
Srindra mendapat kabar bahwa Adamar mengalami kecelakaan mobil. Dia langsung menuju rumah sakit. Namun, sesampainya di rumah sakit Srindra hanya mendapati Laras kecil yang tengah dirawat. Tubuhnya penuh dengan alat menepel, dan dokter mengatakan bahwa Laras kecil mengalami koma karena benturan di kepalanya. Kaki kanannya patah, dan beberapa luka di tubuhnya yang cukup parah untuk anak berusia kurang dari dua tahun.
"Mana adik, Saya?" Srindra langsung menanyakan keberadaan Adamar setelah melihat kondisi Laras yang mengenaskan.
Srindra langsung di bawa ke sebuah ruangan terpisah dari tempat Laras kecil dirawat. Dia terkejut ketika mendapati Adamar dan Marwah sudah terbujur kaku tak bernyawa. Dokter mengatakan jika keduanya meninggal di tempat kejadian karena tak langsung ditangani. Hal ini terjadi, karena kecelakaan itu terlambat ditemukan jadi tidak ada yang melaporkan.
Tangisan Srindra langsung pecah melihat kedua orang di hadapanya sudah tak bernyawa. Beberapa perawat langsung mencoba menenangkan Srindra yang histeris.
Srindra yang masih syok menunggu di samping Laras kecil yang koma.
"Malang sekali, nasibmu, Nak. Kamu harus mengalami hal seperti ini. Aku, bersumpah akan melindungimu, Sayang!" batin Srindra.
***
"Jadi saat kecelakaan itu, Lar ... maksudku, Kak Laras juga ikut jadi korban?" tanya Hani. Dia terkejut saat mendengar cerita Srindra.
Srindra mengangguk. "Iya, bahkan dia sampai mengalami trauma. Hingga usianya hampir tujuh tahun, Laras belum bisa berbicara," ungkapnya.
Srindra menghapus setitik air mata yang jatuh di pelupuk matanya saat menceritakan kembali kisah menyakitkan tentang kedua orang tua Hani.
"Lalu, penyebab mobil, Mamah sama Papah kecelakaan itu apa?"
"Polisi bilang kabel rem mobil Papahmu sudah dipotong oleh seseorang!"
"Dipotong?! Astaga!" hardik Hani.
Hani begitu kesal dan benar-benar membenci semua pelaku yang terlibat dalam kematian orang tuanya.
"Lalu, Kak Laras? Bagaimana, Kak Laras bisa pulih?" tanya Hani.
"Itu semua berkat, Ichal," jawab Srindra.
"Ichal? Maksud, Bunda, Diaz?" Tanya Hani tak percaya.
"Iya, Ichal, Diaz, yang sekarang dengan setia menunggu kamu!" jawab Srindra.
Srindra tersenyum lembut melihat wajah terkejut Hani. Mulutnya masih menganga karena terkejut ketika Ichal menghampiri mereka.
"Ichal, yang sudah membuat trauma pada diri Laras sedikit demi sedikit menghilang dan bahkan tersembuhkan." Ungkap Srindra sambil melambaikan tangan isyarat agar Ichal mendekat ke sisinya.
"Ichal, yang membantu Laras mau membuka suara,"
"Ichal, yang membantu Laras belajar berjalan,"
"Ichal, yang menghajar anak-anak yang mengejek Laras karena bisu,"
"Ichal, yang selalu menjaga dan melindungi Laras,"
"Ichal, yang akhirnya membuat Laras mau membuka suara untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Bunda, ingat itu terjadi setelah Laras satu tahun bersama Ichal, dan Laras menjadi anak ceria dan baik hati,"
"Ichal, yang menjadi teman Laras hingga Laras meninggal dunia,"
Srindra menangis saat mengungkapkan hal-hal yang Ichal lakukan untuk Laras. Pikirannya kembali tenggelam pada masa-masa sulit saat membesarkan Laras. Trauma yang dideritanya membuat pertumbuhan pada Laras menjadi terhambat. Dia menjadi kesulitan berbicara dan berjalan.
"Dulu, Laras sering diejek karena umurnya paling tua dikelas," ucap Srindra.
"Iya, tanganku sampai sakit karena terus menghajar mereka yang mengejek Laras!" Ucap Ichal sambil tertawa.
"Tapi kenapa, Kak Laras paling tua?" Hani tak mengerti.
"Dulu, aku sama Laras satu kelas. Umur Laras hampir dua tahun lebih tua dari aku dan anak-anak yang lain, makanya anak-anak sial*n itu mengejek Laras. Mereka bilang Laras gak naik kelas," jelas Ichal kesal.
"Karena Laras harus fokus pada terapinya, hingga dia terlambat masuk ke sekolah," timpal Srindra.
Hani mengangguk mengerti dengan penjelasan mereka.
__ADS_1
"Pasti, waktu itu sulit banget buat, Kak Laras!" gumam Hani.
***
Hani terlalu asyik mendengarkan cerita Srindra hingga tak terasa malam sudah menjelang, Srindra akhirnya meminta Ichal dan Hani untuk menginap saja dirumahnya.
Hani tengah duduk-duduk di pinggir kolam renang di belakang rumah Srindra. Ichal duduk di samping Hani yang tengah asyik menatap langit malam.
"Cantik banget langit malam ini, bener 'kan, Diaz?" tanya Hani. Matanya masih tetap menatap langit dengan bintang yang berkelip.
"Iya, cantik banget." Ichal bergumam sambil menatap wajah Hani dari samping.
Hani yang menyadari tatapan Ichal, menjadi salah tingkah.
"Diaz,"
"Hmm,"
"Awal pertemuan kamu sama, Kak Laras, gimana? Eh, Bunda sama Tante Tamara 'kan saling kenal, ya? Makanya kalian bisa saling kenal juga,"
"Bunda sama Mamah emang saling kenal, tapi aku sebelumnya gak tahu kalau Laras anaknya Bunda," ucap Ichal.
"Dulu aku pertama kali ketemu Laras waktu di rumah sakit, pas aku harus periksa rutin. Aku ketemu Laras di sana," lanjutnya.
"Ooooh, kalian pasti temen baik banget," gumam Hani.
Ichal menghela nafas lalu mengangguk. Mereka benar-benar teman baik, bahkan sampai akhirnya Laras harus meninggal dunia.
"Andai aja, Kak Laras masih hidup, aku pasti seneng banget punya kakak!"
***
Pagi menjelang, Hani terbangun saat seseorang mengelus rambutnya dengan lembut. Perlahan Hani mengerjapkan mata, ternyata Srindra yang mengelus rambutnya.
"Hmmm, Bunda."
"Bangun, sarapan dulu," bisik Srindra.
Hani mengangguk, Srindra keluar lebih dahulu. Hani membersihkan diri lalu ke ruang makan, di sana sudah tersedia makanan untuk Hani sarapan.
"Diaz, mana?" tanya Hani. Dia tak melihat keberadaan Ichal di meja makan padahal jelas-jelas Ichal juga menginap di rumah Srindra.
"Oh, Ichal? Dia pulang duluan diantar Ardi, dia harus bersiap-siap buat sekolah. Dia bilang mau jemput kamu juga," jawab Srindra.
"Oh,"
"Kamu sarapan dulu, lalu siap-siap. Seragam kamu sudah Bunda siapakan di kamar. Kamu mau kan mulai hari ini tinggal di sini sama Bunda?"
Hani terdiam sejenak, lalu mengangguk. Baginya sudah tak ada lagi alasan untuk menolak untuk tinggal dengan wanita baik di hadapannya.
"Nanti, Bunda, minta Ardi untuk mengurus semua barang-barang kamu di rumah Sundari untuk dipindahkan ke sini,"
"Iya, Bunda."
Hani telah selesai bersiap, dia masih menunggu Ichal untuk menjemputnya. Cukup lama, hingga akhirnya yang ditunggu 'pun datang.
"Ayo, berangkat!" ajak Ichal.
Hani langsung berpamitan dan langsung masuk ke mobil Ichal. Sudah lumayan lama Hani tidak menaiki mobil Ichal.
"Padahal ini tahun terakhir, aku malah bolos hampir seminggu," ucap Hani.
"Seminggu doang? Apa kabar aku? Banyaaaak!" pekik Ichal.
Ichal menertawakan Hani yang mengkhawatirkan kebolosannya selama beberapa hari, padahal jika dibandingkan dengan kebolosan yang Ichal lakukan tentunya bukan apa-apa.
__ADS_1
"Barsena gimana?" tanya Hani.
"Katanya sih besok mulai masuk, kalau Salsa hari ini dia udah masuk,"
Hani mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi aku kasihan sama Salsa," ucap Ichal.
"Kenapa?" tanya Hani heran.
"Kamu lihat aja nanti anak-anak bakalan gimana sama dia,"
***
Plok!
Satu butir telur tepat mendarat di belakang kepala Salsa, telur itu mengeluarkan bau tidak sedap, tampaknya telur itu sudah membusuk.
"Telur busuk, cocok buat cewek busuk kayak, Lo!" teriak orang yang melempar telur itu.
Plok!
Plok!
Plok!
Lagi dan lagi Salsa terus dilempari telur busuk. Salsa bahkan tak mampu mengangkat kepalanya karena takut telur itu mengenai wajahnya. Orang-orang yang sebelumnya pernah menjadi sasaran bullyan Salsa sedang membalas dendam. Karena, posisi Salsa sudah tidak setinggi dulu.
Ayahnya, Joko Gunawan sudah ditangkap polisi untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya. Otomatis Salsa sudah tidak menakutkan lagi bagi mereka.
"Anak orang jahat, gak cocok sekolah di sini!"
"Anak tukang rebut harta orang lain, minggat aja dari sekolah ini!"
"Bapaknya penjahat, anaknya udah pasti penjahat!"
Cemoohan demi cemoohan terus menggema untuk Salsa. Kalau diingat dari kesalahan Salsa yang pernah menyakiti dan mempermalukan mereka mungkin terlihat wajar jika kejadian seperti ini akhirnya menimpa Salsa. Namun, tetap saja itu sangat tidak patut untuk dilakukan. Tidak sepatutnya perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan jahat.
"Mat* aja dasar anak penjahat!" Teriak seorang gadis sambil menumpahkan satu ember air pel pada Salsa.
"Gimana rasanya? Enak? Enggak 'kan? Itu yang dulu gue rasain pas lo lakuin ini sama gue di depan anak-anak lain!" Teriak gadis itu membentak Salsa di hadapan orang-orang yang menonton dan mencemooh Salsa.
Salsa mengangkat kepalanya menatap gadia itu dengan tajam. Kini Salsa benar-benar basah kuyup, kotor dan berantakan.
"Apa, lo liat-liat? Masih mau gue siram? Oke!" Gadis itu kembali menumpahkan air kotor pada wajah Salsa, seketika suara tawa anak-anak lain menggema di seluruh penjuru sekolah.
Gadis itu juga tertawa sambil terpingkal-pingkal. Dia sepertinya puas sudah membuat Salsa berantakan.
"Berhenti!" teriak Hani.
Dia berlari tergesa-gesa menghampiri Salsa yang terduduk di lantai di antara kerumunan siswa lain yang menertawakannya. Setelah teriakan Hani seketika suasana jadi hening.
"Sal, lo gak papa?" tanya Ichal kemudian.
"Salsa, kamu gak papa?" tanya Hani. Dia berusaha membangunkan Salsa agar berdiri.
"Bintan, kamu apa-apaan sih? Jahat banget!" teriak Hani.
"Jahat? Gue jahat? Gak salah, Han?" Bintan tertawa mendengar ucapan Hani.
Gadis yang memprovokasi siswa yang lain untuk melakukan hal jahat pada Salsa ternyata adalah Bintan. Gadis yang selalu tampil baik pada Hani, ternyata menyimpan banyak dendam pada Salsa.
"Apa yang udah dilakuin sama Salsa, jauh lebih jahat, Hani!" hardik Bintan.
"Tetep aja, kamu gak berhak ngelakuin ini! Bintan aku gak nyangka kamu bisa kaya gini!" ucap Hani.
__ADS_1
"Gue emang selalu kaya gini, Han! Lo gak usah naif!" teriak Bintan.
"Berisik!" bentak Ichal.