Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.51 Diculik 3


__ADS_3

Barsena langsung turun dari mobilnya, sementara Ichal merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah botol obat lalu mengeluarkan beberapa butir dan menelannya. Dia benar-benar kewalahan. Kondisinya masih sangat tidak memungkinkan, tapi demi Hani dia rela melakukan semuanya.


Ichal turun dari mobil dan langsung mengajak Barsena masuk.


"Loh, Chal kamu ke sini cari Hani ya? Tadi malem sih Hani nginep di sini sama Bunda. Eh, sama Barsena juga." ucap Srindra saat melihat Ichal dan Barsena datang.


"Bunda juga lagi nungguin Hani, tak sabar rasanya melihat langsung reaksi Hani saat mengetahui kalau dia sebenarnya adik Laras," lanjutnya antusias. Dia masih belum mengetahui nasib Hani yang mungkin sedang dalam bahaya.


Ichal dan Barsena masih terdiam mendengarkan orang tua di hadapannya berbicara.


"Bunda, Ichal sama Barsena ke sini mau ngasih tahu kalau Hani diculik!"


Akhirnya Ichal mencoba memberanikan diri untuk berbicara. Walaupun takut tapi ini sangat penting. Barsena dan Ichal jelas tidak punya banyak waktu.


"Apa?! Maksud kamu apa, Chal?!" cecar Srindra.


"Tadi siang Hani dibawa seseorang ke dalam mobil van hitam, Ichal gagal tolong Hani karena Ichal langsung tak sadarkan diri," jelas Barsena.


Srindra menangis, dia cemas dengan keadaan Hani. Baginya kehilangan Laras sudah benar-benar membuatnya terpukul apalagi harus kehilangan Hani juga.


"Ardi! Ardi!" teriak Srindra.


Ardi datang dengan berlari menghampiri tuannya.


"Kamu pergi bersama mereka berdua, cari Hani sampai ketemu! Hani dalam bahaya!" tegas Srindra sembari terisak.


"Baik, Nyonya!"


Mereka bertiga langsung bergegas mencari Hani. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang.


"Gue coba cek GPS terakhir Hani." Ichal mengotak atik ponselnya.


Namun, GPS pada ponsel Hani tidak aktif sehingga tak bisa melacak keberadaan Hani.


Tring!


Sebuah pesan masuk, nomor tak dikenal mengirim pesan pada Ichal.


[Lo Ichal, 'kan? Gue tahu lo pasti lagi cari Hani, ini lokasi tempat Hani disekap]


"Binggo!" pekik Ichal.


"Gimana? Ketemu? Di mana?" cecar Barsena.


"Kalau gak salah di daerah ini terdapat pabrik kosong, pasti Hani ada di sana!" ucap Ichal.


"Siapa yang kirim lokasi itu?" tanya Barsena. Dia masih tetap mengemudikan mobilnya dengan kencang.


Ichal mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Persetan dengan siapa pengirimnya sekarang Ichal merasa tenang setidaknya ada tempat yang dituju untuk mencari keberadaan Hani.


***


"Makan nih!"


Salah seorang dari beberapa orang yang berbadan kekar serta berpakaian serba hitam melemparkan nasi bungkus pada Hani.


Kondisi Hani masih terlihat baik-baik saja dalam artian belum ada luka pada tubuhnya. Hanya saja Hani terlihat lemas karena dari tadi terus meronta berusaha bebas dari ikatan sangat kuat yang menahannya.


"Mmmmhh," gumam Hani lemah.


Tubuhnya lemah lunglai tak berdaya.


Orang itu membuka lakban yang menutup mulut Hani.

__ADS_1


"Lepas ... lepas ... lepasin saya ...!" lirih Hani.


"Buruan makan! Biar lo gak mati lemas sebelum dieksekusi sama bos!" perintah orang itu. Dia terkekeh menyeramkan lalu diikuti oleh yang lainnya.


"Pesta nih kita malem ini," seringai yang lainnya.


"Lepasin saya!" teriak Hani dengan sisa tenaganya.


"Berisik!" bentak orang itu. Dia langsung kembali menutup mulut Hani dengan lakban.


"Mmmmmhhh,"


Hani kembali terisak, dia ketakutan akan nasib yang akan menimpanya sekarang.


"Sekap dia, bareng anak itu!"


Samar-samar terdengar suara berat seorang pria memerintahkan sesuatu pada bawahannya.


Bruk!


Seorang gadis cantik di hempaskan begitu saja ke lantai. Hani yang sudah lemas mengangkat kepalanya mencoba melihat siapa yang baru saja ikut menjadi korban penculikan sepertinya.


"Mmmhhhh ... mmmhhhh ...." Gadis itu terus bergumam-gumam di tengah mulutnya yang terbekap.


Mata Hani dan gadis itu bertemu. Mata kedua gadis itu sama-sama membulat, kaget bukan main.


"Salsa," batin Hani.


"Hani," batin Salsa.


Tunggu-tunggu bagaimana bisa Salsa juga jadi korban penculikan seperti Hani? Bukankan Salsa adalah anak yang disegani, mengapa bisa nasibnya sama seperti halnya Hani?


"Mhhhhh," gumam Salsa. Matanya membulat saat melihat Hani juga dalam kondisi sepertinya.


Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Hani. Suara wanita yang dahulu merebut kekasih hatinya. Suara wanita yang dahulu sering membuatnya menderita.


"Andin!" batin Hani.


Ya, itu suara Andin. Tapi bagaimana bisa Andin juga berada di tempat mengerikan ini. Tapi apa barusan yang terdengar seperti memerintahkan orang-orang jahat itu untuk memperlakukan tidak baik pada Hani dan Salsa.


Kalau Hani memang sudah tidak aneh lagi, tapi Salsa? Kenapa Salsa juga ikut jadi korban? Setidaknya begitulah yang sekarang berputar dalam otak Hani. Pertanyaan yang tak mampu dia jawab sendiri.


"Mmmmmhhh." Lagi-lagi Salsa menggumam namun kali ini lebih terdengar seperti memekik.


"Salsa ... Salsa ... Salsa yang malang. Bagaimana anak yang mengaku high class bisa berakhir di tempat kotor seperti ini."


Andin melenggang dengan angkuh menghampiri Salsa lalu mencengkram dagu Salsa dengan kasar, membuat Salsa berontak dengan mata melotot pada Andin.


"Suuuut! Jangan melotot gitu dong, nanti cantiknya ilang!" ejek Andin.


Salsa melotot pada Andin. Kalau saja dia tidak diikat dan mulutnya tidak dibekap mungkin sekarang Salsa akan mengeluarkan jurus berbacot sambil menjambaknya. Namun, sekarang malang sekali Salsa tidak bisa berbuat apa-apa selain melotot.


Andin melepaskan cengkeramannya pada dagu Salsa. Lalu pandangannya beralih pada Hani. Tidak seperti Salsa yang malah melotot pada Andin, Hani sedikitpun tak berani menatap wajah Andin. Tubuh lemahnya bergetar hebat saat Andin mencengkeram pula dagunya dengan kasar. Masih segar diingatan Hani saat Andin pergi membawa Barsena, dan hinaan-hinaannya masih terdengar merdu ditelinga Hani.


"Hey, Hani, Sayang! Kita udah lama gak ketemu, masa kamu gak mau tatap sahabatmu ini." Ucap Andin dengan nada manja.


Hani masih tak berani menatap wajah Andin.


"Heh! Kalau gue ngomong tuh dengerin! Dasar cewek j*l*ng!" bentak Andin.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Hani. Perlahan air mata membasahi pipi Hani, entah dia menangis karena sakit pada pipinya atau menangis karena sakit di hatinya.

__ADS_1


Mendengar suara tamparan keras itu Salsa langsung memalingkan wajahnya melihat kondisi Hani.


"Hani, lo pasti kuat," batin Salsa.


"Cewek-cewek j*l*ng emang pantes di tempat ini, banyak banget singa-singa lapar yang siap menikmati tubuh kalian." Hardik Andin tertawa dengan keras.


"Mmmmhhh ... mmmmmhhh ...," pekik Salsa.


"Apa, Salsa sayang? Tenang aja, gak bakal sakit ko." Andin terkikik melihat kondisi Hani dan Salsa.


"Ini semua karena lo berani deket-deket sama Barsena gue! Lo sampai dianterin pulang sama Barsena gue! Rasain penderitaan lo malem ini!" bentak Andin pada Salsa.


Saat Andin terdiam tiba-tiba Salsa terkikik. Jika saja mulutnya tidak dibekap, dia hampir saja tertawa terbahak-bahak setelah mendengar bentakan Andin.


"Jangan ketawa, dasar j*l*ng!" hardik Andin.


Salsa terus terkikik nyaris terpingkal-pingkal, entah mengapa dia merasa geli dengan perkataan Andin tentang dirinya dan Barsena.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Salsa. Namun lagi-lagi Salsa malah terkikik. Hal ini membuat Andin geram dan kembali melayangkan tamparan keras di pipinya.


Hingga memerah pipi Salsa dibuatnya. Begitupun juga dengan pipi Hani. Hani sudah nyaris tak bisa mengangkat kepalanya, dia lemas bukan main.


Andin mengeluarkan sebuah pisau kecil dari tasnya. Dia menyeringai saat memperlihatkan bilah pisau itu pada Hani dan Salsa.


Andin menyentuhkan mata pisau itu pada pipi mulus Hani lalu melakukan hal yang sama pada Salsa. Reaksi Salsa sungguh berbeda dengan yang tadi, kali ini dia benar-benar menjadi ketakutan.


"Kenapa, Salsa Sayang? Lo takut gue lukain wajah mulus, Lo?" ejek Andin.


Salsa menggeleng-gelengkan wajahnya dengan gemetar.


Sreet!


Andin dengan sengaja menggoreskan pisau itu di pelipis Salsa. Darah segar mulai mengalir di wajah cantik Salsa.


"Mmmmhhh." Salsa mulai menangis saat melihat darah mengalir dari wajahnya.


Andin tertawa terbahak-bahak setelah melakukan itu, lalu dia kembali menghampiri Hani dan menggoreskan pisau ke pipi Hani. Darah segar mengalir di wajah Hani. Hani sudah tak bisa lagi bereaksi, tubuhnya terlalu lemah untuk berontak.


"Andin, kenapa kamu bisa sekejam ini? Bahkan, Salsa 'pun ikut jadi korban keserakahanmu? Keterlaluan kamu Andin!" batin Hani.


"Dasar cewek psikopat! Tunggu aja pembalasan gue!" batin Salsa murka.


"Oke, sekarang giliran, Om Baron. Aku udah puas sama mereka, inget perintah Papah buat musnahin Hani!" ucap Andin. Dia lalu melenggang keluar ruangan.


"Jadi sekarang giliran saya?" suara berat Baron menggema di ruangan sempit dan kotor itu.


Perlahan sesosok pria kekar menyembul dari kegelapan menghampiri dua gadis yang tergeletak tak berdaya yang sekarang sedikit berlumuran darah segar akibat ulah Andin.


Tubuh kedua gadis itu mulai bergetar ketakutan. Sosok Baron terlihat sangat menyeramkan.


Sreeet! Sreeet!


Baron membuka penutup mulut Hani dan Salsa. "Kasihan kan, kalian tidak akan bisa mengekspresikan apa yang akan saya lakukan pada kalian, kalau mulut kalian tertutup rapat," ucapnya.


Baron menyeringai menakutkan. Bahkan sekarang nafas Salsa sudah terdengar tak beraturan.


"Tenang, Nona. Ini tidak akan lama," ucap Baron. Dia mengelus pipi Salsa yang berlumur darah.


Sementara Hani, untuk bernafas pun rasanya sudah tak ada tenaga. Baron melirik Hani yang terkulai lemah. Dia mengangkat dagu Hani.


"Malang sekali nasibmu, padahal kamu sudah berhasil bertahan hidup bersama Sundari. Namun, takdirmu memang tidak baik. Jika kamu bertahan hidup, itu akan membuat kami kesulitan! Jadi sayang sekali kamu akan mat* malam ini." Baron mengangkat dagu Hani lalu menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2