Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.20


__ADS_3

Barsena baru sampai ke rumahnya, dia sudah disambut oleh ayahnya yang tengah duduk di sofa dengan seringai di wajahnya.


"Hari ini pertemuan dengan Surya Pratama, jangan berani kamu menghindar! Kalau kamu menghindar, lihat saja si Kira akan saya apakan!" ancam ayah Barsena dengan tatapan menekan.


"Barsena ngerti Yah!" tegas Barsena.


Bagi Barsena tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan tiga orang yang terus menekannya, karena jika tidak dilakukan keselamatan Kira adiknya bisa dalam bahaya.


Karena alasan Barsena bertahan selama ini di rumah yang bagaikan neraka baginya adalah demi Kira. Demi adiknya bisa mendapat biaya hidup yang layak dan biaya pendidikan yang layak pula. Barsena tidak keberatan jika harus mengorbankan perasaannya demi Kira adiknya tersayang.


"Kak, maafin Kira! Lagi-lagi Kira yang bikin Kakak harus nerima semua ini." gumam Kira sambil terisak saat mengintip percakapan antara ayah dan kakaknya.


***


Kini mobil Barsena sudah terparkir di depan rumah mewah kediaman Surya Pratama. Barsena dan ayahnya memasuki rumah mewah itu dan disambut oleh sikap ceria Andin.


"Good night om, hai sayang!" seru Andin dengan ceria sambil menggelayut manja di tangan Barsena.


Barsena hanya melirik Andin dan tersenyum dengan malas.


"Baron Utama, selamat datang di rumah saya!" sambut Surya kepada ayah Barsena.


"Ah, Surya Pratama! Suatu kehormatan bisa diundang berkunjung ke kediaman mewah anda." seru Baron sambil bersalaman dengan Surya.


"Pelayan, siapkan makanan untuk tamu istimewa kita!" perintah Surya.


Kini mereka berempat sudah berada di meja makan kediaman Pratama. Dengan suasana kaku dan canggung, Barsena merasa sangat tidak nyaman apalagi ditambah dengan sikap manja Andin yang menurutnya sangat membuat risih dan menyebalkan.


Andin terus merengek minta disuapi, Barsena terlalu malas melakukan itu. Tapi, jika dia tidak melakukannya tatapan tajam dari kedua laki-laki yang ada di hadapannya sangat mengganggu seolah akan membunuhnya detik itu juga jika Barsena menolak kemauan Andin.


"Aaaaa ... ayo dong sayang, suapin aku! Kamu gak kangen apa sama aku? Kita kan udah lumayan lama gak ketemu karena kamu malah pindah ke sekolahan so elit itu." ujar Andin dengan tatapan tajam pada Barsena.


"Ayo dong Barsena!" perintah Baron dengan tegas.


Barsena mengangkat sendok dengan perasaan campur aduk, antara marah, malas, dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menolak kemauan mereka.


"Jadi maksud saya mengundang kalian makan malam di rumah saya adalah untuk membicarakan tanggal pertunangan kalian!" ungkap Surya tiba-tiba.


Trang!


Barsena yang sangat kaget mendengar itu tanpa sadar menjatuhkan sendok yang ada di genggamannya.


"Apa?! Pertunangan? Anda sedang bercanda?" cecar Barsena.


"Sejak kapan saya bercanda dengan ucapan saya?" Surya tersenyum sinis.


Barsena terdiam seribu kata, kepalanya benar-benar terasa kosong. Tenggorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan suara, hancur perasaan Barsena sekarang benar-benar hancur dibuatnya.


"Satu bulan dari sekarang adalah waktu pertunangan kalian, dan sesuai permintaan Andin pesta kalian akan digelar sangat mewah," pungkas Surya.


"Gil*!" umpat Barsena.


"Pertunangan? Omong kosong macam apa itu? Jadi kalian berniat membuat saya jadi budak kalian selamanya? Demi menyenangkan anak anda yang lebih mirip psikopat ini? Hah, omong kosong!" amuk Barsena.


Bugh!


"Anak kurang ajar!" bentak Baron sambil melayangkan pukulan ke wajah Barsena.


Barsena mengerang, merasakan sakit yang teramat sangat di wajahnya.


"Well, tinggal kamu turutin aja semuanya dengan begitu kamu dan adik jal*ng kamu itu bisa hidup aman dan nyaman!" bisik Andin sambil menyeringai.


Degh!

__ADS_1


"Kenapa gue harus berurusan dengan tiga psikopat sekaligus!" batin Barsena.


"Dan ah, iya kalau kamu gak mau jalanin pertunangan ini, bukan hanya adik jal*ng kamu tapi juga Hani yang selalu kamu kejar itu bakal habis di tangan orang-orang papa!" bisik Andin mengancam.


Sekarang, bukan dasar cinta yang membuat Andin mengikat Barsena untuk tetap dipelukannya melainkan hanya obsesi dan ambisi.


***


Barsena keluar dari rumah Andin dan berjalan tak tentu arah, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Jika dia menolak dan menghindari itu artinya nasib adiknya dan juga Hani akan dalam bahaya.


"Aaaaarrrrggghhhh!!!" Barsena mengerang frustrasi sambil mengacak rambutnya.


Dia terduduk di tepi jalan sambil menunduk.


"Loh, Barsena?" terdengar suara yang tak asing di telinga Barsena.


"Laras," gumam Barsena lirih.


Dia memeluk wanita di depannya dengan erat.


"Laras, aku harus gimana?" ucap Barsena terisak.


"Barsena? Hey, Barsena? Aku Hani bukan Laras!" Hani terus menyadarkan Barsena yang tiba-tiba memeluknya.


Barsena tersentak saat sadar dia memeluk Hani. "Maaf Han, aku salah." ucap Barsena sambil menghapus air matanya.


"Kenapa lu?" tanya Ichal yang tiba-tiba ada di sana.


"Gue gak papa!" jawab Barsena lalu berlari.


"Huh aneh!" teriak Ichal.


***


"Chal, lu harus cari tahu perasaan lu sama Hani tuh apa? Biar lu bisa tuntasin itu. Kalau suka tinggal tembak, kalau engga ya udah temenan aja!" teori Andri yang so pintar meluncur dari mulutnya dengan lancar.


"Ogah, ribet banget harus kaya gitu!" ketus Ichal.


"Ayolah Chal, biar lu yakin sama perasaan lu!" bujuk Andri.


"Males nyet males! Itu gak guna sama sekali," ketus Ichal sambil buru-buru menghabiskan makanannya.


Ichal bergegas meninggalkan kantin dan berjalan tergesa-gesa karena dia malas mendengar ocehan Andri yang menurutnya tidak penting.


Deg ... deg ... deg ....


Ichal tidak sengaja melihat Hani yang tengah berjalan digandeng oleh Bintan. Dia melihat Hani tertawa bersama Bintan selama dia berjalan, jantung Ichal terus berdebar tak karuan saat melihat Hani apalagi dia kembali teringat pertanyaan Andri tentang perasaannya pada Hani.


"Andri b*ngs*t! Gara-gara itu bocah, gue jadi salah tingkah gini!" umpat Ichal saat tak sadar dia bersembunyi agar tidak berpapasan dengan Hani.


"Woy! Nyet, lu ngapain sih? Ngumpet?" teriak Andri mengagetkan Ichal.


"B*ngs*t kaget gue!" hardik Ichal.


"Lah? Lu ngapain di sini? Hooo ngumpet dari Hani, kenapa ngumpet?" goda Andri.


"Enak aja, siapa juga yang ngumpet," kilah Ichal.


"Terus kenapa sama muka lu? Merah banget bos," Andri terus menggoda.


"Gue saranin, lu ajak aja Hani jalan sekalian PDKT," ucap Andri terkikik.


"Ogah!" ketus Ichal lalu kembali berjalan menuju kelas.

__ADS_1


Saat pulang sekolah ....


"Ayolah Chal, ajak Hani jalan biar bisa PDKT," bisik Andri terus menggoda Ichal.


Saat Ichal berjalan menuju parkiran Andri terus membisikan kalimat itu terus menerus. Ichal melihat Hani yang tak kunjung datang, dia kembali berlari ke dalam kelas dan mendapati Hani yang masih duduk termenung.


"Ayolah Chal, ini saatnya ajak Hani jalan!" bisik Andri yang tiba-tiba berada di sampingnya.


"Ah sumpah, setan apaan sih lu? Dari tadi bisik-bisik gak jelas. Oke gue ajak Hani jalan malem ini!" teriak Ichal frustrasi karena Andri terus mempengaruhi otaknya.


Hani yang sedang termenung seketika tersentak mendengar teriakan Ichal yang akan mengajaknya jalan, dia menoleh ke arah Ichal yang sedang berdiri dengan wajah merona.


"Oke, Chal. Good luck!" Andri terkikik lalu meninggalkan Ichal yang masih merona karena malu.


Dan begitulah bagaimana Hani dan Ichal bisa berjalan-jalan malam ini bisa dibilang ini adalah hasil dari hasutan Andri yang gigih. Bahkan Ichal dan Hani tidak sengaja bertemu Barsena yang sedang terduduk di tepi jalan. Sekilas mengingatkan Ichal pada kejadian dulu saat pertama kali bertemu Barsena saat kecil.


***


"Chal?" ucap Hani.


"Hmmm," Ichal hanya menggumam.


"Laras itu siapa sih?"


Langakah Ichal mendadak terhenti saat mendengar pertanyaan Hani. Hani yang masih berjalan pelan di depan Ichal tersadar jika langkah Ichal terhenti, perlahan dia menoleh ke belakang melihat Ichal yang masih terdiam.


"Aku nanya karena tadi Barsena nangis sambil peluk aku, dan dia malah sebut nama Laras, dan pernah beberapa kali aku denger nama Laras disebut sama nenek kamu juga. Terus aku baca nisan makam yang kamu kunjungi juga namanya Laras," jelas Hani.


Ichal hanya terdiam mendengar ucapan Hani.


"Oh iya satu lagi, dulu kalian pernah temenan ya? Maksudnya kamu sama Barsena?" tanya Hani.


Jedaarr!


Ichal seperti merasakan tersambar petir saat mendengar pertanyaan-pertanyaan Hani terutama pertanyaan yang terakhir.


Nafas Ichal tiba-tiba terasa sesak karena pertanyaan mendadak Hani.


"Ke-kenapa Hani bisa tanya hal itu? Se-sejak kapan dia sadar soal ini?" batin Ichal kacau.


"Kalian dulu berteman sejauh apa?" tanya Hani.


"Haaaah ... haaaah ... haaaah ...," dengan susah payah Ichal mengatur nafasnya yang terasa sesak.


Dia kembali merasakan sakit di rongga dadanya. Dia menekan dadanya dengan kuat dan jatuh lunglai ke tanah. Hani yang melihat itu benar-benar panik, dia berlari menghampiri Ichal yang nyaris tak sadarkan diri.


"Chal? Chal? Kenapa? Kamu kenapa?" Hani benar-benar panik melihat Ichal.


"Tolooooong! Tolooooooong!!!"


Sekuat tenaga Hani berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada di sana, namun sialnya yang terlihat di sana hanya mereka berdua saja. Sedangkan Ichal sudah nyaris hilang kesadaran.


"Hani? Ichal kenapa?" tanya Barsena panik, ternyata Barsena masih dekat dengan mereka jadi bisa mendengar dengan jelas teriakan Hani.


"A-aku gak tahu, dia tiba-tiba sesek terus kaya gini!" jelas Hani sambil menangis.


"Oke, kamu tenang Han. Sekarang kamu telepon ambulan!"


Hani bergegas menelepon ambulan, beberapa saat kemudian ambulan 'pun datang dan Ichal segera dibawa ke rumah sakit.


Di dalam mobil ambulan Hani duduk di samping Ichal yang tengah diberikan pertolongan pertama, Hani tak bisa berhenti menangis karena cemas dengan kondisi Ichal.


"Kamu kuat Chal, maafin aku!" gumam Hani sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2