
Kondisi Hani sudah mulai membaik walaupun masih sedikit kesulitan berjalan, hari ini Hani sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Hani berjalan sangat pelan dan tertatih dengan tangan berpegangan pada tembok. Ichal yang melihat itu merasa gemas karena akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke luar. Padahal tadi seorang perawat sudah menawarkan kursi roda pada Hani, tapi gadis keras kepala ini malah menolaknya dengan dalih dia kuat berjalan.
Namun sekarang yang terlihat dia bahkan berjalan lebih lambat daripada seekor sifut. Ichal yang mengikuti Hani dari belakang hanya sesekali menghela nafas panjang karena kesal.
"Kenapa gak naik kursi roda aja sih? So kuat banget jadi cewek!" ujar Ichal kesal.
"Gak papaaa ... aku kuaaaat kok Chal! Haaah ... haaah!" ucap Hani dengan terengah.
"Ya udah terserah lu, gue duluan bye." ucap Ichal sambil berjalan mendahului Hani.
Hani masih berjalan sangat pelan dengan tangan merayap berpegangan pada tembok koridor rumah sakit, membuat beberapa orang memperhatikan Hani. Sementara Ichal yang awalnya berjalan cepat tiba-tiba memperlambat tempo jalannya.
"Aduh! Awww ... sssshh!"
Ichal mendengar rintihan Hani di belakangnya, dia memutar badannya dengan malas dan melihat Hani yang terduduk di ujung korodor.
"Lu tuh bener-bener bikin repot ya!" hardik Ichal sambil berlari menghampiri Hani yang tengah terduduk.
"Sakit banget sih!" gumam Hani.
"Ayo naik." ucap Ichal sambil berjongkok menyodorkan punggungnya pada Hani.
"Hah?! A-apa?!" Hani mengalihkan pandangannya ke samping karena malu dengan tindakan Ichal yang tak disangkanya itu.
"Budek! Budek banget sumpah!" ketus Ichal.
"Buruan naik, lu tahu gak gue sampai bosen nungguin lu jalan. Sifut aja lebih cepet dari pada jalan lu!" omel Ichal.
Pupil mata Hani bergetar saat mengamati punggung Ichal yang lebar.
"Hey, gi-gimana kalau orang-orang lihatin kita? Malu tau." ucap Hani sambil melirik kiri dan kanan.
"Elu tuh bener-bener banyak omong." ucap Ichal sambil menarik tangan Hani yang masih duduk terpaku, lalu menaikkan Hani ke punggungnya.
Tanpa bicara, akhirnya dengan pasrah Hani mengalungkan tangannya di leher Ichal. Merasa posisi Hani dalam gendongannya sudah aman, pandangan Ichal tertuju pada kaki Hani yang masih terbungkus perban.
"Chal aku bisa jalan sendiri ko," bisik Hani.
"Bohong!"
"Serius Chal, turunin aku,"
"Gak mau!"
"Aku mau turun,"
"Jangan!"
Walaupun nada bicara Ichal dalam menjawab Hani terdengar dingin dan ketus, tapi wajah Ichal sangat merah dan dia tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Sekilas Ichal teringat kejadian dramatis semalam.
"Aduh b*ngs*t jantung gue kenapa?" umpat Ichal dalam hati.
Kaki Hani yang lemas terus bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti ritme langkah kaki Ichal, membuat Ichal tidak bisa berhenti tersenyum dan berdebar karenanya.
"Aduh dasar anak muda, nenek juga mau digituin dong Kek!" celetuk seorang nenek dengan suara bergetar khas orang tua, yang melihat Ichal dan Hani.
"Kakek udah gak kuat Nek, kalau badan kakek masih kayak anak muda itu pasti kuat gendong Nenek!" ucap kakek sambil terkikik.
Hani dan Ichal yang mendengar itu kembali merona. Ichal mempercepat langkahnya agar bisa segera keluar dari area rumah sakit, karena kali ini mereka benar-benar menjadi pusat perhatian.
***
Kini Hani sudah berada di dalam mobil Ichal, sementara Ichal sedang fokus mengemudikan mobilnya. Hani sesekali melirik Ichal yang sedang fokus, dan lagi-lagi itu membuat pipi Hani merona.
__ADS_1
"Aduh, aku ngapain sih?" pekik Hani dalam hati.
Perlahan mobil Ichal berbelok memasuki area perumahan mewah.
"Loh, ko kita ke sini? Rumah aku kan bukan disini." tanya Hani heran sambil melirik rumah-rumah yang terlihat sangat mewah.
Ichal hanya terdiam mendengar pertanyaan Hani. Mobil Ichal akhirnya sampai di depan rumah ber cat putih bergaya klasik.
"Ini kan rumah kamu, ngapain kita ke sini?" Hani terus bertanya.
Ichal keluar dari mobil tak menghiraukan pertanyaan Hani. Dia lalu membuka 'kan pintu mobil untuk Hani, sementara itu Hani malah menatap Ichal dengan tatapan curiga dengan kelakuan Ichal yang tiba-tiba membawa dirinya ke rumah Ichal.
"Haaaaah," Ichal menghela nafas panjang saat melihat mata Hani yang menatapnya dengan curiga.
"Lu gak mau keluar? Ya udah gue masuk sendiri." ketus Ichal lalu berjalan santai meninggalkan Hani yang masih terpaku di dalam mobil.
"E-eh Ichal," panggil Hani ragu.
Ichal menghentikan langkahnya dengan seulas senyuman puas di wajahnya.
"Kenapa lagi?" tanya Ichal datar.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Hani serius.
"Haaaah! Karena kalau gue bawa lu pulang ke rumah lu, di sana gak ada yang rawat lu. Makanya gue bawa ke sini sampai lu bener-bener sembuh!" jelas Ichal.
Hani terkesiap mendengar penjelasan Ichal, jujur saat ini Hani tengah merasakan debaran luar biasa di rongga dadanya.
"Tapi kan Chal ak-- Kyaaa ... Ichaaaal!"
Belum sempat Hani menyelesaikan ocehannya Ichal mengangkat tubuh Hani dari dalam mobil membuat Hani refleks menjerit karena kaget.
Saat ini Hani mencoba pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Ichal. Ichal menggendong Hani dengan kedua lengan kuatnya.
Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk tuannya masuk, mereka seperti menatap Ichal dengan keheranan karena Ichal yang semalam tidak pulang ke rumah tiba-tiba pulang membawa seorang gadis di pangkuannya.
"Chal, kamu kayaknya berlebihan deh. Mendingan anterin aku pulang aja!" ujar Hani yang tidak enak dengan sikap Ichal.
"Gue gak mau!" tegas Ichal.
Mau tidak mau Hani yang sekarang harus menuruti Ichal, kalau saja kakinya tidak selemas ini mungkin Hani sudah melayangkan satu tendangan maut pada tulang kering Ichal karena sifat pemaksanya.
Ichal tetap menggendong Hani bahkan saat menaiki tangga menuju kamar Ichal. Perlahan Ichal mendudukan Hani di tepi ranjang, dia kembali menghela nafas panjang sambil meregangkan otot lengannya yang terasa kebas karena terus mengangkat Hani.
"Aku berat banget ya?" Hani bertanya sambil terkikik melihat Ichal yang sibuk meregangkan otot-ototnya.
Ichal melirik Hani dengan tatapan tajam.
"Baru sadar lu? Badan segede gentong gitu, ya berat lah anjir! Pake nanya lagi!" ketus Ichal.
Hani terus terkikik sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia merasa geli melihat Ichal yang mengeluh karena terus mengangkat tubuh Hani.
"Maaf Den, semuanya sudah siap. Lalu ini pakaian ganti untuk Nona." ucap seorang pembantu sambil menyodorkan tas berisi baju ganti untuk Hani.
Ichal meraih tas itu, lalu menyuruh dia keluar dari kamarnya. Ichal memberikan tas itu pada Hani.
"Ganti baju lu! Gak sadar apa udah bau banget!"
Hani mendengus kesal mendengar perkataan Ichal yang mengatai dirinya bau.
"Tadi bilang badan aku segede gentong, sekarang bilang aku bau. Dasar ga sopan!" sungut Hani kesal.
***
Hani sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dia melepaskan perban yang membalut kakinya. Sebenarnya terlalu berlebihan jika hanya luka iritasi kulit harus dipakaikan perban, tapi karena kasus Hani cukup parah jadi akan sangat sakit jika tergores bahkan hanya dengan permukaan selimut saja.
__ADS_1
Dia memperhatikan telapak kakinya yang masih sedikit bengkak berwarna merah.
"Kenapa dibuka?" tanya Ichal yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Gak papa, lebay aja ga berdarah ko pake perban!" ujar Hani.
"Emang kalau pake perban harus luka yang berdarah aja? Engga tuh," tandas Ichal.
Hani hanya berdecak mendengar ucapan Ichal yang terdengar so pintar.
"Ayo makan, gue tahu lu laper banget. Dari tadi suara perut lu tuh kedengeran keras banget." ejek Ichal sambil terkikik geli.
Lagi-lagi membuat Hani mendengus kesal, karena terus jadi bahan ejekan Ichal mentang-mentang saat ini Hani sedang berada di rumahnya. Ichal kembali menggendong Hani walaupun Hani terus menolak karena tidak enak membuat Ichal merasakan pegal.
"Loh, Chal kamu gendong siapa? Awas jatoh! Hati-hati sayang!" pekik Tamara ibunya Ichal yang baru pulang dari kantor saat melihat Ichal menuruni tangga sambil menggendong Hani.
"E-eh Tante, maaf ini saya Hani. Tadi saya udah nolak tapi Ichal tetep paksa saya buat naik ke punggungnya," ungkap Hani yang merasa malu.
"Oh, kamu gadis yang waktu itu Ichal bawa ke sini? Gapapa dong cantik!" ujar Tamara dengan ramah.
Ichal hanya melihat ibunya dengan datar, sekilas dia melirik ke pintu dan tidak melihat keberadaan ayahnya. Sudah sekitar dua minggu Ichal tidak bertatap muka dengan ayahnya karena terlalu sibuk mengurusi bisnisnya.
"Papa ga pulang lagi?" tanya Ichal datar.
"Ah, uh, ituuu ... Papah lagi ...,"
"Rapat? Bisnis luar negeri? Ke luar kota? Hah, basi!" potong Ichal.
Perlahan Ichal mendudukan Hani di kursi ruang makannya. Tamara sekilas melirik kaki Hani yang menjuntai, dia terkejut dengan kondisi kaki Hani.
"Loh, kamu kenapa? Ko bisa bengkak gini?" tanya Tamara dengan khawatir.
"Gak usah tanya-tanya, dia mau makan!" Ichal tak memberikan kesempatan Hani untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Chal!" Hani menyebut nama Ichal penuh dengan penekanan membuat Ichal sedikit tersentak.
"Kenapa?!" sahut Ichal dingin.
"Aku gak tahu kamu punya masalah apa sama mamah kamu. Tapi aku paling gak bisa biarin anak yang terus bentak orang tuanya, kamu seharusnya bersyukur bisa melihat dan hidup bersama orang tua kamu sampai segede gini. Sedangkan aku yang selalu berharap punya orang tua yang perhatian kaya mamah kamu malah dari kecil aku gak pernah tahu wajah orang tuaku seperti apa ... hikss ...," Hani terisak.
"Aku gak tahu rupa kedua orang tuaku seperti apa, bahkan selembar foto pun gak ada. Yang aku tahu cuma kedua makam bertuliskan nama mereka aja, seharusnya kamu bisa bersyukur dan hidup bahagia dengan kedua orang tua kamu." sambung Hani sambil terus berurai air mata.
Tamara yang mendengar itu meneteskan air mata, dia menyadari betapa baiknya gadis yang ada di hadapannya. Pasalnya dia berani menasihati anaknya yang dingin itu, dan membuat Ichal sedikit terhenyak dengan pernyataan Hani.
Tamara tiba-tiba memeluk Hani yang masih berurat air mata, dan mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Hani. Dia menatap wajah gadis manis di depannya lalu mengusap rambutnya perlahan dan kembali memeluknya.
"Gak papa sayang, tante baik-baik aja. Ichal mungkin cuma perlu waktu buat terima tante sama om yang terlalu sibuk," ujar Tamara menenangkan Hani.
"Sorry, Han tapi lu gak tahu masalah keluarga gue. Dan gue harap lu gak ikut campur!" suara Ichal terdengar gemetar seperti menahan sesuatu yang akan keluar dari bola matanya.
***
Dengan sedikit paksaan akhirnya Hani mau memakan makanannya, awalnya dia tidak mau karena selera makannya hilang sebab sifat Ichal yang menurutnya keterlaluan terhadap ibunya.
Kini Hani sudah mulai terlelap di kamar Ichal. Ichal bersikeras menyuruh Hani tidur di kamarnya walaupun terdapat banyak kamar lain di rumahnya. Sementara Ichal tidur di kamar tamu yang ada di bawah.
Saat tengah malam Hani terbangun dan sulit untuk kembali tidur, ini tidak seperti Hani yang biasanya. Tiba-tiba dia merasakan sesak di rongga dadanya, dia merasakan sedih yang teramat sangat tatkala mengingat sosok kedua orang tuanya.
Hani turun dari ranjang dan berjalan dengan tertatih, mencoba untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Kaki Hani terlalu lemas hingga hampir membuat dirinya terjerembab ke lantai, beruntung Hani sigap berpegangan pada meja belajar Ichal.
Lalu dia terduduk di kursi mencoba mengambil nafas agar dia bisa tenang. Dia sekilas melirik laci meja itu terbuka dan tidak sengaja melihat sebuah foto yang terbalik dan terbingkai rapi di sana.
Seperti biasa jiwa penasaran Hani terlalu berlebihan, sehingga dia tidak sadar bahwa sekarang dia sedang berada di rumah orang lain yang seharusnya dia bisa lebih menjaga tata krama dan kesopanan untuk tidak menyentuh barang yang bukan miliknya.
Hani meraih foto itu dan membaiknya, mata Hani membulat saat melihat foto itu.
__ADS_1
"Haaaaa ... I-ini kan?!" tangan Hani bergetar hebat saat melihat foto itu.