Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.28 Jadian?


__ADS_3

"Jadi semalem gue ...,"


Andri menatap wajah Ichal dengan serius menunggu kelanjutan dari ucapan Ichal.


"Apaan sih?!" teriak Andri frustrasi karena terlalu penasaran.


"Tadi malem gue gak sadar cium Hani." ungkap Ichal sambil menutup wajahnya yang merona.


"HAH?! Gue gak salah denger kan?"


"Gue serius!" Ichal menjawab sambil memukul-mukul bibirnya.


"Terus kalian jadian?" Andri ingin tahu lebih jauh lagi tentang sahabatnya.


"Dahlah gue gak tahu! Sekarang jadi canggung banget b*ngs*t!"


Sementara itu Hani tengah di toilet, dia melihat pantulan wajahnya di cermin lalu perlahan mengusap bibirnya yang tengah tersenyum.


"Semalem aku ngapain?" jerit Hani dalam hati.


***


Mari kembali ke waktu malam saat kejadian itu terjadi.


Saat berjalan samar Hani melihat seseorang yang tengah duduk membungkuk di dekat rumah itu. Dengan langkah tertatih Hani menghampiri orang itu, dan terdengar isakan dan nafas berat dari orang itu.


Makin dekat, Hani makin bisa mendengar dengan jelas. Walaupun suasana di sana cukup gelap tapi anehnya Hani dengan jelas bisa tahu siapa orang yang kini tepat ada di depannya.


"Ichal! Hiksss ...." tangis Hani pecah sambil memeluk seseorang yang membungkuk di depannya yang memang benar itu adalah Ichal.


Ichal mengangkat kepalanya perlahan.


"Besok peringatan Laras mening--"


"Aku tahu Chal! Aku tahu!" ucap Hani memotong ucapan Ichal.


Hani kembali memeluk Ichal dengan erat. Dia mengusap punggung Ichal dengan lembut mencoba menenangkan Ichal padahal pikiran Hani sendiri pun sedang sangat kacau.


Sekian lama yang terdengar hanya isakan dari keduanya yang saling bersahutan. Sampai akhirnya Hani perlahan mengurai pelukannya, dia menggenggam kedua pipi Ichal lalu menatapnya lamat-lamat. Beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti diantara keduanya.


"Ayo pulang Chal, di sini dingin," Hani membuka suara memecah keheningan.


Ichal mengangguk lalu bangkit dari duduknya, begitupun juga Hani.


"Mobil kamu dimana Chal?" Hani bertanya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan mobil Ichal.


"Atau kamu bawa motor?" mata Hani kembali berkeliling mencari keberadaan motor Ichal.


"Gue gak bawa mobil ataupun motor," jawab Ichal singkat.


"Oh, kamu ke sini naik taksi," Hani mengangguk-anggukan kepalanya sambil melirik Ichal.


Ichal menggeleng pelan saat mendengar ucapan Hani.


"Terus kamu ke sini naik apaan?!" Hani benar-benar kaget.


Dia melirik ke bawah, pandangan Hani tertuju pada langkah Ichal yang tertatih. Dia menajamkan penglihatannya agar bisa melihat dengan jelas. Astaga! Hani sampai mengerjapakan matanya beberapa kali untuk mengetahui penglihataannya tidak salah.


"Jangan bilang kamu dari rumah langsung lari tanpa pake sepatu?!" teriak Hani lalu berjongkok melihat kondisi kaki Ichal.


Dengan jelas Hani bisa melihat jika telapak kakinya terdapat bercak darah.


"Ini bahaya Chal, kamu bisa infeksi!"


"Gue gak papa!"


Ichal menarik tangan Hani agar jangan berjongkok di depannya.


"Oke, kamu ke rumah aku dulu! Kita harus obatin luka di kaki kamu, bahaya!" Hani menyetop taksi dan memaksa Ichal untuk naik.


Walaupun Ichal terus bersikeras menolak akhirnya dengan sedikit dorongan Hani berhasil memasukan Ichal ke dalam taksi. Lalu taksi melesat dengan cepat ke rumah Hani.


"Ayo masuk!" ucap Hani saat telah di depan pintu rumahnya.


Ichal mengangguk lalu mengikuti langkah Hani. Hani bergegas berlari menuju kamarnya untuk mengambil kotak P3K.


Ichal duduk di sofa ruang tamu Hani dengan tatapan kosong. Sesekali dia menghela nafas panjang sambil menunggu kedatangan Hani.


"Kenapa lo selalu ada saat gue lagi kelihatan lemah Han?" gumam Ichal.


Pikirannya berkelana pada saat-saat Hani selalu ada untuknya.


"Nah, ayo cuci luka kamu dulu!" ucap Hani membuyarkan lamunan Ichal.


Ichal melihat Hani meletakkan sebaskom air hangat di depannya. Hani menggulung celana Ichal dengan perlahan.


Deg ... deg ... deg ....


Debaran jantung Ichal mulai tak terkendali saat melihat Hani benar-benar dari jarak dekat.


Dia melihat Hani yang telaten membasuh luka di telapak kakinya.


"Issshhh!" Ichal meringis saat Hani mengoleskan obat merah pada telapak kakinya.

__ADS_1


"Aduuuh! Orang aneh mana sih yang lari dari jarak hampir 20 km tanpa sepatu? Bahkan atlit maraton juga pake sepatu," Hani terus mengomel sambil mengoleskan obat pada kaki Ichal.


Tanpa sadar Ichal tersenyum mendengar omelan Hani.


"Ini bukan cuma luka lecet loh! Kalau gak di obatin bisa-bisa infeksi!" omel Hani.


Ichal menatap pucuk kepala Hani yang berjongkok di depannya dengan terus mengeluarkan omelannya.


"Besok sebelum sekolah kamu ganti dulu perbannya, kalau gak di ganti nanti infeksi!"


"Kamu denger aku ngomong gak sih?!" teriak Hani kesal, pasalnya Ichal tak mengeluarkan suara sedikitpun walaupun Hani terus mengomel di depannya.


"Kamu tidur ya? Ishhh ... dasar kurang ajar!" Hani mengangkat kepalanya untuk melihat Ichal ternyata Ichal tengah menatapnya dengan dalam.


Blussshh!


Pipi Hani merona saat menyadari tatapan Ichal.


"Ke-kenapa Chal? Kamu malah tatap aku kaya gitu?" tanya Hani gugup saat tatapan Ichal padanya semakin intens.


Ichal merundukan kepalanya, lalu tanpa sadar tangannya meraih dagu Hani. Dan ....


Cup!


Ichal menempelkan bibirnya ke bibir Hani. Mata Hani membulat saat Ichal menciumnya tiba-tiba, berbeda dengan Ichal yang menutup matanya rapat-rapat. Hani bahkan tak mampu mengontrol debaran jantungnya.


Hal itu terjadi cukup lama dan intens, yang terdengar hanya deru nafas dari keduanya dan debaran jantung yang terdengar dengan jelas dari keduanya.


Perlahan Ichal tersadar melepaskan tautan bibirnya.


"Haaaaah!" Hani akhirnya bisa mengambil nafas dengan baik saat Ichal melepaskan bibirnya.


Dalam beberapa saat hanya keheningan yang terjadi.


"Ahahaha ... udah malem nih waktunya kamu pulang!" Hani tertawa dengan canggung sambil mendorong Ichal agar segera meninggalkan rumahnya.


"Ta-tapi," ucap Ichal terbata.


"Ayo pulang! Pokonya pulang!" teriak Hani sambil terus mendorong punggung Ichal dengan wajah memerah.


"Gue sebenernya suka sama lo!"


Langkah Hani terhenti saat telinganya mendengar sesuatu yang mengejutkan dari Ichal.


"Ma-maksud kamu?!"


Ichal berbalik dari yang semula membelakangi Hani menjadi menghadap Hani. Ichal menatap wajah penuh tanda tanya Hani dengan dalam.


"Gue suka sama lo Hani!" tegas Ichal sambil terus menatap wajah Hani.


"Gue gak punya alesan buat suka sama lo! Gue gak tahu sejak kapan rasa gue sama lo bisa berubah," Ichal menjawab dengan lirih.


Ichal berbalik lalu melangkahkan kakinya meningalkan Hani yang masih terpaku setelah mendengar pengakuan mengejutkan darinya.


Ichal berjalan dengan tertatih, sekarang dia bisa merasakan rasa perih di kakinya.


"Ichal!!!" Hani berteriak memanggil Ichal.


Ichal menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Hani.


Tap ... tap ... tap ....


Suara kaki Hani yang berlari menghampiri Ichal terdengar memecah kesunyian yang terjadi di sana.


Grep!"


Hani meraih tangan Ichal yang hendak membuka gerbang, lalu menarik Ichal agar menghadap ke hadapannya.


Dengan sedikit susah payah Hani berjinjit, lalu ....


Cup!


Hani mendaratkan bibirnya di pipi Ichal dengan tiba-tiba membuat Ichal terlonjak kaget.


"Aku juga suka sama kamu!" jerit Hani lalu kembali berlari meninggalakan Ichal yang masih terkejut.


"Su-suka? Hani suka sama gue?!" Ichal bertanya pada dirinya sendiri tak percaya dengan pendengarannya.


Hani menutup pintu lalu bersandar dan merasakan debaran jantungnya yang tidak normal. Dia menyentuh bibirnya sendiri dan kembali kejadian tadi terulang di pikirannya.


Sontak wajahnya memerah saat mengingat itu, hingga dirinya tak mampu mengendalikan senyum yang terus terlukis di wajahnya. Begitupun dengan Ichal yang merasakan hal yang sama.


***


"Jadi gitu nyet, gue sekarang gimana?" Ichal benar-benar frustrasi.


"Apalagi? Kalian udah jadian lah?" jawab Andri santai.


"A-apa? Pacaran? Ichal sayang pacaran? Sama siapa?" teriak Salsa yang tiba-tiba ada di samping mereka.


"Waaaaah princess ku, ngapain ke sini?" goda Andri membuat Salsa bergidik.


"Lo jangan ngomong sama gue! Gak level!" Salsa berbicara dengan tegas sambil memilin ujung rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Chal ... Chal ... itu Hani!" kata Andri sambil menepuk pundak Ichal, lalu menunjuk ke arah pintu.


Andri tak menghiraukan keberadaan Salsa yang tampak mulai kesal karena tidak ada yang menghiraukan dirinya.


Ichal melirik ke arah yang ditunjuk Hani. Entah kenapa, waktu seolah terasa melambat bagi Ichal saat melihat sosok Hani yang berjalan ke arahnya. Seolah sosok Hani terlihat bersinar di pandangannya.


"Aduh b*ngs*t! Kenapa hari ini Hani cantik banget sih?" batin Ichal dengan mata yang seolah enggan untuk berkedip.


Dengan senyum manis, Hani menghampiri Ichal yang tengah duduk dengan mata yang tak berkedip melihat Hani yang entah mengapa hari terlihat lebih cantik.


Hani duduk di samping Ichal dengan perasaan canggung, apalagi jika ingat kejadian semalam.


Hani melirik Ichal, seketika wajahnya merona.


"Kenapa hari ini Ichal keren banget sih Tuhaaaan?!" batin Hani menjerit saat melihat ketampanan pemuda di sampingnya.


"Canggung banget!" jerit Hani dan Ichal dalam hati masing-masing.


"Anuuu ak--,"


"Gue--,"


Hani dan Ichal berbicara berbarengan membuat suasana keduanya semakin terasa canggung.


"Ah, kamu duluan aja Chal,"


"Lo aja duluan!" Ichal berkata sambil menggaruk tengkuknya yang tentu saja tak gatal.


"Itu, aku mau ajak ka--,"


"Gue mau ajak lo jalan, nanti malem jam 7 mau gak?" dengan cepat Ichal memotong kalimat Hani.


Entah mengapa pipi keduanya menjadi merona. Lalu dengan perlahan Hani mengangguk tanda setuju dengan ajakan Ichal.


Ada rasa yang tak bisa di jelaskan, saat Ichal melihat anggukan Hani. Yang jelas sekarang debaran jantungnya benar-benar tak bisa dikendalikan.


***


Bel terakhir berbunyi, semua orang berhamburan keluar kelas untuk pulang.


Ichal memberikan secarik kertas saat Hani hendak keluar kelas. Lalu Ichal dengan datar berjalan mendahului Hani. Hani melihat kertas yang ada di tangannya lalu membukanya.


"Gue jemput jam 7, siap-siap gak usah dandan!"


Begitulah yang tertulis di kertas itu, tanpa sadar Hani tersenyum saat membaca itu.


Barsena tak sengaja melihat Hani yang tersenyum.


"Udah lama gue gak lihat senyum manis itu," gumam Barsena.


***


"Hari ini aku pake baju apa?" gumam Hani sambil membuka lemari pakaiannya.


Dengan teliti Hani melihat satu persatu baju yang tersimpan rapi dalam lemarinya.


"Hah gawat!" gumam Hani sambil menggigit ujung kukunya.


"Aku gak punya baju!" teriak Hani lalu mengacak rambutnya sambil melihat tumpukan baju yang tersimpan di lemari yang berbeda-beda.


Hani sibuk mengeluarkan baju yang kira-kira akan dipakai dirinya. Dia mencocokan semua baju yang dia keluarkan dan masih belum menemukan yang cocok menurutnya.


"Tapi hari ini Ichal mau ngajak jalan kemana? Aku lupa tanya," teriak Hani frustrasi karena terlalu gugup lalu membenamkan wajahnya ke atas tumpukan baju yang berantakan di atas kasurnya.


Hani melirik jam di ponselnya, mata Hani seketika membulat saat melihat pesan dari Ichal.


[Gue udah di jalan, bentar lagi sampe!]"


"Udah di jalan?!" teriak Hani lalu bangkit dengan tergesa sambil melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul 18:45 menit.


"Udah jam segini, dan aku masih belum apa-apa?!" jerit Hani panik sambil berlari menuju kamar mandi.


Singkat saja Hani sudah selesai dengan mandinya. Dia masih belum menentukan baju yang tepat untuk dipakai hari ini.


"Kyaaaaaa ... aku mau mat* aja!" teriak Hani frustrasi.


"Oke, aku pake ini aja!"


Hani menyambar sebuah dress warna maroon yang tergantung rapi di lemarinya. Lalu tujuan Hani mengacak pakaiannya untuk apa? Dasar!"


Hani memakai riasan tipis di wajahnya, dia menggerai rambutnya dengan sedikit rambut bagian depannya dikepang lalu di ikat ke belakang. Hani merapikan poni tipisnya dengan hati-hati.


Hani melihat sepatu-sepatu miliknya, lagi-lagi Hani terlihat bingung menetukan sepatu yang cocok untuknya.


Pilihan Hani jatuh pada heels berwarna senada dengan dress yang ia kenakan, dengan hak agak tinggi.


Yang jelas malam ini Hani benar-benar terlihat berbeda.


Bunyi klakson terdengar di depan rumah Hani. Hani melihat dari jendela kamarnya, mobil Ichal sudah terparkir di sana.


Hani menyambar tasnya, lalu menyampirkan di pundaknya. Sejenak dia bercermin untuk merapikan pakaian serta rambutnya. Dengan langkah hati-hati Hani menuruni tangga.


Hani menghampiri Ichal yang tengah berdiri membelakanginya. Entah mengapa jantung Hani berdebar kencang walau hanya melihat punggung Ichal.

__ADS_1


"Chal," sapa Hani dengan lembut.


"Udah sia ... aaap?" Ichal terpesona melihat Hani yang ada di hadapannya.


__ADS_2