
"Han, hari ini aku mau bawa kamu ke suatu tempat," tanya Ichal.
"Hah? Tiba-tiba? Kemana?" Hani balik bertanya pada Ichal.
"Udah ikut aja!" dengan senyum Ichal menarik tangan Hani lembut, membuat lara gadis yang melihat itu menjadi iri.
"Ih, aku malu! Semua orang jadi liatin kita!" bisik Hani.
"Biarin! Biar semua orang tahu kalau kita pacaran!" ucap Ichal dengan suara lantang.
"Ih Diazzz!" teriak Hani kesal.
Ichal tersenyum gemas melihat ekspresi kesal Hani.
"Kita mau kemana?" Hani kembali bertanya saat sudah berada dalam mobil Ichal.
"Rumah aku!" jawab Ichal.
"Apa? Kenapa? Nanti ada mamah kamu, aku malu, 'kan dia belum tahu kita pacaran,"
"Tenang aja mamah udah tahu kok!" ucap Ichal enteng.
"Hah? Apa? Kapan? Makin malu dong akunya!" jerit Hani sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa kamu terus nanya sih? Dasar tukang penasaran!" ucap Ichal disertai tawa sambil tetap fokus pada jalanan.
"Ih, apaan sih?!" jerit Hani malu.
***
"Kamu duduk dulu aja, mau minum apa?" tanya Ichal lembut saat Hani mendaratkan tubuhnya di sofa empuk rumah Ichal.
"Apa aja deh," jawab Hani asal, sambil meneliti setiap sudut ruang tamu rumah Ichal.
"Oke, sebentar aku ke atas dulu!" ucap Ichal yang hanya di jawab anggukan oleh Hani.
"Luar biasa! Padahal aku udah pernah nginep di rumah ini, tapi masih tetep gak percaya ada rumah semewah dan seindah ini!" gumam Hani sambil tetap meneliti setiap benda dan desain interior rumah Ichal.
"Maaf Non, ini minumannya. Silakan diminum!" ucap seorang wanita setengah baya membuyarkan kekaguman Hani pada interior rumah Ichal.
"Eh, iya terima kasih Bu!" ucap Hani dengan senyum ramah.
Wanita itu hanya mengangguk lalu sedetik kemudian kembali ke dapur.
Hani meraih gelas berisi jus jeruk yang ada di meja, lalu dengan sekali tegukan Hani langsung menghabiskan jus jeruk itu.
"Aaaaaaaahhh!" suara hembusan nafas Hani, saat berhasil menghabiskan minuman dalam satu tegukan.
Hani berjalan-jalan untuk melihat-lihat rumah Ichal yang mengagumkan.
Dia melihat banyak sekali foto yang terpajang di sana. Hani tersenyum saat melihat foto Ichal kecil yang terlihat sangat imut dan manis, berbeda jauh dengan Ichal dewasa yang cenderung dingin. Ya, walaupun sekarang sudah mulai melunak sih.
Lalu perhatian Hani kembali terfokuskan pada sebuah foto yang terlihat sudah cukup lama. Di foto itu terdapat empat orang yang tersenyum.
"Senyum Diaz di sini kelihatan bahagia banget!" gumam Hani ikut tersenyum melihat foto itu.
"Ini papanya Diaz 'kan? Kok, kayak gak asing ya?" gumam Hani sambil tetap menatap foto itu.
"Duarrr!!! Lagi liatin apa sih? Serius banget?" tanya Ichal tiba-tiba membuat Hani kaget dan membuyarkan lamunannya.
"Ini, aku liatin foto-foto di sini, lucu-lucu banget! Apalagi ini." jawab Hani sambil menujukan satu foto Ichal.
"Kenapa itu foto masih dipajang juga sih? Malu-maluin!" batin Ichal kesal saat melihat foto yang ditunjukan oleh Hani.
Di foto itu terlihat Ichal kecil tengah tertidur dengan mulut menganga yang sangat memalukan bagi Ichal.
"Udah! Nanti aja liat-liatnya, sekarang kamu bantu aku!" ucap Ichal sambil meraih foto yang dipegang Hani, lalu menyimpannya kembali di rak.
"Bantu apa?" tanya Hani heran.
"Ayo ikut aja!" Ichal menarik pergelangan tangan Hani dengan lembut.
**
"Haaaaah?!" teriak Hani kaget.
"Kenapa?" tanya Ichal santai.
"Jadi maksud kamu bantuin itu, ba-bantuin kamu belajar?" teriak Hani melihat tumpukan buku di hadapannya dengan pupil bergetar tak percaya.
"Iya, dulu kamu bilang aku harus berubah 'kan supaya bisa lulus. Jadi ayo bantu aku buat belajar!" ucap Ichal dengan penuh tekad dan semangat.
"Ah, o-oke!"
__ADS_1
"Enak aja, si br*ngs*k Barsena bikin kamu terkesan sama tugas yang udah dia kerjain! Huh, gue juga bisa pinter kaya Barsena!" batin Ichal.
Satu jam kemudian ....
"Az ... Diaaaaaaazz! Diaz!" teriak Hani kesal.
"Ah, a-apa?" tanya Ichal gelagapan.
"Kamu bilang suruh bantuin kamu belajar, tapi kamu malah tidur," kesal Hani mengerucutkan bibirnya.
"Ah, dasar kenapa imut banget sih?!" batin Ichal gemas melihat tingkah Hani.
Dengan gemas Ichal mencubit pipi Hani tiba-tiba, membuat Hani semakin mengerucutkan bibirnya dan mengembungkan pipinya karena kesal.
Semakin Hani seperti itu, semakin Ichal makin gemas padanya.
"Kalau kamu ga mau belajar, anterin aku pulang sekarang!"
"Apa? O-oke aku sekarang bakal serius belajarnya!" ucap Ichal penuh semangat.
Hani tersenyum penuh kemenangan melihat Ichal dengan fokus mengerjakan soal latihan yang Hani buatkan.
Namun setengah jam kemudian ....
"Aaaaarrrgggghh!!! Han, aku gak kuat!" teriak Ichal frustrasi, membuat Hani yang melihat itu terkikik geli.
"Wah ... wah ... kemana perginya semua semangat kamu yang tadi?" ejek Hani.
Sruk!
tiba-tiba Ichal memeluk Hani dan membenamkan wajahnya di pundak Hani.
"E-eh, Diaz? Kenapa? Nanti ada yang lihat ih!" ucap Hani sambil meronta mencoba melepaskan pelukan Ichal.
"Gak bakal ada yang lihat! Sebentar aja kaya gini, aku perlu ngisi energi positif!" bisik Ichal membuat Hani menghentikan rontaannya.
Tanpa sadar Hani tersenyum melihat tingkah manja Ichal.
"Yaudah, kamu boleh ngisi energi positif kamu!" bisik Hani.
Setelah beberapa saat mereka bertahan dengan posisi itu. Hani merasakan pundaknya basah dan terasa dingin.
"Kamu nangis?" tanya Hani sambil berusaha melepaskan pelukan Ichal untuk melihat wajah Ichal.
"Tahan kaya gini Han! Kamu gak boleh lihat aku lemah!" bisik Ichal.
"I-iya!"
***
Sementara itu di tempat lain,
"Non, makan malam sudah siap! Ayo makan dulu!" suara lembut seorang wanita terdengar di balik pintu.
"Salsa gak mau makan Bu!"
"Ayo dong Non, nanti Non Salsa sakit loh!" bujuk wanita itu.
"Tapi Salsa gak mau Bu!"
Wanita itu menghela nafas panjang saat mendengar jawaban majikannya.
"Kenapa Bu?" tanya seorang gadis yang melihat wanita itu di depan pintu kamar Salsa.
"Eh, Non Irma. Ini, Non Salsa dari tadi belum makan saya coba bujuk tapi tetep gak mau." jawab wanita itu sambil kembali menghela nafas panjang.
"Oh, ya udah sini makanannya. Biar saya aja yang kasih makannya ke Salsa, biar saya aja yang paksa!" ucap Irma.
"Baik Non, terima kasih Non," ucap wanita itu lembut lalu undur diri.
"Woy! Salsa, lu kagak mau makan? Oh my god, nanti princess bakal kurus loh. Ih, nanti bakal gak cantik kalau kurus!" ejek Irma di balik pintu kamar Salsa sambil terkikik.
Krieeeet!
Pintu kamar Salsa yang semula terkunci rapat 'pun terbuka.
Irma memasuki kamar Salsa sambil membawa nampan makanan Salsa dengan senyum penuh kemenangan.
"Ngapain sih lo ke sini?" tanya Salsa kesal.
"Gue 'kan sepupu lo, emang gak boleh gitu gue kunjungin lo ke sini? Nih ambil." jawab Irma enteng, lalu menyerahkan nampan makanan Salsa.
"Ck ... sepupu sih sepupu, tapi kalau ada lo tuh berisik bikin pusing!" Salsa berdecak kesal.
__ADS_1
"Lo kenapa sih? Badmood banget, lagi dapet?"
"Gue kesel tahu, Ichal sayang udah jadian," sungut Salsa.
"Ichal yang ganteng itu? Jadian sama siapa? Pantesan badmood banget, ternyata sepupu gue lagi patah hati hahaha ... sini peluk!" Irma tertawa mengejek Salsa.
"Iya lah Ichal yang ganteng, emang ada lagi gitu Ichal yang lain," kesal Salsa.
"Jadian sama siapa? Gue gak nyangka ada yang kalahin pesona princess Salsa," Irma terus tertawa dengan nada mengejek.
"Aduuuuuh!!! Berisik banget sih, bikin lusing aja! Udah sana pulang!" usir Salsa.
"Eh, bentar Ichal jadian sama siapa? Gue penasaran anjir!"
"Gak penting lo juga gak bakal kenal!" Salsa terus mendorong Irma agar keluar dari kamarnya.
"Oke ... oke!!! Tapi lo jangan lupa makan! Jangan bikin Bu Inah kesusahan karena lo susah makan, oke!" pinta Irma.
"Gue gak laper!" ketus Salsa.
Krucuuuuk!
Salsa menyentuh perutnya yang berbunyi dengan keras, sementara Irma tertawa dengab terbahak-bahak mendengar suara gemuruh perut Salsa.
"Udah ih sana pulang!!!" usir Salsa.
"Oke, jangan lupa kasih makan cacing-cacing lo!" Irma berlalu sambil tak kuasa menahan tawanya.
"Iiiiiii ... perut malu-maluin!" jerit Salsa sambil membanting pintu kamarnya.
Dia bergegas melahap makanan tadi tanpa menyisakan sedikitpun kecuali piring.
"Tunggu aja, Ichal sayang bakal gue rebut!"
Sementara itu Irma tengah teemenung di dalam mobil.
"Hmmm ... kira-kira si Ichal jadian sama siapa ya? Gue gak nyangka dia nolak si Salsa hahahaha!" gumam Irma lalu tertawa sendiri membuat sopirnya tercengang seketika melihat majikannya tertawa sendiri.
"Maaf Non, anda gak papa?" tanya sopirnya khawatir saat Irma tak juga berhenti tertawa sendiri.
"Maksud Bapak apa? Saya gak papa, ayo pulang!" jawab Irma ketus.
Beberapa saat kemudian Irma kembali termenung sambil menatap keluar jendela mobil.
"Kalau lihat Salsa gue jadi inget si Andin, dulu dia juga gila gara-gara Barsena jadian sama Hani. Ya, walaupun akhirnya Andin berhasil rebut Barsena dari Hani sih,"
"Btw, sekarang keadaan Hani gimana ya? Gue jadi rindu,"
"Mudah-mudahan sekarang Hani bisa lupain Barsena, terus bisa bahagia sama seseorang yang baru. Jangan sampai direbut lagi kaya dulu, Haaaaaaah!"
Irma menghela nafas panjang setelah berbicara sendiri dalam hatinya. Sang sopir yang melihat tingkah majikannya yang terus berubah-ubah dari kaca spion merasa heran.
"Dari tadi suasana hatinya terus berubah," batin sopirnya.
***
"Aku anterin kamu pulang, udah sore juga," ucap Ichal.
Kini posisi mereka sudah kembali normal tanpa pelukan.
Hani mengangguk mengiyakan ucapan Ichal.
"Aku mau ke makam, bisa anter aku ke sana?" tanya Hani saat mobil Ichal tengah melaju.
"Boleh," jawab Ichal singkat.
Beberapa menit kemudian mobil Ichal sudah terparkir di dekat area pemakaman.
"Nih," Ichal menyodorkan bunga kepada Hani.
Hani meraihnya dengan senyuman. Hani melangkah menuju makam seseorang yang akan dikunjunginya.
Hani melangkah menuju makam seseorang yang akan dikunjunginya. Sementara Ichal mengekor dibelakangnya.
"Bener juga! Kemaren hari peringatan kematian Laras dan gue udah lama gak berkunjung ke makam Laras," batin Ichal sambil mengikuti langkah Hani di depannya dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba Hani menghentikan langkahnya, dan ....
Duk!
Ichal menubruk punggung Hani yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Kenapa berhenti tiba-tiba Han? Makam orang tua kamu 'kan sebelah sana?" tanya Ichal heran.
__ADS_1
"Laras, kenalan aku Hani. Maaf ya, gara-gara aku Diaz jadi telat buat ngunjungin kamu padahal kemaren peringatan hari kematian kamu. Tapi Ichal malah jalan sama aku, maaf banget ya Ras," Hani membungkukan badan menyimpan bunga sambil mengusap nisan makam Laras.