
"Udah sia ... aaap?" Ichal terpesona melihat Hani yang ada di hadapannya.
"Ayo berangkat!" dengan senyum mengembang di wajahnya, Hani mengajak Ichal yang masih berdiri mematung melihat Hani.
"Chal," Hani menyenggol lengan Ichal untuk menyadarkan Ichal dari lamunannya.
"Eh, so-sorry Han," Ichal tampak sangat salah tingkah di hadapan Hani.
Ichal membuka pintu mobil untuk Hani, dengan anggun Hani memasuki mobil lalu duduk.
"Untung gue berhasil bujuk Mamah buat pinjem kunci mobil gue yang disita Papah, akting gue emang gak usah diragukan lagi! " batin Ichal puas setelah Hani memasuki mobilnya.
Sebenarnya beberapa jam yang lalu, Ichal mendatangi kantor Tamara untuk membujuk ibunya agar mau mengambil kunci mobilnya yang disita Edi papahnya.
Tentu saja awalnya Tamara menolak namun dengan Ichal yang tiba-tiba merengek di depannya seolah bukan Ichal yang selalu dingin terhadapanya, sehingga membuat Tamara setuju untuk membujuk Edi untuk memberikan kunci mobilnya.
***
Hani terus mencuri-curi pandang saat Ichal tengah fokus mengemudikan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Ichal membuat Hani tersentak.
"Gak papa!" jawab Hani canggung.
"Kamu malem ini cantik banget Han," ucap Ichal lembut sambil tetap fokus mengendarai mobilnya.
"Ka-kamu?" seolah Hani ingin memastikan pendengarannya tidak salah, pasalnya pemuda yang biasanya selalu berbicara 'lu, gue', hari ini dengan lembutnya berbicara 'aku, kamu' dengan dirinya.
"Iya, kamu cantik banget. Aku suka!" kali ini Ichal berbicara sambil menatap wajah Hani lalu kembali fokus melihat jalan.
Hani benar-benar berdebar mendengar ucapan Ichal. Wajahnya seketika merona merah bak kepiting rebus, dia melirik Ichal dari samping melihat senyum lembut Ichal.
"Tuhan, Ichal hari ini kenapa sih? Jadi kita beneran udah jadian? Masa?" Hani terus melontarkan pertanyaan dalam hatinya, tanpa berani mengeluarkan suara.
"Hari ini kita mau makan apa?" suara Ichal memecah keheningan.
"Mmmm ... terserah kamu aja, 'kan kamu yang ajak jalan," jawab Hani spontan.
"Hahaha ... dasar cewek!" Ichal tertawa setelah mendengar jawaban spontan Hani.
"Apa? Kenapa sih?!" Hani menjerit malu sambil menepuk pelan lengan Ichal.
"Kamu emang cewek aneh milikku!" Ichal menghentikan mobilnya tiba-tiba, lalu meraih dagu Hani, dan ....
Cup!
Ichal mengecup pipi Hani sekilas, membuat mata Hani membulat dan tak bisa mengendalikan debaran di rongga dadanya. Apalagi wajahnya yang terasa panas karena ulah Ichal yang tiba-tiba.
Ichal kembali menjalankan mobilnya karena suara klakson dari mobil lain di belakangnya terus berbunyi karena Ichal yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
"Kamu kenapa sih?!" jerit Hani sambil menutup wajahnya yang merona merah.
"Aku 'kan niru kamu," Ichal menjawab sambil terkikik.
Wajah Hani semakin merona mendengar jawaban Ichal, ingatan Hani kembali pada saat kemarin malam saat Hani mencium pipi Ichal tiba-tiba.
"Ayo turun!" tiba-tiba Hani mendengar Ichal menyuruhnya turun sambil membukakan pintu untuknya.
"O-oh, udah sampe!" ucap Hani gugup.
"Ayo masuk!" Ichal meraih tangan Hani dengan lembut, lalu berjalan memasuki sebuah restoran yang terlihat sangat mewah.
Hani melirik tangan Ichal yang menggenggam tangannya dengan erat. Padahal ini bukan pertama kalinya Ichal menarik tangan Hani seperti ini, tapi untuk malam ini terasa sangat berbeda. Ichal benar-benar sangat lembut padanya.
Ichal menarik kursi, lalu mempersilakan Hani duduk. Hani tersipu melihat tingkah laku Ichal yang sungguh sangat berbeda.
"Ta-tapi kenapa di sini cuma ada kita aja Chal?" Hani bertanya setelah menyadari tak ada seorangpun pengunjung lain.
Yang ada di sana hanya Ichal dan Hani, dan ada beberapa pelayan yang bekerja.l
Ichal tersenyum mendengar pertanyaan Hani tanpa berniat menjawabnya. Ichal menganggukan kepalanya lalu beberapa pelayan menyajikan makanan di depan mereka.
Hani terpesona dengan semua makanan yang tersaji di hadapannya.
"Luar biasa!" batin Hani takjub melihat makanan yang tampak sangat lezat yang ada di hadapannya.
Ichal tersenyum melihat gadis di depannya yang terus berbinar seperti anak kecil.
Beberapa waktu kemudian Hani dan Ichal sudah selesai dengan makanannya.
"Ah, aku kenyang banget! Makasih ya Chal," Hani tersenyum manis.
"Sama-sama, Han,"
"Han." dengan gugup Ichal meraih tangan Hani lalu mengelusnya lembut membuat keduanya kembali berdebar.
"Aku udah pernah bilang suka sama kamu, dan kamu juga udah bilang suka sama aku. Ja-jadi ...," Ichal menghela nafas sejenak untuk menenangkan dirinya yang terlalu gugup.
Begitupun juga Hani yang tampak sangat gugup menunggu lanjutan ucapan Ichal.
"Jadi, ayo kita pacaran!" ajak Ichal tegas.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ....
Suara debaran jantung dari keduanya seolah terdengar jelas.
Hani menatap Ichal dengan wajah yang berkaca-kaca, entah apa yang membuat Hani seperti itu.
Setitik bulir bening menetes di wajah Hani. Dengan sigap Ichal menghapus bulir bening itu.
"Kalau kamu gak mau, gapapa Han. Jangan paksain diri kamu, please aku gak mau lihat kamu nangis gara-gara aku!" ucap Ichal.
"Aku nangis karena terharu tau! Huwaaaaa ...!" Hani meraung, namun Ichal malah tersenyum melihat Hani yang terlihat sangat imut jika sedang bertingkah layaknya anak kecil seperti ini.
Melihat senyuman Ichal, seketika raungan Hani berhenti.
"Aku ulangi, Hani ayo kita pacaran!" Ichal kembali mengucapkan kalimat itu, membuat bulir di mata Hani kembali menetes.
Dengan senyum Ichal kembali meraih pipi Hani untuk menghapus bulir bening itu. Hani menahan tangan Ichal agar tetap di pipinya, dengan mata berkaca-kaca Hani mengangguk perlahan.
"Kamu beneran mau?!" Ichal berteriak seolah tak percaya.
Hani kembali mengangguk perlahan untuk menjawab pertanyaan Ichal.
"Yess!!!" Ichal menarik tangannya lalu berjingkrak bahagia di hadapan Hani, membuat Hani kembali tersipu.
Ichal menyodorkan bucket bunga pada Hani yang entah kapan dia siapkan. Dengan senyum Hani menerima bunga itu dari Ichal.
"Ayo ikut aku!" Ichal menarik tangan Hani lembut.
Perlahan mereka menaiki tangga di restoran itu. Sambil tetap menggenggam tangan Hani dengan erat, Ichal memperlihatkan suasana kota yang sangat indah.
"Waaaaah!" Hani benar-benar terpesona melihat kerlipan lampu kota.
"Hani," panggil Ichal.
Hani berbalik melihat Ichal. Hani melihat sebuah kalung yang Ichal perlihatkan, matanya kembali berbinar melihat betapa indahnya kalung itu.
"Kalung ini buat kamu," ucap Ichal sambil memakaikan kalung di leher Hani.
Hani melihat sekali lagi kalung yang sekarang sudah terpasang indah di lehernya.
"Makasih, Chal!" Hani memeluk Ichal dengan erat. Malam ini Hani benar-benar merasa bahagia karena Ichal.
***
Ichal mengantar Hani pulang. Kini mobil Ichal telah berhenti di depan gerbang rumah Hani.
"Kamu gak mau lepasin tangan aku?" tanya Hani, karena Ichal dari tadi terus menggenggam tangannya dengan erat.
"Aduh! Aku masuk ya dadah!!!" jerit Hani sambil melepaskan genggaman tangan Ichal.
Hani berlari memasuki rumahnya, dengan dada yang terus berdebar serta wajah yang terus merona.
Hani menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas kasur empuknya.
"Bahaya! Jantung aku gak bisa berhenti berdebar! Kyaaaaa ... jadian sama Ichal? Aduh! Gatau ah!" Hani terus menjerit sambil menutup wajahnya.
Dia meraba kalung yang tadi Ichal berikan, dadanya semakin berdebar ketika mengingat perlakuan manis Ichal malam ini yang benar-benar berbeda dari biasanya.
"Kyaaa!" Hani kembali menjerit ketika teringat Ichal.
***
Sementara itu Ichal juga masih tak bisa mengendalikan debaran jantungnya setelah bersama Hani. Memang sedari tadi, Ichal tampak tenang di hadapan Hani. Namun, kenyataannya Ichal bisa jadi orang yang paling gugup ketika berhadapan dengan Hani.
"Gimana berhasil gak Chal?" saat Ichal menaiki tangga menuju kamarnya, Tamara tiba-tiba bertanya sehingga membuat Ichal kembali berdebar ketika mengingat kejadian dia bersama Hani.
"Gak tahu ah!" teriak Ichal sambil membanting pintu kamarnya.
Dia benar-benar merasakan rasa yang sangat sulit untuk dijelaskan. Tamara tersenyum melihat tingkah anaknya yang benar-benar jauh berbeda dari biasanya.
"Hani memang luar biasa ya Chal, buktinya dia bisa buat kamu jatuh cinta. Dan kamu juga bisa sedikit berubah," gumam Tamara dengan senyum yang mengembang.
Mari kembali ke beberapa jam yang lalu saat Ichal ke kantor Tamara ....
"Loh, itu kan Tuan Muda, tumben dia ke sini?"
"Aku, baru lihat Tuan Muda ke sini,"
"Emang gen unggul ya, ganteng banget!"
Bisikan-bisikan karyawan yang bekerja di kantor Tamara terdengar jelas di telinga Ichal. Namun Ichal tak menghiraukan, dia terus berjalan menuju ruangan ibunya.
Brak!
Ichal membuka pintu ruangan ibunya dengan kasar membuat Tamara yang tengah fokus tersentak karena kaget.
"Loh, Chal ada perlu apa? Tumben ke kantor Mamah?" tanya Tamara heran karena tiba-tiba Ichal berada di kantornya.
"Tolong Mamah bilangin sama Papah dong, Ichal perlu kunci mobil Ichal sekarang!" ucap Ichal.
"Loh, I-Ichal?" Tamara tak percaya dengan pendengarannya, kenapa Ichal yang biasanya tampak dingin dan datar dengan 'saya' yang selalu keluar dari mulutnya ketika berbicara dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tapi kali ini, walaupun tetap datar tapi dengan manisnya Ichal menyebut namanya sendiri tanpa 'saya'.
"Ta-tapi Mamah gak bisa Chal, nanti Papah kamu marah lagi," sesal Tamara.
"Ayo dong Maaaaah! Pliiiiiiiiiisss!!!" rengek Ichal tiba-tiba.
Tamara kembali terkejut melihat rengekan manis dari Ichal yang sangat tiba-tiba. Kali ini Ichal benar-benar keluar dari karakternya yang biasanya tampak dingin dan datar menjadi Ichal yang sangat manis menurut Tamara.
"Emang, Ichal mau kemana sih?" tanya Tamara.
"Ada deh, urusan anak muda!" jawab Ichal dengan senyum manis. Membuat Tamara kembali terkejut, pasalnya sudah sejak lama dia tidak melihat senyum anaknya itu.
"Oke, Mamah coba telepon Papah ya," ucap Tamara sumringah.
Beberapa menit kemudian Tamara selesai dengan teleponnya.
"Gimana Mah, boleh 'kan?" tanya Ichal berbinar menuju jawaban Tamara.
"Papah bilang gak boleh!" sesal Tamara.
Ichal berbalik dengan ekspresi kecewa, membuat Tamara tak enak hati.
"Emang kamu mau kemana sih sayang?" tanya Tamara lembut.
"Saya mau ajak jalan Hani, saya suka sama Hani Mah!" jawab Ichal putus asa, sehingga kata 'saya' 'pun kembali keluar dari Ichal.
"Mau ajak jalan Hani kemana?" tanya Tamara.
"Kemana aja, pokonya yang gak banyak orang!" jawab Ichal datar.
"Kamu mau tembak Hani?" tanya Tamara memastikan.
"A-apa? Ka-kata siapa?" Ichal kembali bertanya dengan gugup.
"Yaudah, nih kunci mobilnya. Awas hati-hati jangan bikin anak orang sakit hati!" ucap Tamara menggoda Ichal.
Ichal berbalik melihat kunci mobilnya ada di tangan ibunya.
"Kok bisa ada di Mamah?" tanya Ichal heran sambil mengambil kunci mobil itu.
"Ada deh, urusan orang tua!" jawab Tamara sambil terkikik.
"Makasih Mah!" ucap Ichal sambil tiba-tiba memeluk dan mengecup pipi ibunya dengan lembut, membuat Tamara kaget dengan perubahan total sikap Ichal.
"Padahal nanti malem mau aku kasih kunci mobil sama motornya Ichal, tapi diluar dugaan malah Ichal minta langsung ke sini," batin Tamara.
Ichal berlari hendak keluar ruangan Tamara, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat berada di ambang pintu.
"Aduh! Ada yang gawat!" teriak Ichal.
"Kenapa Chal?" tanya Tamara cemas.
"Saya harus pake baju kaya gimana buat ketemu Hani?" ucap Ichal sambil berbalik kembali menghadap Tamara.
Tamara menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
"Tenang aja, kamu ada di kantor 'Tamara Fashion', pokonya serahin aja sama Mamah!"
Beberapa jam kemudian Ichal sudah selesai di make over oleh karyawan Tamara. Penampilan benar-benar berubah semakin tampan setelah di make over.
"Nih, tadi Mamah telepon lagi Papah buat bilang kamu mau ngajak kencan seorang gadis. Jadi Papah ngasih kamu ini." ucap Tamara sambil menyodorkan sesuatu kepada Ichal.
"Astaga!!! Ini semua kartu saya yang kalian sita!" teriak Ichal tak percaya kenapa kedua orang tuanya tiba-tiba menjadi sangat baik.
"Yaudah, saya berangkat ya! Terima kasih," Ichal tersenyum sumringah.
Begitulah akhirnya Ichal bisa kembali mendapatkan fasilitasnya.
***
"Gil*! Kenapa gue terus berdebar gini sih?!" jerit Ichal frustrasi sambil membenakan wajahnya ke atas bantal.
Pagi sudah menjelang, Hani tengah bersiap berangkat sekolah. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumahnya, Hani mengintip di balik tirai kamarnya ternyata itu Ichal.
Dengan semangat Hani berlari menuruni tangga untuk menemui Ichal.
"Kok, kamu ke sini?" tanya Hani heran.
"Sengaja, buat jemput kamu. Aku mau kita berangkat bareng mulai sekarang!" ucap Ichal walaupun datar namun terdengar sangat manis.
Hani mengangguk lalu memasuki mobil Ichal.
Mobil Ichal sudah terparkir di area parkir sekolah. Seperti biasa gadis-gadis akan melihat saat Ichal keluar dari dalam mobilnya. Jujur itu membuat Hani menjadi sangat gugup dan takut, karena dirinya akan terus menjadi pusat perhatian karena berkencan dengan pemuda yang menjadi idola di sekolahnya.
Ichal keluar dari mobil lalu berlari untuk membukakan pintu untuk Hani. Namun, Ichal melihat Hani tampak bergetar.
"Kamu tenang aja!" Ichal menggenggam tangan Hani untuk menenangkan kecemasan Hani.
Ichal perlahan menarik tangan Hani agar mau keluar. Orang-orang tampak sangat terkejut melihat Ichal menggandeng tangan Hani.
"Waaah, akhirnya kalian jadian ya?" teriak Andri sambil menepuk pundak Ichal.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi, dengan tangan yang membulat membentuk tinju.