Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.58 Kilas Balik


__ADS_3

Joko Gunawan, namanya, sekretaris yang dia pekerjaan satu tahun lalu. Memang untuk kesalahan di awal masih dia maklum karena mungkin awal-awal pekerjaan masih belum terbiasa. Namun, semakin dimaklumi semakin menjadi saja kesalahannya. Seolah dia merasa tidak peduli lagi dan malah sengaja melakukan kesalahan. Itulah yang membuat Adamar sekarang murka.


"Lihat saja, Adamar. Semua harta kekayaan yang kamu miliki, akan saya rebut!" batin Joko.


Dia mempunyai misi merebut perusahaan milik Adamar. Dengan mendekati dan bekerja sebagai sekretaris yang lebih dekat dengan Adamar. Bahkan kesalahan yang dia lakukan sebagian besar dilakukan dengan sengaja ingin membuat Adamar marah besar.


"Hallo, ini saya. Bagaimana kalau kita segera lakukan rencana besar kita?" ucap Joko pada seseorang di seberang telepon.


["Tentu, ini yang saya tunggu dari dulu. Ayo lakukan!"]


Joko langsung memutuskan sambungan telepon.


"Tunggu saja, Adamar!" batinnya.


***


Adamar tiba di rumahnya. Dia bergegas menghampiri isteri dan anak-anaknya.


"Loh, Mas. Kok, jam segini sudah pulang?" tanya Marwah.


Marwah heran karena belum saatnya jam pulang tapi Adamar sudah berada di rumah.


"Mas, ingin dekat-dekat dengan kalian." Ucap Adamar sambil merengkuh pundak Marwah ke pelukannya.


"Kenapa, Mas?"


Marwah jelas-jelas bisa mencium sesuatu yang tidak beres pada suaminya.


"Bagaimana, kalau kita titip anak-anak kita pada, Mbak Srindra, Sayang?" tanya Adamar ragu.


"Maksudnya apa, Mas?" Marwah meninggikan suaranya.


"Mas, rasa, nyawa kita sedang diincar,"


"Diincar oleh siapa? Mas, jangan mengada-ngada!" teriak Marwah.


"Tenang, Marwah. Ayo kita titip anak kita, pada Mbak Srindra dan Mbak Sundari,"


"Tidak, Mas. Aku tidak akan menitipkan anak-anakku pada siapapun!"


"Marwah, Mas, mohon! Mas, takut anak-anak kita juga ikut dalam bahaya," mohon Adamar.


"Memangnya, Mas tahu dari mana kalau kita dalam bahaya?!"


Marwah sudah kehilangan kesabaran. Dia terus berteriak pada suaminya karena merasa tidak terima jika harus menitipkan anak-anaknya.


"Mas, dengar sendiri rencana mereka." Adamar menatap nanar wajah isterinya.


"Mas, yakin?" lirih Marwah.


Adamar mengangguk, dia yakin. Sebenarnya sudah sejak lama Adamar merasa ada yang tidak beres dengan Joko Gunawan dan diam-diam dia menyelidikinya sendiri. Dan ternyata benar, Joko sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada dirinya dan keluarganya untuk merebut perusahaan dan seluruh aset milik Adamar.


Saat tadi Joko menelepon seseorang, Adamar mendengarnya. Dari sana, Adamar langsung yakin kalau sekarang nyawanya dan keluarganya benar-benar sedang terancam.

__ADS_1


"Baiklah, aku ikut pada keputusanmu, Mas." Ucap Marwah sambil menatap kedua anaknya dengan nanar.


Kedua gadis kecil itu belum tahu apa yang akan terjadi pada mereka.


"Aku masih belum yakin dengan semuanya,"


"Mas, juga."


"Apa sebaiknya kita rundingkan dulu, dengan Mbak Srindra?" tanya Marwah.


"Aku tidak mau kita mengambil keputusan yang salah." Lanjutnya.


"Baik, kita rundingkan ini dahulu,"


Adamar dan Marwah akhirnya mengunjungi kediaman Srindra. Mereka ingin menyampaikan ketakutan mereka pada yang lebih tua agar dapat sedikit tenang dan sekaligus mendapat solusi yang berarti.


"Kalau, itu sudah menjadi keputusan kalian, apa boleh buat? Toh, cuma sementara 'kan? Sampai Adamar menemukan bukti untuk menangkap mereka yang berniat jahat pada kalian?" kata Srindra.


"Kalau tujuannya untuk melindungi keluargamu, Mbak akan dukung, Adam." Ucap Srindra sambil menepuk pundak Adamar.


"Mungkin Sundari juga tidak akan keberatan jika harus menjaga Hani untuk sementara tapi kenapa harus dipisah? Kenapa tidak sekalian saja Laras dan Hani, Mbak yang jaga?" tanya Srindra.


"Karena aku juga khawatir kalau mereka ikut mengincar anak-anak. Jadi, kalau mereka terpisah, setidaknya mereka akan kesulitan untuk mencari anak-anakku," jelas Adamar.


"Aku akan langsung menitipkan Laras, pada, Mbak. Besok aku harus perjalanan dinas ke luar kota, Marwah 'pun akan aku titipkan di sini," lanjut Adamar.


"Baiklah, langsung saja malam ini antarkan Marwah dan juga Laras, kalian bisa menginap di sini," ucap Srindra.


"Aku akan mengantarkan Hani terlebih dahulu pada, Mbak Sundari."


Sesampainya di rumah, Marwah langsung menggendong Hani bayi yang tengah tidur di keranjang bayi, begitupun dengan Laras kecil langsung digendong oleh Adamar.


Marwah meminta pengasuh untuk membereskan beberapa perlengkapan untuk Hani dan Laras dalam tas terpisah. Marwah juga mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya.


"Tolong rawat anak kami, kami tidak sanggup merawat dua anak sekaligus. Apalagi dengan nyawa kami yang sedang terancam karena dia terus menyasar nyawa kami."


Marwah dan Adamar.


Itulah yang Marwah tulis, dia lalu menyimpan surat itu di bawah tumpukan perlengkapan Hani. Dia juga meletakan selembar foto dan dua pasang kaus kaki kecil milik Laras. Marwah ingin, jika akhirnya Marwah dan Adamar meninggal, Hani dan Laras harus tetap hidup sebagai saudari.


Setelah semua persiapan selesai, Adamar langsung melajukan mobilnya ke kediaman Sundari yang lumayan jauh dari kediaman Adamar. Butuh waktu lumayan lama juga untuk menjangkau kediamannya.


Setelah hampir tiga jam perjalanan akhirnya mobil Adamar berhenti di depan rumah Sundari.


"Loh, Adam, Marwah. Ada apa kalian malam-malam ke sini? Bahkan si kecil juga kalian bawa?"


Sundari merasa aneh karena Adamar dan Marwah tampak tergesa-gesa dan tidak bisa duduk dengan tenang. Apalagi ini sudah hampir tengah malam, mereka malah mendatangi rumahnya.


"Mbak, kami minta tolong. Untuk sementara rawat Hani untuk kami, kami mohon!" ucap Adamar.


Adamar tergesa-gesa menyampaikan maksud dan tujuannya. Dia langsung meminta Marwah untuk menyerahkan Hani pada Sundari. Jelas sekali terlihat wajah Marwah yang sangat keberatan saat menyerahkan Hani yan tiba-tiba menangis. Namun, ini harus tetap mereka lakukan untuk menjaga keselamatan jiwa anaknya.


Setelah menyerahkan Hani, Adamar dan Marwah langsung tergesa berpamitan. Sekarang mereka harus mengantarkan Laras pada Srindra.

__ADS_1


Sundari yang masih tidak mengerti mencoba meminta penjelasan. Namun, Adamar dan Marwah sudah terlanjur melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


Sundari kembali duduk untuk menenangkan Hani yang masih terus menangis. Dia mengambil susu di tas perlengkapan Hani, lalu memberikannya pada Hani sehingga tangisannya pun terhenti.


Sundari menemukan secarik surat yang sebelumnya sudah Marwah tulis. Dia membacanya, dan kaget bukan main saat membaca isi suratnya.


"Siapa? Siapa, yang mengincar nyawa kalian, Adam, Marwah?" batinnya.


Dia menatap bayi yang baru saja diserahkan oleh kedua orangtuanya, bayi itu tampak sangat tenang setelah diberi sebotol susu. Bayi yang baru sekitar satu bulan dilahirkan itu masih belum mengetahui apa-apa.


"Malang sekali nasibmu, Nak. Aku, akan merawatmu," gumamnya.


Begitulah akhirnya Hani dirawat oleh Sundari sampai Hani berusia delapan belas tahun dan tepat saat Hani ulang tahun ke-18, Sundari meninggal dunia.


***


Adamar masih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jalanan sangat sepi, hampir tak ada lalu lalang pengendara lain di jalanan itu. Ini terjadi karena sudah lewat tengah malam, sehingga jalanan menjadi sepi.


"Mas, pelan-pelan!" pinta Marwah.


Marwah jelas cemas akan terjadi sesuatu jika Adamar melajukan mobilnya terlalu cepat. Marwah duduk di kursi belakang sambil mendekap erat Laras yang tertidur di pangkuannya.


"Kita, tidak punya banyak waktu, Sayang. Mas, harus cepat-cepat mengantar kalian ke rumah, Mbak Sundari." Ucap Adamar sambil tetap melajukan mobilnya.


"Tapi, Mas, jangan terlalu mengebut!"


"Mas, di depan ada mobil lain, Mas. Mas, hati-hati!" teriak Marwah.


Adamar langsung berusaha menginjak rem, tapi tidak berfungsi.


"Mas, di depan! Awas!" teriak Marwah.


Adamar terus menginjak rem tapi tak berfungsi, mobilnya terus melaju dalam kecepatan cukup tinggi. Adamar langsung membanting setir ke kiri dan mobilnya langsung terguling.


"Maaaaaas!" Marwah berteriak sambil mendekap Laras di pelukannya.


Mobil yang ditumpangi terguling, Marwah masih tersadar dengan darah segar mengucur di wajahnya, sementara Adamar tampak tak sadarkan diri terjepit di antara kursi kemudi.


Laras kecil menangis masih dalam pelukan erat Marwah. Laras 'pun ikut terluka di beberapa bagian tubuhnya, tapi tak separah kedua orang tuanya. Laras terus menangis.


"M-mas ... Mas ... bangun, Mas!" lirih Marwah. Sudah jelas suaminya tak sadarkan diri dengan luka yang juga parah.


Marwah terus berusaha menjaga kesadarannya dalam kondisi sulit itu. Dia masih bisa mencoba menenangkan Laras yang menangis karena merasa sakit di tubuhnya.


"Tenang, Sayang. Cup ... cup ... cup ... Mamah, di sini. Jangan menangis, Mamah di sini," lirih Marwah. Suaranya bergetar, air matanya mengalir, perlahan pandangannya kabur dan kesadarannya perlahan menghilang.


Marwah kehilangan kesadaran dengan darah terus mengalir dari tubuhnya, meninggalkan Laras kecil yang menangis kesakitan sendiri.


Seseorang menyeringai puas saat menyaksikan mobil yang ditumpangi keluarga Adamar terguling di hadapannya. Tanpa berniat membantu orang itu langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.


"Saya sudah melaksanakan perintah, Anda. Jangan lupakan janji, Anda." Ucapnya sambil tersenyum pada seseorang di seberang telepon.


[Tentu, Baron. Tenang saja! Saya pasti akan menepati janji, saya.]

__ADS_1


Baron menyeringai saat mendengar jawaban dari seseorang yang diteleponnya, dan langsung memutuskan sambungan telepon lalu melajukan mobilnya meninggalkan Mobil Adamar yang terguling. Baron Utama, orang yang diperintahkan oleh Joko Gunawan untuk membuat mobil yang ditumpangi Adamar dan keluarganya mengalami kecelakaan.


***


__ADS_2