Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.65 Putus


__ADS_3

"Diaz," lirih Hani.


"Iya."


"Kita putus aja," lirih Hani.


Deg!


Kerongkongan Ichal rasanya mendadak kering, otaknya mendadak kosong, telinganya mendadak seperti tuli, jantungnya berdebar tak karuan. Apa yang baru saja Hani katakan? Putus? Tapi kenapa? Setidaknya begitulah yang sekarang jadi pertanyaan Ichal dan kita semua.


Hening, hanya suara desir angin dan deburan ombak yang terdengar di sana. Baik Hani dan Ichal belum ada lagi yang mengeluarkan suara.


Hani terisak di tengah keheningan itu. Ichal menyentuh bahu Hani, tapi Hani menepisnya.


"Kenapa, Han?" lirih Ichal. Akhirnya keluar juga suaranya.


Hani masih terus terisak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Pada akhirnya kamu bakal tinggalin aku, kan? Aku gak mau ditinggalin lagi, lebih baik aku aja yang tinggalin kamu. Aku gak mau ditinggalin lagi! Ini terlalu berat buat aku!" lirih Hani di sela isak tangisnya.


Ichal terdiam, dia berpikir pilihan Hani adalah yang paling tepat. Hubungan mereka harus putus agar Ichal bisa tenang meninggalkan Hani. Setidaknya itulah yang otak Ichal pikirkan sekarang.


"Kalau itu mau kamu, aku gak bisa apa-apa, Han. Aku akan turuti mau kamu," lirih Ichal.


Isakan Hani makin menjadi setelah mendengar Ichal. Ichal langsung mendekap Hani ke pelukannya. Dipeluknya Hani dengan erat, ini mungkin benar-benar pelukannya yang terakhir.


Pada akhirnya Ichal dan Hani berakhir begitu saja setelah kenangan indah yang mereka ukir di tempat itu.


***


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Hani langsung turun dari mobil Ichal. Dia langsung masuk ke rumahnya, tanpa menoleh lagi ke belakang. Ichal menatap punggung Hani yang terus menjauh lalu menghilang masuk ke rumahnya.


Ichal turun dari mobil dan mengeluarkan tas milik Hani dari dalam bagasi, lalu menitipkan pada penjaga rumah Srindra agar diberikan pada Hani.


Setelah itu Ichal langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seolah dia sudah tak takut mati lagi, setelah putus dari Hani. Tak lama sampailah dia di rumahnya.


"Chal, besok kita berangkat pukul 9.00 pagi, ya!" ucap Edi. Namun, Ichal tak menghiraukan ucapan ayahnya. Dia langsung melenggang masuk ke kamarnya.


Edi bisa melihat dengan jelas kalau anak semata wayangnya itu sedang sangat tidak baik-baik saja.


"Bagaimana ini, Pah? Ichal, tampaknya stress banget," ucap Tamara cemas.


"Iya, Mah. Ini gak baik buat kondisi dia," ucap Edi.


Ichal duduk di tepi ranjang. Dia tertunduk sambil memegangi kepalanya, lalu mengangkat kepalanya sambil mengacak rambutnya kasar. Dia mengerang, sambil terus mengacak rambutnya.


Sekilas dia melirik koper miliknya yang sudah siap dengan barang-barang di dalamnya. Ichal menghela nafas panjang dan berat sambil menatap nanar koper itu. Semuanya sudah siap, kecuali dirinya yang tampak sangat belum siap.


"Aaaaaaarrrrggghhh!" teriak Ichal.


Dia menonjok tembok hingga tangannya berdarah, dia benar-benar emosi pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa.


Ketukan pintu dan panggilan dari kedua orangtuanya sama sekali tidak dihiraukannya. Ichal sudah sampai pada tingkat stress yang tertinggi.


Sementara itu, Hani juga tak menghiraukan Srindra yang bertanya tentang perjalanan yang dia lakukan dengan Ichal. Hani langsung masuk ke kamarnya sambil membanting pintu dengan cukup keras.


Srindra cemas dengan kondisi Hani yang seperti ini. Dia kembali teringat sosok Laras yang juga seperti ini setelah ingin bertemu dengan pujaan hatinya. Srindra jelas takut Hani juga melakukan hal yang buruk seperti Laras. Berulang kali Srindra menggedor pintu meminta Hani membukanya. Namun, Hani tak menurutinya.


"Aku baik-baik aja, Bun." Suara lemah Hani terdengar dari dalam kamar sedikit membuat Srindra merasa tenang, walaupun tetap merasa cemas juga.


***


Keesokan harinya ....


Hani langsung berangkat ke sekolah tanpa memakan sarapannya, bahkan dia juga menolak saat Srindra mau mengantarnya. Hani lebih memilih naik taxi dari pada di antar oleh Srindra.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Sayang?" gumam Srindra.


Sesampainya di sekolah Hani berjalan dengan lesu, seolah seluruh semangat hidupnya sudah dihabiskan sekaligus.


"Selamat pagi, Hani!" sapa Andri dengan ceria.


"Pagi!" sahut Hani dengan lemas lalu mendudukan tubuhnya di kursi.


"Kenapa, Han?" tanya Barsena.


Hani menggeleng pelan lalu menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Dia benar-benar lemas.


"Pasti Hani kaya gini karena Ichal berangkat hari ini," batin Barsena.


"Han."


"Hmmm." Hani menggumam malas.


"Ichal mana?" tanya Andri.


"Gak tahu! Jangan tanya-tanya!" ketus Hani.


"Lah, kalian berantem?"


"Jangan tanya-tanya!" ketus Hani.


Barsena merasa heran, kenapa Hani tampak biasa saja saat Ichal akan pergi ke Amerika. Walaupun, Hani tampak sedang merajuk tapi Barsena tahu pasti ini bukan merajuk karena Ichal pergi. Kalau, Hani tahu mungkin sekarang Hani sedang menangis tak mau ditinggalkan.


"Chal, apa lo belum bilang sama Hani?" batin Barsena.


Seorang guru memasuki kelas. Pelajaran dimulai, tapi Hani masih membungkuk di mejanya. Dia seolah tak berniat mendengarkan pelajaran hari ini.


***


Ichal berdiri di depan rumahnya. Ichal menatap beberapa orang sangat sibuk berlalu-lalang mengangkat koper dan memasukan ke dalam taxi.


Ichal mengangguk tanda dia sudah siap. Tamara menggandeng Ichal untuk segera masuk ke dalam taxi. Baru beberapa langkah, Ichal menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah rumahnya. Ditatapnya rumah itu, Tamara menepuk pundak Ichal untuk menguatkan. Setelah itu, berangkatlah Ichal dan keluarga ke bandara.


Sepanjang perjalanan, Ichal hanya menatap jalanan. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya. Otaknya hanya dipenuhi Hani, dia lalu menatap selembar foto yang sedari tadi digenggamnya. Foto dirinya dan Hani saat di pantai kemarin. Foto polaroid yang kata Hani bermakna satu kali itu, dia tatap dengan sendu.


Tamara hanya bisa mengelus pundak Ichal. Dia tahu betul, Hani adalah orang yang berarti untuk Ichal.


Tamara merogoh ponsel di tasnya. Dia mengetikkan sebuah pesan tanpa sepengetahuan Ichal lalu mengirimkannya.


***


Tring!


Saat pelajaran sedang berjalan, ponsel Barsena berbunyi. Cepat-cepat Barsena merogoh ponsel di sakunya. Dia membaca pesan dari Tamara.


[Barsena, hari ini kami berangkat pukul 9.00 pagi. Tante rasa, Hani belum tahu masalah ini. Tante minta tolong, kamu bawa Hani ke bandara! Waktu kita gak lama, Barsena. Tante mohon.]


Barsena refleks berdiri setelah membaca pesan itu, membuat perhatian tertuju padanya. Salsa yang kali ini duduk bersama Barsena langsung menarik tangan Barsena agar kembali duduk.


"Kamu kenapa, sih?" bisik Salsa.


Barsena langsung menyodorkan ponsel miliknya memberitahu tentang pesan itu. Mata Salsa membulat, dia juga baru mengetahui soal Ichal.


"Bantu aku, buat cari alesan! Waktu kita gak banyak," bisik Barsena.


"Alesan gimana? Kamu gil*! Minta bantuan Andri sana!" bisik Salsa.


"Itu, yang di belakang! Kenapa bisik-bisik terus?" tegur guru yang tengah mengisi pelajaran.


"Aduh! Pak, saya sakit perut boleh izin ke belakang!" pekik Salsa berpura-pura sambil memegangi perutnya yang tak sakit.

__ADS_1


"Ya, sudah sana!" ucap guru itu.


Salsa langsung berdiri lalu menghampiri Hani yang tengah membungkuk di mejanya, dengan cepat dia menarik Hani.


Hani cukup kaget dengan kelakuan Salsa. Dia sempat menolak, karena terlalu lemas dan malas.


"Kamu mau ke toilet, kenapa malah ganggu anak lain!" bentak guru itu.


"Iya, Sal. Kamu kenapa sih?" tanya Hani heran dengan suara lemah.


"Sa–saya mau diantar sama Hani, Pak. Boleh, kan?" ucap Salsa.


"Ya, sudah boleh. Jangan lama-lama!"


Salsa mengangguk lalu menyeret Hani yang masih tak mengerti apa-apa. Andri dan Chika yang merasa heran dengan kelakuan mereka jadi penasaran. Dia bertanya pada Barsena lewat kode-kode yang memusingkan, tapi Barsena tidak menjawab. Saat guru sedang menuliskan sesuatu di papan tulis, Barsena mengendap-endap keluar kelas lewat pintu belakang.


"Mereka pada kenapa, sih?" bisik Chika.


Andri menggeleng tanda tak tahu. Dia bertanya pada Barsena saja tidak digubris.


Tring!


Satu pesan masuk di ponsel Chika. Dia buru-buru membacanya, ternyata pesan dari Salsa.


[Buruan keluar! Ichal di bandara mau ke Amerika, kita harus bawa Hani ke bandara ketemu sama Ichal. Buruan waktu kita gak banyak!]


Chika memperlihatkan pesan yang baru saja diterimanya. Mereka sama-sama membulatkan matanya karena kaget.


"Cepet cari cara," bisik Chika.


"Gimana?" bisik Andri.


Tiba-tiba Chika menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Andri sempat kaget, lalu kemudian sedikit tertawa. Dia langsung masuk ke mode akting dengan pura-pura cemas pada kondisi Chika. Cerdas sekali ide Yayang-nya itu, pura-pura pingsan. Seketika kelas jadi heboh karena Chika pingsan.


"Kenapa, itu?" Guru itu langsung menghampiri Chika yang tergeletak di lantai.


"Chika pingsan, Pak. Bagaimana ini? Pasti asam lambungnya kumat," ucap Andri dengan ber-akting cemas. Entah dari mana kemampuannya itu berasal.


"Ya, sudah. Kamu langsung bawa ke UKS saja!" perintah guru itu.


Tanpa menunggu lama, Andri langsung mengangkat tubuh Chika. Andri mengerang karena ternyata tubuh Chika sangat berat, hingga dia hampir tak mampu mengangkatnya.


"Kamu butuh bantuan?" tanya guru itu.


"Nggak, Pak. Saya kuat!" Andri pura-pura kuat, bisa gawat kalau ada yang membantunya. Bisa-bisa akting-nya terbongkar.


Andri mengangkat tubuh berat Chika keluar kelas. Setelah dirasa aman Andri langsung menurunkan Chika.


"Berat banget, sih, Yayang!" keluh Andri.


"Kurang ajar!" Chika mencubit lengan Andri karena kesal disebut berat.


"Sekarang di mana mereka?" Andri celingak-celinguk mencari sosok Barsena dan yang lainnya.


***


"Sal, kenapa, sih? Lepasin aku!" ronta Hani.


"Lo, harus ikut gue!" Salsa terus menyeret tangan Hani.


"Ke mana, Sal? Lepasin."


"Ketemu Ichal."


Hani menghentikan langkahnya. "Aku gak mau."

__ADS_1


"Ayo, Han! Waktu kita gak banyak!" Salsa menarik tangan Hani, tapi Hani tak bergeming.


__ADS_2