
Barsena yang baru datang ke sekolah mendengar keributan diantara siswi yang juga berkerumun.
"Berisik banget sih!" batin Barsena.
"Yakin mereka jadian? Gak mungkin ah!"
"Serius tadi gue lihat Kak Ichal gandeng tangan cewek itu,"
"Mungkin aja Kak Ichal cuma main-main kan! Pokonya gue gak rela Kak Ichal sama Hani!"
Langkah Barsena terhenti saat mendengar nama Hani ikut disebut. Dia mendengarkan omongan jelek mereka tentang Hani.
"Heh! Jaga omongan kalian!" bentak Barsena membuat mereka yang awalnya berkerumun langsung membubarkan diri.
Drrrrtt ... drrrrtt ....
Barsena merasakan ponselnya bergetar, dia merogoh ponsel di saku celananya lalu melihat nama 'Andin' tertulis di layar ponselnya. Dengan cepat Barsena mematikan ponselnya lalu kembali memasukan kedalam saku celananya.
***
"Kurang ajar!!! Berani-beraninya dia matiin telepon dari gue!!!" Andin yang menyadari Barsena sengaja mematikan ponselnya, benar-benar murka.
Andin berjalan dengan angkuh sambil melipat tangan di depan dadanya. Semua orang tak ada yang berani berteman ataupun membuat masalah dengan Andin karena Andin terkenal kejam.
"Heh, Irma! Lo ada berita tentang si Hani gak?" Andin bertanya sambil menggebrak meja Irma.
"Mana gue tahu, gue gak ngurusin Hani," jawab Irma.
"Lo jangan berani bohongin gue ya!" Andin menatap tajam Irma.
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponsel Andin.
[Hani udah jadian sama Ichal, tenang aja Barsena bakal aman buat lo. Dan, lo juga tenang aja soalnya ada banyak orang yang gak bakal biarin Hani bahagia sama Ichal!]
Andin menyeringai setelah membaca pesan di ponselnya.
"Sorry Hani, dunia emang gak adil buat cewek kaya lo!" hardik Andin dalam hati sambil menyeringai.
"Sumpah, lama-lama gue juga pengen pindah deh dari sini!" Irma bergidik merasakan aura seram dari gadis di hadapannya.
"Heh, pokonya kalau lo ada berita tentang si Hani harus lapor ke gue!" perintah Andin lada Irma sambil kembali menggebrak meja membuat Irma kembali tersentak.
"Emangnya gue babu lo? Dasar psikopat!" umpat Irma dalam hati.
Andin berbalik lalu duduk di kursinya. Tak lama seorang guru 'pun masuk.
***
"What? Kapan kalian jadian? Ichal sayang kamu jahat sama aku!!!" jerit Salsa sambil berlari keluar kelas saat melihat Ichal dengan mesra menggenggam tangan Hani.
"Sal! Lo mau kemana sih aduh!" Cika berteriak sambil berlari menyusul Salsa.
"Lah ... lah ... kenapa tuh anak? Heboh bener!" Andri menggeleng saat melihat Salsa yang berlari.
***
Saat jam istirahat ....
"Han, kamu bahagia gak sama aku?"
Hani tersentak mendengar pertanyaan Ichal, pasalnya dengan tiba-tiba Ichal bertanya seperti itu.
"Kamu kok tiba-tiba nanya gitu Chal?"
Ichal tersenyum sambil menatap wajah Hani yang tampak cemas setelah mendapat pertanyaan dari dirinya. Ichal mengelus lembut rambut Hani, sambil tetap menatap wajah Hani.
Hari ini matahari tampak bersinar lebih terang dari biasanya, namun anehnya tetap terasa sejuk.
Di bawah pohon besar yang rindang, sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta tengah duduk berdua. Angin sepoy-sepoy menerpa keduanya membuat mereka tetap merasa sejuk.
"Han,"
__ADS_1
"Hmmm,"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku," bisik Ichal.
"Pertanyaan?"
"Iya, kamu bahagia gak sama aku?" Ichal kembali bertanya dengan suara lembut sambil mengelus rambut Hani.
"Sekarang aku bahagia banget, sampai rasanya aku gak punya alesan buat sedih," jawab Hani dengan lembut.
"Syukurlah!" ucap Ichal lega.
"Pokonya kalau nanti ada sesuatu yang terjadi, aku mohon kamu jangan pernah nangis ataupun sedih!" bisik Ichal lembut.
Hani menatap wajah Ichal lamat-lamat, dia mencerna kalimat Ichal yang penuh dengan makna tersebut. Ichal tersenyum melihat gadis yang menatapnya dengan pandangan menyelidik itu. Dengan gemas Ichal mencubit hidung Hani.
"Awww ... sakit ih!" jerit Hani sambil mengelus hidungnya yang memerah.
Ichal tertawa terbahak-bahak melihat Hani yang tampak kesal karena ulahnya.
"Chal, aku boleh gak panggil kamu Diaz aja?" Hani bertanya dengan ragu.
Ichal menjawab sambil tersenyum. "Kenapa gak boleh?"
"Oke, mulai sekarang aku bakal panggil kamu Diaz!" teriak Hani dengan semangat.
Ichal kembali tertawa karena tingkah polos Hani. Sungguh bersama Hani, Ichal benar-benar mendapatkan kembali bahagianya.
"Oke, kalian nikmati waktu bahagia kalian. Tapi tunggu aja, karena semua itu gak akan lama! Siap-siap aja Hani!" gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan Ichal dan Hani sambil menyeringai.
***
"Ingat anak-anak, besok tugas kelompok kalian harus sudah dikumpulkan!" suara berat Pak Akbar terdengar menakutkan untuk Hani karena tugas kelompoknya benar-benar kacau.
"Mati aku!" batin Hani.
"Nih," tiba-tiba Barsena menyodorkan sebuah buku pada Hani.
"A-apa nih?"
Hani membuka buku itu, satu persatu halaman dibacanya dan astaga semua tugas bagian anggota kelompok juga sudah selesai Barsena kerjakan seorang diri.
"Barsena emang keren dari dulu," kagum Hani dalam hati.
Dengan mulut menganga Hani terus membaca satu persatu halaman.
"Sehebat itu ya tugas yang udah dikerjain sama Barsena? Sampai-sampai kamu lupain aku," ucap Ichal pura-pura merajuk.
"E-eh? Nggak kok, aku harus periksa takutnya ada yang salah!" Hani terkejut melihat Ichal merajuk padanya.
"Maafin aku. Aku janji gak bakal gitu lagi, Diaaaaazz maafin aku!" Hani merengek sambil menggoyangkan lengan Ichal, membuat Ichal tak mampu menahan tawanya.
Ichal tertawa terbahak-bahak melihat Hani terus merengek padanya.
"Siapa yang marah, aku gak marah kok!" ucap Ichal disela tawanya.
"Ih, Diaz apaan sih!" ucap Hani kesal, namun malah membuat Ichal terus tertawa.
"Bahagia banget lo Han. Oke, nikmati semuanya dan siap-siap aja karena semua itu gak akan lama!" batin seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Hani kaget saat Ichal tiba-tiba beranjak dari kursinya.
"Ke toilet, kenapa? Mau ikut?" goda Ichal.
"Ih, Diaz apaan sih?!"
Ichal kembali tertawa setelah berhasil menggoda Hani.
Tanpa sadar Ichal berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya membuat para gadis yang melihatnya benar-benar terpesona.
Ichal bergegas memasuki toilet dan merogoh sesuatu di kantongnya. Dengan cepat Ichal mengeluarkan beberapa butir obat lalu menelannya dengan cepat.
"Haaaaaah!" Ichal menghela nafas panjang sambil melihat botol kecil obat miliknya.
__ADS_1
"Sampai kapan gue harus bergantung sama lu!" gumam Ichal sambil menatap botol kecil itu.
"Sebaiknya lo jaga Hani baik-baik! Jangan sampai lo bikin Hani Nangis ataupun kecewa!" ucap Barsena tiba-tiba saat Ichal baru saja selesai dan sedang mencuci tangannya.
"Gue gak salah denger? Kalau lu barusan nyuruh gue jangan bikin Hani nangis? Hah, gue gak percaya dapat nasihat dari orang yang jelas-jelas udah bikin Hani nangis!" hardik Ichal.
"Asal lu tahu, Hani adalah cewek terkuat yang pernah gue kenal. Bahkan setelah dia kecewa sama lu, dia tetep bisa bangkit dan hidup dengan baik!"
"Tapi lu, dengan gampangnya datang lagi ke kehidupan Hani dan bikin Hani nangis lagi. Gue mungkin bisa berusaha buat nerima apa yang terjadi sama Laras, tapi buat Hani gue gak bisa biarin apapun terjadi karena lu!"
"Maksud lo apa br*ngs*k?!" bentak Barsena.
"Pikir sendiri!" Ichal berbalik lalu keluar dadi toliet.
"Kenapa gue selalu jadi orang yang gak tahu apa-apa?!" teriak Barsena frustrasi.
Sebenarnya jauh sebelum Hani dan Ichal jadian, Ichal sering melihat Hani menangis seorang diri setiap setelah tanpa sengaja melihat atau berpapasan dengan Barsena.
Ichal selalu melihat Hani menangis dengan pilu di taman yang sepi, terkadang Ichal duduk di dekat Hani tanpa sepengetahuan Hani hanya untuk menemaninya bersedih. Lalu jika Hani sudah selesai dengan tangisannya dia akan kembali menjadi Hani yang kuat dan tegar.
"Dasar so kuat!" gumam Ichal.
Dan seiring dengan berjalannya waktu, Ichal menjadi ikut merasakan kepiluan yang dirasakan Hani. Dan lambat laun perasaan cinta hadir dalam hatinya, walaupun pada awalnya enggan mengakui tapi rasa bahagia jika bersama Hani benar-benar sulit Ichal kendalikan dan akhirnya dengan berani Ichal mengungkapkan rasa itu.
***
"Diaz mana sih? Ke toilet kok lama banget!" Hani beranjak dari kursinya.
"Tenang aja kali Han, Ichal tahu jalan buat ke kelas kok!" ejek Andri saat melihat Hani gelisah.
"Ih, Andri apaan sih!" kesal Hani.
"Btw Han, lu tau gak kalau Ichal sebenernya punya penya--,"
Buk!
"Sakit beg*!" teriak Andri saat Ichal memukul punggung Andri tiba-tiba membuat kalimatnya terpotong.
"Ih kalian kenapa sih?" tanya Hani heran.
"Hehe gak papa ko Han, biasa urusan cowok!" ucap Andri terkekeh saat Ichal mencubit pinggangnya dengan keras tanpa sepengetahuan Hani.
"Ayo nyet ikut gue!" Ichal menarik Andri.
"Lu bisa gak sih jaga rahasia?" Ichal berbicara sambil menggertakkan giginya karena gemas dengan Andri.
"Sorry Chal, gue pikir lu udah cerita semuanya sama Hani," ucap Andri.
"Tapi kenapa lu belum juga bilang sama Hani, ini masalah penting loh Nyet!" lanjutnya.
"Gue lagi cari waktu yang tepat buat kasih tahu ini!" ucap Ichal lirih.
"Yaudah yaudah, jangan so sedih gitu lah gak pantes tau! Pokonya apapun pilihan lu gue dukung! Tapi saran gue, lu jangan sembunyiin ini terlalu lama Chal mau gimana 'pun Hani sekarang pacar lu dan dia berhak tau!" ucap Andri sambil menepuk pundak Ichal.
"Bener, sekarang Hani pacar gue. Gue gak mau bikin Hani nangis karena tahu kondisi gue, jadi pilihan gue buat sembunyiin ini adalah pilihan yang tepat!" ucap Ichal dalam hati.
Plak!
Andri menampar pipi Ichal yang sedari tadi berdiri mematung dengan tatapan kosong. Bahkan tak menghiraukan ajakan Andri untuk ke kelas.
"Apaan sih?!" murka Ichal.
"Lagian gue panggil dari tadi kagak nyaut!" teriak Andri kesal.
***
"Sal, udah dong! Ayo ke kelas, sampai kapan lo mau nangis di sini?" Chika terus membujuk Salsa yang menangis seperti anak kecil di hadapannya.
"Ichal jahat banget ... hiksss!"
"Aduh! Lo 'kan cantik tinggal cari aja yang lain ya 'Kan?"
"Nggak bisa Chika! Gue suka sama Ichal bukan main-main! Huwaaaaa ...!" bentak Salsa lalu kembali meraung.
__ADS_1
"Aduh! Aduh! Anak siapa sih ini cengeng banget, ya udah ayo kita rebut Ichal dari Hani cup ... cup ... cup ...!" ucap Chika menenangkan sahabatnya.
"Tunggu aja Hani!" batin Salsa.