
Chika dan Andri masih terus mencari keberadaan Salsa namun nihil, mereka tak menemukan Salsa di manapun.
"Andri, gimana dong? Gue khawatir banget terjadi sesuatu sama Salsa!" pekik Chika.
"Lo, tenang, Chik! Salsa pasti ga kenapa-napa." Ucap Andri menenangkan.
Chika benar-benar cemas. Jam sekolah sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Sudah malam namun dia belum juga bertemu dengan Salsa.
"Mungkin Salsa balik," ucap Andri.
"Gue udah telepon rumahnya, tapi Salsa belum pulang. Biasanya kalau dia belum pulang, pasti dia mampir ke rumah gue. Tapi sekarang kan enggak," cemas Chika.
"Mungkin ketemu sama temennya kali, atau shopping kan siapa tahu,"
"Gak mungkin, temen Salsa cuma gue! Selama ini Salsa gak punya temen selain gue, gak ada yang mau temenan sama dia selain gue!" jelas Chika.
"Iya juga sih, gak ada yang mau temenan sama nenek lampir kaya dia!" batin Andri.
"Gimana dong, gue khawatir banget, Dri." Chika mulai terisak.
Dia membungkuk menutup wajahnya, hal ini membuat Andri iba sekaligus heran. Pasalnya Chika bukan tipe orang yang akan mudah menangis, dia tipe gadis cuek yang seringkali tak peka pada sekitarnya. Namun, saat berurusan dengan Salsa dia sampai menangis seperti ini.
Andri mengelus punggung Chika dengan lembut. "Oke, lo tenang dulu pasti Salsa baik-baik aja! Mungkin sekarang Salsa lagi butuh waktu sendiri, gara-gara peristiwa konferensi pers tadi," ucapnya.
"Sial! Kenapa Om Gunawan sampe ngelakuin itu sih buat kaya raya? Sekarang kan kasian Salsa, dia jadi dibully anak-anak!" hardik Chika.
"Tadi dia syok banget pas lihat konferensi persnya Srindra Adamar, tatapan anak-anak langsung berubah sama Salsa. Salsa langsung lari dan sekarang gak tahu kemana," pekik Chika.
Andri terus mengelus punggung Chika mencoba menenangkan emosi Chika dan juga kecemasannya. Namun, Chika malah terus menangis cemas. Tanpa sadar Andri merapatkan tubuhnya memeluk Chika.
"Oke, lo tenang dulu, Chik!"
Tring!
Pesan masuk di ponsel Chika, buru-buru dia membaca pesannya dengan harapan kalau pesan itu dari Salsa. Namun, ternyata bukan. Justru malah nomor tak di kenal yang mengirim pesan padanya.
[Lo Chika 'kan? Gue butuh bantuan lo, Salsa diculik. Ini tempat dia disekap,]
Mata Chika membulat saat membaca pesannya. Dia langsung berdiri, padahal dia masih dipelukan Andri. Alhasil saat dia berdiri kepalanya langsung menghantam dagu Andri dengan keras hingga membuat Andri mengerang kesakitan.
"Aduuuuh! Sakit!" erang Andri.
"Sorry ... sorry! Sakit banget ya?" tanya Chika. Dia langsung mendekatkan wajahnya untuk melihat kondisi dagu Andri yang kali ini terlihat memar karena sundulan Chika.
Deg!
Tiba-tiba Andri merasa berdebar saat melihat wajah Chika dari sedekat ini. Wajahnya pun ikut memanas karenanya.
"Gu-gue, gak papa. Gak sakit ko." Ucap Andri salah tingkah.
"Woy! Kenapa gue berdebar gini? Sadar woy, padahal dari dulu gak pernah gue berdebar sama ni anak!" batin Andri.
"Barusan pesan dari siapa?" tanya Andri. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan karena salah tingkah.
"Astaga! Gue sampai lupa, padahal barusan pesan urgent banget. Gue gak tahu siapa yang kirim, tapi isinya gini." Chika menyodorkan ponselnya memperlihatkan isi pesan yang baru saja diterimanya.
"Gawat nih, kalau ini beneran! Kita harus lapor polisi!"
Chika mengangguk lalu menggeleng. "Tapi, Salsa menghilang belum 2x24 jam. Dan lagi, pesan ini belum bisa dibuktikan kebenarannya!" jelas Chika.
Andri mengangguk. "Bener juga sih! Gue telepon Ichal dulu!" ucapnya.
Cukup lama Andi menunggu jawaban tapi tak ada jawaban.
"Gimana?" tanya Chika.
"Kagak diangkat,"
"Gue lupa, Ichal kan ada di rumah sakit. Tadi siang gue mau jenguk malah keburu bantu lo cari Salsa." Andri menepuk keningnya.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Chika.
"Gak ada pilihan lain, kita coba datengin aja tempat itu. Tapi hati-hati, takutnya ini malah jebakan. Malah nanti lo lagi yang di culik," ucap Ardi.
Andri menyerahkan helm pada Chika setelah dia sendiri mengenakan helm. Helm butut tanpa penutup. Dia sibuk menyelah motor bututnya sementara Chika memakai helm.
"Serius kita naik ini?" tanya Chika. Chika tampaknya tak yakin dengan perwujudan motor Andri yang sepertinya sudah usang.
"Tenang aja! Si Junior bakal kuat! Ayo naek, kita udah telat!" ujar Andri percaya diri.
__ADS_1
"Ju-junior?" tanya Chika heran. Dia duduk dengan hati-hati di motor Andri.
"Pegangan! Kita bakal ngebut banget!" pinta Andri.
Chika langsung mendekap Andri. Andri langsung memacu motornya dengan kencang. Namun, tidak lebih kencang dari odong-odong yang sering menarik penumpang.
"Gil*! Katanya ngebut, ini apaan? Mana ada ngebut kalah sama odong-odong," gerutu Chika. Dia kesal merasa telah dibohongi Andri.
"Kalau ngebut, bahaya, Chik!" Andri terkekeh.
***
"Depan belok kanan!" perintah Ichal.
Barsena berbelok ke arah kanan seperti perintah Ichal. Kini dia melajukan mobilnya dengan lebih pelan, mereka waspada kalau-kalau tempat itu di jaga ketat.
"Udah sampe! Ini tempatnya," ucap Ichal.
Mobil Ardi pun ikut berhenti saat mobil Barsena juga berhenti.
Mereka turun dari mobilnya. Ardi bersama beberapa orang bawahannya melihat-lihat terlebih dahulu dengan hati-hati.
"Tapi di sini sepi banget," bisik Barsena.
"Pasti ada tempat tersembunyi di sekitar sini," sahut Ichal.
"Gimana, Om?" tanya Ichal pada Ardi.
"Benar, sepertinya ada tempat tersembunyi di sekitar sini untuk menyembunyikan, Nona Hani," jawab Ardi.
"Kita berpencar untuk mencari letak pastinya!" lanjut Ardi.
Barsena dan Ichal mengangguk lalu memisahkan diri dari Ardi dan bawahannya. Ichal dan Barsena mencari-cari di setiap bangunan yang gelap tanpa penerangan itu. Dengan waktu yang juga tidak banyak.
"Han, bertahan sebentar lagi! Aku datang, Han!" batin Ichal. Dia terus fokus mencari di setiap bangunan dan ruangan.
"Han, Tunggu sebentar lagi! Ichal dateng buat kamu!" batin Barsena. Dia sama fokusnya dengan Ichal
***
Baron mulai mengelus-elus pipi Hani dan Salsa dengan tatapan nafsu orang dewasa. Tubuh kedua gadis itu bergetar hebat, mereka benar-benar ketakutan. Apalagi saat melihat beberapa orang yang berdiri di belakang orang yang mengelusnya, tatapan mereka seperti singa lapar yang melihat mangsanya yang lemah dan tinggal menerkam saja.
"Hayo, mulai dari siapa dulu ya?" goda Baron. Lagi-lagi dia mencolek dagu Hani dan Salsa.
"Wah, yang satu ini galak banget! Oke, yang galak-galak kita simpen buat diakhir aja. Kita mulai dari yang udah lemes aja biar gampang!" baron menyeringai. Dia menyentuh bahu Hani, terdengar gelak tawa dari anak buah Baron yang merayakan.
"Jangan, Om! Jangan!" lirih Hani. Suaranya lemah dan bergetar nyaris tak terdengar karena suara tawa singa-singa lapar itu lebih kencang.
"Jangan sentuh, Hani juga!" teriak Salsa.
Plak!
Satu tamparan kembali mendarat di wajah Salsa.
"Jangan berani teriak-teriak pada saya! Dasar j*l*ng!" bentak Baron.
Salsa meringis merasakan perih dan nyeri pada wajahnya.
Baron mulai melancarkan aksinya, kancing baju seragam Hani mulai dibuka satu persatu.
"Tidaaaak! Jangaaaan!" jeritan lemah Hani terdengar memilukan.
"Jangaaaan! Toloooooong!" teriak Salsa.
Plak!
Plak!
Kedua gadis itu kembali menerima tamparan keras, hingga membuat Salsa tersungkur saking kerasnya pukulan Baron. Ujung bibir Hani bahkan kini mulai mengeluarkan darah, begitupun Salsa yang lebih banyak menerima pukulan.
"Jangaaaaan!" jerit Hani saat satu kancing terakhirnya hampir terbuka.
Salsa bahkan tak mampu menyaksikan apa yang akan terjadi pada Hani. Dia mulai terisak ketakutan.
"Kyaaaaaa!" jerit Hani.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Brak!
Salah satu bawahan Baron terpental hingga menimpa Baron yang hampir melakukan hal bejat pada Hani.
"Kurang ajar! Berani-beraninya mengganggu upacara sakral saya." Bentak Baron sambil membalikan tubuhnya.
Bugh!
Satu pukulan kuat menghantam perutnya. Ichal yang melakukannya. Amarahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun, hingga dia tak lagi menghiraukan rasa sakit di rongga dadanya.
Melihat kekasih hatinya diperlakukan dengan tidak manusiawi membuat amarahnya tak tertahankan.
Bugh!
Saat Ichal akan kembali melayangkan pukulan pada Baron, seseorang memukulnya dari belakang hingga membuat Ichal mengerang. Dia membalas meninjunya hingga lawannya tersungkur.
Barsena yang datang menyusul langsung membantu. Dia langsung meninju Baron dengan keras hingga Baron tersungkur. Ichal langsung menghampiri Hani yang terkulai lemas dengan baju yang nyaris terbuka dengan tali yang menjerat tubuhnya. Beruntung Baron belum sempat melakukan hal yang tak pantas pada Hani.
"Han, ini aku! Kamu gak papa 'kan?" tanya Ichal cemas. Dia langsung mendekap Hani yang lemah dan membuka ikatan talinya. Terdengar isak tangis dari Hani.
"Kamu sekarang aman, Han! Aku di sini! Diaz di sini." Ichal memeluk Hani, dan mengelusnya untuk menenangkan Hani.
"Ichal membuka jaketnya lalu menyelimuti Hani dengan itu. Tubuh Hani menggigil ketakutan.
Sementara Barsena setelah membogem ayah kandungnya dengan keras hingga tersungkur ke lantai langsung menghampiri gadis yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan diikat tali pula.
Barsena mengangkat tubuh lemah lunglai itu dan mendekapanya.
"Sal, bangun, Sal." Barsena mengguncang tubuh Salsa, sembari membuka tali yang mengikat tubuhnya.
"Sal, hey! Kenapa lo bisa di sini juga? Bangun Sal." Barsena mengguncang tubuh Salsa yang tak sadarkan diri.
Perlahan Salsa mulai sadarkan diri. Saat Salsa membuka mata, wajah Barsena tepat di depannya. Salsa langsung memeluk erat Barsena seakan tak mau melepasnya.
Bugh!
Anak buah Baron yang lainnya datang dan langsung memukul Ichal hingga tersungkur. Dan yang lainnya memukul Barsena. Hingga terjadilah perkelahian dengan jumlah tak seimbang di gedung itu. Hingga Barsena dan Ichal kewalahan dibuatnya.
"Om Ardi mana sih?" batin Ichal.
Ardi dan bawahannya pun sedang berkelahi di luar gedung dengan anak buah Baron yang banyak sekali.
"Sial! Baron memang mempersiapkan ini semua!" batin Ardi.
Benar-benar perkelahian yang tidak seimbang. Puluhan anak buah Baron melawan Ichal, Barsena, Ardi, dan lima anak buahnya.
Bahkan sekarang nafas Ichal mulai tak teratur. Sakit di rongga dadanya mulai kembali menyerang.
"Celaka! Gue harus telan beberapa obat pereda rasa sakit!" batin Ichal.
Namun, jangankan untuk menelan obat. Untuk bernafas bebas pun, sulit sekali. Orang-orang itu terus menyerang.
"Han, lo gak papa?" tanya Salsa. Salsa mendekat pada Hani yang terkulai lemas.
Sepertinya untuk membuka mata saja Hani hampir tidak sanggup. Salsa merengkuh bahu Hani, dia juga menyentuh dahi Hani.
"Panas banget! Pantesan lemes banget, lo demam," gumam Salsa.
"Aku gak papa, Sal. Makasih ya," bisik Hani.
"Ma-makasih buat apa? Gue gak ngapa-ngapain!" pekik Salsa.
Salsa langsung kembali menjauhkan dirinya dari Hani. Dia jadi salah tingkah.
Baron masih terbatuk-batuk setelah mendapat bogeman kuat dari Barsena yang tepat mengenai ulu hatinya.
"Saya harus segera membunuh anak itu! Dengan begitu posisi kami bisa aman," batin Baron. Dia menatap Hani yang terkulai lemah.
Dia meraih senjata api di saku belakangnya, dan langsung menodongkannya ke arah Hani. Ichal yang melihat itu langsung berlari ke arah Hani dan langsung memeluknya. Sementara Salsa yang melihat itu juga dengan sisa tenaganya langsung berlari ke arah Ichal yang memeluk Hani mencoba melindungi mereka dari tembakan, dengan merentangkan kedua tangannya dan kedua mata tertutup rapat menghadap Baron yang menodongkan senjata apinya, dan ....
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga bunyi letusan senjata api terdengar menggema di gedung kosong itu.
__ADS_1
Hikss ... hikss ... hikss ....
Isakan Salsa terdengar pilu.