Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.43 Si Bucin


__ADS_3

"Ras kamu kenapa?" tanya Ichal cemas.


Laras masih mematung tanpa menjawab pertanyaan Ichal.


"Ras, jawab aku Ras!"


Laras perlahan membalikkan tubuhnya, sungguh kaget bukan main saat Ichal melihat Laras. Kondisi Laras benar-benar berantakan, ada luka memar di wajahnya. Lingkaran hitam di matanya menandakan dia semalaman tidak tidur sama sekali. Bekas air mata yang mengering di pipinya benar-benar kentara terlihat. Baju yang semula berwarna putih bersih sekarang menjadi benar-benar kusam dan lusuh.


Laras menatap sayu Ichal, lalu kembali membalikkan tubuhnya kembali menghadap balkon.


"Ras," suara Ichal bergetar setelah melihat kondisi Laras.


Laras masih terus terdiam untuk beberapa saat.


"Chal," suara Laras terdengar pelan sekali bahkan saking pelannya hingga nyaris saja tidak terdengar.


"Iya, apa Ras?!" pekik Ichal saat mendengar Laras akhirnya membuka suara.


"Haaaaaah ... Barsena gak bakal suka sama aku! Aku gak pantes buat Barsena ...!" Laras menghela nafas panjang lalu berucap dengan sangat pelan.


"Maksud kamu apa, Ras? Barsena suka sama kamu! Aku yakin!" Ichal meyakinkan Laras.


Laras kembali terdiam sambil menatap kosong pemandangan yang terlihat dari balkon kamarnya.


"Ichal, Barsena gak suka ya sama aku?" Laras kembali bertanya sambil menatap Ichal dan tersenyum hambar dengan mata sayu.


"Bukan gitu!" Ichal kembali berteriak meyakinkan.


"Barsena gak suka sama aku, makanya dia mau aku mat* aja!" teriak Laras lalu kembali tersenyum hambar.


"Maksud kamu apa Laras? Udah deh jangan bercanda!" Ichal berjalan mendekati Laras dengan hati-hati agar dia bisa menarik Laras.


"Dadah Icaaal!" Laras melambaikan tangannya dengan senyum damai yang berbeda dengan senyum yang sebelumnya.


"TIDAK LARAS JANGAAAAAAAN!" Ichal berlari hendak menarik Laras.


Belum sempat Ichal menarik tangan Laras, Laras sudah terlanjur melompat dari balkon kamarnya di lantai tiga. Beberapa detik kemudian terdengar suara benda jatuh.


"Kyaaaaaa!" jerit seorang asisten rumah tangga yang menyaksikan tubuh Laras terjatuh di depannya.


"LARAAAAS!!!" teriak Ichal lalu berlari keluar.


Srindra yang mendengar teriakan Ichal bergegas memasuki kamar Laras, kembali dia pun terkejut dengan keadaan di dalam kamar itu.


"Laras mana,Chal? Laras mana?!" teriak Srindra histeris.


Ichal tak menjawab, dia terus berlari tanpa menghiraukan pertanyaan Srindra.


"Tidaaaak! Laras putriku!" Srindra histeris saat melihat tubuh Laras sudah tergeletak dengan bersimbah darah.


"Laras, bangun Ras! Laraaaaaaas!" Ichal memeluk Laras berusaha membangunkan Laras.


"Laras, bangun sayang! Ini bunda, Nak!" Srindra berteriak histeris.


Laras membuka matanya dengan lemah, dia tersenyum lalu terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya. Dengan lemah dia mengangkat tangannya yang berlumuran darah kemudian kembali terkulai, Laras kembali menutup matanya.


Semua orang yang melihat itu benar-benar menjadi sangat panik.


"Laras bangun Laras!" Ichal mengguncang tubuh Laras agar tersadar tapi Laras sudah meninggalkan dunia ini. Laras menutup mata dengan senyum mengembang di wajah manisnya.


"Nggak, ini gak mungkin! Laras, ini bunda Nak! Banguuuuun ... dasar anak nakal! Kalau dibilangin suka susah! Bunda suruh kamu bangun, Sayang! Banguuuuuun ... jangan tinggalin bundaaaa ...!" Srindra menangis histeris saat menyaksikan anak kesayangannya meninggal di hadapannya.


"Laraaaaaas ...!" teriak Ichal memeluk jasad Laras.


***

__ADS_1


Barsena dan Ichal masih duduk bersandar di sisi pagar jembatan sambil mengenang kembali kenangan-kenangan saat mereka bersama.


"Lo mau bantu gue buat bales yang udah bikin Laras gitu?" tanya Barsena sambil menerawang ke langit.


Ichal melirik Barsena. "Emang lo tahu siapa pelakunya?" tanya Ichal.


Barsena mengangguk. "Baron Utama!" ucap Barsena dengan suara bergetar.


"Baron Utama, kan?"


"Iya, ayah gue!"


Barsena terdiam lama sekali ada kesedihan dalam dirinya saat membicarakan hal itu. Bagaimanapun Baron adalah ayahnya sendiri, namun kejahatan yang sudah dilakukannya benar-benar keterlaluan hingga menghilangkan nyawa.


"Tapi kayaknya kita harus ngomong dulu sama Bunda!" ucap Ichal.


"Bunda? Lo tahu di mana bunda? Bukannya bunda pindah ke luar negeri?" cecar Barsena.


"Nggak, ternyata selama ini Bunda gak pindah ke luar negeri. Dia cuman pindah ke tempat yang rahasia buat ngehindarin wartawan yang terus cari dia buat mewawancarai tentang kematian Laras, yang gue tahu sih gitu," ungkap Ichal.


Barsena mengangguk mengangguk mendengar penjelasan Ichal.


"Maafin Barsena, Ayah!" batin Barsena saat mengingat ayahnya.


Ichal dan Barsena berpisah di jembatan itu, Ichal berniat pulang ke rumahnya sementara Barsena masih terdiam lama sekali di dalam mobilnya. Dia bingung harus kemana, apalagi saat ingat ayahnya selalu muncul perasaan aneh antara marah dan sedih yang bercampur. Ditambah lagi saat teringat permintaan aneh Ichal tentang Hani juga penyakit Ichal.


"Sebenernya gue harus apa?!" batin Barsena frustrasi.


"Chal, kenapa gue baru tahu tentang lo?!"


"Ras, kenapa aku baru tahu kalau kamu suka sama aku setelah kamu tiada?!"


"Ayah, kenapa semua inti masalah ini harus ayah?!"


"Dan, Hani disaat aku udah relain kamu kenapa Ichal malah nyuruh aku buat jagain kamu? Padahal aku tahu sekarang kebahagiaan kamu bukan lagi tentang aku!"


***


Sementara itu Hani tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun, pikirannya selalu di hantui oleh bayangan sikap aneh Ichal yang makin hari makin terlihat jelas.


"Kenapa sih?!" jerit Hani frustrasi.


"Aku gak ngerti kenapa Diaz jadi makin bucin sama aku, kalau gini aku jadi makin sayang 'kan?!"


Hani menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya sambil menjerit-jerit kecil gemas saat teringat perlakuan Ichal.


Drrrrrttt ... drrrrttt!


Ponsel Hani bergetar di atas nakas pertanda ada panggilan telepon masuk.


"Tuhan! Siapa sih telepon tengah malem gini? Gak tahu apa, aku lagi coba buat tidur!" gerutu Hani sambil membuka selimut yang menutupi wajahnya.


Dengan malas dia meraih ponselnya yang terus bergetar.


"Astaga! Ini Diaz!" jerit Hani saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Aaaa ... iiiii ... uuuu ... eeee ... oooo ... cek ... cek!!!"


Bukannya langsung mengangkat telepon, Hani malah melakukan peregangan di otot wajahnya dan mengecek suaranya. Dia takut karena sudah masuk tengah malam suaranya jadi terdengar mengerikan di telepon.


Setelah melakukan pengecekan suara, dengan cepat dia mengangkat teleponnya.


"Hallo," ucap Hani perlahan.


["Kamu udah tidur? Barusan aku ganggu kamu ya?"] ucap Ichal di seberang telepon.

__ADS_1


"Iya lah, jam segini aku udah tidur! Lagian ngapain sih aneh banget jam segini telepon!" suara Hani meninggi sengaja berbohong.


"Mana bisa tidur! Dari tadi aku kepikiran kamu tau!" batin Hani, ingin rasanya dia berteriak seperti itu pada Ichal.


"Kamu ngapain telepon aku malem-malem?" Hani penasaran.


["Aku rindu kamu!"] jawab Ichal singkat.


Sesingkat itu namun membuat jantung Hani berdebar dan dia menjadi salah tingkah. Dia terus berguling-guling tak jelas di atas kasurnya hingga dia terjungkal ke lantai. Siapapun yang melihat tingkah Hani sekarang pasti akan sangat merasa lucu.


"Ya udah kamu tidur sana udah malem juga!" ucap Hani terus meninggikan suaranya berpura-pura kesal karena dibangunkan tengah malam padahal yang dia lakukan sekarang adalah jungkir balik karena senang.


["Ya udah, aku tutup teleponnya ya! Selamat tidur!"]


Suara khas laki-laki yang terdengar dari seberang telepon kembali sukses membuat Hani berguling-guling tak karuan.


Tut ... tut ... tut!


Sambungan telepon langsung terputus saat itu juga. Hani sedikit kecewa karena Ichal langsung memutus teleponnya.


"Apaan sih Hani, barusan bukannya kamu yang nyuruh Diaz matiin teleponnya!" gerutu Hani.


Drrrttt!


Kembali ponselnya bergetar dengan sekali gerakan Hani langsung mengangkat teleponnya dengan cepat.


Terdengar suara tawa renyah dari seberang teleponnya.


["Kamu ketahuan deh lagi nungguin telepon dari aku!"]


"Enggak ih, siapa bilang? Aku mau tidur!" teriak Hani kesal tapi tetap tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Kembali terdengar tawa Ichal di seberang telepon setelah mendengar teriakan kekesalan Hani.


["Kalau gini aku jadi makin rindu sama kamu! Kamu lihat ke luar jendela dong sebentar!"]


"Hah? Luar jendela?!" Hani langsung melompat dari ranjangnya dengan tergesa dan membuka gordennya.


"Apa-apaan!" Hani sedikit menjerit lalu tertawa geli saat melihat keluar jendela.


["Pasti kamu ngira aku lagi berdiri di luar rumah kamu kan?"] Ichal kembali tertawa berhasil menggoda kekasihnya itu.


"Nyebelin!" Hani tertawa geli menyadari kelakuannya.


Dia berniat kembali ke ranjangnya setelah kembali menutup gorden dan jendelanya.


Diiiiiiin!


Suara klakson terdengar di keheingan malam, Hani kembali membuka gorden dan melihat Ichal tengah berdiri bersandar pada mobilnya sambil menempelkan telepon di telinganya.


"Apa-apaan!" Hani tersenyum cerah melihat keberadaan kekasihnya yang tak terduga.


"Aku rindu kamu!" ucap Ichal.


Walaupun mereka berhadapan tetapi masih tetepa bercakap melalui sambungan telepon.


"Bukannya mau tidur! Ayo sana tidur! Mimpi indah sayang!" ucap Ichal manis.


"Iiiiiih, stop deh kamu jangan gitu! Aku 'kan makin gak bisa tidur!" jerit Hani.


Ichal tertawa mendengar Hani. "Udah sana tidur!"


Ichal mematikan sambungan telepon dan menyuruh Hani agar tidur. Dengan melakukan gerakan isyarat Ichal menyuruh Hani agar segera tidur.


Hani mengangguk lalu melambaikan tangan dan keduanya saling melambaikan tangan. Sungguh unik kelakuan sepasang remaja yang tengah dimabuk asamara ini.

__ADS_1


Hani menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur, dia menyentuh bagian dadanya yang tak bisa berhenti berdebar karena kelakuan Ichal.


__ADS_2