke pasar malam!" jawab Hani antusias.


"Ngapain sih, udah gede juga! Masih aja ke pasar malam!" tanya Ichal dingin.


"Yaudah iya, langsung pulang aja gak papa!" ucap Hani sambil mengerucutkan bibirnya.


Ichal melirik Hani yang mengerucutkan bibirnya karena kecewa. Sekilas dia tersenyum melihat reaksi Hani yang menurutnya sangat imut.


"Dasar! Imut banget sih!" batin Ichal.


Dia merasakan debaran dan wajahnya juga mulai terasa panas saat melihat Hani seperti itu.

__ADS_1


"Loh, kita mau kemana? Jalan pulang 'kan bukan ke sini?" tanya Hani saat menyadari Ichal berbelok ke arah yang salah.


Mobil Ichal berhenti di depan gapura bertuliskan 'Fun Fair' dan melirik Hani yang tengah berbinar ketika menyadari dia berada di pasar malam seperti yang tadi diinginkannya.


"Turun! Katanya mau ke pasar malam!" ucap Ichal dan Hani langsung keluar dengan bersemangat.


"Dasar bocah!" batin Ichal ketika melihat Hani berlari dengan bahagia.


Ichal kemudian turun dan menghampiri Hani yang terus berbinar melihat semua wahana yang ada di pasar malam.


"Ayo dong Chal!" teriak Hani sambil menarik tangan Ichal.


"Ke-kemana?" Ichal tiba-tiba gugup saat Hani tiba-tiba menariknya.


"Aku mau naik itu, itu, itu, itu, aaaa ... itu juga! Sama itu juga!" Hani terus menunjuk wahana yang ingin dicobanya dengan sangat antusias.


"Gak sekalian semuanya aja?!" teriak Ichal kesal.


"Haaaaa! Ide bagus! Ayo!" teriak Hani antusias sambil terus menarik Ichal.


"Dasar! Maksud gue kan bukan gini!" batin Ichal saat dia menaiki salah satu wahana bersama Hani.


***


"Udah! Udah! Gue gak sanggup lagi! Cukup!" Ichal terus meracau sambil tertunduk di bawah pagar dengan wajah pucat.


"Kamu payah! Gayanya aja yang so kuat dan berani! Ternyata cuma masuk wahana rumah hantu juga kamu hampir nangis!" ejek Hani sambil terus menepuk pundak Ichal.


"Gil*! Gue gak takut, cuma kaget aja!" teriak Ichal dengan wajah merona menahan malu.


"Iya, iya! Aku ngerti!" balas Hani dengan senyum tipis mengejek Ichal.


"Heh, jangan senyum kaya gitu!" bentak Ichal.


"Iya, Mr. Ananta!" teriak Hani sambil berlari meninggalkan Ichal dengan tawa yang akhirnya meledak.


"Heh! Tunggu!" Ichal berlari menyusul Hani.


Duk!


Ichal menabrak Hani yang tiba-tiba berhenti berjalan.


"Aduh! Kenapa tiba-tiba berhenti sih!" teriak Ichal kesal.


"Mau naik itu, tapi beli itu dulu! Please!" pinta Hani dengan wajah berbinar, sambil menunjuk bianglala besar dan permen kapas yang biasa dijual saat pasar malam.


"Gak! Ini udah malem, lihat jam sepuluh! Ayo balik!" tolak Ichal sambil menarik tangan Hani ke arah mobil.


"Yaudah iya," Hani mengikuti Ichal dengan wajah bibir kembali mengerucut.


"Haaaaaaah! Dasar bocah!" Ichal menarik nafas panjang saat melihat ekspresi kecewa Hani.


"Yaudah ayo! Tapi abis ini balik ya!" ucap Ichal membuat Hani kembali antusias dan berlari menuju penjual permen kapas.


"Dasar aneh! Masih kaya bocah aja!" gumam Ichal dengan senyum terlukis di wajahnya.


"Nih!" Hani menyodorkan satu bungkus permen kapas untuk Ichal.


"Gak mau! Lu aja yang makan! Gue udah gede masa masih makan jajanan anak SD!"


"Yaudah kalau gak mau!" ucap Hani sambil mengangkat bahu.


"Eh, ayo naik!" teriak Hani antusias sambil menarik Ichal agar mau naik bianglala bersamanya.


"Gu-gue gak mau!" teriak Ichal.


"Kenapa? Kamu takut? Kalau takut tinggal bilang aja!" ejek Hani.


"Nggak! Si-siapa yang takut! Gue berani!" ucap Ichal sambil menaiki bianglala itu, membuat Hani tersenyum puas.


Bianglala mulai berputar dengan perlahan dan sedikit demi sedikit pemandangan kota mulai terlihat dari atas sana.


Hani masih terkagum-kagum melihat kerlipan lampu kota yang terlihat, sambil sesekali dia melahap permen kapas yang tadi dibelinya.


"Bener-bener aneh! Kaya bocah!" batin Ichal sambil tersenyum melihat tingkah Hani.


Ketika posisi Hani dan Ichal mulai meninggi, ekspresi Hani mulai berubah dari yang semula berbinar dan sangat bahagia menjadi pucat dan terus bergetar. Hingga tanpa sadar dia menjatuhkan permen kapas yang sedari digenggamnya.


Tangannya dan tubuhnya terus bergetar.


"Lu kenapa?!" tanya Ichal saat menyadari tingkah Hani berubah.


Dia menggenggam dahi Hani, lalu terus menggoyangkan tubuh Hani sambil terus menanyakan kenapa.


"Lu sakit?"


"Ti-tinggi!" ucap Hani bergetar sambil menutup matanya rapat.


"Ya jelas tinggi lah!" bentak Ichal kesal, saat melihat Hani yang tadi penuh percaya diri dan mengejek dirinya malah terlihat ketakutan saat sudah naik.


"Tenang gak papa ko!" ucap Ichal menenangkan sambil merengkuh tubuh Hani ke pelukannya.


Ichal terus berbisik menenangkan Hani, dan mengelus rambut Hani perlahan sampai bianglala itu terhenti.


"Ayo keluar! Udah selesai!" bisik Ichal, Hani mengangguk pelan lalu keluar.


"Dasar aneh! Kalau takut ketinggian ngapain ngajak naik itu sih! Nyusahin aja!" gumam Ichal sambil terus mengikuti langkah gontai Hani.

__ADS_1


__ADS_2