Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.05


__ADS_3

Pletak ...!!!


Dahi Ichal di tampar dengan keras oleh wanita itu. Ichal mengelus dahinya sambil meringis.


"Cucu kurang ajar! Udah masuk rumah orang kagak bilang-bilang! Sekarang ngomong kasar ke neneknya lu mau gue pukul!" bentak wanita yang ternyata nenek Ichal sambil bertolak pinggang mengomel dengan logat betawinya yang sangat kental.


"Huhu ampuni Ichal nek, jangan kutuk Ichal jadi batu!" ucap Ichal sambil memegang dahinya.


Tiba-tiba neneknya memeluk Ichal dengan lembut. Dia mengelus kepala Ichal dengan penuh kasih sayang membuat mata Ichal berkaca-kaca.


"Kenapa ke sini gak bilang nenek dulu sih?" tanya neneknya dengan lembut.


"Ah...ituuu semalem Ichal maennya kemaleman nek jadi pulang ke sini aja lebih deket." ucap Ichal tergagap.


"Mamah sama papa kamu berantem lagi?" tanya neneknya sambil menatap wajah Ichal dalam-dalam.


Ichal hanya mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari neneknya. Memang hanya kepada neneknya saja Ichal tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Apapun yang coba Ichal sembunyikan pasti dengan mudah terbaca oleh neneknya.


"Mandi abis itu turun buat sarapan, lalu berangkat sekolah!" ucap neneknya lalu pergi meninggalkan Ichal yang masih terduduk di atas kasur.


Setelah selesai dengan sarapannya Ichal berpamitan kepada neneknya untuk pulang ke rumahnya mengganti pakaian dengan seragam sekolahnya.


***


Dengan cepat Ichal sudah sampai di parkiran sekolah, dia berjalan santai menuju ke kelasnya. Dia menyadari tatapan siswi-siswi yang mengagumi ketampanannya, mendengar bisikan pujian dari anak-anak itu.


Sejujurnya dari dulu ini membuat Ichal tidak nyaman. Mereka mengagumi Ichal hanya melihat dari apa yang dikenakan, anak siapa, kekayaannya sebanyak apa, dan juga yang terpenting seperti apa tampangnya. Tanpa tahu seperti apa kenyataan hidup dari orang yang mereka kagumi itu.


Ichal hanya menatap sinis mereka dan berharap mereka berubah menjadi membencinya tapi sepertinya itu sia-sia. Semua kenakalan yang dia lakukan tidak berdampak buruk pada fans-fansnya. Semakin dia menjadi nakal semakin banyak pula yang menjadi penggemarnya. Mungkin benar istilah jaman sekarang "anak cewek baik-baik lebih menyukai bad boy".


"Berisik banget sih, gak tau apa gue paling gak suka diliatin gini! Si Andri juga mana tuh bocah giliran dibutuhin malah kagak ada!"


Ichal terus berjalan menuju kelasnya walaupun dengan tidak nyaman akhirnya berhasil juga dia sampai di kelasnya.


"OMG Ichal sayang, tumben pagi-pagi udah ada di kelas! Pasti karena mau lihat aku ya hihi!" teriak Salsa yang baru datang dan melihat Ichal yang sedang duduk di kursinya.


"Ganggu aja nih nenek lampir!" batin Ichal.


"Ichal denger aku ngomong gak sih?" ucap Salsa sambil terus mengguncangkan badan Ichal.


"Ganggu banget sih!" bentak Ichal.


Salsa yang kaget langsung duduk di kursinya sambil tetap menatap Ichal dengan mata berbinar.


"Lihat aja pasti kamu bakal mau jadi pacar gue Ichal sayang!"


Pelajaran sudah dimulai, saat absensi guru menyebut nama Hani tapi yang punya nama tidak bersuara sedikitpun. Semua orang penasaran melihat seluruh sudut kelas tapi tidak didapati Hani di sana.


"Parah baru sekolah sehari udah bolos aja!" ucap Salsa.


Guru yang mendengar itupun hanya menggelengkan kepalanya, lalu lanjut membaca absensi murid dan memulai pelajarannya.


Ada Satu orang yang terus menatap kursi kosong di sebelahnya dengan tatapan nanar. Dia adalah Ichal yang tidak lain adalah teman sebangkunya Hani.


Jam istirahat pun tiba.


"Woy nyet lu kenapa itu makanan bukannya di makan malah diliatin doang?" tanya Andri sambil menepuk punggung Ichal mencoba menyadarkan Ichal yang terus melamun.


"Nyet?" ucap Ichal sambil terus menatap mangkuk baso dengan tatapan kosong.


"Hmmm apaan?!" jawab Andri sambil terus mengunyah makanan yang penuh di mulutnya.


"Kayaknya gue abis bikin dosa sama anak orang deh!" ucap Ichal membuat Andri kaget dan tersedak.

__ADS_1


"Maksud lu dosa apaan nyet jangan bilang lu abis 'itu' sama anak orang ya?!" teriak Andri membuat seluruh mata memperhatikan mereka berdua.


"Lu gila ya! 'Itu' apaan sih gue gak ngerti!!!" bentak Ichal sambil memukul punggung Andri dengan keras sehingga membuat Andri sedikit menjerit.


"Lah terus dosa apaan b*ngs*t gue mana ngerti!" ucap Andri kesal.


"Kayaknya yang bikin Hani gak masuk sekolah tuh gue deh." Ichal terus melihat mangkuk bakso dihadapannya dengan tatapan kosong.


"Lah emangnya kenapa?" tanya Andri dengan tatapan polos tak tahu dengan situasinya.


"Kemaren Hani di bully abis-abisan sama Salsa itu gara-gara gue!" jawab Ichal.


Andri hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan sahabatnya yang tidak seperti biasanya. Andri menyadari kalau Ichal sedang merasa khawtir akan keadaannya Hani.


Dengan waktu yang terasa lambat akhirnya waktu pulang pun tiba semua orang langsung bergegas menaiki kendaraan pribadi ataupun jemputannya untuk segera pulang ke rumah masing-masing termasuk juga dengan Ichal yang tampak tergesa-gesa memakai helm lalu pergi melesat.


***


Sementara itu, Hani menatap nanar rok seragamnya yang robek. Gara-gara Hani tak punya rok ganti dia jadi harus rela untuk bolos pada hari kedua.


"Haaaaaaah...." Hani menghela nafas panjang sambil melihat keluar jendela kamarnya.


"Andai aja ada pangeran yang mau bela aku kalau lagi dibully kayak kemaren pasti keren banget." gumam Hani.


Hani beranjak dari kasurnya lalu turun menuju dapur. Kalau diingat-ingat dia belum makan dari kemarin.


Tok...tok...tok....


Hani mendengar suara di ketuk, dengan malas Hani menuju arah pintu utama untuk membukanya.


"Setelah nenek pergi gak pernah ada tamu yang datang tuh."


"Iya siapa?" ucap Hani sambil menarik grendel pintu dengan perlahan.


Mata Hani membulat setelah tahu siapa sosok yang ada di balik pintu rumahnya.


"Pasti kamu mau ngerjain aku kan, karena aku gak masuk sekolah jadi kamu dateng ke rumah buat ngerjain aku!!!"


Ichal hanya menatap Hani yang terus mengomel di hadapannya.


"Nih ambil!" ucap Ichal sambil menyodorkan sebuah bungkusan pada Hani.


"A-apaan ini?" tanya Hani ragu-ragu.


"Ambil aja, gue gak mau punya rasa bersalah terus menerus karna lu gak masuk sekolah." jawab Ichal lalu berbalik dan berjalan menjauh dari rumah Hani.


"Maksudnya apa coba? Rasa bersalah karena aku gak masuk sekolah hari ini? Tuh cowo kenapa sih? Ini juga apaan lagi?" Hani menutup pintu lalu mengintip isi dari bungkusan yang Ichal berikan.


Mata Hani kembali membulat setelah tahu isi dari bungkusan itu ternyata sebuah rok seragam baru untuk Hani dengan sebuah catatan kecil disana. Hani perlahan membuka kertas kecil itu dan membacanya, tertulis kata "Sorry" di sana.


Blusshh.... Pipi Hani merona setelah membacanya.


"Aduh aku beneran udah gil* masa baper sama cowok mesum itu!" Hani terus menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh yang mampir di otaknya.


Sebenarnya beberapa jam yang lalu saat Ichal terus berbicara pada Andri tentang rasa bersalahnya dengan panjang lebar. Andri memberi saran untuk membelikan Hani rok seragam baru di "Tata Usaha" sekolahnya. Jadi dengan begitu menurut Andri masalah Ichal dengan Hani bisa terselesaikan dengan baik.


"Mana ada yang namanya terselesaikan dengan baik, yang ada perasaan gue makin gak karuan kalau ketemu sama cewek itu!" gumam Ichal sambil memacu motornya dengan kencang.


Ichal mengentikan motornya di depan rumahnya lalu melangkah masuk.


"Chal kamu baru pulang? Semalem kamu tidur dimana sayang?" tanya mamah Ichal khawatir.


"Jangan ngomong sama saya! Saya cape!" jawab Ichal sambil melirik dengan tatapan dingin kepada ibunya, lalu menutup pintu kamarnya dengan keras.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu mau kaya gini sama mamah sih Chal!" batin ibunya melihat pintu kamar Ichal di tutup dengan keras.


Keesokan harinya....


Hani berjalan menuju kelasnya dengan perasaan tidak tenang, setelah rangkaian kejadian traumatis yang dialaminya.


"Oh jadi lu masih ada keberanian buat lanjutin sekolah di sini? Anak miskin kaya lu gak pantes buat ada di sekolah ini!" teriak Salsa tiba-tiba setelah melihat Hani yang hendak duduk di kursinya.


"Emang jadi miskin itu salah ya?" ucap Hani dengan suara bergetar.


"Wah gila Sal, dia berani jawab lu ngomong!" ucap seorang siswi yang selalu ada di samping Salsa.


"Berani lu jawab gue hah?!" bentak Salsa.


"Memangnya di sekolah ini ada larangan buat gak jawab kamu?!" ucap Hani sambil menatap Salsa dengan tegas.


"Lu berani sama gue?!" bentak Salsa sambil melayangkan tangannya mencoba menampar Hani.


Hani memejamkan matanya seolah pasrah dengan apa yang akan di alaminya pagi ini.


Plakkk!!! Suara pukulan terdengar nyaring di dalam kelas itu.


"Aneh kok ga kerasa sakit ya? Apa sekarang aku udah kebal sama pukulan kaya gitu?" batin Hani.


"I-Ichaaal!!!" mata Salsa membulat kaget setelah orang yang dia pukul adalah Ichal yang tiba-tiba ada di depannya.


Hani spontan membuka matanya setelah mendengar teriakan Salsa menyebut nama Ichal.


"Lu sekarang udah jadi tukang pukul ya Sal?" tanya Ichal sambil memegangi pipi kirinya yang terasa panas terkena pukulan Salsa.


"Lu tahu gak?!" bentak Ichal.


"A-apa?" jawab Salsa gemetar.


"Sakit b*ngs*t!!!" bentak Ichal membuat Salsa berlari keluar kelas seperti hendak menangis.


"Sal tunggu gue!" ucap siswi yang selalu mengikutinya.


Hani terdiam tidak mengerti dengan apa yang barusan terjadi di hadapannya. Dia perlahan melirik Ichal dengan ragu-ragu untuk memastikan kondisi pipi Ichal.


"Kamu gak papa kan?" tanya Hani ragu.


"Menurut lu?"


"Gak sopan tahu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan." Hani mendengus kesal dia mengerucutkan bibirnya.


Jantung Ichal berdebar saat melihat reaksi Hani.


"Manis banget." batin Ichal.


"Sakit banget lah anj*r pake nanya lagi!" ucap Ichal ketus pada Hani.


"Bisa gak sih lu sekali aja gak bikin masalah sama Salsa! Dia tuh udah gil* denger gak DIA ITU GIL*!!!" Ichal mengomel.


"Makasih ya Chal, sekarang aku yakin kalau kamu itu ternyata orang baik yang pura-pura jahat aja!" ucap Hani sambil tersenyum dengan manisnya.


Deghh!!!


"Jangan senyum kaya gitu bodoh! Nanti bisa bikin orang salah paham!" batin Ichal.


Jantung Ichal terus berdebar dengan kencang selama pelajaran. Dia terus melirik Hani tanpa sepengetahuannya.


"Gue lagi ngapain sih anj*r!!!" Ichal menutup wajahnya dengan buku saking malunya.

__ADS_1


Hani hanya melirik tingkah laku Ichal dengan heran. Sementara Salsa terus menatap mereka dengan tatapan iri dan dengki.


"Tunggu aja pembalasan gue!"


__ADS_2