Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.61 Hani Terkenal


__ADS_3

"Hah, wawancara? maksudnya apa, Diaz?" tanya Hani pada Ichal, dia sama sekali tak mengerti.


"Gak tahu." Ichal langsung melajukan mobil masuk ke dalam area rumah Srindra, walaupun takut ada yang tertabrak, tapi Ichal tetap melakukannya.


Seorang penjaga langsung menutup gerbang dan kembali menguncinya. Hani langsung keluar dari dalam mobil terdengar bunyi jepretan kamera saat Hani keluar dari mobil. Ichal langsung membuka jaket dan menutupi Hani, saat melihat Hani yang terlihat tak nyaman dengan kamera yang memotretnya tanpa ijin itu.


Buru-buru Ichal membawa Hani masuk ke rumah.


"Mereka pada kenapa, sih?" gerutu Ichal.


Dia jadi kesal saat orang-orang itu memotret Hani tanpa ijin. Mereka memang wartawan tapi tetap saja, Ichal merasa kesal.


"Aku jadi gak nyaman kalau kaya gini." Hani mengeluh sambil menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa.


"Bunda juga di mana sih?"


"Loh, Hani, udah pulang?" teriak Srindra tiba-tiba.


"Bunda, kenapa banyak orang di luar? Aku sampai susah masuk," tanya Hani.


"Mereka cari kamu," jawab Srindra.


"Cari aku, tapi kenapa? Aku jadi gak nyaman, Bunda," keluh Hani.


"Sabar, ini konsekunsi kamu jadi terkenal,"


"Iya, tapi kenapa?"


"Publik mau tahu wajah si penerus satu-satunya dari perusahaan dan yayasan yang Adamar dirikan, ditambah yayasan yang Sundari wariskan sama kamu juga, karena Sundari tidak punya suami, anak, atau sanak saudara yang lain selain kamu," jelas Srindra.


"Mat* aku!" batin Hani.


"Pacar aku jadi terkenal, nih," goda Ichal.


"Diem! Ih, nyebelin."


***


Keesokan harinya, seperti biasa Hani berangkat ke sekolah. Semuanya tampak wajar dan biasa saja, seperti biasa Ichal menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama. Sampai akhirnya ketika sampai di sekolah tampak keadaan yang tidak biasa. Orang-orang yang bukan siswa tampak banyak berkerumun di depan gerbang sekolah sehingga menghalangi para siswa yang hendak masuk.


Begitupun dengan mobil Ichal yang sempat tertahan di depan gerbang sekolah karena orang-orang itu menghalangi jalan masuk.


"Cih, pada kenapa sih? Gak sadar apa, ini di sekolah? Minggir, woy!" teriak Ichal.


Dia tak habis pikir kenapa juga orang-orang yang bukan bagian dari sekolah malah berkumpul di sini.


"Minggir!" teriak Ichal. Kini nada suaranya makin tinggi dari sebelumnya.


"Sabar, Diaz." Hani yang duduk di samping Ichal mencoba menenangkan.


"Gue bilang minggir, Woy!" bentak Ichal.


Akhirnya berkat teriakan Ichal, beberapa orang mulai mau menyingkir dan memberikan jalan masuk. Ternyata, satpam yang bertugas berjaga di depan gerbang 'pun kewalahan karena orang-orang itu.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Hani pada salah satu satpam yang tengah berjaga untuk menahan orang-orang yang memaksa masuk.


"Mereka lagi cari orang, pusing Saya," keluh satpam itu.


"Cari orang? Siapa?" tanya Ichal tiba-tiba.


"Non Salsa sama Non Hani, tapi saya gak tahu Non Hani yang mana, kalau Non Salsa, Saya tahu," jawab satpam itu. Dia menjawab sambil meringis dan mengibaskan topi satpamnya. Terlihat peluh bercucuran di pelipisnya.


"Ups." Ichal menoleh ke arah Hani, lalu menarik tangan Hani untuk segera masuk ke kelas.


"Mereka cari kamu juga, Han." Ichal duduk di kursi saat dia sudah tiba di kelas.


"Kenapa jadi gini, ih? Nyebelin banget tau," keluh Hani.


"Gila! Susah banget mau masuk ke sekolah, itu orang-orang udah gak waras atau gimana sih." Andri berteriak saat dirinya berhasil masuk ke kelas. Sepertinya dia juga kesulitan untuk masuk.


"Lo, jelek banget, Nyet!" ejek Ichal.


Penampilan Andri benar-benar bernatakan, rambut acak-acakan, kancing baju separuh terbuka, keringat bercucuran, mungkin di depan gerbang dia sempat berdesakan untuk masuk jadilah seperti itu penampilannya. Tak heran dia benar-benar kesal.


"Aaarrrrghh! Orang-orang di depan pada kenapa sih? Mereka nyari apaan?" keluh Chika.


Chika juga baru datang dan kesulitan masuk karena ulah orang-orang yang berkerumun mencari Salsa dan Hani itu.


"Bikin mood gue ancur aja." Chika mengeluh sambil merapikan penampilannya.


"Salsa mana, Chik?" tanya Ichal.

__ADS_1


"Salsa? Gak tahu mungkin sama Barsena." Chika mengangkat kedua bahunya, lalu duduk di kursi sambil mengibaskan tangannya. Sepertinya dia juga gerah, terlihat dari keringat di pelipisnya.


"Kenapa nanyain Salsa?" tanya Chika heran.


"Soalnya, orang-orang gak waras di depan tuh, nyari Salsa," jawab Ichal.


"Sama nyari Hani juga sih, bisa gawat nih kalau ada seseorang yang ngasih tahu keberadaan Hani di kelas ini, Hani bakal gak nyaman banget," batin Ichal.


***


Sementara itu, Salsa tertahan di rumahnya sendiri. Dia tidak bisa keluar karena ternyata di rumah Salsa 'pun di penuhi wartawan yang mencarinya.


"Bisa gila gue! Kenapa juga orang-orang gil* ini pada ke sini sih?" umpat Salsa frustrasi.


Salsa terus mondar-mandir di ruang tengah rumahnya. Dia kesulitan untuk ke luar rumah gara-gara orang-orang yang berkerumun di depan gerbang rumahnya.


Terdengar orang-orang itu mulai meneriaki nama Salsa.


"Non, bagaimana ini?" Seorang satpam menghampiri Salsa dengan tergopoh-gopoh.


"Mamah ke mana sih, Pak?" tanya Salsa sedikit kesal.


"Nganu, Nyonya kemarin berangkat ke Bali. Memangnya, Non ndak tahu?"


"Sial! Mamah keterlaluan banget! Padahal Papah harus jalanin sidang, dan sekarang gue juga ikutan jadi repot gara-gara Papah! Mamah malah enak-enak liburan ke Bali." Salsa mengacak rambutnya frustrasi.


"Bapa, tolong bukain gerbang. Saya, harus ke sekolah," ucap Salsa.


Satpam itu mengangguk pelan, lalu kembali berlari menuju pos jaga.


Salsa meraih tas yang tergeletak di sofa, lalu dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Saat Salsa keluar rumah, ramai-ramai orang mengambil foto Salsa.


Salsa akhirnya bisa berangkat ke sekolah walaupun dengan susah payah mobilnya melewati kerumunan orang-orang itu.


"Cape." Salsa menghela nafas panjang.


Saat mobilnya sudah mulai menjauh dari area rumahnya, Salsa menghentikan laju mobilnya. Dia membenamkan kepalnya ke setir mobil, perlahan terdengar isakan tangis Salsa.


Entah mengapa Salsa tiba-tiba menangis seperti itu. Makin lama isakannya terdengar menjadi seperti raungan keras yang memilukan.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa?!" raung Salsa.


"Gue mau mat* aja!" gumam Salsa.


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang mengetuk kaca mobil Salsa. Dengan malas, Salsa mengangkat kepalanya. Dia melirik ke arah kaca mobilnya yang diketuk.


"Siapa, sih?" kesal Salsa.


Orang itu terus mengetuk kaca mobil hingga membuat Salsa makin kesal. Dengan amarah yang menggebu-gebu dia menurunkan kaca mobilnya.


"Siapa, sih? Gang—"


"Selamat pagi, Pacar!" ucap orang itu dengan sumringah.


"Barsena." Salsa buru-buru merapikan penampilannya.


Orang itu Barsena, dia sudah mengikuti mobil Salsa mulai saat dari rumahnya. Awalnya dia khawatir Salsa tak bisa keluar rumah karena wartawan-wartawan itu. Namun, ternyata Salsa bisa keluar.


Barsena terus mengikuti mobil Salsa dari belakang, sampai saatnya mobil Salsa berhenti. Awalnya Barsena biasa saja saat mobil Salsa berhenti di tepi jalan, tapi lama-lama Barsena menjadi cemas karena Salsa berhenti cukup lama dan samar terdengar raungan Salsa. Akhirnya Barsena memutuskan untuk turun dan menghampiri Salsa.


"Ka–kamu, ngapain di sini?" tanya Salsa dengan gelagapan.


"Aku yang harusnya nanya, kamu ngapain di sini? Sekolahan masih jauh loh dari sini, kenapa malah berhenti di sini?" Barsena balik bertanya.


"A–aku ... aku ... mmmm,"


"Udah, ayo berangkat! Kamu turun, naik mobil aku aja! Mobil kamu simpen di sini aja." Barsena langsung menarik Salsa dan membawanya ke mobil miliknya.


Di dalam mobil, hanya keheningan yang terjadi. Sepertinya Salsa benar-benar gugup saat bersama Barsena. Padahal biasanya dia orang paling heboh dan berisik, dengan segala keangkuhannya.


"Sal." Barsena membuka suara.


"Ya," jawab Salsa.


Barsena menghentikan laju mobilnya. Dia menatap mata Salsa. Sementara Salsa benar-benar sampai di-level gugup yang luar biasa karenanya.

__ADS_1


Barsena terus menatap mata Salsa.


"Ke–kenapa, Barsena?"


"Kalau kamu ngerasa berat dengan semua ini, kamu boleh cerita sama aku, tumpahin semuanya sama aku," lirih Barsena.


Salsa merasakan wajahnya memanas karena menahan sesuatu yang hampir jatuh di pelupuk matanya, dia langsung memalingkan wajahnya.


"Sal." Barsena meraih tangan Salsa lalu mengelusnya lembut.


Salsa kembali menoleh pada Barsena, pertahanannya pun jebol. Air matanya mengalir dan dia pun terisak.


"Aku cape, Barsena! Cape!" raung Salsa.


Salsa terus terisak, Barsena langsung merengkuh Salsa dan membenamkan pada pelukannya.


"Yang punya salah tuh Papah, bukan aku, Barsena! Kenapa mereka kaya gitu sama aku." Salsa terus meraung di pelukan Barsena.


Barsena mengelus punggung Salsa dengan lembut, dia ingin memberikan Salsa ketenangan. Dia tahu betul apa yang dirasakan Salsa, para wartawan itu pasti benar-benar membuat Salsa tertekan dengan pertanyaan tentang perbuatan jahat yang dilakukan ayahnya.


***


Barsena dan Salsa kini sudah berada di kelas. Saat Barsena tiba di kelas, dia sempat kaget dengan kondisi teman-temannya yang tampak sedikit berantakan dengan wajah kesal mereka terutama Andri.


"Pada kenapa, sih?" tanya Barsena.


"Ini sekolahan kita kenapa, sih? Bangkrut apa gimana? Ini sekolahan elit loh, dari dulu juga penjagaannya ketat banget, sampai susah banget buat bolos. Sekarang apaan, sama wartawan aja kewalahan, sampai anak-anak susah masuk, keterlaluan!" gerutu Andri sambil mengipaskan buku ke wajahnya.


Tampaknya yang paling kesal di sini malah Andri bukan Hani ataupun Salsa.


"Wartawan itu cari berita atau lagi demo ke sekolah kita, sih? Heran gue!" Andri terus menggerutu kesal.


"Sabar kali, Nyet! Emosian banget, sih!" ucap Ichal sengaja menggoda Andri.


"Gimana kagak emosi? Gue dari rumah udah cakep-cakep mau ketemu Yayang Chika, malah jadi berantakan gini gara-gara mereka! Gedek banget gue." Andri mengipaskan buku ke wajahnya makin keras.


"Kan emang dari dulu juga, Lu berantakan, Nyet!" Ichal tertawa dengan nikmatnya.


Salsa tiba-tiba berdiri dari kursinya, dan berjalan hendak ke luar kelas.


"Ke mana, Sal?" tanya Barsena saat melihat Salsa hendak ke luar.


"Toilet." Tanpa menoleh, Salsa langsung berjalan ke luar kelas.


Tiba-tiba, Hani pun berdiri dari kursinya dan berjalan ke luar kelas seperti hal-nya Salsa.


"Ke mana, Han?" tanya Ichal.


"Toilet." Hani berjalan dengan sedikit cepat.


"Cewek kenapa sih kalau ke toilet suka barengan?" celetuk Andri.


"Soalnya, kalau sendiri suka kesepian, gak bisa ngerumpi," jawab Chika sambil berdiri dan berjalan ke luar kelas juga.


"Ke mana, Yayang?" tanya Andri.


"Toilet." Chika langsung berjalan menyusul Hani dan Salsa.


"Dasar cewek!" pekik Ichal, Barsena, dan Andri bersamaan.


***


"Tahu gak sih? Wartawan yang ngumpul di depan tuh, nyari Salsa buat diwawancara. Gila gak sih? Ternyata bapaknya dia tukang rebut harta orang!"


"Ngeri banget gue, kalau gue jadi Salsa, pasti gue udah bunuh diri saking malunya."


"Jadi, wartawan cari Salsa buat wawancara tentang apa?"


"Ya, tentang kasus bapaknya lah. Asal kalian tahu, ya, bapaknya Salsa itu selingkuh sama sekretarisnya sendiri. Makanya, emaknya Salsa gak ada tuh dampingi bapaknya sidang."


Salsa dengan jelas mendengar gunjingan-gunjingan dari beberapa orang yang tengah di toilet juga. Begitupun dengan Hani dan Chika, mereka dalam bilik yang berbeda, tapi sama-sama dengan jelas mendengar omongan mereka yang bergunjing tentang Salsa.


Brak!


Chika membuka pintu dengan keras, membuat mereka yang tengah bergunjing terperanjat kaget.


"Apaan sih gil*!" umpat salah satu orang itu.


"Cih, Bintan ... Bintan! Sok, malaikat tapi ternyata busuk banget!" hardik Chika.


Salsa dan Hani yang mendengar Chika langsung ke luar dari bilik. Hal itu jelas membuat mereka yang bergunjing menjadi lebih kaget. Beberapa orang langsung keluar dari toilet hingga tersisa Bintan dan satu teman rumpinya yang terlihat lebih berani dari orang yang kabur setelah melihat keberadaan Salsa.

__ADS_1


__ADS_2