Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
3. Melangkah


__ADS_3

Hani menatap datar Barsena yang berdiri di hadapannya dengan wajah sendu.


"Mau ngomong apa? Kamu omongin di sini aja," ucap Hani.


Barsena melirik Irma yang membuat Irma berdeham-deham canggung kemudian pamit pada Hani. Namun, Hani menahan tangan Irma untuk tetap berdiri di sana bersamanya. "Kamu di sini aja, Irma. Kamu mau ngomong apa, Barsena?"


Barsena menghela napas lelah. "Aku mau jelasin situasi aku sama kamu, Han. Aku nggak bisa pergi gitu aja tanpa ngasih penjelasan sama kamu," ucap Barsena yang membuat Irma melirik Hani dan Barsena bergantian dengan canggung.


"Aku nggak butuh penjelasan dari kamu. Bagi aku semuanya udah jelas," ucap Hani.


"Tapi, Han aku—"


"Cukup Barsena! Semuanya udah jelas. Kamu tinggalin aku karena kamu udah dijodohin sama Andin, kan? Aku udah ngerti situasinya dan aku udah coba terima itu."


"Han, aku mohon." Barsena meraih sebelah tangan Hani untuk digenggam erat membuat Irma semakin gelisah canggung melihat adegan itu di depan matanya.


"Oke, guys, kayaknya gue beneran harus ke kelas, deh," ucap Irma di tengah kecanggungan itu.


"Ayo." Hani menghempas tangan Barsena dan berjalan bersama Irma meninggalkan Barsena dengan wajah sendunya.


Hani dan Irma baru saja menginjakkan kaki di kelas saat Andin dan siswa lainnya tertawa penuh ejekan. Hani tentu saja sadar kalau tertawaan itu ditujukan padanya.


"So, selamat datang untuk si itik buruk rupa yang bermimpi jadi angsa setelah pacaran sama Barsena, eh, tapi sekarang udah nggak sama Barsena, ya?" ejek Andin yang dibarengi tawa ejekan dari yang lainnya.


"Din, lo apaan, sih?!" teriak Irma tidak terima.


Hani mencoba menahan Irma yang hampir saja memukul wajah Andin. "Udah, Irma, sabar."


"Tapi, Han!"


Hani menggeleng dan membuat Irma menyerah. Ia akhirnya menarik Hani untuk duduk di kursi walaupun rasa kesal masih memenuhi hatinya apalagi saat melihat Barsena masuk ke kelas dan langsung digandeng dengan posesif oleh Andin.

__ADS_1


"Han, mau ke mana?" tanya Irma kaget saat Hani yang baru saja duduk bersamanya tiba-tiba kembali berdiri.


"Aku ada urusan di ruang guru, mau ketemu bu Intan," jawab Hani seraya langsung berlari keluar dari kelas. Sungguh Hani tidak kuat kalau harus terus melihat bagaimana Barsena memperlihatkan adegan-adegan manis bersama Andin.


Bohong kalau Hani baik-baik saja melihat itu. Bohong kalau Hani tidak sakit hati melihat itu. Kalau saja Barsena dengan gadis lain yang bukan Andin, mungkin Hani akan sedikit merasa ikhlas. Lain halnya kalau dengan Andin, Hani benar-benar merasa tidak rela.


Hani berlari ke toilet wajahnya sudah memanas, matanya sudah berlinang air mata tinggal menunggu waktu saja sampai air mata yang mati-matian ditahan itu menetes. Dan benar saja baru Hani menutup pintu bilik toilet, air mata Hani tumpah begitu saja. Rasa sesak itu kembali menyerang saat Hani membayangkan satu-satunya dunia yang tersisa malah pergi meninggalkannya. Barsena jahat. Sangat jahat.


"Eh, udah denger belum kalau akhirnya Barsena putus juga sama parasit itu?"


Degh!


Hani sampai membekap mulutnya agar suara isakannya tidak terdengar sampai ke luar saat suara gadis yang tidak dikenal tengah membicarakannya di luar.


"Oh, ya? Bagus dooong! Kalau gitu berarti Barsena lagi free, dong?"


"Putus juga bukan berarti free. Lo nggak lihat tadi Andin bareng sama dia? Bagus, sih, kesannya jadi serasi nggak, sih?"


"Yups, setuju aja, sih, gue! Walaupun gue kasihan sama cewek parasit itu."


Rasa sesak yang Hani rasakan semakin menjadi-jadi saat mendengar itu. Apa Hani terlihat semenyedihkan itu di mata orang lain? Apa Hani terlihat seperti parasit saat bersama Barsena? Selama ini Hani tidak tahu orang-orang berpikir seperti itu tentang dirinya.


Hani baru keluar dari toilet setelah orang-orang yang baru saja membicarakannya itu pergi. Dengan langkah gontai Hani berjalan ke arah ruangan guru. Semalaman dia sudah memikirkan hal ini. Awalnya ia berpikir ini terlalu berlebihan, tapi setelah telinga dan matanya tidak sanggup lagi menghadapi orang-orang di sini Hani akhirnya membulatkan tekad untuk ....


"Saya ingin pindah dari sekolah ini."


Intan yang merupakan wali kelas Hani sampai heran dengan apa yang baru saja Hani katakan padanya.


"Maaf? Ibu kayaknya salah dengar, deh, Hani. Kamu bilang mau apa?" tanya Intan memastikan.


"Saya ingin pindah dari sekolah ini." Sekali lagi Hani mengucapkan kalimat yang sama pada Intan.

__ADS_1


"Tapi kenapa, Hani? Selama ini kamu baik-baik saja di sini. Lagi pula nilai-nilai kamu selalu terbaik bersaing dengan Barsena dan Andin. Ibu rasa ini keputusan terburu-buru yang kamu ambil."


"Saya punya alasan, Bu. Saya mohon."


"Kamu sudah kelas dua belas, Hani. Tidak mudah mencari sekolah yang akan menerima pindahan di semester tanggung seperti ini. Ibu yakin pasti kamu tahu itu." Intan menyandarkan punggungnya walaupun wajahnya terlihat sangat frustrasi saat menjelaskan pada Hani.


Hani mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Intan. "Saya sudah punya sekolah tujuan lain, Bu, dan pemilik yayasan sendiri yang meminta saya pindah ke sana. Saya tahu ini terdengar sangat mustahil, tapi apa yang saya katakan itu benar adanya." Hani membuka tas ranselnya lalu memberikan sebuah amplop putih berisi surat pada Intan.


Walaupun enggan, Intan membuka ampop itu. "SMA Bunga Bangsa? Serius? Kamu tidak memalsukan surat rekomendasi ini, kan?" tanya Intan curiga pasalnya Yayasan Bunga Bangsa bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki. Ada standar khusus untuk masuk ke sana. Walaupun Hani pintar tetap saja sangat sulit untuk masuk ke sana.


"Saya mendapat surat ini dari kepala sekolah satu bulan yang lalu. Selama ini saya menimbang-nimbang apakah akan mengambil kesempatan ini atau tidak, tapi sekarang saya sudah memutuskan ... saya akan pindah dari sekolah ini."


Hani berpamitan saat semua yang ingin dibicarakannya selesai. Surat rekomendasi itu memang sudah ia dapatkan satu bulan lalu. Selama ini Hani bahkan hampir membakar surat itu karena tidak ingin berpisah dengan Barsena. Namun, sekarang berbeda cerita. Karena Barsena sendiri yang meninggalkan Hani, maka Hani juga akan meninggalkan Barsena dan sekolah ini beserta semua kenangan yang lebih banyak pahitnya ini.


"Han, aku mau ngomong sama kamu," ucap Barsena sesaat setelah Hani menutup pintu ruang guru. Entah sejak kapan Barsena menunggu di sana, Hani tidak peduli.


"Maaf Barsena, aku emang butuh penjelasan kamu tapi sekarang aku udah nggak mau dengar apa-apa lagi, aku mohon jangan ganggu aku dan bikin aku seolah jadi parasit di antara kehidupan kamu!" teriak Hani menahan tangisnya. Hani sudah tidak peduli lagi dengan beberapa orang yang menonton teriakannya barusan.


Biarlah orang lain menilainya penuh drama sekalian.


"Hani aku mohon!" Barsena terus memaksa Hani dengan putus asa.


Namun Hani tetap tidak peduli. Ia meninggalkan Barsena yang putus asa, dia berlari sambil menutup wajahnya yang terasa sangat panas menahan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata entah itu marah, sedih, kesal, atau kecewa.


Hani berjalan menyusuri jalan dengan langkah gontai, dia kembali mengingat-ingat hari ini. Gadis itu berhenti di sebuah jembatan yang terlihat sangat tinggi, jembatan yang semalam hampir saja menjadi tempatnya mengakhiri hidup. Tanpa sadar Hani tertawa hambar mengingat kejadian semalam. Hampir saja dia berlaku bodoh hanya karena laki-laki yang meninggalkannya.


"Kamu lemah, Hani," gumamnya seraya menatap kosong aliran air di bawahnya.


Tring!


...Bu Intan...

__ADS_1


Hani, setelah ibu dan guru-guru serta kepala sekolah berunding akhirnya mendapatkan hasil kalau kamu diijinkan untuk pindah sekolah. Jadi, mulai besok kamu sudah bisa masuk di sekolah baru kamu, dan untuk surat pindah akan langsung pihak sekolah kirim ke sekolah kamu yang baru. Semoga bahagia di sekolah baru kamu Hani.


Helaan napas lega terdengar. Setidaknya langkah Hani untuk menyelamatkan jiwanya dimulai dari sekarang. Begitulah pikirnya tanpa tahu apa yang akan dia hadapi nanti—di sekolah barunya.


__ADS_2