Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.48 Menguping


__ADS_3

Jam istirahat pertama tiba, semua siswa keluar kelas tak terkecuali Hani. Dia langsung keluar setelah mendengar bel, rasa kesalnya masih terasa. Bahkan selama pelajaran bibirnya terus manyun karena kesal.


Barsena yang melihat tingkah kedua orang itu hanya menggelengkan kepala. Yang satu malah menggoda sampai membuat kesal dan sangat menyukai reaksi kesalnya sementara yang satu sangat mudah tergoda dan akhirnya marah-marah karena kesal.


"Padahal dulu Hani pas sama gue bener-bener melow, ini emang efek ajaib dari Ichal," batin Barsena heran.


Ichal kembali tersenyum saat melihat Hani yang buru-buru meninggalkan kelas. Dia menoleh ke arah Barsena dan memberikan tanda agar dia juga keluar. Barsena mengangguk mengerti dengan tanda dari Ichal.


"Chal, lo beneran putus ya sama Hani?" Andri bertanya untuk kesekian kalinya.


Dia benar-benar penasaran dengan hubungan Hani dan Ichal yang tiba-tiba jadi berubah kembali menjadi seperti dulu awal-awal mereka kenal.


"Bukan urusan lu!"


"Yeeee, gue tanya lo ga jawab bener!" ucap Andri kesal.


Ichal langsung keluar kelas setelah melihat Barsena juga keluar setelah mendapat tanda darinya. Seperti biasa mereka akan bertemu di taman belakang sekolah.


Dia melihat Barsena sudah duduk di bangku taman. Dia lalu duduk di samping Barsena sambil menyilangkan kakinya.


"Jadi gimana rencana kita?" tanya Ichal.


"Kayaknya kita harus ketemu bunda dulu, kita harus bicarain masalah ini sama beliau!" jawab Barsena.


"Tapi lo yakin mau ungkap kasus ini?" Ichal meneliti mimik muka Barsena yang mulai berubah.


"Kalau gue yakin banget, gue gak peduli itu ayah lo atau bukan! Gue pasti bakal tetep ungkap kasus ini. Tapi apa lo yakin mau ikut ungkap kasus ini?" Ichal kembali bertanya untuk meyakinkan Barsena.


"Gue yakin! Bagi gue Baron Utama yang sekarang udah bukan ayah gue lagi," ucap Barsena.


Ichal menepuk pundak Barsena untuk menyemangatinya. Dia tahu betul bahwa sahabatnya itu telah mengambil keputusan yang sangat sulit, bagaimanapun Baron Utama adalah ayahnya sendiri. Dan kejahatan yang telah dia lakukan pada Laras memang bejat sekali.


"Kira-kira Laras lihat kita gak ya?" Ichal menghela nafas sambil menatap langit yang nampak lebih biru dari biasanya.


"Pasti!" Barsena ikut menghela nafas sambil menatap langit.


"Kapan kita ketemu bunda?" tanya Barsena.


"Nanti sore!" jawab Ichal.


***


Srindra sudah bersiap dengan pakaian rapi dan formal serta kacamata hitamnya. Dia langsung memasuki mobilnya yang juga dikendarai oleh Ardi.


Srindra hanya terdiam selama perjalanan, pikirannya berkelana menerawang akan kejadian yang sebentar lagi akan terjadi. Ardi sesekali melihat tuannya dari kaca spion, dia tahu betuh bahwa tuannya benar-benar sedang merasa gugup serta gusar.


Bagaimanapun ini adalah kemunculan pertamanya di depan publik selama hampir tiga tahun. Mobil mereka akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gedung.


Srindra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya tepat pukul 11:45, masih ada lima belas menit lagi untuk konferensi pers namun di depan gedung itu sudah dipadati oleh kerumunan wartawan yang menunggu kedatangannya.


"Anda siap, Nyonya?" Ardi bertanya untuk memastikan.


Srindra meremas jemarinya, "Saya siap!" tegasnya.


Ardi mengangguk lalu turun terlebih dahulu dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk tuannya. Saat Srindra keluar para wartawan yang sedari tadi menunggunya langsung mengerumuninya dan menghujani dengan berbagai macam pertanyaan


"Bu Srindra, bagaimana perasaan anda setelah akhirnya kembali muncul?"


"Bagaimana perasaan anda setelah kehilangan, putri anda?"


"Apa yang sekarang akan anda lakukan setelah kembali muncul di depan publik?"


"Bu Srindra, apakah konferensi pers sekarang ada hubungannya dengan kematian Laras?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang memberondong Srindra. Namun, Srindra tak berniat menjawabnya. Ardi dan beberapa orang bawahannya sigap melindungi Srindra dari wartawan yang terlalu dekat.


Walaupun kematian Laras sudah cukup lama, namun publik masih penasaran dan terua menanyakan itu. Kematian Laras memang sangat menghebohkan, terlebih lagi karena usianya masih sangat muda yang waktu itu berusia sekitar 16 tahun dan dengan cara yang tidak wajar pula yaitu melompat dari lantai tiga rumahnya sendiri.


Srindra berhasil masuk ke gedung itu berkat perlindungan dari Ardi dan bawahannya.


"Loh ... loh, saya bertanya-tanya siapakah gerangan yang membuat keributan serta kerumunan di depan kantor saya? Ternyata anda orangnya, Nyonya Srindra!" ujar seseorang yang berdiri seolah menyambut Srindra.


"Kantor saya?" batin Srindra tersenyum getir.


"Sepertinya anda terlalu lama tidur, sehingga mimpi anda tak juga kunjung berhenti!" balas Srindra dengan senyum hambar.


"Maksud anda apa, Nyonya Srindra yang terhormat?!"


"Sepertinya anda tahu betul apa maksud saya, Tuan Joko Gunawan!" ucap Srindra penuh penekanan.


"Sepertinya anda bersembunyi terlalu lama, sekarang anda berbicara melantur," ujar Joko Gunawan.


"Maaf, Nyonya sepertinya semuanya sudah siap jadi anda bisa langsung mulai!" bisik Ardi di tengah perang mental antara Srindra dan Joko.


Srindra mengangguk menanggapi Ardi.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi Tuan Joko Gunawan yang terhormat!" cibir Srindra.


"Kurang ajar! Memangnya dia mau apa di kantor saya?!" teriak Joko murka.


Semua pegawai yang melihat amarah Joko benar-benar ketakutan. Sebaliknya Srindra benar-benar santai dan merasa puas telah membuat mental Joko menjadi lemah.


Dengan amarah yang meletup-letup Joko kembali ke ruangannya dan menelepon seseorang.


"Hallo, Surya Pratama!" ucapnya.


[Ada apa?]


"Hey, bagaimana bisa Srindra muncul di kantor saya?!"


[Tenang, apakah sekarang Joko Gunawan sedang ketakutan? Ini tidak seperti anda saja,]


"Hey, saya serius! Bukankah harusnya wanita itu juga lenyap seperti halnya Sundari?!" teriaknya murka.


[Hati-hati dengan ucapan anda, itu bisa membahayakan kita!]


"Ah, peduli apa?! Pokonya saya minta cepat bereskan wanita itu kalau perlu beserta semua orang yang berhubungan dengan dia! Saya benar-benar muak! Bagaimana kalau dia kembali merebut semua yang sudah kita miliki?!" teriak Joko.


[Baiklah!]


Sambungan telepon langsung terputus setelah itu. Joko melonggarkan dasinya yang terasa sangat mencekik. Dia benar-benar murka dengan kemunculan tiba-tiba Srindra.


"Tunggu saja! Pasti kau juga akan tamat! Srindra!" gumamnya.


***


"Gimana jantung lo?" tanya Barsena.


Ichal menghela nafas panjang dan dalam mendengar pertanyaan Barsena.


"Gue udah ketemu dokter Rizky, dan dia belum juga nemuin donor yang cocok buat gue," jawab Ichal.


"Gue heran, kenapa bisa susah banget sih?"


"Emangnya di dunia ini bakal ada orang yang suka rela donorin jantungnya? Enggak semudah itu lah beg*!" umpat Ichal.


"Iya juga sih," Barsena menghela nafas.


"Jadi lo gimana?" Barsena kembali bertanya.


"Gimana apanya? Ya waktu hidup gue gak lama lagi lah, gue udah bosen hidup ketergantungan sama obat!" jawab Ichal.


Bruk!


Ichal dan Barsena tersentak saat mendengar bunyi sesuatu yang jatuh dan suara isakan tangis dari balik pohon besar yang ada di belakang bangku yang mereka duduki.


"Siapa di sana?" teriak Barsena.


"Lo nguping ya?" teriak Ichal kesal.


"Hikss ... hikss ...,"


Yang terdengar hanya isakan tangis pilu. Ichal yang kesal, menghampiri untuk tahu siapa yang ada di balik pohon itu.


"Kurang ajar! Lo nguping ya? Siapa sih dasar gak sop--," ucapan Ichal terhenti saat melihat orang yang ada di balik pohon itu.


"Hani!" pekik Ichal.


Dia benar-benar kaget setengah mati saat melihat Hani yang sedang terduduk sambil menangis.


"Kamu ngapain di sini Han?" sekarang Ichal benar-benar panik.


Ichal mencoba meraih tangan Hani namun segera di tepis oleh Hani.


"Jadi ini alasan kamu jauhin aku? Kamu jahat Diaz!" tangisan Hani kembali pecah.


"Maaf Han, aku gak tahu gimana caranya aku bilang sama kamu!" lirih Ichal berusaha menggenggam tangan Hani.


"Kamu jahat Diaz! Kenapa kamu gak bilang dari awal sama aku?!"


Tangisan Hani lambat laun malah menjadi raungan. Hani benar-benar kecewa dengan Ichal, ketidak jujuran Ichal tentang penyakitnya membuat Hani kecewa.


"Maaf Han," lirih Ichal.


Barsena yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa karena ini pilihan Ichal, walaupun dia sudah sering mengingatkan Ichal.


"Han, udah Han! Ichal punya alesan kenapa dia lakuin ini sama kamu!" ucap Barsena.


"Kamu juga sama aja Barsena! Kamu sama jahatnya kaya Diaz!" teriak Hani di sela raungan tangisannya.


"Maaf, Han!" lirih Barsena pula.

__ADS_1


"Kalian berdua sama aja!" jerit Hani lalu berlari meninggalkan mereka berdua dengan terus menangis.


"Han, Hani!" teriak Ichal berlari menyusul Hani.


"Gawat! Kenapa Hani bisa ada di sana?!" Barsena frustrasi.


Beberapa saat yang lalu ....


Saat bel istirahat pertama berbunyi, Hani yang masih kesal pada Ichal buru-buru langsung keluar. Dia berjalan dengan diselimuti rasa kesal yang teramat sangat pada Ichal.


"Awas aja ya kamu! Gak akan aku maafin kamu, Diaz!" gumam Hani kesal.


Dia tak tahu harus kemana, mau ke kantin tapi dia malas karena di sana terlalu ramai pasti nanti bakal kena tatapan aneh dari mereka. Itu benar-benar membuat malas juga.


Akhirnya Hani memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah. Dia duduk di bawah pohon besar yang rindang, suasana yang sepi dan juga sejuk membuat suasana hati Hani mulai membaik.


"Nyamannya!" batin Hani.


"Jadi gimana rencana kita?"


"Kayaknya kita harus ketemu bunda dulu, kita harus bicarain masalah ini sama beliau!"


"Loh, itu kan suaranya Ichal sama Barsena, ngapain mereka ketemuan di sini? Bukannya mereka ga akrab ya? Sejak kapan mereka jadi seakrab ini?" batin Hani bertanya-tanya.


Hani bangun dari posisinya yang semula duduk menjadi berdiri dan sedikit mencondongkan tubuhnya agar lebih jelas mendengar obrolan mereka.


"Gimana apanya? Ya waktu hidup gue gak lama lagi lah, gue udah bosen hidup ketergantungan sama obat!"


Degh!


Brukk!


Tubuh Hani seketika lunglai dan jatuh ke tanah, kenyataan pahit yang baru saja dia dengar dengan telinganya sendiri. Hatinya benar-benar sakit, bagaimana bisa Ichal tak jujur tentang kondisinya pada Hani


"Jadi ini alasan perubahan sikap kamu? Jadi cuma aku di sini yang gak tahu masalah ini? Dasar jahat!" batin Hani.


Tanpa sadar Hani terisak, dia menangis karena sakit hati. Dia terus terisak.


"Siapa di sana?"


"Lo nguping ya?"


Bahkan Hani nyaris tak mendengar suara mereka, Hani marah benar-benar marah. Dia marah pada kenyataan yang membuatnya sakit. Kenyataan tentang ketidak jujuran Ichal.


"Hani!" pekik Ichal.


Hani menatap Ichal dengan air mata yang membasahi pipinya. Dia terus menangis walaupun Ichal terus meminta maaf padanya.


"Kalian berdua sama aja!" jerit Hani lalu berlari meninggalkan mereka berdua dengan terus menangis.


"Han, Hani!" teriak Ichal berlari menyusul Hani.


Hani terus berlari dengan berlinang air mata disusul Ichal yang mengejarnya dengan wajah panik. Dia benar-benar takut dan merasa bersalah pada Hani.


"Haniiii!" Ichal berteriak sambil terus mengejar Hani.


Sementara itu Hani terus berlari tanpa menghiraukan Ichal, sampai Hani keluar dari gerbang sekolah dan terus berlari meninggalkan area sekolah.


"Han ... haaaah ... haaaah ... Han!" nafas Ichal mulai tak beraturan lagi.


Degupan jantungnya mulai melemah. Dia tahu betul berlari terlalu kencang adalah hal yang dapat memicu terjadinya serangan namun hal ini tak dihiraukannya. Dia terus berlari mengejar Hani walaupun langkahnya kini mulai melemah.


"Hah ... hah ... hah ... hah!" nafasnya mulai memburu.


Dia berhenti sejenak mencoba mengatur nafasnya namun sulit, rasa sakit di rongga dadanya mulai menyerang. Dia menekan dadanya dengan kuat dan kembali berlari menyusul Hani yang terus berlari sambil menangis.


"Kamu jahat, Diaz!" gumam Hani di sela tangisannya.


Grepp!


"Kyaaaa ... toloooong!" jerit Hani.


Seseorang berhasil membekap mulut Hani setelah berteriak dan satu orang lainnya langsung menarik memaksa Hani masuk ke dalam mobil van hitam yang mencurigakan.


Ichal dengan jelas mendengar jeritan Hani, dengan terus menekan dadanya dengan kuat dan mencoba mengatur pernafasannya Ichal terus berlari. Dia melihat dua orang yang tengah membekap Hani.


"Hah ... hah ... Hani!" ucapnya dengan nafas memburu.


"Hmmmmpp!" pekik Hani dengan mulut di bekap.


Hani sudah berhasil di bawa masuk ke dalam mobil van hitam itu dengan tetep di bekap oleh salah seorang penculik. Dan satunya lagi langsung melajukan mobil.


"Tidak! Hah ...hah ... Haniii! Hah ... Haaaaah!" Ichal berlari berusaha mengejar mobil itu, namun mustahil.


Bruk!

__ADS_1


Tubuh Ichal ambruk bersamaan dengan menghilangnya mobil van itu dari pandangannya dan dia pun tak sadarkan diri di jalanan sepi itu.


__ADS_2