Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.60 Hani Terkenal


__ADS_3

"Gue emang selalu kaya gini, Han! Lo gak usah naif!" teriak Bintan.


"Berisik!" bentak Ichal.


"Lo, juga, Chal. Gara-gara cowok sok keren kayak, Lo, gue jadi sasaran cewek gil* ini!" Bintan berteriak pada Ichal sambil menunjuk Salsa.


Salsa masih terdiam, dia tak mengeluarkan suara sedikitpun bahkan setelah cemoohan yang diarahkan padanya.


"Bintan, udah cukup! Kamu keterlaluan!" pinta Hani.


"Keterlaluan? Lo lupa? Dia juga udah pernah mempermalukan lo di depan anak-anak?! Gue cuma mau dia juga ngerasain apa yang udah kita rasain!" teriak Bintan.


"Lu kenapa sih? Stres?" teriak Ichal.


"Ayo, Han. Bawa Salsa! Gak usah ladenin orang-orang stres kaya mereka," ajak Ichal.


Hani menuntun Salsa yang masih terdiam seribu bahasa. Dia tak mengucapkan sepatah kata 'pun walaupun kini mereka sudah ada di dalam toilet. Hani membawa Salsa ke toilet untuk membersihkan diri, tapi Salsa masih diam mematung.


"Sal, kamu gak papa 'kan? Ada yang sakit?" tanya Hani.


Perlahan terdengar isakan dari Salsa. Tiba-tiba Salsa menangis begitu saja di depan Hani.


"Sal, beneran ada yang sakit? Mana yang sakit?" Tanya Hani dengan wajah cemas.


Isakan Salsa malah semakin kencang saja, malah lambat laun mirip seperti meraung.


"Sal?" panggil Hani.


"Maafin, gue!" Suara Salsa terdengar parau dan bergetar.


"Maafin gue, Han. Maafin, gue!" Salsa menatap wajah Hani dengan tatapan sendu.


Matanya sembab karena menangis. Sebagian wajahnya tertutupi rambut yang basah berantakan akibat ulah Bintan dan siswa lain.


"Maaf? Buat apa, Sal?" tanya Hani. Dia tidak mengerti maksud Salsa.


"Gue udah ngelakuin banyak salah sama, Lo. Padahal, Lo gak pernah bikin salah apa-apa sama gue," jawabnya dengan suara parau disela isakan tangisnya.


"Aku udah maafin kamu, Salsa. Aku udah lupain semuanya, kamu gak usah minta maaf sampai kaya gini! Aku udah maafin kamu." Hani menyibak rambut Salsa yang menghalangi, kini Hani bisa jelas melihat ada luka sayatan di pelipisnya.


"Lihat! Kita udah temenan 'kan? Bahkan kita punya luka sayatan yang sama." Ucap Hani sambil tergelak, dia merasa geli ketika menyadari Salsa dan dirinya mengalami hal yang sama.


Salsa juga ikut tersenyum, dia tiba-tiba mengagumi sosok Hani. Hani begitu luar biasa di mata Salsa, sosok pemaaf dan ceria. Sepertinya Salsa mulai bisa berubah sedikit demi sedikit dari kelakuan buruknya dan bisa belajar dari sosok Hani.


"Aku masih gak ngerti, kenapa kamu juga bisa diculik waktu itu sama Andin." Hani terkekeh pelan.


"Gak tahu, dasar Andin cewek gil*!" umpat Salsa. Dia tiba-tiba merasa geram setelah mendengar nama Andin.


Hani kembali tertawa membuat Andin merasa heran.


"Ke-kenapa?" tanya Salsa.


"Gak papa, ini baru Salsa! Salsa yang keras dan angkuh, bukan Salsa yang lemah." Ucap Hani sambil tertawa.


Salsa juga ikut tertawa setelah mendengar ucapan Hani.


"Gimana nih? Ini bakal susah banget buat dibersihin, jahat banget sih mereka pakai telur busuk segala!"


"Gak papa, Han. Mungkin ini karma buat gue!"


"Terus gimana dong? Hari ini kamu bakal bolos lagi dong?"


"Iya, gue pulang aja. Gue ke rumah sakit aja biar sama Barsena," ucap Salsa.


"Oh, ya udah. Omong-omong, selamat ya kalian udah pacaran," goda Hani.

__ADS_1


"Pa-pacaran? Ka-kata siapa?" Tanya Andin gugup.


"Ada deh." Goda Hani sambil mengedipkan sebelah matanya.


Wajah Andin jadi memerah. Dia merasa heran mengapa Hani bisa tahu padahal hal itu masih Salsa rahasiakan dari siapapun.


Salsa dan Hani keluar dari toilet sambil tertawa-tawa dan berbincang tampak akrab sekali. Ichal yang melihat itu merasa heran, mengapa tiba-tiba kedua gadis itu jadi terlihat akrab padahal tahu sendiri sifat Salsa yang angkuh sulit sekali akrab dengan orang lain.


"Kenapa kalian tiba-tiba jadi akrab?" tanya Ichal heran.


"Bukan urusan, Lo!" ketus Salsa.


"Idih, kok ngedadak ketus? Padahal dulu ngejar-ngejar gue, mentang-mentang udah punya Barsena," goda Ichal.


Lagi-lagi wajah Salsa memerah, dia merasa heran pula kenapa mereka bisa tahu kalau Salsa dan Barsena sudah berpacaran.


"Sial! Kenapa mereka pada tahu sih?!" batin Salsa.


"Emmm, Han. Gue, langsung balik aja ya. Hari ini gue bolos lagi, daaaah!" Salsa langsung berpamitan.


"Pasti mau ketemu Barsena 'kan?!" teriak Ichal menggoda Salsa yang sudah berlari menjauh tapi pasti suara Ichal bisa terdengar jelas oleh telinga Salsa walaupun jaraknya sudah lumayan jauh.


"Pasti Salsa kaget banget pas kita udah tahu tentang mereka pacaran 'kan?" bisik Hani. Ichal mengangguk menyetujui Hani.


***


"Selamat pagi, pewaris tahta!" teriak Andri.


Pletak!


Satu tamparan mendarat di dahi Andri, Ichal pelakunya.


"Lu kenapa sih? Asal tabok aja!" kesal Andri.


"Lu gak usah ngomong yang enggak-enggak! Nanti Hani gak nyaman!"


"Omong-omong kalian pada lihat Salsa, gak? Yayang Chika dari tadi nyariin dia," tanya Andri.


"Yayang Chika?!" pekik Ichal dan Hani berbarengan.


"Iya, kita udah jadian," ucap Andri enteng.


"Salsa udah balik, mau ketemu Barsena kali," jawab Ichal sekenanya.


"Balik? Baru juga jam segini, masa udah balik,"


"Lu gatau sih, dia dibully abis-abisan sama anak-anak terutama si Bintan!"


"Yayang Bintan? Kok jahat?" ucap Andri.


"Kamu tuh sebenernya mau sama Chika atau sama Bintan sih? Kok sama ini Yayang, sama itu juga, Yayang?" tanya Hani. Dia memutar bola matanya malas mendengar ocehan tak konsisten dari Andri.


"Hey, strategi ini buaya darat, Han. Kalau misalnya gagal sama yang ini bisa sama yang itu." Ucap Andri sambil terkekeh, tak sadar dari tadi Chika sudah berdiri di belakang Andri mendengarkan strategi buaya daratnya.


"Oh, jadi gitu? Dasar cowok kurang ajar!" sahut Chika. Dia langsung menjewer kuping Andri di hadapan Hani dan Ichal hingga Andri meringis kesakitan.


"Ampun, Yayang. Ampun!" Andri memohon-mohon membuat yang menonton ikut tertawa geli.


"Gak ada Yayang-Yayang! Dasar buaya darat!" teriak Chika. Dia langsung pergi merajuk setelah menendang tulang kering Andri.


"Aduh, gawat nih. Gue ngejar Yayang gue dulu, bye!"


Andri langsung berlari mengejar Chika sambil sedikit meringis merasakan sakit di tulang keringnya akibat tendangan Chika. Hani dan Ichal hanya bisa tertawa melihat tingkah Andri.


"Lagian, berani amat maen-maen sama petarung." Ichal tertawa geli.

__ADS_1


"Iya, aku baru tahu ternyata Chika jago karate," timpal Hani. Lalu mereka kembali tertawa bersama-sama.


Ichal melirik Hani yang tengah tertawa terbahak-bahak.


"Andai selamanya gue bisa lihat senyuman manis Hani, sayangnya itu gak mungkin lagi buat gue," batin Ichal.


***


Pelajaran demi pelajaran sudah disampaikan oleh guru-guru yang bergantian masuk ke kelas. Sepertinya Ichal juga sudah tidur beberapa ronde saking membosankannya pelajaran hari ini. Hani juga sampai bosan membangunkan Ichal yang terus tertidur di sampingnya.


Sudah waktunya untuk pulang, sepanjang berjalan di koridor sekolah, Hani merasa aneh. Mengapa orang-orang terus menatap dirinya, memang setelah Hani bersama Ichal selalu menjadi pusat perhatian tapi kali ini terasa berbeda. Tatapan orang-orang itu bukan lagi tatapan jijik atau benci, melainkan lebih seperti kagum dan tak percaya.


"Mereka kenapa sih, aku jadi ga enak diliatin," bisik Hani pada Ichal.


Ichal menatap tajam mereka yang terus menatapi Hani. Tatapan Ichal seolah melarang orang-orang itu menatap Hani selain dirinya.


"Gue gak nyangka, ternyata cewe cupu itu anak orang kaya,"


"Ternyata sekolahan ini milik bapak dia,"


"Jadi nyesel gue gak temenan sama dia,"


Terdengar suara orang-orang yang terus berbisik ini dan itu tentang Hani.


"Diem, ya, manusia-manusia palsu!" teriak Andri tiba-tiba di belakang Hani dan Ichal.


Hani dan Ichal tertawa mendengar celetukan Andri. Berkat Andri, sekarang Hani tak lagi jadi pusat perhatian. Perlahan orang-orang itu membubarkan diri untuk langsung pulang ke rumah masing-masing.


"Makasih ya, Andri. Aku gak suka jadi pusat perhatian, tapi berkat kamu, mereka jadi bubar," ucap Hani lega.


"Siapa dulu dong, Abang Andri," jawab Andri. Dia menepuk dadanya untuk membanggakan dirinya sendiri.


"Ayo, Han, pulang! Jangan dengerin bocah berisik kayak dia." Ichal langsung menggenggam tangan Hani dan menariknya.


"Huh, rese lu, Chal!" teriak Andri.


***


"Kamu pulang ke rumah mana, Han?" tanya Ichal saat sudah di dalam mobil.


"Rumah Bunda, mulai sekarang aku tinggal di rumah Bunda," jawab Hani.


Ichal langsung melajukan mobilnya untuk mengantarkan Hani pulang. Saat sampai di rumah Srindra, suasana di depan gerbang tampak sangat ramai oleh orang-orang yang terlihat membawa kamera dan alat rekam lainnya.


"Penuh banget, Han. Gimana, nih?"


"Aku gak tahu, coba aku telepon Bunda dulu, tanya aku bisa masuk apa nggak." Hani merogoh ponselnya di dalam tas, lalu menekan nomor ponsel milik Srindra.


"Gak diangkat," ucap Hani setelah menunggu jawaban telepon dari Srindra.


"Coba telepon, Om Ardi, siapa tahu dia angkat!" usul Ichal. Hani mengangguk lalu mencoba menelepon Ardi, tapi sama-sama nihil. Tak ada jawaban dari sana.


"Jadi, gimana, Han? Mau masuk atau tunggu sampai orang-orang itu bubar?" tanya Ichal memastikan.


Hani terdiam sejenak, dia memikirkan solusi yang mungkin harus dia lakukan.


"Kita masuk aja deh, aku takut ada sesuatu yang terjadi sama Bunda," ucap Hani.


Ichal langsung kembali melajukan mobilnya, saat tepat di depan kerumunan orang-orang itu, Ichal langsung menyalakan klakson untuk memberi tanda agar gerbang dibuka.


Setelah klakson dibunyikan, seorang penjaga datang dengan berlari kecil untuk membuka gerbang. Kerumunan orang-orang itu langsung menyingkir ke pinggir memberi jalan mobil Ichal masuk.


"Nona Hani, bisa kami mewawancarai Anda?" teriak seseorang di antara kerumunan itu sambil mengetuk kaca mobil milik Ichal sesaat sebelum mobil Ichal berhasil masuk.


Karena teriakan orang itu, akhirnya memancing kehebohan yang lainnya yang sepertinya memang menunggu Hani.

__ADS_1


"Hah, wawancara? maksudnya apa, Diaz?" tanya Hani pada Ichal, dia sama sekali tak mengerti.


__ADS_2