
10 tahun yang lalu ....
"Hey nama kamu siapa?" tanya seorang gadis kecil kepada anak laki-laki yang tampak lusuh sedang terduduk di tepi jalan dengan memeluk kedua lututnya.
"Kok kamu gak jawab pertanyaan aku sih, kamu kenapa?" gadis itu sedikit kesal.
"Laras ngapain sih di sini? Ayo balik nanti bunda kamu nyariin!" ucap seorang anak laki-laki lainnya yang menghampiri gadis kecil bernama Laras itu.
"Ichal lihat deh kasian banget kan?" ucap Laras sambil menunjuk anak laki-laki yang tengah terduduk tadi.
"Udahlah ayo balik Laras nanti aku yang dimarahin bunda kamu kalau kamu telat pulang!" bujuk anak bernama Ichal.
"Aaaah, gak mau aku kasian sama dia!" rengek Laras sambil menghentakkan kakinya di trotoar jalan.
"Hey lu kenapa? Kagak bisa ngomong lu?" tanya Ichal sambil menggoyangkan badan anak itu.
"Ih Ichaaaal jangan kasar gitu dooong!" Laras kembali merengek manja dengan menepuk-nepuk punggung Ichal.
"Barsena, namaku Barsena." ucap anak laki-laki itu dengan pelan.
"Oh jadi nama kamu Barsena? Kalau gitu ayo ikut aku pulang biar bunda ganti baju kamu tapi pinjem dari Ichal hehe...." teriak Laras antusias.
"Hadeeeh ... Kamu tuh jadi orang jangan terlalu baik Laras nanti kamu bisa di tipu orang." ucap Ichal malas, sambil menepuk dahi Laras.
"Ih gak papa tahu Chal, jadi orang baik itu gak bikin rugi!"
Anak laki-laki itu samar tersenyum melihat kedua orang di depannya berdebat dengan akrabnya.
"Nah Barsena kenalin aku Laras dan yang judes ini namanya Ichal." ucap Laras mengulurkan tangannya dengan senyuman manis terlihat di sana.
"Aduuuuh ... Udah deh ayo pulang!" ucap Ichal kesal, dia menarik tas Laras dan menyeret Laras yang terus berbicara ini dan itu kepada Barsena.
"Kyaaa ... Ichaaaal pelan-pelaaan! Dadah Barsena besok ketemu lagi yaaaa!" teriak Laras yang mulai menjauh.
Barsena memperhatikan mereka berdua dengan seksama, dia tersenyum melihat mereka yang terus menjauh dari pandangannya.
***
Hani membuka matanya lalu mengarahkan telapak tangannya menutupi sedikit wajahnya yang silau karena sinar matahari mulai masuk di sela-sela tirai kamarnya. Perlahan dia melirik jam weker di samping tempat tidurnya, jam menunjukan pukul 07:20 menit.
Mata Hani membulat, dia terperanjat lalu berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap berangkat sekolah. Dengan tergesa-gesa tanpa sempat sarapan dia berlari keluar rumah untuk menunggu taksi online yang sudah dipesannya.
"Mati aku kalau sampai terlambat, mana hari ini pelajaran matematika!" gumam Hani mengingat pak Akbar guru matematika yang terkenal galak, sambil terus mondar-mandir di depan gerbang rumahnya menunggu taksi online yang tak kunjung datang.
Saat taksi online datang, secepat kilat dia masuk dan menyuruh untuk mengebut untuk sampai ke sekolahnya.
"Aduuuh pak, bisa agak cepetan gak saya buru-buru soalnya!" ucap Hani dengan panik karena mobil yang di tumpanginya terasa sangat lambat.
"Iya neng siap!" ucap sopir taksi itu lalu menancap gas.
Akhirnya Hani sampai juga di depan sekolahnya, dengan tergesa-gesa dia membayar dan langsung berlari dengan kekuatan penuh. Dia melirik jam tangannya, untuk melihat waktu bel berbunyi tinggal berapa menit lagi.
"Dua menit lagi bel bunyi, harus lebih cepet!" Hani terus berlari dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Dia sudah melihat guru memasuki kelasnya dan pintu sudah tertutup walaupun bel belum berbunyi. Dengan nafas yang tersenggal dan lutut yang terasa remuk karena berlari Hani berdiri di depan pintu mencoba mengetuk untuk meminta izin masuk.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Maaf pak saya terlambat, boleh saya masuk?" ucap Hani dengan sedikit takut.
"Kamu telat! Silahkan tunggu di lapangan sambil menghormat bendera!" ucap guru itu dengan tegas.
"Tapi kan bel belum bunyi pak, jadi saya belum telat!" ucap Hani membujuk guru itu.
"Sudah bel ataupun belum jika saya yang lebih dulu masuk ke kelas, artinya kamu telat!" tegas guru itu.
Hani melihat orang-orang di kelas terutama Salsa tersenyum puas dengan apa yang dialami Hani. Disaat Hani hendak memutar badannya untuk menuju ke lapangan, Ichal datang dengan santai melenggang masuk ke kelas tidak peduli dengan guru yang marah.
"Kamu juga sekalian berdiri di lapangan sampai jam pelajaran saya selesai!" bentak guru itu pada Ichal.
Ichal hanya melirik guru itu, lalu mengangkat bahunya dan berjalan santai meninggalkan kelas.
"Ayo ke lapangan!" bisik Ichal di telinga Hani yang masih berdiri di ambang pintu sambil menarik tas Hani.
"Ih dasar cowok mesum, jangan pegang-pegang!" teriak Hani memberontak mencoba melepaskan tangan Ichal dari tasnya. Ichal hanya tersenyum sambil terus berjalan santai dengan sebelah tangannya masuk di saku celananya.
"Lagi-lagi gitu ya Chal!" gumam Barsena yang melihat Ichal dan Hani dari dalam kelas yang masih terbuka.
***
Sudah setengah jam Hani dan Ichal berdiri di depan tiang bendera dengan matahari pagi yang menyorot tepat ke wajah mereka. Ichal masih tampak santai sementara Hani mulai gelisah. Wajahnya mulai pucat dengan butiran keringat yang terus mengucur di wajahnya.
Hani hanya menggeleng pelan sambil terus mengusap keringat yang jatuh di wajahnya. Tiba-tiba Ichal berdiri tepat di depan Hani berusaha menutupi wajah Hani yang pucat tak kuat menahan panas, di tambah lagi dengan dia yang tidak sempat sarapan menjadikan kondisinya semakin parah.
"Kalau panas bilang dong." ucap Ichal sambil tetap membelakangi Hani.
Hani hanya menatap punggung Ichal yang tampak basah oleh keringat sehingga membuat baju seragamnya basah. Dengan tatapan yang mulai kosong dan matanya berputar perlahan seperti hendak menutup.
Brukkk .... Ichal mendengar suara orang jatuh di belakangnya, sontak dia membalikan badan dan sangat kaget saat melihat Hani yang tergeletak di belakangnya dengan wajah pucat dan hidung mengeluarkan darah.
"Woy? Lu kenapa? Woy bangun woy?!" ucap Ichal sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hani mencoba membangunkan. Dengan panik dia mengangkat Hani dan berlari menuju ke ruang UKS.
"Hani bangun Hani!" suara Ichal terdengar panik sambil terus berlari melewati koridor dengan memangku Hani di depan.
Dia bahkan tidak sadar itu pertama kalinya Ichal menyebut nama Hani. Sesampainya di UKS Hani langsung di periksa oleh dokter yang berjaga di sana.
"Di-dia kenapa dok?" tanya Ichal dengan terbata-bata antara panik dan mengontrol nafas yang memburu.
"Dia hanya kecapean terus perutnya kosong jadi tidak kuat dengan panasnya hari ini." jawab dokter itu dengan tenang.
"Lalu bagaimana dengan kondisi jantung kamu Chal? Masih suka sakit?" tanya dokter itu sambil menatap Ichal dengan serius.
"Bukan saatnya dokter bahas saya." jawab Ichal dingin.
"Selalu saja menghindar jika ditanya soal keadaannya, dasar anak ini! Padahal saya ditugaskan sama dokter Rizky untuk selalu mengawasi kegiatan dia disini." batin dokter itu.
Ichal terus menatap Hani yang masih belum sadar, terlihat kepanikan di wajah Ichal.
__ADS_1
"Hmmm." gumam Hani lalu membuka matanya perlahan. Samar-samar dia melihat seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Kyaaa ... Dasar mesum! Kamu udah apain aku di sini!" teriak Hani yang mulai sadar sepenuhnya begitu kaget melihat keberadaan Ichal di sampingnya.
"Udah di tolongin malah ngomong sembarangan, dah lah males!" kata Ichal kesal lalu pergi meninggalkan Hani.
"Dasar mesuuuuum!" teriak Hani sambil melihat Ichal yang keluar dari ruangan.
"Oh, kamu udah sadar? Jadi nama kamu Hani? Perkenalkan saya Inne, kamu boleh memanggil saya apa pun. Saya dokter yang kebetulan ditugaskan untuk berjaga di UKS sekolah ini." ucap dokter Inne menghampiri Hani.
Hani begitu kaget melihat keberadaan dokter di hadapannya. Dia terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
"Sa-saya kenapa ya dok?" tanya Hani terbata-bata.
"Tadi kamu pingsan, biasakan sarapan dulu sebelum berangkat jangan terlalu banyak pikiran juga. Beruntung tadi ada Ichal yang bawa kamu ke sini." jelas dokter.
Hani hanya bengong setelah mendengar penjelasan dokter, dia merasa bersalah dengan apa yang tadi dia katakan pada Ichal.
"Kenapa kamu selalu ceroboh sih Hani!" batin Hani kesal.
"Nih makan!"
Hani tersentak dari lamunannya, dia melihat bungkusan yang disodorkan oleh seseorang berisi roti, susu, dan air mineral. Dia melirik orang yang memberikan makanan itu, wajahnya sontak memerah melihat orang di depannya adalah Ichal.
"Lain kali jangan pingsan deket gue, repot banget harus ngangkat lu dari lapangan ke sini. Mana badan lu tuh berat tau!" ucap Ichal kesal.
"Ih gak sopan bilang aku berat! Gak lihat apa badan langsing gini masa berat! Lagian kalo gak ikhlas gak usah bantuin!" ucap Hani tidak kalah kesal.
"Udah nih makan! Awas lu kalau pingsan lagi deket gue!" perintah Ichal sambil memberikan makanan ke tangan Hani.
Ichal kembali meninggalkan Hani. Saat dia melewati pintu, dia berpapasan dengan Barsena yang juga membawa sebuah bungkusan. Ichal melirik Barsena, sepintas dia melihat memar di wajah Barsena.
"Dia masih kasar sama lu?" tanya Ichal tanpa menatap Barsena.
"Hmmm." Barsena hanya menggumam, lalu masuk ke ruang UKS.
Barsena menghampiri Hani yang masih terduduk dengan menggenggam bungkus makanan yang tadi diberikan Ichal.
"Gimana keadaan kamu Han?" tanya Barsena sambil melirik bungusan makanan yang digenggam Hani.
"I-iya gak papa kok!" jawab Hani.
"Dari dulu kamu kebiasaan kalau kesiangan suka lupa sarapan." Barsena menatap mata Hani dalam-dalam membuat Hani mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku mau sendiri dulu." ucap Hani lirih.
Barsena yang mendengar itu hanya menggenggam erat bungusan yang dia bawa, yang tadinya ingin di berikan pada Hani.
"Sebelum kamu pergi, obatin dulu luka kamu!" ucap Hani tanpa melihat ke arah Barsena.
Barsena tersenyum mendengar ucapan Hani. "Iya, makasih Han!"
***
__ADS_1