Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.32 Ichal Bucin


__ADS_3

"Laras, kenalan aku Hani. Maaf ya, gara-gara aku Diaz jadi telat buat ngunjungin kamu padahal kemaren peringatan hari kematian kamu. Tapi Ichal malah jalan sama aku, maaf banget ya Ras," Hani membungkukan badan menyimpan bunga sambil mengusap nisan makam Laras.


Ichal tercengang mendengar Hani, berulang kali dia mengerjapkan mata tak percaya tiba-tiba Hani berlaku demikian. Pasalnya Ichal menyangka Hani hanya akan mengunjungi makam orang tuanya.


"Oh, iya Ras aku mau bilang aku sama Diaz udah jadian. Mungkin Dia juga belum bilang sama kamu,"


Hani terdiam beberapa saat membuat Ichal cemas.


"Han, kamu gak papa?" tanya Ichal cemas sambil menyentuh lengan Hani dengan lembut.


Hani tersenyum sambil meraih tangan Ichal dengan lembut. "Aku gak papa!"


"Karena aku udah pacaran sama Diaz, sekarang aku mohon sama kamu jangan bikin Ichal ketakutan atau kesakitan lagi! Kamu boleh masuk mimpi Ichal, tapi sebagai mimpi yang indah jangan bikin mimpi buruk buat Ichal. Kalian 'kan sahabat baik," ucap Hani lirih.


Ichal tersenyum sambil menggeleng mendengar Hani terus berceloteh ini dan itu di depan makam Laras.


"Ayo pulang!" ajak Hani.


"Lo-loh? Bukannya mau ke makam orang tua kamu ya?" tanya Ichal heran.


"Nggak! Siapa bilang? Aku ke sini cuma mau ketemu Laras aja." jawab Hani santai sambil mengangkat bahunya lalu berjalan kembali mendahului Ichal.


"E-eh?! Han, tunggu!" Ichal masih tercengang karena Hani.


Ichal terus mengekor di belakang Hani sambil menatap punggung Hani dia sesekali menggeleng.


"Gue masih gak ngerti sama Hani, dia bener-bener susah ditebak!" batin Ichal.


"Loh, ini Ichal 'kan?" suara berat seorang wanita membuyarkan lamunan Ichal tentang Hani.


Ichal tercengang lalu melihat sumber suara begitupun dengan Hani yang ikut penasaran.


"Loh, paman aneh?!" teriak Hani sambil menunjuk seorang pria yang mengekor di belakang wanita itu.


Ingatan Hani kembali terputar pada saat pria itu mendatangi rumahnya untuk mencari neneknya yang sudah cukup lama meninggal dunia.


"Lo-loh, anda?" ucap pria itu.


"Bunda Srindra!!! Apa kabar?" ucap Ichal setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Srindra?" gumam Hani saat mendengar nama wanita itu.


"Baik Chal, Bunda baik-baik aja! Kamu apa kabar?"


"Ichal juga baik-baik aja Bun!" jawab Ichal sumringah.


"Kamu abis dari makam Laras ya? Bunda juga mau ke makam Laras, sudah cukup lama Bunda tidak mengunjungi makam Laras,"


"Lalu, dia siapa?" tanya Srindra melihat Hani yang terus menatap dirinya.


"Ah, ini Hani," jawab Ichal.


"Cantik sekali!" ucap Srindra sambil mengelus rambut Hani dengan lembut, anehnya Hani merasakan perasaan yang tak dapat dijelaskan.


Seolah tiba-tiba muncul perasaan tenang saat tangan Srindra mengelus rambutnya dengan lembut.


"Kalau begitu, Bunda lanjut dulu ya. Kalian pulang udah sore, kalau mau kalian boleh datang berkunjung ke rumah Bunda," ucap Srindra dengan senyuman lembut menenangkan.


"Tapi, Ichal gak tahu rumah Bunda sekarang dimana?"


"Ah, iya! Bunda sibuk sembunyi jadi gak ada yang tahu Bunda pindah kemana hahaha! Ya, sudah nanti Ardi kamu kasih tahu alamat saya pada Ichal dan Hani!" perintah Srindra pada pria yang sedari tadi ada di belakangnya.


"Kalau begitu Bunda lanjut ya!"


"Iya Bun,"


Ichal memperhatikan punggung kedua orang itu yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Ayo Han pulang!" ajak Ichal.


"Bentar dulu,"


"Kenapa lagi?" tanya Ichal heran melihat Hani yang menyipitkan matanya saat melihat punggung kedua orang itu.


"Sshhh ... Paman aneh yang tadi siapanya dia?" tanya Hani menyelidik.


"Kenapa kamu nanyain Om Ardi?" tanya Ichal heran.


"Jangan-jangan kamu suka sama om-om lagi?" ucap Ichal dengan suara dibuat-buat manja.


"Ih, apaan sih?! Aku nanya serius juga!" teriak Hani kesal.

__ADS_1


"Udaaah ayo pulang!" Ichal terkikik sambil menarik tangan Hani untuk memasuki mobilnya.


***


"Kenapa sih? Dari tadi manyun aja?" tanya Ichal.


"Kamu gak jawab Paman yang tadi itu siapa?" ucap Hani sambil tetap mengerucutkan bibirnya.


"Segitu penasarannya ya kamu? Dia Om Ardi sekretarisnya Bunda. Dia kerja sama Bunda udah lama banget, pokonya dia itu orang kepercayaannya Bunda," jawab Ichal.


"Aaaaah, pantesan," gumam Hani.


"Kenapa tanya itu?" tanya Ichal penasaran.


"Beberapa bulan lalu Paman itu pernah ke rumah aku, tanyain Nenek. Tapi gak tahu buat apa, aneh banget!" jawab Hani.


"Ooh, mungkin mendiang Nenek kamu temannya Bunda kali,"


"Iya, bisa jadi," ucap Hani.


"Emang bener sih pasti Nenek, Papah, sama Mamah ada hubungan sama Bunda Srindra," ucap Hani dalam hati.


"Kamu gak mau masuk Han?" ucap Ichal saat melihat Hani malah melamun di dalam mobilnya padahal sudah cukup lama mereka sampai di depan rumah Hani.


Hani celingak-celinguk melihat sekeliling.


"Bukannya bilang dari tadi kalau udah sampe!" ucap Hani malu.


"Ya udah aku masuk dulu ya!"


Hani berlari kecil memasuki rumahnya.


Drrrrt ....


Ponsel Hani bergetar pertanda seseorang menelponnya. Hani tersenyum saat melihat nama yang tertulis di layar ponselnya.


"Ada apa? Kita baru aja pisah beberapa menit," ucap Hani dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


["Aku rindu!"]


"Tapi kita baru beberapa menit doang pisahnya!" Hani terkikik geli.


["Kenapa ketawa, emang gak boleh kalau aku rindu pacar aku?!"]


["Terus kenapa kamu ketawa?"]


["Aku gak nyangka aja, seorang Diaz Angga Ananta yang terkenal dingin ternyata bisa se bucin ini"]


Ichal terus mendengar tawa cekikikan Hani di seberang telponnya, entah kenapa menjadi kesal.


"Apa?! Bucin?!" batin Ichal kesal.


***


Keesokan harinya ....


Ichal berjalan gontai mengikuti langkah Hani.


"Hah?! Bucin?! Siapa? Gue?! Issshh!" batin Ichal kesal saat teringat ucapan Hani.


"Oke, gue gak bakal bucin lagi!" gumam Ichal kesal.


"Woy, kenapa lu pagi-lagi muka udah ditekuk aja?" tanya Andri heran melihat tingkah Ichal.


"Nyet? Emang gue bucin ya?" tanya Ichal dengan wajah memelas.


"Aduh! Jangan pake muka gitu, kesel bat gue!" ucap Andri sambil berjalan meninggalkan Ichal.


"Chika? Emang gue kalah cantik dari Hani ya? Kenapa Ichal lebih milih Hani dari pada gue huwaaaa ...!" ucap Salsa sambil merengek pada Chika.


"Busyeeeet! Hari ini orang-orang pada kenapa sih? Heran gue!" Andri menggeleng heran saat memasuki kelas melihat Salsa yang merengek pada Chika.


"Yayaaaang Bintaaaaan!" teriak Andri saat melihat Bintan memasuki kelas, membuat Bintan bergidik ngeri.


"Jangan ngomong sama gue!" ketus Bintan.


Hani yang sudah duduk di kursinya melihat keributan di kelasnya hanya menggeleng pelan.


"Diaz mana sih kok gak masuk-masuk ke kelas?" gumam Hani.


Sementara itu Ichal tengah merasakan dilema yang sangat besar di balik pintu kelasnya.

__ADS_1


"Masuk gak nih? Aduuuuh mana malu lagi, Hani udah bilang gue bucin!" gumam Ichal sambil memperhatikan Hani dari sela pintu.


Hani tengah asik melihat keluar jendela.


"Han, Bu Rahma panggil kita ke ruangannya," Barsena membuyarkan lamunannya.


Hani mengangguk lalu mengekor di belakang Barsena.


"Loh? Loh? Hani mau kemana sama Barsena?" Ichal kaget saat melihat Hani mengikuti langkah Barsena.


"Dasar kurang ajar!" ucap Ichal kesal sambil mengikuti Hani dan Barsena.


"Mau kemana kalian hah?" gumam Ichal.


Ichal terus berjalan dengan perasaan dongkol mengikuti Hani dan Barsena.


"Kak Ichal? Aku boleh ngomong sama Kakak?" tiba-tiba seorang gadis menghalangi Ichal, sehingga Ichal tertinggal.


"Aduh! Gue udah punya pacar, jadi jangan ngajak ngomong gue sembarangan!" bentak Ichal kesal.


Ichal berlari mencoba menyusul Hani dan Barsena, namun mereka telah menghilang dari pandangan Ichal entah kemana.


"Aaaarrrggghhh siaaaal!" teriak Ichal frustrasi sambil mengacak rambutnya.


"Loh, Diaz ngapain disini?" suara lembut yang menenangkan terdengar di telinga Ichal.


"Haniiiiii!" teriak Ichal sambil berbalik memeluk Hani.


"Lo-loh, Diaz kenapa sih? Malu ih!" Hani meronta mencoba melepaskan pelukan Ichal.


"Eheeeem!" seseorang berdehem membuat Ichal tersadar dan mengurai pelukannya.


"Diaz, ini lingkungan sekolah Ibu harap kamu bisa menahan," ucap Rahma yang melihat kejadian barusan.


"Ayo kembali ke kelas!"


"Baik bu!" ucap Hani, Ichal dan Barsena serentak.


"Lebay banget lu, bucin!" bisik Barsena terkikik mengejek Ichal sambil berjalan mengekor Rahma dan Hani.


"Br*ngs*k!!! Gue gak bucin!" teriak Ichal.


"Diaz!!!" Rahma membalikan badannya menegur Ichal.


Tubuh Ichal lunglai lalu mengikuti langkah mereka ke kelas.


***


"Ardi, bagaimana perkembangan penyelidikan kamu tentang kematian Sundari yang terlalu tiba-tiba?" suara berat Srindra terdengar sedikit menakutkan.


"Untuk sekarang menurut keterangan dokter yang menangani Nyonya Sundari masih ditetapkan penyebab meninggalnya Nyonya Sundari adalah karena serangan jantung, tetapi saya tetap berusaha untuk mengungkap hal yang sebenarnya," jawab Ardi.


"Saya harap kamu bisa membantu saya mengungkap kematian Sundari, saya takut ini seperti yang terjadi pada mendiang adik saya dan isterinya! Bisa jadi sebentar lagi giliran saya!" suara berat Srindra terdengar bergetar.


"Baik Nyonya! Kalau begitu saya permisi!" Ardi pamit lalu keluar dari ruangan Srindra.


Srindra bangkit dari kursinya, dengan langkah gemetar dia mengambil sebuah foto yang terbingkai rapi.


"Kenapa nasib buruk selalu datang kepada keluarga kita? Bisa jadi sebentar lagi giliranku, tapi aku akan berusaha untuk mengungkap yang sebenarnya terjadi sebelum giliranku tiba!" gumam Srindra sambil mengusap bingkai foto itu.


Ardi melihat sebuah pesan masuk di ponselnya.


[Saya sudah menyelidiki, ternyata dokter yang menangani Sundari mempunyai hubungan cukup kuat dengan Baron Utama]


"Bingo!!!" gumam Ardi sambil tersenyum saat membaca pesan di ponselnya.


***


Tring!


[Barsena sayang, kamu keterlaluan udah mengabaikan aku. Pulang sekolah nanti anterin aku buat belanja! Jangan telat!]


Barsena mendengus saat membaca pesan menjengkelkan dari Andin.


Barsena mengetik sambil mendengus kesal untuk membalas pesan Andin.


Tring!


Andin membaca pesan balasan dari Barsena.


[Lo punya kaki, punya tangan, punya mobil, punya duit, mending lo cari sopir baru aja! Sekarang gue berhenti jadi sopir lo!]

__ADS_1


"Br*ngs*k!!!" teriak Andin kesal sambil menggebrak meja membuat seisi kelas kaget dibuatnya.


Sementara itu Barsena tersenyum puas setelah membalas pesan Andin.


__ADS_2