Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.12 > Tentang Barsena


__ADS_3

Namaku Barsena, kehidupanku dari dulu tidak ada yang berubah. Ayah yang selalu berbuat kasar padaku dan adikku, bahkan mendiang ibukku juga menjadi korban dari kekerasan ayahku. Beliau meninggal setelah ayah memukulnya tepat di belakang kepala hingga tengkoraknya retak dan ibukku meninggal dunia.


Akibat kejadian itu ayahku dipenjara selama beberapa tahun sampai akhirnya dibebaskan karena kelakuan baik saat di penjara. Dan saat bebas dia kembali menjadi ayah yang menyeramkan yang selalu memukul aku dan adikku.


Padahal saat ayah di penjara aku yang saat itu masih umur 8 tahun harus bertahan hidup bersama Kira adikku yang saat itu berumur 4 tahun. Tapi setelah ayah bebas tidak ada yang berubah, kebiasaan buruk ayah malah makin menjadi.


Tidak ada pembantu yang kuat bekerja di rumahku dalam waktu yang lama, karena kebiasaan ayah yang buruk.


Dulu aku mempunyai sahabat yang kutemui tidak sengaja saat aku menangis di pinggir jalan karena aku teringat dengan mendiang ibukku. Namanya Laras, dia begitu manis hanya saja benar-benar ceroboh. Karena sifatnya yang sangat ceroboh dan terlalu baik dia selalu ditemani oleh anak bernama Ichal yang mempunyai sifat yang bertolak belakang dengan Laras.


Namun laras pergi terlebih dulu meninggalkan kami. Sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ichal dan hari-hari penuh penyesalanpun kembali dimulai.


Aku menjadi anak nakal karena kurangnya didikan baik di keluargaku, dan hatikku yang dipenuhi rasa penyesalan setelah sahabat baikku tiada. Hingga akhirnya aku bertemu dengannya. Namanya Hani, gadis cantik namun sangat ceroboh sekilas dia mengingatkanku pada mediang Laras sahabatku.


Sebelumnya tidak ada yang berani dekat denganku karena sifatku yang buruk. Tapi Hani berbeda, dia menghampiriku dengan senyum dan membujukku agar mau berteman dengannya.


Tentu saja awalnya aku menolak hingga akhirnya kamipun berteman dan mulai akrab satu sama lain. Sampai akhirnya benih-benih cinta itupun hadir mengisi hati kami masing-masing dan kamipun menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi.


Kami punya tempat kenangan tersendiri, bangku taman yang tampak sudah usang dan reyot menjadi tempat penuh kenangan bagi kami, di sana terukir inisial nama kami H&B.


"Barsena, lihat deh! Aku ukir inisial nama kita disini, supaya kita bisa tetep bersama." begitu katanya saat aku melihat apa yang dia lakukan.


Aku bahkan masih mengingat senyum manis yang merekah saat dia mengukir tulisan itu. Setiap aku bersama Hani, aku selalu melewati hari beratku dengan senyum dan tawa hingga aku pulang, aku akan merasakan pukulan ayah yang kurasa tetap menyakitkan walaupun sudah terbiasa.


Aku harus pura-pura tegar karena aku tidak mau membuat Kira bersedih melihat aku menderita. Setiap kesedihan dan kesakitan itu akan hilang saat aku bersama Hani, dia selalu tahu bagaimana cara membuat aku bisa tertawa dengan sikap cerobohnya.


Hingga sampai pada akhirnya aku harus meninggalkan Hani karena Andin. Saat itu ayahku meminta untuk aku bersama Andin dan meninggalkan Hani, tentu saja karena ayahku sudah mendapat uang bayaran dari ayahnya Andin.


Aku bersikeras menolak tapi ayahku mengancam akan menjual Kira kepada lelaki hidung belang. Tentu saja aku tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang ayahku dan ayahnya Andin mau.


Bodohnya aku meninghalkan Hani pada saat hari dimana dia harus berbahagia karena ulang tahunnya. Tapi aku malah meninggalkan dia menangis sendirian di taman tempat penuh kenangan antara kami.


Sampai aku mendengar kabar malam itu juga neneknya meninggal dunia, duniaku kembali runtuh kehidupanku dipenuhi dengan penyesalan. Sekarang yang tersisa dari hidupku hanya penyesalan.


Dan kamipun benar-benar berpisah karena Hani memilih pindah sekolah, mungkin dia sudah terlalu benci padaku. Sempat beberapa kali aku mencoba menjelaskan semuanya pada Hani tapi itu semua sudah terlambat Hani sudah benar-benar membenciku.


Sampai akhirnya beberapa bulan setelah Hani pindah, aku juga menyusul Hani pindah kesekolahnya. Namun sepertinya aku terlambat, sekarang Hani sudah mengenal orang yang aku tahu benar dia bisa menjadi yang lebih baik daripada aku. Iya, dia adalah Ichal sahabatku dulu.


Apakah sekarang sudah waktunya aku menyerah? Entahlah hatiku masih belum bisa melepas Hani sepenuhnya.


***

__ADS_1


"Kak siapa nih? Cantik banget!" mata Kira berbinar saat melihat sebuah foto yang terbingkai rapi, namun sayang hanya disimpan di dalam laci.


Barsena melirik foto yang dipegang adiknya itu lalu menyambarnya. "Adek gak perlu tahu! Gak penting." ujar Barsena sambil melempar kembali foto itu ke dalam laci lalu menutup rapat laci itu.


"Ih pelit!" Kira mengerucutkan bibirnya kecewa.


"Ih, ade mulai manja nih!" Barsena mencubit pipi adiknya kesayangannya dengan gemas, membuat Kira kesal dan balas mencubit lengan Barsena.


"Aww! Sakit adek!" pekik Barsena.


"Rasain! Wleee!" ucap Kira sambil menjulurkan lidah mengejek Barsena sambil lari keluar kamar Barsena.


Suasana kembali hening saat Kira meninggalkan kamarnya. Barsena lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur yang mulai terasa reyot.


Sebenarnya mereka kaya raya ayahnya juga punya perusahaan yang saat ini lumayan sukses. Tapi Barsena enggan meminta uang pada ayahnya karena untuk berbicara dengannya saja Barsena terlalu malas.


Dia lalu bangkit dan membuka seragamnya, dengan jelas terlihat memar di sekujur tubuhnya yang sudah pasti itu adalah ulah dari ayahnya. Dia meringis saat menyentuh memar di punggungnya yang belum sempat terobati karena sulit dijangkau jika diobati oleh sendiri.


Barsena tidak menyadari saat ini Kira sedang melihat memar di tubuhnya itu di balik pintu yang tidak tertutup rapat.


"Maafin Kira kak! Ini semua gara-gara Kira yang lemah gak bisa lindungin kakak!" gumam Kira lirih, lalu meneteskan air mata.


"Aww!" Barsena memekik kesakitan saat mencoba mengoleskan obat di punggungnya.


"Duh! Adek kalau masuk kamar orang ketuk dulu jangan langsung nyelonong masuk aja!" ucap Barsena kaget.


"Sini Kira bantu obatin!" ucap Kira sambil menyambar obat di tangan Barsena tanpa memperdulikan ucapan Barsena.


"Kakak kalau cape boleh istirahat loh! Kalau kakak sakit kakak boleh bilang sama Kira."


"Kalau kakak sedih, kakak boleh bilang sama Kira. Kalau kakak gak kuat, kaka boleh bilang sama Kira! Kira emang masih kecil, umur Kira aja belum nyampe 15 tahun tapi Kira juga bisa di jadiin tempat kakak berkeluh kesah."


"Kakak jangan so kuat, Kira tahu kakak menderita karena semua ini! Kira tahu kakak hidup penuh dengan penyesalan. Kira tahu kak! Jadi Kira mohon mulai sekarang berhenti so kuat depan Kira!" Kira terus berbicara dan tak mampu menahan air matanya.


Dia terus terisak di balik punggung Barsena. Barsena yang mendengar semua ucapan adiknya hanya menunduk 'kan kepala lalu dia berbalik dan memeluk adiknya dengan hangat.


"Kira gak usah khawatir soal kakak! Kakak beneran baik-baik aja, pokonya Kira belajar yang rajin jadi anak pinter biar kita bisa lepas dari semua penderitaan ini!" ucap Barsena sambil mendekap adiknya dengan erat.


Kira menganggukan kepalanya perlahan di dalam dekapan Barsena. Tanpa sadar Kira pun tertidur dalam dekapan Barsena, dia lalu menggendong Kira ke kamarnya. Perlahan dia membaringkan Kira lalu menyelimutinya.


Barsena terus menatap adiknya yang tengah terlelap tidur dihadapannya, dia mengelus lembut rambut adiknya.

__ADS_1


"Maafin kakak dek! Kakak gak bisa lepasin kita dari cengkeraman ayah." gumam Barsena, lalu mengecup kening adiknya.


Dia menutup pintu perlahan, sementara itu Kira menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Dasar kakak bod*h! So kuat! Pura-pura baik-baik aja padahal menderita! Jangan minta maaf sama Kira, kakak gak salah apa-apa!" gumam Kira yang ternyata terbangun saat Barsena mengelus rambutnya.


***


"Hoaaam!" Ichal menguap sambil menggeliat saat pelajaran di mulai, seolah sudah menjadi kebiasaan dirinya seperti ini.


"Diaz Angga Ananta! Nilai kamu masih jadi yang terjelek di kelas ini, jika kamu terus seperti ini kamu tidak akan bisa lulus!" bentak guru yang mengajar hari ini, kebetulan hari ini pelajaran bu Rahma yang sekaligus wali kelasnya.


Ichal hanya mendengus mendengar itu, dia berusaha memperhatikan pelajaran namun tetap saja matanya terasa berat karena seperti biasa semalam hanya bisa tidur sekitar 2 jam karena insomnianya.


"Diaz, ikut ke ruangan saya!" pinta bu Rahma pada Ichal.


Dengan malas Ichal mengikuti langkah bu Rahma ke ruangannya.


"Silakan duduk Chal!" perintah bu Rahma lebih santai.


"Sebenarnya Ichal ada masalah apa di rumah?" tanya bu Rahma dengan ramah.


"Ko ibu nanya-nanya masalah rumah saya? Itu privasi dong bu!" jawab Ichal dengan ketus.


"Ibu tahu itu privasi, ibu hanya khawatir akan nilai Ichal yang semakin hari semakin menurun. Jika seperti ini terus ada kemungkinan kamu tidak akan lulus, padahal ujian Nasional tinggal sekitar 5 bulan lagi Ichal." jelas bu Rahma dengan senyum ramah.


Ichal hanya terdiam mendengar itu.


"Ibu harap kamu bisa merubah nilai dan kebiasaan kamu, walaupun waktunya tidak banyak tapi ibu yakin kamu pasti bisa!" ujar bu Rahma menyemangati Ichal.


Ichal lalu beranjak dari kursi, berpamitan untuk meninggalkan ruangan.


"Ibu Harap kamu berusaha untuk berubah Chal!" teriak bu Rahma saat Ichal berada di ambang pintu.


***


"Haaaaaah!" Ichal menghela nafas panjang saat duduk di kursinya.


"Eh buseet! Kenapa lu? Abis di apain sama bu Rahma sampe kayak gitu?" tanya Andri setengah mengejek Ichal.


"Bukan urusan lu!" jawab Ichal datar. Andri hanya menggeleng saat mendengar jawaban Ichal.

__ADS_1


Sementara itu Hani pun merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan Ichal dan wali kelasnya. Namun dia tidak berani bertanya karena tahu Ichal tidak akan menjawabnya. Dia hanya menatap Ichal dengan penasaran.


__ADS_2