
Enam bulan kemudian ....
"Haniiiiiii! Hari ini kita belanja, oke!" ajak Salsa antusias.
"Gak mau, ah. Pusing, soal ujian tadi bikin aku mau muntah saking susahnya," keluh Hani. Dia memegangi perutnya yang terasa mual setelah mengisi soal ujian kelulusan hari terakhir.
"Ayolah! Han. Lagian ini hari terakhir ujian, besok-besok udah gak ada lagi! Kita harus melampiaskan kepusingan kita dengan belanja sepuasnya!" teriak Chika membujuk Hani yang nampak sangat enggan untuk bepergian.
"Iya, Han. Jalan-jalan sana sama Salsa! Dijamin kaki kamu bakal pegel," timpal Barsena tiba-tiba sambil terkikik.
"Ih, rese!" kesal Salsa.
"Ayolah, Han! Mau, ya? Irma juga bakal ikutan ko, kita para cewek aja!" bujuk Salsa sambil menggandeng tangan Hani.
Akhirnya Hani mau tidak mau menyetujui ajakan mereka. Seketika Salsa berjingkrak senang karena Hani mau. Hani hanya tertawa melihat tingkah Salsa. Namun, meskipun Hani tertawa riang dan kehidupannya tampak bahagia, sebenarnya pikirannya tetap melayang pada sosok Ichal yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
"Udah enam bulan, Diaz! Belum ada kabar apapun dari kamu. Kamu baik-baik aja, kan?" batin Hani.
***
"Lulusan dengan nilai terbaik tahun ini diraih oleeeeeh ... Hani Putri Amelia!"
Seketika suara tepuk tangan dan sorakan bergema di ruangan itu mengiringi Hani yang akan naik ke fodium untuk menerima penghargaan.
"Yeeeeee ... Haniiiiiii! Huuuuuuh," sorak Andri.
"Hani ... Hani ... Hani ...!" sorak Salsa sambil bertepuk tangan.
Hari ini adalah hari kelulusan, semua orang tampak sedang bersuka cita begitupun dengan Hani yang ternyata mendapat nilai terbaik. Dengan senyum cerah dia menerima penghargaan yang diberikan oleh kepala sekolah. Dia memberikan sepatah dua patah kata, lalu kembali duduk di kursinya.
Banyak ucapan selamat yang dia terima dari teman-temannya. Walaupun Hani sudah memutuskan tidak ingin bersedih lagi, tapi hati dan pikirannya tidak bisa lepas dari sosok Ichal.
"Diaz, hari ini hari kelulusan. Kamu sekarang lagi ngapain? Kamu baik-baik aja, kan?" batin Hani.
"Han, kita harus seneng-seneng! Kita harus rayain pencapaian kamu!" ucap Salsa antusias.
Memang untuk urusan bersenang-senang Salsa memang jagonya. Bagaimanapun dia dahulu anak dengan standar tinggi dan senang menghamburkan uang, walupun hidup Salsa sekarang berbanding terbalik dengan kehidupannya dahulu. Tetap saja dia tahu betul bagaimana caranya bersenang-senang dan merayakan sesuatu.
"Ngapain?" tanya Hani.
"Liburaaaan!" teriak Salsa antusias.
"Ke mana, Sal?" tanya Barsena yang ikut menjadi penasaran.
"Pantaaaaaaai! Gimana? Mau gak? Mau dong? Masa nggak!" pekik Salsa antusias.
Deg!
__ADS_1
Seketika ingatan Hani kembali terbawa pada beberapa bulan lalu saat dia pergi bersama Ichal. Kenangan indah yang sekaligus menyedihkan.
"Ya, udah. Aku mau!" jawab Hani.
Semuanya langsung bersorak saat Hani menjawab akan ikut mereka.
Memang entah sejak kapan mereka menjadi perhatian dan bergantung pada Hani. Mungkin, sejak Ichal pergi? atau sejak Hani mengurung diri di kamar? Atau sejak Hani dan Salsa diculik? Entahlah yang pasti mereka sekarang benar-benar menjadi teman baik satu sama lain, tidak ada permusuhan lagi.
"Udah, ayo foto dulu!" ajak Chika.
Kelima orang yang sudah berteman itu berbaris mengatur posisi, lalu memgambil banyak foto untuk dikenang. Sayang, tidak ada Ichal di antara foto mereka.
"Hani, selamat ya, Sayang! Bunda bangga banget sama kamu!" Srindra langsung memeluk Hani bangga.
Dia benar-benar bangga pada Hani yang sudah mendapat prestasi luar biasa.
"Bun, hari ini kita ke makam, ya!" ajak Hani.
Srindra terdiam sejenak sambil menatap Hani, lalu mengangguk dengan cepat. Setelah Hani mengetahui fakta tentang jati dirinya yang sebenarnya, ini pertama kalinya Hani ingin mengunjungi makam tempat hampir semua keluarganya dimakamkan. Awalnya Hani memang belum berani dan butuh waktu lama untuk mencerna semua kenyataan yang Srindra ceritakan, hingga akhirnya sekarang Hani sendiri yang mengajak Srindra untuk mengunjungi makam keluarganya. Jelas ini adalah berkat yang ditunggu-tunggu oleh Srindra sehingga dengan cepat dia menyetujuinya.
"Aku pulang duluan, ya! Ada urusan sama bunda." Hani berpamitan pada yang lainnya, lalu langsung meninggalkan mereka.
***
"Bun, kira-kira mamah sama papah bakal bangga nggak, ya sama aku?" tanya Hani sambil menyandarkan kepalanya di pelukan Srindra.
"Pasti! Mereka pasti bangga sama kamu, Sayang." Srindra mengerjapkan matanya mencoba menahan sesuatu yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
Mobil Srindra berhenti pertanda mereka telah sampai di tempat tujuan. Ardi turun lebih dahulu dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Sebelum masuk ke area pemakaman mereka sempat membeli bunga terlebih dahulu. Hani berjalan terlebih dahulu memimpin Srindra lalu Ardi mengikuti keduanya dari belakang.
Pertama mereka mengunjungi makam Laras. Hani terduduk di samping nisan Laras. Dengan senyum lembut Hani meletakan bunga mawar putih di nisan Laras.
"Hai, Ras, kita ketemu lagi. Aku gak nyangka ternyata kamu kakak aku, maaf aku terlambat buat tahu fakta itu. Aku harap kita semua bisa bahagia di tempat kita berada." Hani mengusap nisan Laras dengan lembut.
Sementara Srindra mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Adegan itu sangat dramatis, ini pertama kalinya Hani mengunjungi makam Laras setelah dia mengetahui fakta Laras adalah kakaknya.
Hani dan Srindra kembali berjalan untuk mengunjungi makam ayah dan ibunya. Dengan senyum mengembang dan air mata yang tak sengaja mengalir, Hani mengusap kedua nisan itu. Hani tersenyum, tapi air matanya terus menerus keluar tanpa diundang.
"Pah, terima kasih buat semuanya. Maafin Hani. Setelah delapan belas tahun lamanya, akhirnya Hani tahu wajah Papah kaya gimana.
"Papah ganteng banget. Aku lihat foto papah di rumah bunda. Bunda udah ngasih tahu semuanya, maaf Hani baru berani ke sini sekarang. Hani terlalu malu buat ketemu sama kalian.
"Pah, terima kasih udah menikah sama mamah yang cantik. Karena papah nikah sama mamah yang cantik, Hani jadi terlahir cantik. Semua ini berkat keahlian papah dalam merayu mamah." Hani tersenyum sambil mengusap air matanya yang membanjir di pipinya.
Suara isakan terdengar di pemakaman yang tampak sepi itu. Hanya ada tiga orang yang terlihat di sana, yakni Hani, Srindra dan Ardi.
__ADS_1
Srindra malah tampak lebih sibuk mengusap air mata dari pada Hani. Srindra tak kuasa mengeluarkan suara, dia hanya mendengarkan Hani yang bercerita ini dan itu pada makam kedua orang tuanya.
"Mah, terima kasih udah lahirin Hani. Berkat mamah, Hani jadi tahu ternyata dunia ini indah, Mah. Kalau Hani gak dilahirin sama mamah, Hani gak bakal pernah tahu kalau makan coklat itu bisa bikin bahagia." Hani menangis tersedu-sedu sambil memeluk nisan.
Belum pernah dia merasakan rindu sebesar sekarang. Saat ini dia hanya ingin bertemu barang sekali saja dengan kedua orang tuanya.
Srindra mengusap lembut punggung Hani untuk menenangkan tangisan Hani yang semakin menjadi-jadi.
"Mah, Pah. Tetep lindungi Hani dari sana, Hani sayang kalian."
Hani mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Lalu dia menoleh dan membaca nisan di tempat yang tidak jauh dari makam kedua orang tuanya. Tertulis nama 'Sundari Atmajaya' di sana.
Hani menghampiri makam itu dan mengusap nisannya dengan lembut.
"Nek, Hani di sini. Takdir kita lucu banget, ya. Ternyata kita gak ada hubungan darah sama sekali, tapi Hani ngerasa kalau nenek adalah nenek kandung aku sendiri.
"Nek, terima kasih udah rawat Hani hingga Hani bisa hidup sampai sekarang dan membalas mereka yang tidak adil terhadap kalian. Jika tanpa nenek, mungkin Hani gak akan bertahan hidup sampai sekarang.
"Nek, bahagia selalu di sana. Hani selalu sayang sama nenek, walaupun nenek kadang galak dan selalu larang Hani buat ini itu, tapi sekarang Hani ngerti kenapa nenek lakuin itu sama Hani. Itu semua karena nenek sayang Hani, kan? Hani juga sayang sama nenek."
Lagi dan lagi Hani menangis tersedu-sedu. Baginya Sundari adalah malaikat penolong nyawanya, hingga Hani akhirnya bisa bertahan hidup hingga sekarang.
"Ayo pulang, Sayang!" Srindra menarik lembut lengan Hani agar gadis itu mau berdiri dan pulang.
Selama perjalanan pulang, Hani tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia hanya terdiam dengan berlinang air mata. Begitupun Srindra, dia mendekap Hani dalam pelukannya seolah tak ingin melepasnya. Hanya keheningan yang mengelilingi mereka di dalam mobil itu.
Ardi membukakan pintu mobil untuk tuannya. Setelah turun dari mobil, Hani langsung berjalan gontai masuk ke dalam rumah.
"Ardi, kamu boleh pulang. Terima kasih untuk hari ini." Sundari langsung masuk menyusul Hani sementara Ardi menunggu sampai tuannya masuk rumah lalu dia pun pulang.
***
Hani duduk di dekat jendela kamarnya. Dia menatap jauh ke luar jendela, seperti pikirannya yang berkelana jauh entah ke mana. Dia membuka tangan kanannya yang sedari tadi terkepal, jelas dia menggenggam sesuatu di tangannya.
Ternyata selembar kertas yang sedari tadi dia genggam. Dari kondisinya, tampak kertas itu sudah Hani remas. Perlahan Hani kembali membuka selembar kertas yang tampak sudah persis bola itu.
Hani menatap nanar, ternyata itu bukan hanya sekedar lembar kertas biasa. Itu adalah foto dirinya dan Ichal yang dia ambil enam bulan lalu sebelum Ichal ke Amerika. Foto polarid yang kata Hani mempunyai makna satu kali itu.
"Aku benci kamu!" Hani kembali meremas foto itu dan melemparkannya ke luar jendela.
Hani menutup jendela lalu merebahkan tubuhnya dengan kasar. Hani sudah berguling-guling tak karuan, dia sama sekali tidak bisa tertidur. Dia bangkit lalu mengambil botol obat di atas nakas lalu mengeluarkan beberapa butir dan menelannya.
Sejak kepergian Ichal ke amerika, Hani mengalami insomnia. Dia kesulitan untuk tidur, alhasil dia harus memakai bantuan obat tidur. Walaupun saat siang hari dia bisa tertawa dengan riang seperti tak pernah terjadi apapun, tapi saat kesunyian malam tiba, kesedihan itu akhirnya menyerang Hani bahkan saat Hani tertidur selalu didatangi mimpi buruk yang menyakitkan. Hani sangat ingin tertidur dengan damai. Namun, sekarang itu sangat sulit tanpa obat tidur.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Srindra dan juga teman-temannya, selama enam bulan ini Hani rutin berkonsultasi pada psikolog tentang kondisi yang dia alami. Bisa dibilang sekarang Hani tengah dalam kondisi depresi. Tidak dapat dipungkiri lagi, ternyata tanpa adanya Ichal, Hani benar-benar sangat menderita.
Jika saja ada kabar dari Ichal walaupun sedikit, mungkin Hani tidak akan se-depresi ini. Namun, karena tidak ada kabar apapun setelah Ichal pergi, ini malah makin menambah kegelisahan Hani. Entah bagaimana sekarang kondisi Ichal di sana.
__ADS_1
"Diaz." Hani menggumam sebelum akhirnya bisa terlelap.