
Hani menghentikan langkahnya. "Aku gak mau."
"Ayo, Han! Waktu kita gak banyak!" Salsa menarik tangan Hani, tapi Hani tak bergeming.
"Han, ayo! Jangan sampai kamu menyesal," ajak Barsena yang sudah berhasil keluar.
Hani masih tak bergeming.
"Han, gue mohon!" bujuk Salsa.
"Itu, mereka!" pekik Andri saat melihat Barsena, Salsa dan Hani.
Andri dan Chika langsung berlari menghampiri mereka.
"Ayo, berangkat!" ajak Andri.
Namun, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.
"Ayo, katanya waktu kita gak banyak. Kenapa, kita malah diem di sini!" ucap Chika kesal.
"Aku sama Ichal udah putus," lirih Hani. "Aku sama Ichal udah gak ada hubungan apa-apa!"
Mereka yang mendengar itu langsung membeku dan tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Seolah untuk bernafas pun mereka enggan.
"Tapi, Han. Aku mo—"
"Cukup, Barsena! Aku udah gak mau lagi denger apa pun!" potong Hani.
Salsa dan Chika langsung menyeret tangan Hani setelah mendengar itu. Pokonya dia mau Hani bertemu Ichal, walaupun Hani enggan.
"Lepasin!" Hani meronta dari pegangan erat Salsa dan Chika.
"Gue mohon, Han! Jangan sampai lo nyesel!" bentak Salsa.
"Lo, tahu? Ichal tuh teman kita. Oke, dulu gue pernah terobsesi sama dia, tapi lebih dari itu Ichal adalah teman gue selama hampir tiga tahun ini." Salsa menghela nafas sejenak untuk mengatur emosinya.
"Lo, tahu, Han? Ichal hari ini berangkat ke Amerika!" teriak Salsa frustrasi.
Deg!
Tubuh Hani bergetar hebat setelah mendengar kenyataan itu dari Salsa.
"Lo, masih gak mau ketemu Ichal? Oke, kita gak akan maksa, tapi jangan sampai lo nyesel di kemudian hari." Salsa melepaskan cengkeraman tangannya.
Setelah mendengar apa kata Salsa, tanpa pikir panjang Hani langsung berlari menuju gerbang sekolah. Yang lainnya langsung mengejar Hani.
"Satu kebohongan lagi, Diaz! Terbukti kamu memang bakal ninggalin aku!" batin Hani.
"Han, tunggu! Gerbang depan dijaga, kita bakal susah buat keluar," teriak Andri.
"Terus gimana dong?" Sekarang Hani jadi benar-benar cemas.
"Ichal berangkat jam 9.00 pagi, kita masih punya waktu setengah jam lagi. Ayo, kalian masuk mobil Barsena dulu," bisik Salsa.
Mereka bergegas masuk ke dalam mobil Barsena, sementara Salsa menghampiri satpam yang menjaga dengan ketat.
Setelah beberapa saat Salsa berbicara, satpam itu langsung membuka gerbang. Sementara Salsa langsung memberi kode agar Barsena membawa mobilnya.
Salsa masuk ke dalam mobil Barsena, dengan senyum puas. Sementara yang lainnya merasa heran kenapa Salsa bisa dengan mudah meminta satpam itu membuka gerbang.
"Ayo, jalan!" ucap Salsa dengan senyum penuh kemenangan.
"Kok, Lo bisa gampang minta izin masuk, sih?" tanya Chika.
"Gue, kan cantik! Jadi gampang, lah!" Salsa mengibaskan rambutnya percaya diri.
Barsena serius sekali menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hani terus meremas jemarinya, dia benar-benar ketakutan kalau tidak sempat bertemu dengan Ichal.
Seketika dia merasa menyesal sudah memutuskan Ichal kemarin sore. Dia merasa menjadi orang paling bodoh yang meninggalkan kekasihnya yang sedang dalam keadaan terpuruk.
"Si*l!" umpat Barsena.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Andri.
"Macet." Barsena terus menekan klakson, dengan harapan mobil-mobil yang mengantre segera bergerak.
"Duh, gimana dong?" ucap Chika cemas.
Sementara Hani makin meremas jemarinya dengan kuat.
"Diaz, tunggu aku!" batin Hani.
***
Ichal tengah duduk menunggu waktu keberangkatan. Tinggal beberapa menit lagi dia akan terbang ke Amerika. Dia menatap nanar, tiket dan dokumen lainnya yang dia genggam sejak tadi. Dia melirik jam, menghitung setiap menit yang berlalu.
"Bentar lagi," batinnya.
"Chal, udah siap?" Edi menepuk pundak Ichal lalu duduk di sampingnya.
"Iya, Pah!" jawab Ichal lirih.
"Ayo, berangkat!" Edi lalu bangkit disusul Ichal yang tampak malas sekali.
Edi dan Tamara sudah jalan lebih dulu, sementara Ichal tampak berat melangkah. Edi dan Tamara menyerahkan tiket untuk diperiksa.
"Ayo, Chal!" ajak Tamara.
Ichal mengangguk lalu menyerahkan tiket miliknya untuk diperiksa. Ichal menoleh ke belakang seolah berat untuk pergi.
"Diaz!" Suara yang sudah tak asing lagi di telinga Ichal terdengar merdu meneriakan namanya saat Ichal sudah melangkahkan kaki.
"Bahkan sebelum aku pergi, aku masih mendengar suara kamu, Han." Ichal tersenyum getir dengan langkah gontainya.
"Diaz!" Lagi-lagi suara itu terdengar. Suara yang hanya memanggil namanya.
"Diaz! Kembali kamu! Dasar kurang ajar! Berani-beraninya kamu ninggalin aku!" Ichal seketika menghentikan langkah malasnya, suara makian yang anehnya tetap terdengar merdu di telinganya itu seperti bukan khayalan dia saja.
Ichal menoleh, seketika matanya membulat. Dengan jelas dia melihat Hani berdiri di sana. Ternyata Hani sudah berhasil sampai ke bandara setelah melalui jalanan macet itu.
"Han," gumam Ichal.
Tanpa pikir panjang Ichal langsung kembali berlari menghampiri Hani dan langsung memeluknya erat.
Hani terus menangis pilu di pelukan Ichal sampai Ichal juga tak bisa mengendalikan air matanya. Mereka menangis seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka.
Tak lama kemudian, Barsena dan yang lainnya tiba. Mereka langsung disuguhi dengan adegan dramatis yang menyedihkan.
Hani dan Ichal mulai mengurai pelukannya. Dia tahu betul, dia sudah tidak punya banyak waktu.
"Chal." Barsena langsung memeluk sahabatnya itu, dia menepuk punggung Ichal berkali-kali.
Andri juga melakukan hal yang sama seperti Barsena. Salsa dan Chika tampak lebih sedih melihat Hani dan Ichal berpisah, mereka menggandeng Hani setelah bersalaman dengan Ichal. Ichal langsung memutar badannya dan kembali menghampiri Tamara dan Edi yang ternyata menunggu Ichal di pintu keberangkatan.
"Hati-hati." Barsena melambaikan tangan pada Ichal.
"Jangan lupain gue, Nyet!" Andri menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh di pelupuk matanya.
"Semoga lancar, Chal!" Salsa dan Chika ikut melambaikan tangan.
Sementara Hani tak bisa lagi mengeluarkan suaranya. Untuk berdiri saja rasanya dia sudah tak sanggup. Dia hanya bisa menatap kepergian Ichal dengan sendu. Terlihat Ichal melambaikan tangan sebentar kemudian menghilang, Ichal benar-benar pergi meninggalkan Hani.
"Jaga diri kamu, Diaz! Aku sayang kamu!" batin Hani.
Kini Hani hanya bisa menangis sejadi-jadinya saat Ichal sudah benar-benar pergi meninggalkannya. Salsa dan Chika langsung mendekap Hani lalu membawanya ke mobil Barsena.
Di mobil Barsena, hanya terdengar isakan tangis Hani dalam dekapan Salsa. Yang lainnya juga ikut merasakan sedih yang luar biasa, mereka tak mampu mengeluarkan suara. Mereka hanya mendengarkan suara tangisan Hani yang memilukan.
Barsena langsung mengantarkan Hani ke rumahnya. Dia tahu betul, Hani sedang terpukul dan membutuhkan waktu untuk memulihkan hatinya.
"Hani Sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya Srindra cemas saat melihat Hani di antar teman-temannya.
"Barsena, ada apa ini?" Srindra lalu bertanya pada Barsena.
__ADS_1
"Sal, Chik. Kalian anterin Hani ke kamarnya, ya!"
Salsa dan Chika mengangguk lalu menggandeng Hani ke kamarnya.
Barsena dan Andri duduk di sofa ruang tamu Srindra. Tampak wajah Srindra cemas sekali menunggu jawaban Barsena.
"Ichal pergi ke Amerika, Bun." Barsena menjawab pertanyaan Srindra.
"Hani benar-benar terpukul dengan semua ini, kami juga sama." Andri ikut membuka suara.
"Amerika? Untuk apa? Ichal bahkan belum menyelesaikan sekolahnya," cecar Srindra.
"Operasi." Suara Barsena bergetar.
"Ya Tuhan." Srindra tersentak mendengar jawaban Barsena.
Salsa dan Chika sudah kembali dari kamar Hani. Mereka berempat langsung berpamitan untuk pulang pada Srindra.
***
Hani sudah mengurung diri di kamar selama berhari-hari, Srindra sudah membujuk Hani untuk keluar dari kamarnya. Namun, Hani masih belum mau. Hani hanya terpaksa membuka pintu kamarnya saat Srindra memberikan makanan padanya, itupun hanya beberapa sendok makanan saja yang dia telan. Setelah itu Hani kembali mengunci kamarnya dan tidak mau diganggu.
Kejadian itu terus berulang hingga lebih dari satu minggu lamanya, Srindra sampai cemas dengan semua itu.
Barsena dan Salsa sampai di panggil oleh Srindra untuk membujuk Hani. Namun, tidak berhasil. Giliran Andri dan Chika untuk menghibur Hani dengan sikap humorisnya. Namun itu juga gagal. Sampai akhirnya Barsena, Salsa, Andri, dan Chika datang bersamaan untuk menghibur Hani dan membujuk Hani untuk keluar dari kamar. Namun, itu juga belum berhasil.
Di dalam kamar, Hani hanya diam membisu. Dia hanya duduk melamun, lampu di kamarnya bahkan tidak dinyalakan. Hani termenung dalam suasana gelap.
"Han, ada yang mau ketemu sama kamu," ucap Barsena dari balik pintu kamar Hani yang terkunci rapat. Tak ada jawaban dari Hani.
"Han, ada yang mau ketemu kamu," ucap Barsena lagi. Namun hening, lagi-lagi tidak ada jawaban dari Hani.
Di samping Barsena ada seorang gadis yang tampak sangag tidak asing lagi. Dia Irma, dahulu sebelum Hani pindah sekolah, Irma adalah teman sebangkunya. Namun, sayang hubungan yang terjalin antara mereka memang kurang baik, karena Andin.
"Han, gue di sini mau minta maaf sama, Lo!" ucap Irma.
"Han, ternyata Irma yang udah kasih banyak bantuan buat kita. Irma yang waktu itu ngasih tahu tempat kamu di sekap, Han," timpal Barsena.
Ceklek!
Hani membuka pintu kamarnya, dia akhirnya mau keluar dari kamarnya. Hani tampak kurus, mungkin dia benar-benar stres setelah Ichal meninggalkannya pergi.
Hani berjalan gontai lalu duduk di sofa, disusul Irma dan Barsena. Di sana juga ada Salsa, Chika, dan Andri. Entah sejak kapan mereka semua jadi se-care ini pada Hani. Hubungan mereka sekarang jadi lebih baik dan bisa berteman dengan baik.
"Han." Irma membuka suara di tengah kebisuan itu.
Hani hanya memandang Irma untuk merespon panggilannya.
"Gue mau minta maaf sama, Lo. Kesalahan gue sama lo banyak banget, Han," lirih Irma.
Hani hanya menatap Irma tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Suasana masih terasa membeku. Bahkan Andri yang bawel saja tampak diam saja dengan situasi ini. Mereka masih menunggu Hani mengeluarkan suara, apalagi ini pertama kalinya Hani akhirnya mau keluar kamar setelah lebih dari satu minggu.
"Aku juga mau minta maaf sama kamu, Irma." Hani akhirnya membuka suara.
Tiba-tiba Hani terisak setelah berkata seperti itu. Irma langsung memeluk Hani, mereka akhirnya saling meminta maaf dan hubungan di antara keduanya bisa mulai membaik.
"Aku mau bilang terima kasih juga, berkat kamu, aku bisa hidup sampai sekarang. Kalau misalnya waktu itu kamu gak ngasih Diaz lokasi aku disekap, mungkin sekarang aku udah gak ada," ucap Hani masih dalam pelukan Irma.
Irma hanya mengangguk, bagaimanapun itulah satu-satunya cara dia bisa menebus semua kesalahan pada Hani.
"Jadi, sekarang kita semua udah baikan? Salsa udah tobat, gak mungkin jadi nenek sihir lagi?" celetuk Andri.
"Kurang ajar!" Salsa langsung menendang kaki Andri karena kesal.
Hal itu memancing tawa di antara mereka. Srindra memperhatikan mereka dari jauh, dia juga ikut tersenyum melihat muda-mudi yang tampak bahagia itu.
"Hani memang anak yang beruntung," batin Srindra lega.
Hani terus tertawa mendengar lelucon-lelucon yang Andri katakan.
__ADS_1
"Diaz, kamu sekarang lagi ngapain?" batin Hani.
***