Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.64 Momen


__ADS_3

"Kenapa? Gak biasanya, Lo ngirim pesan ke gue," tanya Barsena.


Lagi-lagi Ichal menghela nafas panjang.


"Kenapa, Chal?" Barsena kembali bertanya.


"Senin besok gue mau ke Amerika," jawab Ichal lirih.


"Amerika?!" pekik Barsena.


Ichal mengangguk pelan. "Iya, Amerika.


"Pantes gue lihat di bawah, Tante Tamara sibuk banget," gumam Barsena.


"Gue harus gimana lagi, Barsena? Gue gak mau mat*, gue gak mau ninggalin Hani." Ichal mengacak rambutnya, dia benar-benar frustrasi.


"Hani tahu tentang ini?" Barsena menatap Ichal menyelidik.


Ichal menggeleng pelan. "Hani belum tahu sama sekali."


"Lo harus kasih tahu Hani! Lo harus belajar dari kesalahan Lo sebelumnya!" teriak Barsena.


Ichal terdiam, apa yang Barsena katakan memang benar. Dia harus mengatakan masalah ini pada Hani. Kesalahan dia sebelumnya yang tak jujur akhirnya menjadi sesuatu yang fatal. Terlalu berlebihan jika Ichal harus mengulangi kesalahan yang sama.


"Besok gue mau ajak Hani jalan-jalan, setidaknya gue mau bikin kenangan indah sebelum gue pergi," lirih Ichal.


Barsena menepuk pundak sahabatnya itu. Dia tahu betul pasti sulit menjadi Ichal, pilihan yang harus dia pilih pun sangat sulit jika memilih satu dia harus rela yang satunya lagi ditinggalkan.


"Gue saranin, Lo harus bilang sama Hani!" ucap Barsena.


Ichal mengangguk. Barsena cukup lama di rumah Ichal, dia juga sedikit membantu Tamara yang sibuk berkemas. Setelah dirasa cukup membantu, Barsena akhirnya pamit pulang. Sebelum pulang dia sempat menepuk pundak Ichal untuk menyemangati sahabatnya itu.


Ichal langsung merebahkan kembali tubuhnya, sudah larut malam tapi dia tak kunjung bisa terlelap.


***


Sementara itu Hani sedang sibuk memilih baju yang akan dia pakai besok, dan menyiapkan beberapa barang yang akan dia bawa.


Dia terlalu bersemangat, sampai-sampai terus tersenyum sepanjang waktu. Srindra yang melihat itu juga ikut senang sekaligus heran juga.


Setelah selesai berbenah, Hani langsung merebahkan tubuhnya. Dia tak sabar ingin segera hari esok. Karena terlalu bersemangat sampai-sampai dia tak bisa memejamkan matanya.


"Gak sabar," gumam Hani sambil tersenyum.


Sampai akhirnya matahari terbit Hani tidak terlelap sedikitpun. Dia terlalu senang sampai tak bisa tidur.


"Udah pagi, dan aku gak tidur sama sekali," gumam Hani sambil bangkit dari kasurnya.


"Parah banget kamu, Han." Hani langsung mencuci mukanya dengan air dingin.


Dia lalu turun ke bawah untuk sarapan. Di sana sudah ada Srindra yang menunggu Hani.


"Jadi berngkat sama Ichal?" tanya Srindra saat Hani sudah duduk di kursinya.


Hani mengangguk dengan senyum semangat. "Jadi dong, Bun."


"Hari ini bunda akan mengurus kekacauan di kantor yang disebabkan tikus-tikus gak guna itu. Jadi bunda berangkat ke kantor pagi ini. Kamu hati-hati sama Ichal, jangan macam-macam!" ucap Srindra.


"Siap, Bunda!" teriak Hani semangat.


Srindra tersenyum melihat tingkah semangat Hani, setelah selesai dengan sarapannya Srindra langsung berangkat ke kantor.


"Bahagia banget sih kamu, Han!" gumam Hani.


***


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ichal tiba di rumah Hani untuk menjemput Hani. Dengan senyum sumringah dan bersemangat Hani berlari menghampiri Ichal sambil membawa tas yang berisi barang keperluannya.


"Sini." Ichal meraih tas Hani lalu memasukannya ke dalam bagasi.


Ichal membukakan pintu mobil untuk Hani. Hani tak bisa berhenti tersenyum saking senangnya.


"Siap berangkat?" tanya Ichal sebelum melajukan mobilnya.


"Siap banget!" teriak Hani semangat.


Ichal tersenyum melihat tingkah Hani yang tampak seperti anak kecil. Berkat Hani pikiran Ichal bisa sedikit jernih.

__ADS_1


Selama perjalanan Hani malah tertidur, karena semalaman dia tidak tidur sama sekali, rasa kantuknya menyerang sekarang. Alhasil selama perjalanan Hani tertidur dengan lelapnya.


Ichal sesekali melirik Hani yang terlelap di sampingnya, dia tersenyum melihat Hani.


Setelah hampir tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Bukannya membangunkan Hani yang terlelap di sampingnya, Ichal malah terus menatap wajah Hani yang terlelap.


"Aku harus banyak berterima kasih sama Tuhan," gumam Ichal.


"Mmmmhh." Hani menggumam sambil mengerjapkan matanya. Sambil menggeliat dia membuka matanya.


"Udah sampai?" tanya Hani dengan suara serak.


Hani melihat ke depannya, dia melihat hamparan pasir putih dan birunya air laut yang terlihat menenangkan.


"Bukannya bangunin aku, ih!" pekik Hani kesal.


"Aku gak tega bangunin kamu, orang kamu tidur sambil ngorok." Ichal tertawa mengejek Hani.


"Ih, nyebelin! Aku gak ngorok!" teriak Hani.


"Kamu mana tahu, kamu kan tidur!" goda Ichal.


***


Hani berlarian di pantai dengan pasir putih yang lembut itu. Dia tertawa saat ombak mengejarnya, bahagia sekali tampaknya dia. Ichal hanya tertawa sambil sesekali memotret tingkah Hani dengan kamera digital yang dia bawa.


Hani berlari ke arah Ichal yang malah duduk diam saja, dan langsung menarik tangannya agar mau bergerak. Akhirnya mereka berdua berlarian saling mengejar di tepi pantai, atau sesekali saling menyiprat dengan air laut hingga pakaian mereka basah. Sungguh suasana yang romantis sekali.


"Bentar istirahat dulu cape!" Hani langsung duduk di pasir putih itu.


Ichal pun melakukan hal yang sama, dia duduk di samping Hani. Hani menyenderkan kepalanya di bahu Ichal.


Langit sudah berwarna jingga, matahari sebentar lagi terbenam. Sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara itu tengah menyaksikan momen matahari terbenam yang romantis.


"Han."


"Hmmm."


"I love you," bisik Ichal.


"I love you too, Diaz." Hani makin menggenggam erat tangan Ichal seolah tak ingin kehilangannya.


Ichal memberikan jaket yang dipakainya untuk Hani. Mereka berjalan-jalan di pasar malam sambil mencari apa yang Hani mau.


Hani itu lebih seperti anak kecil yang diajak orang tuanya berbelanja mainan, girang sekali. Ini mau, yang itu juga mau seperti anak kecil saja.


Sampai penuh tangan Ichal dengan jajanan yang Hani mau. Namun, Ichal bahagia melihat Hani bahagia.


Setiap momen indah yang terukir di rekam dalam setiap jepretan kamera Ichal, dan tentunya dalam memori otak masing-masing.


Selesai makan Hani kembali duduk sambil menyender ke bahu Ichal. Mereka menatap langit malam yang malam ini tampak penuh dengan bintang. Sesekali Hani menunjuk salah satu bintang yang menurutnya paling besar dan terang.


"Ayo kita foto." Hani mengeluarkan kamera polaroid di tasnya.


"Aku kan bawa kamera digital, Han." Ichal memperlihatkan kamera digital yang sedari tadi dia gunakan untuk memotret.


"Kamu tahu, Diaz? Menurut aku kamera polaroid itu bermakna satu kali. Artinya semua momen yang kita lakuin gak mungkin keulang lagi, kaya momen kita sekarang ini. Walaupun suatu hari nanti kita ulangi lagi, pasti rasanya akan berbeda dengan yang pertama," jelas Hani lalu mengambil foto Ichal.


Tak lama keluar foto yang baru saja Hani ambil.


"Contohnya foto kamu ini, aku bisa aja ngambil foto kamu dengan gaya yang sama, tapi perasaan saat lihat foto ke-dua bakal berbeda dengan saat lihat foto yang pertama saat kamu gak sengaja gaya kaya gini." Hani memperlihatkan hasil fotonya pada Ichal.


Terlihat ekspresi Ichal yang tampak serius mendengarkan penjelasan Hani.


"Jadi, aku pikir gak ada momen yang bisa diulang. Kalaupun bisa, pasti rasanya gak akan sama," ucap Hani.


Hani lalu mengajak Ichal untuk berfoto bersama. Tak lama keluar hasil foto lalu Hani mengambilnya.


Ichal menatap nanar Hani yang tengah asik melihat hasil foto yang baru saja dia ambil bersama Ichal.


"Maafin aku, Han," batin Ichal.


Ichal bangkit dari duduknya dan menghampiri seorang penjual kembang api. Dia membeli kembang api dan menyalakannya. Lagi-lagi Hani melompat kegirangan seperti halnya anak kecil yang bahagia setelah dibelikan mainan baru. Tak lupa Ichal selalu mengabadikan momen indah ini di kamera digital kesayangannya.


***


Hani sudah tidur terlelap di penginapan, sepertinya Hani kelelahan setelah berlarian seperti anak kecil. Namun, Ichal di kamar yang berbeda masih duduk termangu. Pikirannya kacau lebih dari apapun. Besok mungkin hari terakhir dia bisa melihat Hani. Dia merogoh sesuatu di saku celananya, selembar foto yang tadi mereka ambil dengan kamera polaroid Hani.

__ADS_1


Foto mereka berdua yang tampak bahagia. Senyum sumringah Hani terlihat paling jelas dibandingkan dengan ekspresi Ichal yang lebih kaku. Ichal tersenyum getir menatap foto itu. Omongan Hani tentang polaroid yang bermakna satu kali terus terputar dalam otaknya.


Ichal langsung merebahkan diri di kasur dengan kasar. Tanpa sadar dirinya terlelap.


Sampai pagi sudah tiba, Hani sudah terbangun sejak pagi karena ingin melihat matahari terbit yang indah. Dia keluar dari kamarnya untuk melihat Ichal. Namun, kamarnya masih tertutup dengan rapat.


"Apa mungkin, dia belum bangun?" gumam Hani.


Hani menghampiri kamar Ichal, lalu memutar gagang pintu ternyata tidak dikunci. Dia masuk dengan perlahan takut Ichal masih tertidur dan terbangun karena Hani berisik.


Saat di dalam kamar Ichal, dia melihat Ichal tampak masih terlelap dengan wajah damainya. Hani menghampiri Ichal dan menatap wajah damainya yang tengah terlelap.


Wajah Ichal sudah tersorot matahari pagi yang cerah. Hani menggeser tubuhnya dan berdiri tepat di samping Ichal untuk menghalangi sinar matahari menyorot Ichal.


Tiba-tiba tangan Ichal meraih tangan Hani dan menariknya, alhasil Hani limbung ke pelukan Ichal.


"Diaz, kamu gak tidur?" Hani meronta mencoba lepas dari pelukan Ichal.


"Sebentar aja kaya gini!" bisik Ichal dengan suara khas bangun tidur.


Akhirnya Hani berhenti meronta dan membiarkan Ichal memeluk dirinya.


"Kenapa, Diaz?" bisik Hani.


"Aku perlu rasain momen ini. Bukannya momen kaya gini gak bakal bisa terulang lagi?" bisik Ichal.


Hani tersenyum mendengar Ichal. Ichal mendekap Hani di pelukannya dengan erat seolah itu adalah pelukan terakhir Ichal.


"Han."


"Hmmm."


"Kalau suatu saat salah satu dari kita pergi duluan, kita bikin janji jangan pernah sedih, yuk!" ucap Ichal.


Hani terdiam cukup lama. Dia jelas sudah tahu ke mana arah pembicaraan Ichal.


"Gak mau!" tegas Hani.


"Eh, kenapa?" tanya Ichal heran.


"Ya, jelas lah aku gak mau! Kalau misalnya aku pergi duluan, terus kamu gak sedih, aku gak mau, lah! Seenggaknya harus ada satu orang yang sedih saat aku pergi, dengan begitu aku bisa tahu siapa aja yang kehilangan saat aku pergi," jawab Hani blak-blakan.


Ichal tertawa geli mendengar jawaban masuk akal Hani. Dia tak bisa berkata-kata lagi dengan jawaban Hani yang seratus persen dari hatinya itu.


"Tapi, kamu gak bakal tinggalin aku, kan?" lirih Hani.


Deg!


Tawa Ichal seketika terhenti. Pertanyaan Hani rasanya langsung mengena tepat ke jantungnya. Ichal terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Hani.


"Kamu gak bakal tinggalin aku kan, Diaz?" lirih Hani.


Ichal masih membisu. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan suara.


"Diaz, kamu gak bakal tinggalin aku, kan?" lirih Hani lagi. Kali ini suara Hani terdengar bergetar, mungkin sebentar lagi Hani akan terisak.


Ichal makin mengeratkan pelukannya, dengan begini semakin Ichal tak ingin meninggalkan Hani.


"Kamu, gak bakal tinggalin aku kan, Diaz?" Kali ini Hani benar-benar terisak pilu sekali.


Ichal masih tak mampu berkata-kata, dia memeluk Hani dengan makin erat. Dia mengelus lembut rambut Hani.


"Aku gak bakal tinggalin kamu, Han," bisik Ichal dengan suara yang juga bergetar.


Bohong! Sudah jelas Ichal sedang berbohong pada Hani. Padahal kopernya yang berisi barang-barang yang akan dibawa ke Amerika besok pagi sudah siap, tapi Ichal masih saja berbohong pada Hani.


***


Hari sudah sore, Ichal sedang memasukan barang miliknya dan juga milik Hani ke dalam bagasi mobil. Sudah waktunya untuk pulang, tapi Hani masih asik menatap deburan ombak. Ichal sampai tak berani harus mengajak Hani pulang, ketika Hani sedang menikmati hal yang paling dia senangi itu.


Ichal menatap punggung Hani yang tengah terduduk di pasir sambil menikmati deburan ombak. Dia sudah bertekad untuk memberitahukan rencananya tentang pergi ke Amerika pada Hani.


Ichal duduk di samping Hani. Dia menoleh ke arah Hani lalu menatapnya dari samping lama sekali. Seolah dia ingin puas-puas menatap Hani. Saat Ichal hendak membuka suara, tiba-tiba Hani terlebih dahulu membuka suaranya.


"Diaz," lirih Hani.


"Iya."

__ADS_1


"Kita putus aja," lirih Hani.


Deg!


__ADS_2