
"Cih! Cewek lemah kaya gitu, gak bakal pernah dapetin apa-apa!" hardik Andin.
***
Di kediaman Barsena.
"Kak, kakak gak papa 'kan?" suara cemas Kira terdengar di balik pintu kamar Barsena yang tertutup rapat sejak semalam.
Kira benar-benar cemas, pasalnya Barsena belum makan sedikitpun sejak semalam. Yang dia lakukan hanya mengurung diri di kamarnya.
"Kak, ayo makan dulu!"
Namun tetap tak ada jawaban dari Barsena.
Sementara itu di dalam kamar Barsena hanya terlihat cahaya remang-remang dari balik tirai. Kamar Barsena benar-benar berantakan, entah apa yang sudah Barsena perbuat pada kamar tidurnya yang selalu rapih menjadi sangat berantakan.
Seprai tak terpasang dengan benar, bantal berserakan di lantai, banyak pecahan kaca dari bingkai foto yang sengaja dia pecahkan. Dan yang paling menyedihkan adalah sosok Barsena yang benar-benar berantakan.
Dia terduduk di bawah ranjang dengan rambut yang juga berantakan sambil memeluk lututnya sendiri sambil menggumam-gumam tak jelas. Barsena benar-benar hancur setelah mengetahui kenyataan yang selama ini tidak dia ketahui.
"Laras ... Laras ... Laras ...,"
Hanya nama itu yang terus keluar dari mulutnya.
"Aaaaaaaarrrgggghhh!!!"
Barsena berteriak frustrasi, dia menangis, meraung, saat kembali teringat sosok Laras.
"Baron Utama! Gue gak peduli dia ayah gue atau apapun yang jelas, kelakuan bejatnya harus segera dibalas!" batin Barsena bertekad.
Kira yang masih berdiri di depan pintu kamar Barsena dengan jelas mendengar raungan frustrasi Barsena menjadi benar-benar cemas.
"Kak! Kak Barsena? Kakak kenapa?" Kira terus mengetuk pintu dan memanggil Barsena, namun Barsena tetap tidak menghiraukan.
"Heh, Kira? Apa yang terjadi dengan anak kurang ajar itu?" suara berat Baron terdengar menakutkan.
Kira tersentak saat mendengar pertanyaan ayahnya. Dia melihat ayahnya mendekat, tubuh Kira otomatis bergetar ketakutan. Entahlah sosok laki-laki yang disebut 'ayah' itu tak pernah sekalipun terlihat penuh kasih sayang. Dia selalu terlihat mengerikan dan kejam.
"Kenapa kamu? Bukannya menjawab malah diam saja?!" Baron membentak Kira membuat Kira kembali tersentak.
"Heh, Barsena! Keluar kamu! Surya Pratama ingin bertemu denganmu!" Baron berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar Barsena namun tak ada jawaban dari Barsena.
"Hey, anak kurang ajar!" Baron benar-benar murka karena diabaikan oleh Barsena.
"Kenapa kakakmu itu?" Baron bertanya dengan tatapan mengintimidasi Kira yang semakin bergetar ketakutan.
"Dasar anak-anak kurang ajar! Ditanya gak ada yang jawab!" bentak Baron.
Baron menjambak rambut Kira dengan kasar, membuat Kira menjerit karena merasakan sakit di kulit kepalanya.
"Ayah, ampun Yah," Kira memohon sambil terisak memegangi kepalanya yang tengah ditarik oleh ayahnya itu.
Brak!
Bugh!
Barsena membuka pintu kamar dan membantingnya dengan keras, lalu menarik kerah ayahnya dan langsung melayangkan tinjuan ke wajah ayahnya itu.
"Anak kurang ajar! Apa-apaan kau ini?! Berani-beraninya kau memukul ayahmu seperti ini!" murka Baron menatap wajah Barsena dengan tajam, sementara Barsena masih menggenggam kerah baju ayahnya itu.
__ADS_1
Baron melihat sorot mata anaknya itu penuh dengan kemarahan. Dia juga melihat kondisi anaknya yang biasa terlihat rapi menjadi sangat berantakan dan menyedihkan.
"Lepaskan! Dasar kurang ajar!"
"Kak, udah Kak!" Kira menarik tangan Barsena mencoba melerai.
Kira berhasil menarik Barsena untuk melepaskan cengkraman tangannya.
Bugh!
"Sini kau anak kurang ajar!" Baron memukul Barsena dengan keras sesaat setelah dia bebas dari cengkeraman Barsena.
"Ayah udah Yah!" Kira lagi-lagi mencoba melerai kedua orang dewasa di hadapannya.
Dengan susah payah Kira menarik Barsena agar menjauh dari ayahnya.
"Kakak kenapa Kak?"
Kira bertanya sambil berderai air mata melihat kondisi kakaknya yang benar-benar menyedihkan. Namun, Barsena tak mengeluarkan sepatah kata 'pun. Dia memeluk erat Kira dengan diam membisu, perlahan air matanya menetes seolah menjadi tanda keterpurukan Barsena.
***
Salsa mengendarai mobilnya sambil pikirannya terus berkelana mengingat hal-hal yang Andin bicarakan.
"Ide cewek itu emang gil* sih, tapi gak ada salahnya buat dicoba," gumam Salsa menyeringai.
Tring!
Sebuah pesan masuk di ponsel Salsa saat mobil Salsa berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit. Salsa merogoh ponselnya lalu membaca isi pesan tersebut.
[Gue harap lo coba cara yang gue bilang, supaya lo bisa dapetin cowok yang lo mau dan gue bisa lihat cewek yang gue gak suka hancur!]
"Gue gak ngerti kenapa bisa ada cewek semengerikan ini," Salsa bergumam.
Salsa turun dari mobilnya, lalu beberapa orang berjas hitam yang sepertinya penjaga menghampiri Salsa dan menerima kunci mobil milik Salsa. Salsa berjalan dengan penuh percaya diri memasuki gedung itu.
Beberapa orang staf menghampiri Salsa dan membuat Salsa menjadi pusat perhatian karena seorang gadis berseragam sekolah berada di dalam kantor itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" seorang staf bertanya dengan sopan pada Salsa.
"Saya ingin bertemu dengan Mr. Gunawan," Salsa mendelik angkuh.
"Tapi, ada keperluan apa Nona ingin bertemu dengan presdir?" staf itu kembali bertanya dengan ragu.
"Hey, memangnya saya harus punya kepentingan khusus untuk bertemu ayah saya?"
Salsa menjawab dengan meninggikan suaranya membuat staf terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, bahwasannya gadis berseragam sekolah di hadapannya adalah putri dari bos mereka.
"Mohon maaf Nona, mari ikuti saya!" staf itu langsung mempersilakan Salsa untuk mengikutinya menuju ruangan presdir yang ternyata adalah ayahnya itu.
Kini Salsa telah tiba di depan pintu ruangan presdir yang juga adalah ayahnya sendiri. Sungguh sesuatu yang sangat mengejutkan bahwa gadis ini benar-benar mempunyai kekuatan di sana sini.
Saat Salsa berniat memasuki ruangan itu, seorang pria menahan Salsa untuk tidak masuk.
"Hey, apa-apaan kamu? Dasar kurang ajar?!" teriak Salsa.
"Maaf saat ini Presdir sedang sibuk, jadi beliau tidak bisa ditemui," pria itu berkata dengan tegas.
"Hey, ini ruangan ayah saya! Kamu tidak berhak melarang saya!"
__ADS_1
Salsa berteriak menyebutkan kedudukannya di hadapan pria itu. Namun tetap saja pria itu tak bergeming dari tempatnya.
"Minggir kamu!"
Salsa mendorong tubuh pria kekar itu hingga pintu itu terbuka, dan betapa syoknya Salsa saat melihat orang yang ada di ruangan itu. Di ruangan itu Salsa dengan jelas melihat ayahnya sedang melakukan hal yang tidak pantas dengan wanita yang bukan ibunya.
"Haaa! Papah!!!" Salsa refleks berteriak lalu menutup mulutnya.
"Hey penjaga memangnya apa tugasmu? Kenapa menjaga pintu saja tidak bisa? Cepat urus dia?!"
Ayahnya hanya sekejap melirik Salsa yang masih berdiri mematung sambil menutup mulutnya, lalu memerintahkan pria penjaga itu untuk mengeluarkan Salsa.
"Lepaskan! Papah ... Papah jahat ... Papah jahat!!!" Salsa berteriak histeris saat penjaga itu menyeretnya keluar dari ruangan ayahnya itu.
Dengan kasar pria penjaga itu menghempaskan tubuh Salsa ke lantai tanpa belas kasih. Sementara Salsa masih syok dengan apa yang baru saja dialaminya. Dia terus menangis sambil menatap pintu ruangan tempat ayahnya bersama wanita lain.
"Mamah ...," Salsa menggumam.
Dia berdiri dengan ringkih merasakan sakit di lututnya yang terlihat mengeluarkan darah karena dengan keras menghantam lantai akibat perbuatan pria penjaga itu. Namun sakit di lututnya tak seberapa dengan rasa sakit di hatinya, kenyataan bahwa dia baru saja memergoki ayahnya yang selalu dia bangga-banggakan tengah berselingkuh dengan wanita yang entah siapa.
Salsa berjalan tertatih sambil terus menangis, biasanya dia tak menangis seperti ini karena gengsi namun kali ini dia tak peduli lagi dengan gengsinya dia terus menangis sambil menyusuri lorong panjang untuk keluar dari tempat yang sekarang menjadi sangat menjijikan untuknya.
"Mamah ...," Salsa terus bergumam memanggil ibunya.
Salsa berhasil keluar dari gedung yang menurutnya sangat menjijikan itu. Dia terus berjalan dengan tertatih dengan terus berderai air mata.
"Kenapa semuanya selalu gak beres, kenapa?!" Salsa menjerit frustrasi.
Dia terus berjalan gontai tanpa menghiraukan seorang penjaga yang menyodorkan kunci mobilnya. Dia berjalan tanpa arah hingga dia berhenti di sebuah taman yang tampak sepi dan duduk di sebuah kursi yang tampak sudah berkarat termakan usia.
"Kenapa semua ini terjadi sama gue hah?! Kenapa?!" lagi-lagi Salsa berteriak.
Sunyi yang dirasakan, Salsa merasa tak ada seorang pun yang ada di taman itu kecuali dirinya.
"Kenapa gue sial banget?!" kini Salsa berteriak sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa papah lakuin itu?!"
Salsa terus meraung di tempat sepi itu, tanpa dia sadari ada seorang pemuda yang telah lama duduk di kursi belakang Salsa. Karena model kursi itu adalah kursi yang saling membelakangi jadi Salsa yang kacau tak sadar dengan keberadaan orang itu.
Salsa terus terisak sambil membenamkan kepalanya dia atas pahanya.
"Nih," pemuda itu berkata sambil menyodorkan sebuah sapu tangan untuk Salsa.
Dengan malas Salsa mengangkat kepala beratnya untuk melihat siapa geranga orang yang berbicara padanya.
Salsa melirik pemuda itu dengan rambut yang menempel pada pipinya yang basah dan ingus yang keluar karena dia tak henti-hentinya menangis.
"Gila jorok banget lu!" pemuda itu refleks berkata saat melihat kondisi Salsa.
"Sial! Kenapa gue sial banget sih hari ini!" Salsa mengumpat saat melihat siapa pemuda itu.
"Gue gak nyangka princess yang selalu tampil luar biasa ternyata bisa ingusan juga," pemuda itu tergelak mengejek Salsa.
"Diem lo Barsena! Lo bolos sekolah dan sekarang ada di sini," ketus Salsa.
"Lo sengaja ngikutin gue buat ledek gue?!"
"Lo kegeeran Salsa!" tegas Barsena.
__ADS_1
"Terus lo kenapa bisa ada di tempat yang sama sama gue hah?! Dasar penguntit!" ketus Salsa