
"Ta-tapi kenapa aku sampai di jemput ke sini, Bunda?" Hani masih merasa heran.
Srindra tersenyum lembut mendengar pertanyaan Hani yang juga memasang wajah terheran-heran.
"Kamu tenang aja, Sayang. Bunda gak bakal aneh-aneh sama kamu!" Srindra mengusap lembut rambut Hani.
Ada sedikit raut wajah kesedihan pada Srindra saat melihat Hani tatkala dia kembali teringat sosok Laras.
"Kamu mau minum apa, Sayang?"
"Ah, gak usah Bunda! Nanti aku bisa ambil sendiri," Hani tersenyum lembut.
"Tapi, kenapa Bunda jemput aku buat ke sini?" kembali Hani bertanya.
Srindra sedikit tertawa lalu berkata, "Bunda rindu kamu, Sayang! Memangnya gak boleh?"
"Bu-bukan gitu, Bun!" ucap Hani merasa tak enak.
"Apa ya, saat melihat kamu setidaknya bisa mengobati rasa rindu Bunda pada Laras," ungkapnya.
Sesaat pikiran Srindra menerawang pada masa lalu saat Laras masih hidup.
"Bisa tidak malam ini kamu menginap di sini?" pinta Srindra.
Hani terdiam mendengar permintaan Srindra, sebenarnya Hani merasa tidak enak dan berniat menolak namun saat melihat raut wajah penuh harap dari Srindra Hani pun menyetujuinya untuk menginap di rumah Srindra yang memang terasa asing untuknya. Tapi, entah kenapa dia merasa Srindra bukanlah orang asing.
"Tapi kok ada yang aneh ya," ucap Srindra heran.
"Ke-kenapa Bun?" Hani agak takut.
"Kenapa jam segini kamu ada di rumah? Bukannya jam pulang sekolah masih lama? Kamu gak masuk sekolah? Atau kamu bolos?" cecar Srindra.
"Aku bolos soalnya agak gak enak badan, tadi pulang lebih awal." ucap Hani sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu sakit? Udah minum obat? Ayo makan dulu, biar kamu bisa minum obat!"
"Ardi!"
"Iya, Nyonya,"
"Kamu ke apotik, beli obat demam buat Hani. Badannya agak panas takutnya nanti jadi parah!" perintah Srindra.
Dia menyentuh dahi Hani yang terasa panas, sementara Ardi hanya mengangguk lalu kembali undur diri untuk melaksanakan perintah tuannya.
"Bunda gak usah repot-repot ih, aku jadi gak enak!"
"Dari pada nanti jadi demam parah, mending repot dari sekarang sayang!"
"Iya, Bunda!" ucap Hani tak bisa membantah orang bijaksana di hadapannya.
***
"Chal, lo ada apa sama Hani? Kok jam segini Hani udah pulang?" Andri bertanya saat Ichal memasuki kelas.
"Gue gak tahu b*ngs*t!" umpat Ichal.
"Lah santai dong br*ngs*k! Gak usah ngegas!" ucap Andri mengumpat pula.
"Aduuuh berisik deh, kenapa pada ngomong kasar sih?! Ganggu aja!" omel Bintan yang merasa terganggu saat membaca novel romansanya.
Andri terdiam melihat tingkah Ichal yang sensitif dan terus marah-marah tidak jelas.
"Lo putus sama Hani?" bisik Andri.
"Jangan ngada-ngada bre*ngs*k!" hardik Ichal.
"Terus lo kenapa? Lagi PMS lo? Marah-marah aja kerjaannya! Santai woy!" ujar Andri.
"Aaaarrrggghhh ... gue harus gimana, Nyet?!" pekik Ichal frustrasi mengacak rambutnya.
"Lah ... lah, mulai aneh nih bocah! Ya gue kagak tahu lah lu mesti gimana? Gue aja kagak tau masalah lu apa!" Andri menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"B*ngs*t!!!" umpat Ichal.
"Berisik Ichal! Kenapa sih semuanya pada berisik ganggu aja!" teriak Bintan.
"Sabar dong Yayang Bintan, nanti abang Andri tegur Ichal deh biar gak berisik," rayu Andri menggoda Bintan.
"Lo juga diem! Lo juga yang bikin tambah berisik!" ketus Bintan lalu kembali mencoba fokus pada buku novel yang tengah di bacanya.
"Sabar Chal, lo harus sabar biar semua bisa terselesaikan dengan baik! Bener kan? Bener dong!" ucap Andri percaya diri malah membuat Ichal tampak makin kesal dengan kelakuannya.
***
Tring!
[Kayaknya, Ichal sama Hani lagi ada masalah atau jangan-jangan udah putus. Hari ini Hani pulang lebih cepet mungkin karena masalah sama Ichal.]
Seorang gadis cantik namun terlihat angkuh tersenyum menyeringai setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Jelas sekali senyum kepuasan menghiasi wajah angkuhnya.
[Oke, bagus! Terus awasi mereka, gue suka kalau sampai cewek aneh itu menderita! Terus lapor ke gue kalau ada berita menarik seputar cewek aneh itu!]
Begitulah Andin si gadis berwajah angkuh itu menjawab pesan yang masuk ke ponselnya. Dia tak berhenti tersenyum puas setelah mengetahui berita besar yang membuatnya benar-benar puas. Baginya tak ada yang lebih membahagiakan dari pada saat mendengar gadis aneh yang tak lain adalah Hani menderita.
Namun siapa orang yang menjadi informan untuk Andin di sekolah itu? Entahlah.
"Irma, gue denger sepupu lo juga sekolah di sekolahan tempat Hani?" tanya Andin.
"Kenapa tanya? Lo mau apa sama sepupu gue?" ketus Irma.
"Gak papa sih, gue cuma mau ajakin dia buat kerja sama buat hancurin Hani. Gue denger juga orang yang sepupu lo suka pacaran sama Hani, kalau gak salah nama sepupu lo itu Salsa ya," ungkap Andin sambil mengeringai.
"Maksud lo apa?! Lo gak bosen apa bikin Hani menderita? Yang bikin Hani pindah sekolah juga kan elo Andin!" teriak Irma.
"Eitsss, santai dong Irma! Bukan cuma gue aja kali, atau jangan-jangan lo nyesel udah bikin Hani pindah sekolah? Lo nyesel udah jauhin Hani? Hah, lemah lo Irma!" ucap Andin santai.
Memang sikap Andin itu pintar sekali, iya pintar sekali membuat lawan bicaranya kebakaran jenggot saking kesalnya. Dia pintar membuat lawan bicaranya tak bisa menahan emosi.
"Gue gak peduli lo mau bikin rencana apa buat hancurin Hani, tapi gue gak terima kalau lo ajak-ajak sepupu gue buat ikut sama rencana gila lo!" teriak Irma murka.
"Jangan marah-marah dong sayang," ucap Andin mengejek Irma.
"Asal lo tahu sebelum gue ajak dia, dia udah ada rencana buat hancurin Hani duluan. Gue juga denger kayaknya sepupu lo mulai berhasil buat hancurin Hani tuh! Jadi lo jangan anggap sepupu lo itu baik hati ya, Irma. Pada akhirnya kita sama aja!"
Andin menyeringai lalu meninggalkan Irma yang benar-benar ingin meledakan amarahnya yang tertahan selama hampir tiga tahun.
Dahulu dia memang lebih cendrung diam saat melihat atau mendengar rencana-rencana gila Andin. Namun entah sejak kapan tepatnya dia jadi merasa bersalah pada Hani dan mulai bertekad untuk menebus kesalahannya pada Hani.
Kesalahannya yang dulu menjauhi Hani karena takut dengan ancaman Andin sehingga Hani menjadi terasingkan di sekolah ini dan akhirnya pindah.
Sampai sekarang dia belum berhasil bertemu dengan Hani, padahal bisa saja dia ke sekolah Hani yang sekarang untuk bertemu dengan Hani. Namun hal itu urung dia lakukan karena masih terlalu malu untuk bertatap langsung dengan orang yang jelas-jelas dulu pernah dia jauhi. Akan sangat aneh rasanya apabila tiba-tiba dia menemui Hani padahal hubungannya dahulu tidak terlalu baik.
***
"Ini, Nyonya." ucap Ardi sambil menyodorkan kantong kresek berisi obat untuk Hani.
Srindra menerima obat itu dan segera memberikannya pada Hani yang sekarang sedang berbaring di sebuah kamar.
"Hani, kamu makan dulu ya habis itu minum obatnya biar kamu cepet sembuh!" ucap Srindra.
Srindra menghampiri Hani dengan diikuti dua pelayan yang membawa nampan berisi makanan dan kudapan serta obat untuk Hani.
"Aduh, Bunda gak usah repot-repot. Aku jadi gak enak," ucap Hani merasa tidak enak.
"Bunda sama sekali tidak merasa direpotkan sama kamu," Srindra mengusap lembut kepala Hani.
Hani tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bersama Srindra dia bisa kembali merasakan kasih sayang dari orang tua yang sudah lama tidak dirasakannya.
Srindra menyuapi Hani hingga makanan itu habis, walaupun awalnya Hani menolak karena merasa tidak enak namun akhirnya tetap berakhir dengan disuapi.
"Makasih, Bunda,"
Perlahan bulir air mata mulai mengembang di pelupuk matanya. Hani tak bisa mengendalikan perasaannya, dia begitu bahagia sampai-sampai tak bisa menahan air matanya yang kini mulai jatuh di pipinya.
__ADS_1
"Sssshh ... kenapa nangis? Jangan nangis, ah!"
Srindra tersenyum lembut lalu merengkuh bahu Hani dan memeluknya.
"Kamu tahu, Sayang? Ini kamar yang bunda bikin untuk Laras. Desainnya, dekorasinya, serta letak barang-barang di sini sengaja bunda bikin semirip mungkin dengan kamar Laras yang dulu. Jadi setiap bunda merindukan dia, pasti selalu masuk atau bahkan tidur di kamar ini,"
Srindra menghela nafas sejenak, sambil tetap memeluk dan mengelus Hani dengan lembut dia terus bercerita.
"Mulai sekarang, kamar ini bisa kamu pakai setiap kamu menginap di rumah ini!" lanjutnnya.
"Tapi, Bunda,"
"Gak papa sayang,"
"Mungkin belum saatnya kamu tahu tentang semuanya Hani, tapi pasti akan bunda beri tahu semuanya setelah semua persiapan selesai. Kamu sabar dulu ya, Sayang!" batin Srindra.
"Udah, sekarang kamu tidur ya udah malam!" perintah Srindra yang di balas dengan anggukan oleh Hani.
Srindra mematikan lampu serta menutup pintu dengan sangat pelan padahal Hani sama sekali belum tertidur, itu membuat Hani sedikit tersenyum geli melihat tingkah wanita baik itu.
Hani yang semula sudah di posisi berbaring dan siap untuk terlelap malah tak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Pikirannya kembali di penuhi dengan kelakuan aneh Ichal yang benar-benar berbeda.
Dia turun dari ranjang dan kembali menyalakan lampu kamar. Dia mulai berkeliling di ruangan itu, kamar milik Laras yang entah mengapa suasana dan desainnya terasa mirip dengan karakter Hani.
Dia melihat-lihat beberapa foto yang terpajang di dinding kamar itu. Senyum Hani merekah saat melihat potret manis Laras dan dua laki-laki yang mengapingnya di sisi kanan dan kiri layaknya bodyguard.
"Dasar kedua pemuda ini, ternyata emang gak akrab dari dulu ya!" Hani terkikik melihat foto itu, foto Laras bersama laki-laki yang tidak lain adalah Barsena dan Ichal.
"Kalian kayaknya akrab banget ya!"
Hani mengusap foto itu, tak di sangka bingkai foto itu benar-benar bersih. Tak ada sebutir debu pun yang menempel di sana.
"Pasti bunda benar-benar memperhatikan kebersihan di sini, gak heran semuanya sampai mengkilat seperti ini!" kagum Hani.
Hani kembali melihat-lihat barang-barang yang terpajang di kamar Laras, lagi-lagi dia tersenyum saat melihat rak berisi boneka dan mainan khas anak perempuan yang memenuhi rak itu.
"Woooo, dulu aku mau kaya gini! Tapi nenek selalu bilang jangan, iri banget aku sama kamu," ucap Hani.
"Tapi kenapa setiap aku lihat foto kamu, aku selalu ngerasa kalau kita itu punya kemiripan. Apalagi pas aku lihat koleksi barang kamu semuanya sesuai selera aku, kayaknya di kehidupan sebelumnya kita memang berjodoh!"
Hani terus berbicara bergumam-gumam sendiri sambil terus melihat-lihat semua barang yang di panjang di kamar Laras.
"Andai aja kamu masih ada dan kita bersaudara, aku pasti bakal senang banget!" ucap Hani.
Sambil menghela nafas panjang dia kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Rasa kantuk kini mulai menyerangnya, dia mulai terlelap.
Seseorang yang mengintip di balik pintu menghela nafas cukup panjang dan berat.
"Maafin, Bunda!" gumamnya lirih.
"Maaf, Nyonya semuanya sudah siap!" ucap Ardi yang berdiri tepat di belakang Srindra.
"Baik, terima kasih Ardi!" Srindra menghapus air mata yang mengembang di pelupuk matanya.
Dia berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Ardi. Srindra menjatuhkan bobot tubuhnya dengan cukup keras ke atas kursi.
"Jadi, apa yang akan saya lakukan?" Srindra bertanya dengan suara beratnya.
"Besok tepat pukul 12:00 siang, anda akan melakukan konferensi fers sekaligus kemunculan pertama anda di depan publik setelah kepergian, Nona Laras,"
"Anda akan membeberkan bukti bahwa anda lah yang seharusnya memegang kepemimpinan di Yayasan yang sekarang di ambil alih oleh Surya Pratama serta perusahaan yang di ambil alih oleh Joko Gunawan, termasuk dengan praktik kotor mereka dalam merebut perusahaan itu."
Ardi menjelaskan setiap hal dengan detail pada tuannya. Srindra menghela nafas panjang saat mendengar penjelasan dari Ardi.
"Mohon maaf, Nyonya! Apakah penjelasan saya terlalu panjang? Sepertinya anda sangat kelelahan, anda harus beristirahat!"
"Ah, tidak! Sepertinya saya sedikit gugup dengan hal ini. Apakah semua ini benar untuk di lakukan? Saya tidak tahu! Sepeninggal suami, rasanya saya jadi harus memutuskan apapun sendiri," ungkap Srindra.
Ardi mengangguk, dia mengerti pasti banyak sekali yang membuat tuannya itu merasa sangat gusar. Apalagi jika diingat ini adalah kemunculan pertamanya setelah hampir tiga tahun.
"Tapi, Nyonya. Apa anda yakin akan melakukan semua ini?" Ardi bertanya.
__ADS_1
"Saya sudah yakin, Ardi! Saya tidak mau terlalu lama membiarkan orang-orang biadab itu memanfaatkan aset yang sudah jadi hak dari adikku, Adamar!" tegas Srindra.
"Tunggu saja kalian! Pasti saya akan menghancurkan kalian satu per satu, dasar tikus busuk tidak berguna!"