
Keesokan harinya ....
Sebuah mobil van hitam berhenti tepat di rumah Srindra. Mobil itu tampak mencurigakan sehingga Ardi harus turun tangan memeriksa mobil itu.
"Tadaaaaa! Kita ke sini mau jemput Hani, Om!" teriak Salsa sambil membuka pintu mobil.
Ardi tampak kaget dengan teriakan Salsa, tapi dia berhasil mengontrol ekspresi datar wajahnya.
Mobil itu ternyata milik Chika. Mereka berniat menjemput Hani untuk pergi liburan ke pantai sekaligus untuk merayakan pencapaian luar biasa Hani.
"Oh, kalian. Saya kira siapa." Ardi berdehem lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini?" tanya Srindra yang mendengar kehebohan di luar yang ditimbulkan dari suara heboh Salsa.
"Pagi, Bunda. Kita mau jemput Hani buat liburan. Boleh, 'kan, Bun?" ucap Salsa.
"Oh, ide bagus. Tampaknya Hani juga sedang tidak bersemangat, jadi lebih baik kalau kalian membawa Hani bersenang-senang." Srindra langsung memberi Izin pada mereka untuk membawa Hani.
Sementara itu Hani masih terlelap di balik selimutnya. Semalaman dia kesulitan untuk tidur, hingga baru bisa tertidur setelah meminum beberapa butir obat tidur. Sekarang sudah jam delapan pagi dan Hani masih terlelap tak tahu keadaan di luar rumah yang heboh karena Salsa dan yang lainnya.
Salsa dan Chika berdiri tepat di depan pintu kamar Hani. Mereka mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam.
"Hani gak bukain pintu?" Srindra menghampiri Salsa dan Chika.
Salsa dan Chika menggeleng, tak ada jawaban sama sekali dari Hani apalagi untuk membuka pintu.
"Mungkin Hani belum bangun, kalian pake kunci duplikat aja. Bentar bunda ambilin," ucap Srindra lalu bergegas mengambil kunci duplikat di kamarnya.
Setelah Salsa dan Chika menerima kunci dari Srindra, mereka bergegas membuka kunci kamar Hani untuk membangunkan Hani.
"Pasti Hani bakal kaget banget." Chika berbisik pada Salsa.
Mereka berjalan menendap-endap menghampiri Hani yang masih terlelap. Salsa dan Chika berdiri di samping kanan dan kiri Hani, setelah Salsa memberikan aba-aba dengan jari tangannya, mereka berteriak untuk membangunkan Hani.
Mendengar teriakan yang tiba-tiba Hani sontak terbangun. Wajahnya menunjukan dia benar-benar terkejut, ekspresi Hani yang seperti itu malah membuat Salsa dan Chika tertawa geli.
"Kalian ngapain, sih? Pagi-pagi gini ganggu aja!" gerutu Hani.
"Pokonya lo siap-siap sekarang, ayo!" Salsa langsung menarik tangan Hani agar turun dari ranjang.
Hani yang masih tak mengerti apa-apa hanya menuruti mereka dengan malas.
"Kamu mandi dulu, biar kita bantu siap-siap!" teriak Chika sambil menutup pintu kamar mandi.
"Ngapain, sih mereka?" batin Hani kesal.
Setelah beberapa saat Hani keluar dari kamar mandi, dia terkejut saat beberapa asisten rumah tangganya juga ikut sibuk membantu Salsa dan Chika melipat pakaian Hani dan memasukannya ke dalam tas.
"Kalian mau ngapain, sih? Kok, beresin baju aku?"
"Kita bakal liburan, yuhuuuu ... ke pantaaaai!" teriak Salsa antusias.
"Bukannya minggu depan, ya?" keluh Hani.
"No ... no ... minggu depan kelamaan, gue udah ga kuat!" sangkal Salsa sementara Chika hanya mengangguk-angguk.
"Buruan siap-siap! Kita tunggu di bawah, ya! Oh, iya Irma juga udah ada di bawah. Lo siap-siap cepet!"
Salsa dan Chika langsung meninggalkan Hani di kamarnya untuk bersiap-siap.
"Ada-ada aja mereka!" gumam Hani.
***
Setelah bersiap Hani menemui mereka di lantai bawah. Di sana sudah ada Barsena, Andri, Salsa, Chika dan Irma. Mereka tampak antusias saat melihat kedatangan Hani.
__ADS_1
"Gas, berangkat!" Andri langsung bangkit dari kursi. Tampaknya mereka semua sudah tidak sabar ingin segera bersenang-senang.
Setelah berpamitan pada Srindra, mereka langsung berangkat. Selama perjalanan tak henti-hentinya mereka tertawa karena lawakan Andri. Jelas terlihat penuh sukacita di antara mereka. Begitupun Hani, yang bisa tertawa dengan lepas saat bersama mereka.
Tidak ada yang menyangka sebelumnya, mereka bisa menjadi seakrab ini.
"Ini pantaaaaaaaiiiii!" Andri berlarian di atas pasir putih dengan riangnya.
Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya mereka sampai juga di pantai yang mereka tuju. Hamparan pasir putih yang eksotis, suara deburan ombak, desiran angin, membuat bahagia siapa saja yang merasakannya.
"Han, ayo sini main air!" Irma langsung menarik tangan Hani dan membawanya ke arah ombak yang datang.
Suara jeritan dan tawa bahagia bersatu di antara mereka. Hani terus tertawa terbahak-bahak saat mereka terus memaksa Hani untuk bermain air hingga akhirnya Hani lah yang paling basah kuyup di antara mereka.
"Kalian curang!" protes Hani.
Suara gelak tawa puas terdengar dari yang lainnya setelah mendengar protes Hani.
"Ah, lapeeeer!" teriak Andri.
"Iya, nih. Makan dulu, yuk!" ajak Barsena.
"Gue lagi diet, kalian aja yang makan," ucap Salsa.
"Gak usah diet-diet, lah! Ayo cepet!" Barsena menarik tangan Salsa.
"Kita mau makan apa?" tanya Irma.
"Kalau di laut makan ikan lah, biar cocok," jawab Andri sambil melihat pelayan yang membawa pesanan mereka.
Setelah makanan dihidangkan, langsung saja mereka serbu. Sambil makan pun, Andri tak henti-hentinya mengucapkan lelucon-lelucon konyol untuk menciptakan tawa di antara mereka.
Andri tertawa melihat yang lain tertawa. Andri melirik Hani yang tertawa dengan lepas, sejenak Andri menghentikan tawanya sambil memperhatikan Hani.
"Sesuai permintaan lo, gue berhasil bikin Hani ketawa, Chal. Gue harap lo baik-baik aja di sana, jangan khawatir tentang Hani," batin Andri.
"Kita berhasil bikin Hani ketawa, Chal. Tapi, gue gak tahu gimana perasaan Hani sekarang. Gak ada kabar apapun dari lo, gue harap lo baik-baik aja, Chal!" batin Barsena.
Sudah enam bulan lamanya Ichal di Amerika, tapi tak ada kabar sedikitpun tentang perkembangan kondisinya. Seolah Ichal telah hilang di telan bumi. Bahkan ayah dan ibunya pun tak ada kabar sama sekali. Sepertinya Ichal benar-benar telah hilang di telan bumi.
Setelah selesai makan mereka terus bersenang-senang bersama. Bernyanyi, tertawa, menari, dan masih banyak lagi kegiatan menyenangkan yang mereka lakukan bersama.
Tanpa terasa sudah larut malam, Salsa malah hampir tak kuasa membuka kedua matanya saking mengantuknya. Alhasil Chika dan Irma harus membopong Salsa yang sudah kantuk berat.
Sementara Hani masih terdiam di kursinya. Dia tertawa sebentar melihat Salsa yang teler karena kantuk. Dia melirik jam di pergelangan tangannya sudah lewat tengah malam. Namun, Hani tak merasakan kantuk sama sekali. Bukan tubuhnya yang lelah, tapi pikirannya yang lelah.
Dia bangkit lalu berjalan kembali ke arah pantai. Dia duduk di pasir sambil memeluk lututnya. Bayangan tentang Ichal otomatis terputar dalam otaknya. Ini adalah tempat yang sama saat dia memutuskan Ichal dahulu.
Ada rasa menyesal dan lega sekaligus yang Hani rasakan, entahlah. Seakan ada lapangan luas dalam hatinya. Namun, di waktu yang sama juga dia merasakan ada hujaman keras pada lapangan luas itu yang membuat sakit bukan main.
Tanpa sadar Hani menangis, tangisan yang selama ini berusaha dia tahan. Dia mengerang seolah telah mendapatkan tusukan benda tajam tepat di jantungnya. Sakit, hati Hani sakit saat mengingat Ichal.
Hani menumpahkan perasaannya yang tertahan selama enam bulan ini di tempat yang mempunyai kenangan bersama Ichal.
Tanpa Hani sadari ada satu orang yang memperhatikan dia menangis di sana. Barsena, berdiri mematung di belakang Hani. Dia melihat semuanya, ternyata Hani yang tertawa riang benar-benar menyimpan lukanya sendiri.
Dari jarak yang tidak terlalu dekat Barsena masih bisa mendengar erangan menyedihkan Hani. Padahal suara deburan ombak rasanya lebih berisik, tapi erangan Hani tak bisa di sembunyikan oleh suara deburan ombak itu.
"Kita gak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hati Hani, Chal. Itu semua tugas lo. Cepet sembuh dan cepet balik lagi ke sini, tugas lo sembuhin luka hati Hani, Chal. Kita semua yang ada di sini gak akan pernah bisa," batin Barsena.
Setelah menumpahkan kesedihannya, Hani langsung bangkit dari duduknya. Dia menuju penginapan untuk beristirahat. Saat sampai di kamarnya, dia melihat Salsa dan Chika sudah terlelap. Sementara Irma masih terduduk di kasur yang satunya menunggu Hani.
"Istirahat, Han!" pinta Irma.
Hani mengangguk, setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Hani berbaring di samping Irma.
__ADS_1
"Tidur, ya, Han!" Irma langsung menekan tombol lampu untuk mematikannya.
Dalam kegelapan dan keheningan, mata Hani masih enggan terpejam. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Hani bangkit lalu mengambil botol obat yang tersimpan di tasnya. Obat tidur yang membantu dia tidur akhir-akhir ini.
Dia menelan beberapa lalu kembali merebahkan tubuhnya. Tanpa Hani sadari, Irma tahu apa yang Hani lakukan. Jelas itu membuat Irma bersedih.
"Selama ini lo pasti menderita banget, Han. Maafin gue yang udah pernah tinggalin lo di masa sulit lo," batin Irma.
***
Sudah dua hari dua malam mereka bersenang-senang, hari ini saatnya mereka pulang. Salsa terus merengek untuk menambah satu malam lagi untuk mereka liburan di sana. Namun, Barsena menolak dan harus cepat-cepat pulang. Dia tidak enak lama-lama meninggalkan Kira sendiri di rumah.
Dengan Salsa yang terus manyun, mereka akhirnya pulang.
"Han, kita balik, ya!" teriak Chika dari dalam mobil setelah Hani turun tepat di depan rumahnya.
Hani mengangguk sambil melambaikan tangan kepada mereka.
"Gue sedih banget lihat Hani." Irma membuka suara.
"Iya, gue juga," sahut Barsena sembari tetap konsentrasi mengemudikan mobil.
"Semalem gue lihat Hani minum obat tidur. Pasti selama ini Hani menderita banget," ucap Irma.
"Bisa-bisanya Ichal gak ada kabar sama sekali." Andri ikut membuka suara.
"Semoga semuanya lancar. Sebenernya ini aneh banget, kenapa bahkan om Edi sama tante Tamara gak ngasih kabar sama sekali. Ichal pasti baik-baik aja, kan?" ucap Barsena.
Setelah itu tak ada lagi yang membuka suara.
Selain Hani, mereka juga sangat merindukan keberadaan Ichal. Mereka juga cemas akan keadaan Ichal sekarang. Kabar yang mereka tunggu-tunggu tak pernah datang sekalipun selama enam bulan ini.
"Chal, lo masih hidup, kan?" batin Barsena.
"Nyet, lo kagak mat* di sana, kan?" batin Andri.
***
"Gimana liburan kamu, Han?"
Srindra menatap Hani yang sedang mengaduk makanan di piringnya. Bukannya di makan, Hani malah terus memainkan makanan di piringnya. Tampak jelas sekali Hani tidak mempunyai selera makan. Terkadang karena tidak ingin membuat Srindra cemas, Hani sering berpura-pura memakan semua dengan lahap, tapi Hani selalu memuntahkan makanannya kembali tanpa sepengetahuan Srindra.
"Seru, kok, Bun." Hani menjawab sambil menatap makanan yang sedari tadi terus diaduk.
"Makan dong, Sayang!" ucap Srindra lembut.
Wajah Srindra jelas melukiskan kecemasan pada perilaku Hani. Dia melihat kondisi tubuh Hani yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Sering pula dia mendengar suara samar tangisan Hani dari dalam kamarnya. Namun, saat bersama Srindra, Hani terlihat lebih ceria. Srindra tahu betul, Hani tengah berusaha menutupi lukanya sendiri.
"I–iya, Bun. Aku makan."
Hani langsung melahap makanannya hingga habis tak tersisa. Setelah menghabiskan makananya Hani langsung pamit kembali ke kamar dengan alasan lelah.
Sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Hani berlari dengan tergesa-gesa menuju kamarnya.
Hani langsung masuk toilet dan memuntahkan kembali makanannya. Dengan lemas Hani berjalan menuju wastafel, dia mencuci wajahnya yang tampak sangat menyedihkan. Lingkaran hitam di bawah matanya akhirnya terlihat jelas setelah dia menghapus riasan tipis yang menutupinya. Lingkaran hitam hasil dari kesulitan tidurnya selalu Hani tutupi dengan riasan agar yang lain tidak mengetahui kondisinya yang sulit.
"Aku rindu." Hani terisak, dia kembali menangis dengan tersedu, benar-benar terdengar menyakitkan sekali.
Tanpa Hani sadari, Srindra mendengar semuanya dari luar toilet. Srindra yang melihat gelagat aneh dari Hani, mengikuti Hani sampai ke kamarnya. Pintu kamar Hani tak sempat di kunci, saat dia masuk ke kamar Hani tak ada Hani di sana. Namun, Srindra mendengar suara di toilet. Suara orang seperti sedang memuntahkan sesuatu.
Srindra menajamkan pendengarannya, akhirnya dia bisa mendengar dengan jelas jika Hani benar-benar memuntahkan makanan yang baru saja dia santap. Srindra lalu mendengar Hani menyalakan keran air, lalu samar-samar terdengar isakan pilu Hani.
"Sebenarnya sebesar apa sakit yang kamu rasakan dalam hatimu itu, Han?" batin Srindra.
Hani masih menangis, dia merasakan sesak di hatinya.
__ADS_1
"Aku rindu, Diaz!" teriak Hani di sela isakan tangisannya.