
Dor!
Dor!
Dor!
Tiga bunyi letusan senjata api terdengar menggema di gedung kosong itu.
Salsa terisak. Isakan Salsa terdengar sangat pilu. Dia merasakan darah mulai membanjir di tangannya. Tubuhnya baik-baik saja, tak ada luka tembak apapun di tubuhnya, tak ada satupun peluru yang mengenainya. Lalu siapa yang baru saja terkena tembakan? Darah siapa yang membanjir di tangan Salsa?
"Barsena!" jerit Salsa.
Barsena mendekap Salsa, melindungi Salsa dari tembakan itu, hingga akhirnya Barsena lah yang terkena tembakan Baron. Mereka berdua masih berdiri mematung. Barsena masih memeluk Salsa dengar erat walaupun punggungnya sudah mengeluarkan darah segar.
Perlahan dekapan erat Barsena mengendur, dan Barsena pun tak sadarkan diri.
"Barsena! No ... no ... nggak! Barsena b*d*h!" jerit Salsa. Salsa mulai meraung saat tubuhnya ikut jatuh ke lantai setelah Barsena tak sadarkan diri.
"Barsenaaaa!" jerit Salsa.
"Barsena." Ichal berteriak sambil menghampiri Barsena yang tak sadarkan diri di pelukan Salsa.
Lalu bagaimana dengan Baron setelah melakukan itu? Dia juga ikut tersungkur di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Setelah Baron menembak Barsena satu kali dia langsung ditembak oleh Ardi yang baru tiba di dalam gedung. Ternyata dari tiga letusan tembakan yang terdengar, dua tembakan mengenai Baron hingga dia terkapar tak berdaya.
"Panggil ambulans, cepet!" teriak Salsa.
Salsa terus terisak pilu, Hani yang sedari tadi terkulai lemah tak berdaya mencoba mengumpulkan kekuatannya. Dia merengkuh pundak Salsa dan mencoba menenangkannya. Melihat Barsena yang tak sadarkan diri membuat Hani juga ikut bersedih.
Terdengar suara sirine mulai mendekat entah itu sirine ambulans atau sirine mobil polisi.
"Salsa! Salsa!"
Terdengar pula seseorang memanggil Salsa dari kejauhan.
"Tangkap mereka, Pak! Pasti mereka semua penjahatnya!" teriak seseorang.
"Ichal! Hani!"
Lalu terdengar pula seseorang memanggil Hani dan Ichal.
Makin dekat makin bisa melihat siapa sosok yang memanggil mereka. Itu adalah Andri, Chika, dan juga Edi ayahnya Ichal dengan membawa polisi. Walaupun agak terlambat tapi masih bisa meringkus para penjahat yang menyekap Hani dan Salsa.
Barsena langsung diangkat ke ambulans dan dibawa ke rumah sakit, dengan tergopoh-gopoh Salsa mengikuti orang yang mengangkat tubuh Barsena.
Ichal langsung mengangkat tubuh Hani yang nyaris tak bertenaga lagi, dia mengalami syok berat serta kelelahan.
Sementara para bawahan Baron yang masih di lokasi sudah diringkus dan segera dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya. Baron yang tergeletak dengan bersimbah darah diperiksa apakah masih bernyawa atau tidak, ternyata masih bernyawa karena Ardi sengaja menembak tidak di bagian vital. Dia pun langsung dibrogol dan di bawa ke kantor polisi.
"Chal, kamu gak papa kan?"
Edi menyerbu Ichal yang sudah mengangkat tubuh Hani. Ichal hanya menggeleng pelan sambil berjalan dengan menatap wajah Hani yang menutup matanya. Ichal berjalan dengan gontai sambil menggendong Hani.
"Maafin aku, Han! Maafin aku! Sekarang kamu aman! Gak akan ada lagi kejadian kaya gini! Kamu aman, Han." Ichal terus menggumam-gumam kecil sampai ke dalam mobil ayahnya.
"Ke rumah sakit, Pah! Hani sakit!" lirih Ichal. Tanpa berniat melepaskan Hani dari pelukannya.
Edi langsung memacu mobilnya dengan kencang.
***
Ambulans yang membawa Barsena tiba lebih dulu, dengan sigap Barsena langsung dibawa ke ruang operasi. Salsa terus terisak di depan pintu, dia benar-benar ketakutan terjadi sesuatu pada Barsena. Bahkan dia menolak saat ingin diobati karena tak mau beranjak dari tempatnya menunggu Barsena.
__ADS_1
Chika yang baru tiba mencoba menenangkan sahabatnya itu. Ini pertama kalinya Salsa menangis seperti ini, tangisan pilu takut ditinggalkan.
Mobil Edi tiba di rumah sakit, Ichal langsung membawa Hani yang masih menutup mata dengan damai. Ichal bahkan menolak saat suster membawakan tempat tidur dorong, dia bersikukuh ingin membawa Hani tetap di pelukannya.
Hani langsung diperiksa dokter, sementara Ichal tak beranjak satu senti pun dari samping Hani.
"Maafin aku, Han!" batin Ichal.
Dokter selesai memeriksa Hani, Ichal langsung menanyakan kondisi Hani terpancar rona kecemasan pada wajah Ichal.
"Pasien mengalami syok berat dan juga kelelahan. Istirahat yang cukup akan membantu memperbaiki kondisinya, sementara untuk syoknya kita tunggu pasien siuman baru bisa kita periksa mentalnya," jelas dokter.
"Saya cemas syok ini bisa berubah menjadi trauma seperti halnya kamu, jadi kita tunggu sampai pasien siuman," lanjutnya.
"Tapi, Hani akan baik-baik saja kan dokter?"
"Karena tak ada luka yang terlalu parah pada tubuhnya hanya luka gores dan memar pada wajahnya pasien tidak akan apa-apa. Namun, saya cemas dengan kondisi mentalnya," jawab dokter.
"Tunggu saja sampai pasien siuman." Ucap dokter sambil menepuk pundak Ichal lalu meninggalkan Ichal.
Ichal meraih tangan Hani dan mengecupnya, air matanya tanpa sadar jatuh saat melihat Hani terbaring tak berdaya.
"Siapa yang berani melukai wajah cantik kamu, Han?" gumam Ichal. Dia mengelus wajah memar Hani.
"Siapa yang berani menggoreskan benda tajam pada wajah cantik kamu, Han?" gumamnya lagi. Dia menatap perban yang menutupi pelipis kiri Hani. Terdapat luka goresan pisau yang dilakukan Andin di sana.
"Bangun, Han." Ichal mengecup punggung tangan Hani dengan lembut. Air matanya kembali mengalir.
Sementara itu Salsa berhasil dibujuk untuk mengobati lukanya. Seperti halnya Hani yang mendapat luka berkat Andin, Salsa pun sama. Luka gores cukup dalam pada pelipisnya akibat ulah Andin, sudah diobati dan ditutup perban.
Dia langsung beranjak menuju kamar tempat operasi Barsena, walaupun Chika menahannya Salsa tetap pergi. Padahal kondisi Salsa juga tidak baik-baik saja, dia juga mengalami syok seperti Hani, dia juga harus mendapat perawatan.
"Sal, please lo istirahat! Nanti kalau operasi Barsena udah beres gue bisa ngasih tahu lo," bujuk Chika.
Salsa masih tetap bersikukuh untuk menunggu tepat di depan ruang operasi.
"Gue harus pastiin sendiri kalau Barsena baik-baik aja." Salsa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar cemas dengan kondisi Barsena, entah sejak kapan Salsa jadi orang seperti ini.
"Sal, gue mohon,"
"Gue gak mau, Chika!"
Salsa mulai kembali terisak, Chika langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kalian belum makan 'kan? Gue beli makanan buat kalian ya." Ucap Andri lalu pergi menuju kantin.
Sedari tadi dia berdiri di sana, dia juga cemas dengan kondisi teman-temannya.
***
"Mmmmhh." Hani menggumam.
Ichal langsung melihat apakah Hani sudah siuman atau belum. Terlihat Hani mengkerutkan dahinya lalu mengerjapkan matanya hingga perlahan matanya terbuka.
"Han, kamu bangun, Han? Aku panggil dokter ya." Ichal langsung beranjak hendak memanggil dokter, tapi tangannya langsung ditahan Hani.
"Kenapa, Han? Kamu butuh sesuatu?" tanya Ichal lembut. Hani menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Ichal.
Ichal kembali duduk di kursinya dengan terus menggenggam tangan Hani dengan erat sesekali dia mengecupnya lembut.
"Kamu gak papa?" Suara lemah Hani terdengar serak.
__ADS_1
Ichal menggeleng. "Aku gak baik-baik aja kalau kamu sakit kaya gini!" jawab Ichal.
Hanti tersenyum lemah mendengar jawaban Ichal. "Aku sayang kamu," ucapnya.
"Aku juga sayang kamu, Han. Aku juga sayang kamu." Ichal kembali mengecup lembut punggung tangan Hani.
"Barsena gimana? Salsa gimana?" Tanya Hani pelan dan serak sekali hingga nyaris tak terdengar jelas.
"Barsena masih dioperasi, kalau Salsa dia tetap menunggu operasi Barsena sampai selesai di depan ruang operasi," jelas Ichal.
"Andin," ucap Hani.
"Andin? Maksud kamu, Han?" Tanya Ichal tak mengerti.
"Andin yang culik Salsa," gumam Hani.
Tubuh Hani tiba-tiba bergetar hebat, tubuhnya menolak saat kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Dia langsung terisak, Ichal langsung memeluk Hani dan mengelusnya dengan lembut. Ichal terus membisikan kata-kata untuk menenangkan Hani dalam pelukannya hingga isakan Hani tak lagi terdengar.
"Hani Sayang. Bunda datang, Nak!" Srindra langsung menghambur memeluk Hani.
"Bunda." Hani tersenyum lemah pada Srindra.
"Kamu gak papa, Sayang? Bunda cemas sekali, Nak." Srindra mulai kembali terisak.
Ada rona cemas dan juga lega pada wajahnya. Namun, kali ini lebih banyak rona lega setelah melihat Hani baik-baik saja.
"Ardi, langsung urus kasus ini! Saya harus menghukum berat semua orang yang terlibat!" perintah Srindra.
Ardi mengangguk lalu undur diri.
Srindra memeluk Hani dengan erat. Hatinya sakit melihat Hani seperti ini.
"Bagaimana keadaan kamu, Chal?" tanya Srindra.
"Baik, Bunda! Tapi Barsena kena tembakan, operasinya belum juga kunjung selesai,"
"Malang sekali anak itu. Baron memang biadab! Dia harus dihukum seberat-beratnya!" ujar Srindra.
***
"Kak Barsena, mana, Kak Barsena?" Raung seorang gadis kecil.
Salsa menoleh, melihat gadis itu berjalan tergopoh-gopoh dengan berderai air mata. Bahkan dia tak mengenakan alas kaki.
"Kamu adiknya Barsena?"
"Iya, iya aku adiknya. Mana, Kakak?" raungnya.
Salsa memeluknya dengan erat. "Maafin aku!" bisiknya.
Salsa kembali berderai air mata. Begitupun Kira. Kira baru mendapat kabar bahwa ayah dan kakaknya terkena tembakan. Kira cemas dan langsung menuju rumah sakit.
"Barsena masih dioperasi, kamu tenang ya." Salsa mengelus rambut Kira dengan lembut.
Setelah hampir memakan waktu tiga jam barulah seorang dokter keluar dari ruang operasi. Salsa dan Kira langsung menyerbu dan menanyakan keadaan Barsena.
"Operasi berjalan lancar, beruntung pasien bisa melewati masa kritis," jawab dokter.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang inap sebentar lagi, jadi mohon tunggu," ucap dokter.
Tak lama kemudian Barsena yang masih terbaring tak sadarkan diri dibawa keluar.
__ADS_1