Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.45 Ichal Berubah


__ADS_3

"Kenapa dia kaya gitu, Barsena?" Hani menggumam lalu memutar kepalanya menatap Barsena yang kini berdiri tepat di sampingnya.


Barsena ikut menatap Hani, kini dia melihat hanya rona kesedihan yang ada di wajah Hani. Barsena menggeleng perlahan untuk merespon pertanyaan Hani, lagi-lagi dia mendengar helaan nafas panjang Hani. Barsena menarik tangan Hani membawanya ke kelas, saking lemas dan lunglainya hingga Hani tak sanggup untuk berontak saat Barsena menyentuh tangannya.


"Dia kenapa sih?"


Barsena kembali menghela nafas saat mendengar pertanyaan Hani.


"Aku gak tahu, Han," jawabnya.


"Aku kayaknya kurang sehat deh, mau pulang aja. Aku boleh minta tolong sama kamu, tolong minta surat izin buat aku dong! Aku mau pulang!" ucap Hani dengan tubuh yang lemas lunglai.


Barsena mengangguk, Hani langsung berjalan menuju kelas untuk mengambil tasnya untuk pulang. Barsena kembali menghela nafas panjang melihat langkah lunglai Hani.


"Apa lo gak keterlaluan, Chal? Bikin Hani sedih kaya gini," batin Barsena.


Barsena bergegas menuju ke tempat dimana Ichal berada. Dia menghampiri Ichal yang sedang memasukan sesendok bakso ke mulutnya dengan tatapan kosong dan lebih tepatnya dia malas sekali mencerna makanan itu. Padahal di sampingnya ada Salsa yang begitu heboh, senangnya bukan main. Bak tertimpa durian runtuh dia bisa dekat-dekat dengan Ichal.


"Chal," seru Barsena menepuk pundak Ichal.


Ada sedikit keterkejutan di wajah Ichal, namun berhasil di sembunyikan di balik wajah datarnya.


"Hmmm," Ichal menggumam menjawab Barsena.


"Gue mau ngomong!" ucap Barsena lalu melenggang meninggalkan kantin.


"Iiiiih apaan sih Barsena? Gue kan lagi seru sama Ichal sayang!" teriak Salsa kesal.


Ichal bangkit dari duduknya, tanpa menghiraukan Salsa dia langsung mengikuti langkah Barsena dengan tetap memasang wajah datarnya.


Sampailah Ichal di taman belakang dan seketika wajah datar yang sedari tadi dia pertontonkan berubah menjadi wajah penuh kesedihan dengan tatapan sayu yang menyedihkan.


Barsena lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Dia begitu pusing dan tidak mengerti dengan pasangan ini, padahal bisa saja Ichal jujur pada Hani agar semuanya tidak menjadi lebih rumit. Kalau seperti ini sama saja malah membuat Hani makin sedih.


"Kenapa?" tanya Barsena melihat wajah Ichal yang menyedihkan.


"Gue rindu Hani," Ichal menggumam.


Barsena menggelengkan kepalanya sambil kembali menghela nafas panjang.


"Lo ngapain sih pake acara jauhin Hani segala?"


"Gue sengaja, biar pas waktu gue abis. Hani gak perlu rindu sama gue apalagi menangis buat gue, karena nantinya Hani udah terbiasa tanpa gue!"


"Iya, gue ngerti! Tapi cara lo salah Chal!"


"Ini cara paling bener buat gue, Barsena!"


"Justru dengan lo kaya gini, lo makin bikin Hani sedih! Gue saranin lo jujur deh tentang penyakit lo Chal!" Barsena berkata dengan penuh penekanan.


Dia khawatir dengan keadaan dua orang itu. Ichal sahabatnya dan juga Hani yang dahulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.


"Gue gak tahu, gue gak siap bilang tentang ini!" Ichal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ichal begitu frustrasi dengan keadaannya sendiri. Terlalu menyulitkan untuknya hanya untuk berkata jujur pada Hani saja. Dia tidak sanggup melihat air mata keluar dari kelopak mata Hani, gadis yang benar-benar sukses membuat dia jatuh cinta.

__ADS_1


Sebenarnya menjauhi Hani seperti ini pun benar-benar membuat batinnya tersayat. Hatinya sakit namun menurutnya tak ada pilihan lain selain menjuhinya dari mulai sekarang, agar Hani bisa terbiasa tanpa ada dirinya. Sungguh pikiran Ichal yang rumit!


"Hani pulang, dia bilang mendadak gak enak badan," ujar Barsena.


Ichal tersentak kaget saat mendengar Barsena.


"Lo lihat kan, cara lo itu salah Chal! Hani benar-benar syok lihat lo tiba-tiba jauhin dia!"


Ichal menundukan kepalanya dalam, ada rasa penyesalan sudah menjauhi Hani.


Mereka terus berbicara tentang situasi yang tengah dihadapi Ichal tanpa sadar ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan dan dua pasang telinga yang mendengarkan isi percakapan mereka.


Mereka adalah Salsa dan Chika yang dengan sengaja mengikuti Ichal, karena penasaran. Dan benar-benar kaget saat mendengar saat mengetahui fakta mengejutkan tentang Ichal.


"Jadi, ini alasannya Ichal sering bolos kelas olahraga, Sal?" bisik Chika.


"Jadi ini alasannya, Ichal sayang jauhin Hani?" batin Salsa.


"Kayaknya kita udah lancang banget, Sal! Mending balik kelas aja yuk, gue gak enak udah nguping pembicaraan yang jelas-jelas privasi banget!" bisik Chika.


Namun Salsa tak menghiraukan, dia terus berusaha mendengar isi percakapan antara Barsena dan Ichal.


"Sal, ayo Sal!" Chika terus membujuk agar Salsa mau menurutinya untuk menyudahi kegiatan menguping pembicaraan orang ini.


"Okee ... okee ... ayo balik kel ... aaaass ... kyaaaa!"


Bruk!


Karena Salsa sedikit tidak berkonsentrasi dengan pijakannya, dia akhirnya tersandung akar pohon yang menjadi tempat mereka bersembunyi. Ichal dan Barsena menjadi sadar dengan keberadaan Salsa yang menguping pembicaraan mereka. Sementara Chika berhasil lari bersembunyi sebelum Ichal dan Barsena juga menyadari keberadaannya.


"Gue, gue cuma neduh bentar kok!" ucap Salsa gemetar.


"Lo nguping?" hardik Ichal.


"Ng-nggak! Gue gak nguping!" pekik Salsa.


"Udah, Chal! Mending lo balik kelas, Salsa biar gue yang urus!" ucap Barsena.


Dengan wajah kesal akhirnya Ichal mengangguk menyetujui saran Barsena. Dia takut kalau-kalau Salsa mendengar semua isi percakapan mereka, Salsa bisa saja membocorkan ke seluruh antero sekolah apalagi jika Hani mendengar masalah ini benar-benar membuat dirinya cemas bukan main.


Barsena mengamati tingkah Salsa yang sedang melirik Ichal yang berjalan ke arahnya, lalu melewatinya. Dia langsung menghela nafas lega saat Ichal hanya melewati dia tanpa berkata atau melakukan apa-apa.


Sembari mengelus dada karena merasa lega, Salsa langsung berbalik hendak kembali ke kelas. Entah dia lupa atau dia tidak menghiraukan keberadaan Barsena yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Salsa.


"Nona Salsabila Gunawan!"


Langkah Salsa tercekat baru satu langkah Salsa melangkah hendak menuju ke kelasnya, suara khas laki-laki Barsena terdengar mengintimidasi.


"Apa!" Salsa masih bisa berakting pura-pura tidak takut, padahal Barsena adalah orang yang juga menakutkan setelah Ichal.


Apalagi Barsena pernah membuat Salsa menyikat toilet karena perlakuan kejam Salsa pada Hani ditambah lagi dengan Barsena yang sudah memergokinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.


"Mau kemana?" Barsena kembali membuka suaranya sambil menyeringai.


"Ke kelas lah, ke mana lagi?" ketus Salsa.

__ADS_1


"Santai dong! Lo barusan nguping?"


"Nggak! Gue bilang gue gak nguping! Ngapain juga gue nguping pembicaraan gak penting tentang alesan Ichal jauhin Ha ... ni, sial!" Salsa tidak sengaja mengakui bahwa dia telah menguping semua isi pembicaraan Ichal dan Barsena.


Ini benar-benar membuat dirinya kesal sendiri, tanpa sadar dia menggigit ujung bibirnya hingga berdarah. Dia benar-benar kesal pada dirinya sendiri.


"Lo tahu kan, kalau lo bocorin semua ini apalagi kalau sampai Hani tahu sebelum Ichal sendiri yang kasih tahu, rahasia lo bakalan bocor sama gue!" ancam Barsena.


Beruntung Barsena bisa melihat Salsa sedang menangis waktu itu, jadi dia bisa menggunakan itu untuk mengancam Salsa. Barsena tahu benar orang-orang seperti Salsa yang cendrung ingin selalu terlihat sempurna akan sangat khawatir dan takut jika kondisinya yang sedang tiak sempurna akan ketahuan oleh orang banyak.


"Sial, Barsena! Oke, gue janji gue gak bakal pernah bocorin ini sama siapapun. Asalkan lo jangan pernah bocorin masalah gue juga!" Salsa menangkupkan kedua telapak tangannya memohon pada Barsena.


"Masalah? Maksudnya masalah dia nangis sambil ingusan depan gue?" Barsena bertanya dalam hati, tak berani mengungkapkan rasa penasarannya secara langsung.


Barsena tersenyum merasa menang dari gadis yang selalu ditakuti ini.


"Oke!" ucapnya singkat.


Dengan langkah ringan dan percaya diri Barsena langsung meninggalkan Salsa yang kini telah berubah menahan kesal dan amarah pada Barsena.


"Mati lo Barsena, kalau lo sampe bocorin masalah gue dan keluarga gue!" murka Salsa dalam hati.


***


Di sisi lain, Hani mendudukan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa empuknya. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah setelah melihat sikap aneh Ichal yang menjauhinya. Hal ini dia lakukan agar bisa berfikir jernih dan tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Oke, tenang Hani! Kamu pasti bisa!" tekad Hani.


Namun tubuhnya begitu lemas dan lunglai tak seperti tekadnya. Tubuhnya menolak untuk bersemangat, dia merebahkan tubuh lemasnya. Sambil menatap langit-langit pikirannya melayang kemana-mana, kembali mengingat hal-hal indah yang telah dilakukannya bersama Ichal.


Ting tong!


Suara bel rumah membuyarkan lamunan Hani, dia tersentak dengan malas bangun dari posisinya untuk membuka pintu.


"Loh, Om Ardi ada perlu apa ke sini?" pekik Hani saat mengenali orang yang bertamu ke rumahnya.


"Ah, iya Nona. Saya di perintahkan Nyonya Srindra untuk menjemput anda," ungkapnya.


"Jemput aku? Ke mana?"


"Iya, ke rumahnya Nyonya,"


"Tapi kenapa?" tanya Hani, dia mengernyitkan dahinya heran karena merasa tidak ada hubungan apapun dengan Srindra.


"Kalau untuk alasannya, saya rasa hanya Nyonya yang berhak menjelasakan itu pada anda. Tugas saya hanya untuk menjemput anda,"


"Aneh, tapi ini kesempatan aku buat cari tahu lagi hubungan Srindra sama Papah, Mamah, dan juga Nenek," batin Hani.


"Oke, saya siap-siap dulu sebentar!"


Ardi mengangguk setelah mendengar ucapan Hani, setelah beberapa menit berlalu akhirnya Hani kembali lalu mengunci pintu.


Ardi mulai mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota, dan sampailah di rumah Srindra yang di jaga sangat ketat.


"Hani! Ayo masuk sayang!" Srindra merangkul Hani dan membawanya masuk.

__ADS_1


"Ta-tapi kenapa aku sampai di jemput ke sini, Bunda?"


__ADS_2