Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.54 Kesedihan Salsa


__ADS_3

Tak lama kemudian Barsena yang masih terbaring belum sadarkan diri dibawa keluar.


Semua orang yang semula menunggu langsung mengikuti kemana Barsena akan dibawa.


"Kak, bangun, Kak!" lirih Kira. Air matanya membanjir di pipinya. Dia menatap nanar kakaknya yang terbaring lemah.


"Lebih baik kamu pulang! Biar aku yang jaga Barsena. Andri, lo anterin adiknya Barsena balik dong, kasian." Ucap Salsa meminta Kira pulang dengan diantar Andri.


Andri mengangguk menyetujui, tapi Kira nampak keberatan jika harus meninggalkan Barsena.


"Jangan khawatir, Kira! Nama kamu, Kira 'kan? Aku bisa jaga Barsena sampai dia siuman." Salsa mengelus lembut rambut Kira. Kira mengangguk dan bersedia untuk pulang.


"Gue gak ngerti, kenapa sekarang sikap Salsa jadi berubah gini?" batin Andri. Dia heran melihat perubahan drastis sikap Salsa. Biasanya dia kasar dan dingin serta tak peduli dengan perasaan orang lain.


"Bagus deh, biar dia kagak jadi nenek lampir lagi," batin Andri.


"Ayo, Dek. Bang Andri anter kamu pulang!" ajak Andri. Kira mengangguk lalu berpamitan pulang.


"Sal, lo juga harus istirahat! Lo juga gak baik-baik aja," pinta Chika. Dia tahu betul Salsa juga sedang tidak baik-baik saja.


"Lo juga harus pulang, Chika! Gue harus nunggu Barsena sampai dia siuman!"


"Kenapa sikap Salsa jadi gini ya? Gue tahu banget Salsa gak mungkin mau repot urusin orang lain!" batin Chika.


"Lo sebenernya kenapa, Sal? Cerita sama gue!" ucap Chika. Dia cemas dengan perubahan drastis sikap Salsa, memang sekarang sikapnya bagus lebih menganggap keberadaan orang lain tapi jika terlalu mendadak seperti ini menghawatirkan juga.


"Gue gak papa, Chika! Lo pulang aja, besok lo mesti sekolah! Gue gak yakin gue bakal masih bisa sekolah di sana," ujar Salsa. Suaranya bergetar menahan tangis.


"Kenapa, Sal? Kenapa?"


"Karena ulah papah gue udah keterlaluan, Chika! Jadi selama ini gue hidup dari harta keluarga Hani yang Papah rebut?!" batin Salsa menjerit.


"Kenapa?" tanya Chika.


"Lo pulang aja, Chika!"


Chika mengangguk, dia juga tak akan bisa berbuat banyak kalau Salsa sudah seperti ini.


"Oke, gue balik, tapi gue mohon lo juga istirahat!"


Chika meninggalkan Salsa yang masih terduduk di samping Barsena yang terbaring.


Tatapannya nanar dan mulai kabur karena air mata yang mengembang di pelupuk matanya.


"Bangun, Barsena!" lirih Salsa.


"Gue belum sempet jawab pertanyaan lo!"


Salsa terisak di samping Barsena, dia meraih tangan Barsena dan menempelkan ke pipinya. Pipi yang basah karena air mata.


"Bangun! Gue mohon!" isak Salsa.


"Gue belum sempet jawab pertanyaan lo!"


"Gue belum sempet jawab pertanyaan lo!"


"Gue belum sempet jawab pertanyaan lo!"


Dengan terus menggenggam tangan Barsena dengan erat, kalimat itu terus terulang dengan suara gemetar dan pelan sekali.


Memangnya apa pertanyaan Barsena?


Mari kembali ke beberapa jam yang lalu saat insiden tertembaknya Barsena ....


Saat Baron mulai mengarahkan pistolnya pada Hani, Ichal langsung berlari dan memeluk Hani untuk melindungi Hani yang lemah dari peluru Baron. Namun, Salsa yang melihat itu juga langsung berlari dengan mengerahkan sisa tenaganya. Dia merentangkan kedua tangannya menghadap pada Baron yang siap menembak. Kedua matanya tertutup rapat, gigi-giginya terkatup. Dia ingin melindungi Ichal dan Hani.


Bagi Salsa, membuat Hani selamat adalah cara menebus kesalahan dia dan keluarganya.


Barsena yang sibuk menghalau anak buah Baron pun melihat hal itu, dia melihat Salsa merentangkan tangannya mencoba menghalangi tembakan peluru. Dia langsung berlari ke depan Salsa lalu memeluknya dengan erat, dan ...,


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!


Tiga bunyi letusan senjata api terdengar menggema di gedung kosong itu.


Mata Salsa yang semula tertutup langsung melotot, matanya membulat menyadari ada yang memeluknya dengar erat dari depan.


"I Love You, Salsa! Sepertinya ... gue ... jatuh ... cinta ... sama ... cewek angkuh tapi aneh ... uhuk ... uhuk ... kaya lo." Bisik Barsena dengan suara parau dan gemetar serta terbata-bata.


Salsa masih terkejut terisak lalu mengusap punggung Barsena dengan gemetar, terasa darah membasahi tangannya.


"Uhuk ... uhuk ... Lo mau ... jadi ... pacar ... gue ... 'kan?" tanya Barsena. Perlahan pelukannya mengendur dan Barsena tak sadarkan diri.


"Barsena!"


"Barsena! No ... no ... nggak! Barsena b*d*h!" jerit Salsa. Salsa mulai meraung saat tubuhnya ikut jatuh ke lantai setelah Barsena tak sadarkan diri.


"Barsenaaaa!" jerit Salsa.


***


"Bangun! Gue mohon!" isak Salsa.


"Gue belum sempet jawab pertanyaan lo!"


Salsa terus terisak.


"Sal, lo gak papa?" tanya seorang gadis yang baru datang. Dia langsung memeluk Salsa yang tengah terisak.


Salsa mengangkat kepalanya. "Irma!" pekiknya. Dia kembali terisak di pelukan Irma.


Seperti yang telah diketahui Irma adalah sepupu dari Salsa. Dahulu Irma juga adalah teman Hani dan Barsena juga Andin di sekolahnya yang lama sebelum pindah.


"Astaga, Barsena! Kenapa lo bisa kaya gini?" gumam Irma.


"Dia gini karena nyelamatin gue!" pekik Salsa. Dia terus terisak pilu.


"Andin! Cewek psiko itu! Gue gak bakal bikin lo bebas gitu aja, setelah bikin sepupu dan temen-teman gue menderita!" batin Irma.


"Andin emang bukan cewek waras! Sama aja kayak bapaknya!" batin Irma murka.


"Mending sekarang lo istirahat! Atau kalau lo gak mau istirahat di sini, gue anterin lo pulang, ok!" ucap Irma. Dia cemas dengan keadaan Salsa.


Salsa menggeleng pelan dia tetap berkeinginan menunggui Barsena sampai Barsena siuman.


Irma mengehela nafas, dia tahu betul kalau sepupunya itu gadis keras kepala yang sulit mendengarkan orang lain.


Pagi menjelang, Salsa masih tertidur menelungkup di sisi Barsena. Dia tetap bersikukuh tak mau beranjak dari tempatnya, sementara Irma sudah pulang karena akan sekolah.


Ichal membuka pintu ruangan tempat Barsena dirawat. Saat melihat Salsa masih tertidur di samping Barsena, dia mengurungkan niatnya. Dia kembali menutup pintu dan meninggalkan ruangan Barsena.


Tak terasa waktu berlalu, sudah tiga hari Barsena belum juga siuman. Salsa beranjak dari tempatnya hanya untuk mengganti pakaian yang Irma bawa untuknya atau sekedar ke toilet. Kebanyakan dia tak beranjak dari tempatnya, yang dia lakukan hanyalah menatap wajah Barsena yang masih tak sadarkan diri. Dia bahkan menolak untuk makan dan minum karena menurutnya Barsena juga tidak makan dan minum.


"Kayaknya, Salsa udah beneran gil*!" bisik Andri.


Plak!


"Jangan ngomong aneh-aneh, ya!" ketus Chika.


"Terus kalau bukan gil* apaan? Udah tiga hari dia cuma liatin muka Barsena tanpa makan minum, emang lo pikir liatin muka Barsena bisa bikin kenyang?" bisik Andri lagi.


"Gue ngerti kalau Salsa khawatir sama Barsena tapi dia juga kan lagi ga sehat," bisiknya lagi.


"Diem, Andri!" bisik Chika kesal.


"Lo gak lihat kalau sahabat gue lagi jatuh cinta!" bisik Chika.


"Ah, masa?"


"Lo lihat aja tatapan Salsa sama Barsena tuh beda banget tahu!"

__ADS_1


"Masa?"


"Ih, serius Andri!"


Kedua orang itu terus berbisik-bisik di depan ruangan Barsena sambil mengintip dari kaca pintu. Mereka terus bergunjing tentang perubahan sikap Salsa terutama pada Barsena.


Ekhem!


Seseorang berdehem di belakang Chika dan Andri membuat kedua anak muda itu terlonjak kaget.


"Lagi pada ngapain?" tanya orang itu.


"Eh, dokter! Maaf temen saya ngeselin malah ngajak ngerumpi depan pintu!" kilah Andri.


"Enak aja, justru dia yang ngajakin saya, Dok!" sahut Chika.


"Biasanya seperti ini awal mula terjadinya jatuh cinta. Saya permisi." Ucap dokter itu sambil terkekeh, lalu masuk ke ruangan Barsena diikuti seorang suster di belakangnya.


"Jatuh cinta! Sama dia?! Ogah!" pekik Chika dan Andri bersamaan.


***


"Loh, Salsa masih di sini?" tanya dokter.


"Iya, Dok," jawab Salsa pelan.


"Kamu harus istirahat, Salsa! Tidak baik jika kamu terus seperti ini." Ucap dokter sambil memeriksa Barsena.


"Saya tidak bisa beristirahat sementara Barsena sedang berjuang untuk hidup,"


"Barsena akan sedih jika saat dia bangun kamu malah sakit," ucap dokter.


Salsa terdiam cukup lama, mungkin dia sadar kalau ucapan dokter itu ada benarnya juga.


"Tapi kenapa, Barsena belum siuman juga, Dok? Ini sudah tiga hari," tanya Salsa.


"Kondisinya sudah mulai sangat stabil, pasti tak akan lama lagi dia bisa siuman. Kamu tenang, ya! Istirahatlah!"


Salsa mengangguk, dokter itu pun meninggalkan ruangan.


***


"Hani! Lihat, Tante bawa apa buat kamu." Pekik Tamara sambil membawa sebuah tas belanja diikuti dengan tiga orang yang juga membawa barang yang sama seperti Tamara.


"Mamah apaan sih, berisik!" kesal Ichal.


Dia kesal melihat tingkah heboh ibunya yang seperti anak muda padahal umurnya sudah tidak muda lagi.


"Anak cowok diem aja! Ini urusan cewek!" ujar Tamara. Dia sukses membuat Ichal cemberut kesal dengan kelakuannya.


"Bawa apa, Tante?" tanya Hani.


Kondisi Hani sudah mulai membaik dia sudah bisa bicara lebih kencang dan mulai sedikit demi sedikit menghilangkan syoknya berkat Ichal yang selalu di sampingnya.


"Tante bawa boneka imut, sama makanan enak buat kamu! Tante tahu makanan rumah sakit ga enak!" pekik Tamara heboh.


"Mamah apaan sih? Hani masih belum boleh makan makanan luar rumah sakit!" protes Ichal.


"Gak papa, Diaz! Lagian makanan rumah sakit bikin aku gak nafsu makan," sahut Hani.


"Tuuuh dengerin! Hani aja bilang gitu," ucap Tamara.


Hani langsung menerima boneka tady bear berukuran besar dari Tamara lalu memeluknya. Dia langsung menerima suapan makan dari Tamara.


"Mmmmhh, enak banget! Udah lama aku ga makan enak," pekik Hani. Dia benar-benar senang.


Tanpa sadar Ichal tersenyum melihat tingkah dua wanita di hadapannya.


"Padahal mamah udah tua," gumamnya.


"Apa, Chal? Ngomong apa kamu?" teriak Tamara.

__ADS_1


Ichal mendengkus memutar bola matanya malas sambil menyumbat telinganya agar tak mendengar suara berisik ibunya. Sementara Hani hanya terkikik.


__ADS_2