
"Bener 'kan, itu bocah pacaran? Bagus deh gue bisa tenang sekarang gak bakal diganggu Salsa," batin Ichal.
"Eh, Han, Chal, dari ruangan Barsena, ya?"
Ichal menoleh mencari sumber suara ternyata itu Andri dan juga Chika. Mereka datang bersama, Ichal mulai senyum-senyum sendiri setelah mencium sesuatu yang aneh pada Andri dan Chika.
"Ini dua bocah juga pasti ada apa-apa, jangan-jangan pacaran juga," batin Ichal.
"Kenapa, Nyet? Udah gak waras ya? Pake senyum-senyum sendiri," hardik Andri.
"Gak papa, gue cuma mencium aroma-aroma keanehan antara lu sama Chika," timpal Ichal.
"Ahh ... emm, Han, gue masuk tengok Barsena sama Salsa dulu ya, daaaah." Chika tampak salah tingkah setelah mendengar ucapan Ichal.
"Tuh 'kan pasti ada apa-apanya, ngaku aja lu, Nyet!" ejek Ichal.
"Ngomong apaan sih lu, kagak jelas." Andri langsung mengikuti langkah Chika meninggalkan Ichal dengan senyum meledeknya.
"Menurut kamu gimana, Han? Pasti mereka juga pacaran 'kan?" Ichal bertanya dengan tatapan polos. Hani yang mendengar pertanyaan Ichal hanya menggeleng sambil memutar bola matanya.
Kenapa juga seorang Ichal yang terkenal dingin menjadi tukang mengoceh seperti ini? Setidaknya itulah yang sekarang ada di pikiran Hani.
"Salsa, gue da ... taaaang! Gawat!" Chika buru-buru keluar dan langsung menutup pintu. Dia menyentuh dadanya yang tiba-tiba jadi berdebar.
"Kenapa? Kok, kagak jadi masuk?" tanya Andri. Dia heran padahal jelas-jelas barusan Chika sudah masuk.
"Suuuuut! Jangan berisik!" bisik Salsa.
"Liat apaan sih?" Andri yang penasaran langsung mengintip di kaca pintu ruangan Barsena.
"Sial!" umpat Andri.
"Bentar kok sekarang gue jadi berdebar gini, hey, sadar, woy!" ucap Andri sambil menepuk-tepuk dadanya yang tiba-tiba berdebar.
"Nah, bener 'kan jadi berdebar?" timpal Chika.
"Kenapa juga mereka pelukan lengket gitu kaya prangko,"
Ternyata mereka berdua juga melihat apa yang tadi dilihat oleh Hani dan Ichal. Mereka melihat Barsena dan Salsa berpelukan dengan erat di atas ranjang dan sepertinya Salsa sudah terlelap di pelukan Barsena karena kelelahan kurang tidur.
"Ayo, taruhan sama gue! Pasti mereka udah pacaran," bisik Andri.
"Husss ... jangan ngomong sembarangan! Gak mungkin Salsa mau sama Barsena, kenangan nyikat toilet gara-gara Barsena masih teringat jelas di otak Salsa." Timpal Chika lalu terkikik geli.
"Bener juga sih, tapi lo bisa jelasin alesan mereka sekarang kaya gitu?" tanya Andri.
"Ya nggak sih,"
"Nah, pasti bener sekarang mereka pacaran 'kan?"
Chika menghela nafas panjang, dia urung menengok Barsena dan Salsa karena kejadian itu.
"Kemana, Lo?" tanya Andri. Dia melihat Chika meninggalkan ruangan Barsena.
"Balik." Jawab Chika singkat sambil terus berjalan meninggalkan Andri.
"Gue anterin, ya,"
"Gak usah!"
Andri tetap mengikuti Chika agar bisa mengantar Chika walaupun sudah ditolaknya.
__ADS_1
***
"Menurut kamu, Salsa sama Barsena pacaran gak? Andri sama Chika juga?" Ichal terus mengoceh di samping Hani. Sekarang Hani sudah kembali berbaring di ranjang pasien mendengarkan ocehan Ichal.
"Kamu tuh, penting banget ya, kalau mereka pacaran?" kesal Hani.
"Ya, nggak sih tapi kamu lihat sendiri 'kan tadi mereka beda banget, si br*ngs*k Andri juga gak nyamperin aku karena dia sibuk sama Chika," gerutu Ichal.
"Udah deh, kita lihat nanti aja! Gak penting juga 'kan," ucap Hani.
Ichal mengangguk, dia meraih remot televisi lalu menekannya.
"Berita terkini! Joko Gunawan yang merupakan Presdir dari Gunawan Group sekaligus penyumbang terbesar di SMU Karya Bangsa ditangkap atas dugaan penyelewengan dana dan terlibat dalam dugaan pembunuhan berencana,"
"Bersamaan dengan ditangkapnya Joko Gunawan, Surya Pratama juga ditangkap atas dugaan kasus yang sama. Surya Pratama merupakan ketua yayasan sekaligus kepala sekolah dari SMU Kebangsaan. Bersamaan dengan ditangkapnya kedua tokoh besar ini, ikut juga ditangkap Baron Utama yang diduga menjadi kaki tangan mereka berdua,"
"Sementara polisi masih menyelidiki untuk mendalami kemungkinan terjadinya banyak kejahatan lainnya atau lebih banyak orang lain yang terlibat,"
"Untuk sementara Srindra Adamar yang melaporkan kasus ini, masih belum bisa dimintai keterangan. Bla ... bla ... bla ...,"
Hani menatap dan mendengarkan dengan seksama berita yang tengah disiarkan. Dia menghela nafas panjang, entah lega atau bosan dengan beritanya.
"Maaf, Han. Aku gak sengaja, tadinya mau nonton acara olahraga. Eh, malah ada berita gini," ucap Ichal. Dia jelas merasa tidak enak dengan Hani, Hani yang sedang dilanda kebingungan tentang jati dirinya.
"Gak papa, Diaz. Aku sekarang malah merasa lega, Bunda udah berhasil jeblosin mereka ke penjara. Aku harus tahu cerita sebenarnya tentang jati diri aku dari Bunda." Ucap Hani sambil lagi-lagi menghela nafas panjang.
"Aku mati-matian cari kebenaran tentang diri aku sendiri, ternyata semuanya begitu rumit. Aku bingung," lanjutnya.
Ichal hanya bisa mengelus kepala Hani untuk memberikan semangat.
"Besok aku harus ketemu sama Bunda," ucap Hani.
"Oke, besok aku anter kamu ketemu Bunda. Itu juga kalau dokter udah ijinin kamu pulang." Ucap Ichal sambil mencubit hidung Hani dengan gemas.
"Ya udah kamu istirahat, biar besok bisa ketemu Bunda!"
"Aku dari tadi mau istirahat tapi kamu kebanyakan ngoceh, aku jadi pusing," keluh Hani.
Ichal hanya tertawa pelan mendengar keluhan kekasihnya itu.
"Ya udah, aku janji gak bakal ngoceh lagi," ucap Ichal. Dia terkikik pelan.
Sementara itu di ruangan Barsena dan Salsa,
"Berita terkini! Joko Gunawan yang merupakan Presdir dari Gunawan Group sekaligus penyumbang terbesar di SMU Karya Bangsa ditangkap atas dugaan penyelewengan dana dan terlibat dalam dugaan pembunuhan berencana,"
Degh!
"Papah," gumam Salsa.
Barsena langsung mematikan tayangan berita itu, dia tahu pasti Salsa akan merasa sedih jika melihat berita itu. Sudah jelas itu bukan berita baik.
"Sal, kamu tenang aja ada aku di sini! Ayah aku juga udah ditangkap 'kan, jadi kita samaan sekarang." Ucap Barsena sambil mengelus kepala Salsa dia ingin menenangkan perasaan wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya.
"Barsena barusan aku gak salah denger berita 'kan?" tanya Salsa memastikan pendengarannya tidak salah.
"Nggak, Sal. Papah kamu udah ditangkap,"
"Beneran? Serius? Demi apa?" cecar Salsa. Suaranya mendadak meninggi.
"Iya, Salsa. Kamu tenang aja gak usah sedih, ada aku di sini," ucap Barsena.
__ADS_1
"Yes! Syukurlah!" teriak Salsa. Dia benar-benar sumringah, senyuman mengembang di wajahnya.
Barsena menatap Salsa dengan tatapan heran, dia kira Salsa akan menangis setelah melihat berita itu. Ternyata dia malah tertawa dan puas sekali melihat ayahnya ditangkap polisi.
"Kamu kenapa? Sakit? Kok malah seneng lihat Papah kamu ditangkap?" ucap Barsena heran.
"Aku seneng banget! Aku seneng banget, Barsena! Sekarang aku bisa tenang, udah lama aku pengen Papah ditangkap. Dia udah jahat banget!" teriak Salsa.
Barsena tersenyum sambil mengelus kepala Salsa dengan lembut, dia merasa lega kalau Salsa tidak bersedih.
***
Keesokan harinya, Hani akhirnya diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Hani bersiap dibantu oleh Ichal.
"Aku udah telepon Om Ardi, dia bilang mau jemput kita ke sini," ucap Ichal.
Hani mengangguk, dia sedang merapikan rambutnya.
"Oh, Om Ardi, udah dateng. Ayo, Han!" Pekik Ichal saat melihat Ardi datang ke ruangan Hani.
Raut wajah Hani langsung berubah saat melihat kedatangan Ardi, entahlah sekarang Hani terlihat sedikit tegang. Ichal langsung bisa menangkap keresahan yang sedang Hani rasakan, dia langsung menggenggam tangan Hani. Hani tersentak, tapi langsung tersenyum lembut saat melihat Ichal tersenyum padanya.
"Tenang, ada aku," bisik Ichal.
Hani mengangguk dan tersenyum lembut.
"Mau langsung ke rumah Nyonya, atau bagaimana?" tanya Ardi.
"Langsung ke rumah Bunda aja, Om." Ucap Ichal sambil melirik Hani.
Setelah beberapa lama perjalanan akhirnya tibalah di depan rumah mewah milik Srindra.
Lagi-lagi Hani terlihat sangat tegang, hal itu jelas sekali terlihat oleh Ichal. Ardi sudah mempersilakan Hani dan Ichal masuk, tapi Hani masih terdiam mematung dengan tegang. Ichal meraih tangan Hani dan menggenggamnya dengan erat. Hani menoleh pada Ichal, Ichal tersenyum lembut pada Hani. Ichal ingin menguatkan kekasihnya itu.
"Siap?" tanya Ichal.
Hani mengangguk mantap, dia sudah siap untuk bertemu dengan Srindra.
Ichal masih tetap menggenggam tangan Hani sambil berjalan masuk. Dia ingin tetap memberikan kekuatan pada Hani dengan segenap jiwanya. Namun, saat sudah tepat di depan pintu ruangan Srindra, Hani menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Han? Kamu belum siap?" tanya Ichal.
Hani menggeleng pelan. "Aku mau bertemu Bunda sendirian. Banyak yang harus aku tanyain sama Bunda, aku mau sendiri," ucapnya.
Ichal mengangguk, dia mendukung apapun yang sekarang Hani mau. Baginya apapun yang bisa membuat Hani tenang akan dia dukung.
Hani masuk ke ruangan Srindra dengan langkah perlahan malah lebih mirip seperti mengedap-endap. Dia celingak-celinguk mencari sosok Srindra, tapi tak ditemukannya. Dia melihat ke meja kerjanya pun tidak didapati sosok Srindra.
"Mana, sih?" gumam Hani.
Dia melihat ada sebuah pintu di samping meja kerja milik Srindra. Seperti biasa rasa penasaran Hani mengalahkan segalany. Dia melangkah mendekati pintu itu, saat menyentuh gagang pintu, Hani dikejutkan oleh suara Srindra dari arah belakang yang memanggil namanya.
"Hani," panggil Srindra.
"Astaga!" Hani terlonjak kaget.
Srindra sampai terkikik geli melihat Hani yang terkejut.
"Padahal, Bunda manggil kamu pelan, loh. Gak teriak," ucap Srindra.
"Aku, kaget." Ucap Hani kikuk.
__ADS_1
Srindra melirik tangan Hani yang sedang memegangi gagang pintu, Hani yang sadar akan itu langsung melepaskan genggamannya.
"Ayo, ikut Bunda." Ucap Srindra dengan senyuman lembut.