Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.06


__ADS_3

Tidak terasa sudah hampir dua bulan Hani bersekolah di sekolahan elit yang biasanya hanya boleh dimasuki oleh anak-anak dari para pengusaha atau selebriti. Tapi Hani yang merasa tidak termasuk dari golongan itu merasa aneh karena dirinya bisa dengan mudah masuk ke lingkungan yang luar biasa baginya.


Hari-hari yang awalnya berat karena selalu dapat gangguan dari Salsa dan teman sekelasnya lambat laun bisa dia hadapi. Dan ada juga beberapa orang yang mau berteman dengannya, walaupun awalnya sulit untuk mencari teman di sini tapi pada akhirnya Hani bisa punya teman.


Hubungannya dengan Ichal pun mulai mencair walaupun tetap sering bertengkar tapi sekarang Hani merasa lega karena sedikit demi sedikit mulai mendapatkan tempat di sekolah ini.


"Han, kamu udah bikin PR belum?" tanya Bintan kepada Hani yang baru datang.


"Udah dong hehe...," jawab Hani ceria.


"Serius udah? Lihat doooong pliiiiisssss!!!" ucap Bintan mencoba membujuk Hani dengan ekspresi imutnya.


"Kebiasaan suka nyontek!" teriak Andri yang baru datang.


"Apaan sih lu ganggu aja!" teriak Bintan.


"Berisik woy gue mau tidur!" bentak Ichal yang sudah duduk di samping Hani.


"Gara-gara lu, gue jadi gagal nyontek PR Hani tau?!" bisik Bintan gemas di telinga Andri yang sudah duduk di sampingnya.


"Masalah buat lu?!" ucap Andri sambil menjulurkan lidahnya pada Bintan.


"Dasar kutu air!" ucap Bintan kesal. Andri yang mendengar itu hanya terkekeh pelan melihat ekspresi kesal Bintan.


Hani hanya terdiam sambil melihat ke luar jendela kelasnya, entah apa yang sedang ada dipikirannya. Tiba-tiba seorang guru masuk tapi Hani masih tidak sadar dengan kehadiran guru yang sudah ada di depan kelas.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa guru itu dengan ceria.


"Pagiiiiiiiii!!!" ucap para siswa serentak.


"Hari ini kita akan kedatangan teman baru." ucap guru itu.


"Perasaan banyak banget yang pindah di semester tanggung gini."


"Pasti di DO kali dari sekolahnya."


"Kalau misalnya di DO gak bakal keterima di sini dong!"


Tiba-tiba para siswa langsung terdengar berbisik-bisik membicarakan tentang murid baru yang bakal masuk di kelasnya. Kecuali Hani yang masih tampak asik melihat keluar jendela, juga Ichal yang tampak memejamkan matanya tidak peduli dengan keributan yang sedang terjadi.


"Sudah-sudah jangan berisik! Kamu yang di luar silahkan masuk!" perintah guru itu.


Suasana langsung hening, hanya terdengar suara langkah seseorang yang akan masuk ke kelas. Semua orang kecuali Hani dan Ichal melihat ke arah pintu penasaran dengan seseorang yang akan masuk.


"Gila ganteng banget!" teriak salah seorang siswi yang melihat kedatangan sesorang itu.


Hani yang mendengar itu langsung melirik apa yang menjadi pusat perhatian teman-temannya. Dia jadi ikut merasa penasaran dengan apa yang dilihat mereka.


"Hallo selamat pagi, perkenalkan saya Barsena Adilova Utama." ucap orang itu dengan santai.


Semua siswi yang mendengar langsung histeris apalagi setelah melihat Barsena tersenyum tipis. Barsena melirik dua orang yang dari tadi hanya bisa melongo dengan mata membulat melihat dirinya ada di depannya. Ya, dia melihat Hani dan Ichal lalu menyunggingkan senyuman penuh arti.


"Barsena." gumamnya dengan gemetar menahan sesuatu yang akan jatuh di pipinya.


Hani hanya terdiam sambil menundukan kepalanya dengan wajah yang terasa panas dan badan yang terus bergetar. Sementara Ichal hanya menatap Barsena dengan tangan yang perlahan mengepal entah apa yang di rasakan Ichal. Hani perlahan mengangkat tangannya dan berkata, "Maaf pak saya permisi ke belakang."

__ADS_1


Dengan nafas yang memburu dan kaki yang terasa lemas Hani berjalan menuju toilet. Di toilet dia menangis sejadi-jadinya.


"Rasanya perjuangan yang aku lakukan untuk melupakan dia hanya sia-sia jika dia malah datang lagi ke dekatku, percuma aku menghindari dia dengan pindah ke sini jika dia juga ikut pindah ke sini." gumam Hani diantara isakan tangisnya.


Hani mencuci muka lalu sesaat menatap bayangan wajahnya di cermin.


"Kamu kuat Han!" gumamnya lalu keluar dari toilet berniat kembali ke kelas.


Hani dengan tergesa duduk dikursinya, Ichal hanya meliriknya sesaat lalu kembali membenamkan kepalanya di atas buku dia terlalu malas mendengarkan pelajaran. Sepanjang pelajaran Barsena terus melirik Hani yang duduk tepat di depannya. Salsa yang menyadari ada sesuatu yang terjadi antara Barsena dan Hani hanya tersenyum penuh arti.


Setelah melewati pelajaran yang membosankan akhirnya jam istirahatpun tiba. Hani hanya diam dikursinya bersama Ichal yang terlihat sedang tertidur dengan pulas.


"Hani ayo ke kantin!" ajak Bintan. Hani hanya menggeleng pelan menolak ajakan Bintan.


"Oke, aku ke kantin dulu ya daaah!" ucap Bintan lalu pergi.


"Eh gue ikut dong!" ucap Andri.


"Ogah!" jawab Bintan kesal lalu bergegas keluar. Andri hanya tertawa lalu mengikuti Bintan dari belakang.


"Udah lama gak ketemu ya Han!" ucap Barsena dengan senyuman yang tiba-tiba berdiri di samping meja Hani dan Ichal lalu mengulurkan tangannya berniat bersalaman dengan Hani.


Hani tersentak dari lamunannya, dia melihat uluran tangan Barsena dengan tatapan nanar perlahan Hani mengulurkan tangannya.


Grepp!!!


Tiba-tiba tangan Hani di genggam oleh Ichal, dia menahan agar Hani tidak bersentuhan dengan Barsena.


"Ikut gue!" Ichal tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Hani dengan sedikit kasar dan membawa Hani keluar dari kelas meninggalkan Barsena.


"Kamu kenapa sih?!" tanya Hani kesal.


"Gue gak mau lu nangis lagi gara-gara cowok br*ngs*k itu!" teriak Ichal frustrasi.


Hani terdiam sesaat lalu berkata. "Lagi? Maksudnya kamu tahu aku pernah nangis gara-gara dia?"


Ichal hanya mengangguk lalu terdiam. Hani yang melihat itupun hanya terdiam sambil merasakan nyeri di pergelangan tangannya.


"Sakit ya? Sorry gue refleks." ucap Ichal sambil menyentuh pergelangan tangan Hani perlahan.


"Gak papa Chal, aku malah makasih kamu udah mau bantu aku." ucap Hani sambil menatap wajah Ichal lalu tersenyum dengan manisnya.


"Dasar bodoh! Berhenti senyum manis kaya gitu!" Batin Ichal dengan jantung yang terus berdegup kencang.


Sementara itu Barsena yang sebelumnya mengikuti mereka, melihat kegiatan mereka dengan ekspresi yang penuh arti.


***


"Apa?! Barsena pindah?!" teriak Andin yang baru tahu kalau Barsena telah pindah sekolah.


"Kenapa gue gak dikasih tahu lebih dulu?!" bentak Andin kepada Irma.


"Sorry Din, gue juga baru denger dari gosip anak-anak katanya dia pindah ke sekolahan yang ada Hani nya." ucap Irma sedikit bergetar lalu tersenyum penuh arti.


"Hani lagi Hani lagi! B*ngs*t!!!" jerit Andin.

__ADS_1


"Tunggu aja gue bakal bun*h lu Hani biar lu gak bisa rebut Barsena dari gue!" teriak Andin, membuat Irma yang mendengar itu bergidik ngeri dengan niat Andin yang terdengar menyeramkan.


"Busyeeet ini nenek lampir serem juga, gue males deket-deket ah takut nanti juga di bunuh!" batin Irma ngeri.


Andin berjalan tergesa-gesa menuju suatu tempat. Akhirnya dia sampai dan tepat berdiri di depan pintu ruangan kepala sekolah, ternyata tempat ini yang di tuju oleh Andin.


"Permisi pak, boleh saya masuk?" ucap Andin setelah mengetuk pintu. Lalu terdengar suara dari dalam memperbolehkan Andin masuk.


"Ada perlu apa?" tanya kepala sekola setelah mempersilahkan Andin duduk.


"Saya mau pindah sekolah pak." jawab Andin tegas.


"Pindah? Kenapa?" tanya kepala sekolah heran.


"Pokonya saya mau pindah ke sekolahan Barsena sekarang."


"Tidak bisa Andini!" ucap kepala sekolah dengan tegas.


"Apa? Kenapa? Yang lain bisa pindah, kenapa saya engga?!" suara Andin mulai meninggi.


"Karena kamu anak saya, kamu harus tetap di sini agar saya tetap bisa mengawasi kamu!" jawab kepala sekolah dengan tegas sambil menatap wajah Andin dalam-dalam.


"Gara-gara papah Andin jadi jauh lagi sama Barsena! Padahal Andin udah bisa sama Barsena! " teriak Andin.


"Udahlah Andin, papah punya rencana lebih baik! Kita tidak usah repot-repot mengawasi Barsena karena ayahnya akan lebih tau apa yang bisa membuat Barsena menurut dan kembali pada kamu sayang." ucap kepala sekolah dengan senyuman penuh arti, membuat Andin hanya terdiam.


Tiga bulan yang lalu atau tepat sehari sebelum Hani ulang tahun.


Hikss... Hikss... Hikss....


"Andin sayang kenapa kamu nangis nak?" tanya seorang laki-laki sambil mengelus lembut kepala Andin.


"Andin mau mati aja pah!" jawab Andin disela tangisannya.


"Hussh... Jangan ngomong gitu dong sayang gak baik!" ucap laki-laki itu menenangkan.


"Kalau Barsena gak bisa sama Andin, mending Andin mati aja pah!"


Laki-laki itu hanya tertegun mendengar perkataan anaknya itu. Dia berjalan menuju ruang kerjanya dan mengambil ponsel lalu menelepon seseorang.


"Hallo ini saya." ucap laki-laki itu kepada seseorang di seberang telepon.


"[wah...wah...wah ada apa anda menelepon saya malam-malam begini?]" jawab seseorang di seberang telepon.


"Saya akan bayar kamu mahal sekali, asalkan anak kamu bisa bersama dengan anak saya!" ucap laki-laki itu dingin.


"[Oh wow berbesan dengan anda? Suatu kehormatan untuk saya. Dengan senang hati tuan Surya Pratama.]" terdengar terkekeh.


Surya Pratama adalah ayah dari Andin. Dia terkenal sangat memanjakan Andin sehingga apapun yang Andin inginkan akan selalu dituruti tentu dengan menghalalkan segala cara agar apa yang Andin inginkan bisa terpenuhi.


Dia rela membayar ayah Barsena agar menekan dan memaksa Barsena mengikuti perjodohan dengan Andin. Dengan begitu Andin dan Barsena bisa bersatu, tentu perasaan Barsena tidak dipedulikan dalam hal ini karena yang terpenting baginya adalah melihat Andin bisa tersenyum bahagia.


"Tenang aja Andin mulai besok kamu bakal bisa sama Barsena, anak itu tidak akan bisa menolak lagi." gumam Surya lalu menyeringai.


***

__ADS_1


__ADS_2