Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.69 Akhir yang Diharapkan


__ADS_3

Dua tahun kemudian ....


Seorang gadis berambut pendek keluar dari sebuah ruangan diikuti seorang pria yang tersenyum hangat kepadanya.


"Pastikan kamu makan dengan baik, dua minggu ke depan kita bertemu lagi. Awas kalau saat itu saya sampai mendapati berat badanmu turun. Berbahagialah, Hani!" ucap pria itu dengan lembut.


Hani tersenyum dengan lembut. "Baik, terima kasih untuk hari ini. Saya pamit."


Gadis bernama Hani itu langsung meninggalkan tempat pria itu.


Tring!


[Han, lo di mana? Acaranya bentar lagi mulai.]


Hani tersenyum membaca pesan dari seseorang. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Itu dia Hani!" teriak seorang gadis dengan ceria saat melihat Hani berjalan ke arahnya.


"Hai, Sal, Barsena. Selamat ya, buat pertunangan kalian." Hani memberikan pelukan selamat pada Salsa dan Barsena.


Dua tahun berlalu sejak keberangkatan Ichal ke Amerika. Semuanya tampak sudah berubah dan baik-baik saja. Hari ini Hani menyaksikan Salsa dan Barsena bertunangan.


Hani tertawa kecil saat melihat Barsena dan Salsa saling bertukar cincin. Padahal dulu dia sampai menderita melihat Barsena dengan Andin, tapi sekarang dia malah tertawa bahagia. Dia juga menertawakan dirinya yang dulu menangisi Barsena.


"Rambut pendek kamu kayaknya tambah pendek lagi, deh. Kamu potong rambut lagi, Han?" Tiba-tiba seseorang menyentuh rambut pendek Hani dari belakang.


Hani dengan cepat menoleh dan terlihat Chika berdiri di sana.


"Hai, Chika. Apa kabar? Kamu dateng sendiri? Gak bareng Andri?" tanya Hani sambil memeluk Chika.


"Awas, Han. Jangan bahas Andri nanti Chika ngamuk lagi di pesta gue," ucap Salsa sambil tertawa.


"Loh, kenapa?" tanya Hani bingung.


"Andri sama Chika baru sebulan lalu putus." Barsena menjawab pertanyaan Hani.


Chika mendelik kesal saat mendengar nama Andri di sebut.


"Hai, Bro. Selamat ya, buat pertunangan lo. Doain gue cepet nyusul, lah!" Andri yang baru datang langsung memberikan pelukan selamat pada Barsena dan Salsa.


Tanpa sengaja Andri menyenggol Chika yang tengah mengobrol dengan Hani.


"Aduh, kalau jalan tuh lihat-lihat! Gak lihat apa, gue dari tadi berdiri di sini!" teriak Chika kesal.


"Sorry!" ucap Andri singkat lalu meninggalkan Chika menuju meja penuh makanan.


"Aku gak salah lihat, kan? Yang barusan itu Andri? Kenapa jadi kalem gitu? Dia gak salah minum obat, kan? Kayaknya dulu dia paling heboh banget?" Sambil tertawa Hani mencecar Chika dengan pertanyaan, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Nyebelin banget, kan? Muka kayak sendal jepit aja pura-pura keren!" Chika bergidik kesal.


Hani dan yang lainnya hanya tertawa melihat Chika. Seperti dua tahun lalu kelakuan Andri dan Chika selalu menimbulkan tawa karena kekonyolannya.


"Kuliah kamu gimana, Han?" tanya Barsena.


"Lancar, tapi ya gitu lah pusing!" jawab Hani sambil tertawa.


"Aku gak nyangka kamu bakal ambil kedokteran. Aku pikir kamu bakal ambil bisnis, karena bunda minta kamu belajar bisnis," ucap Barsena.


"Aku juga gak nyangka," ucap Hani sambil tersenyum lembut.


"Nanti mau ambil spesialis apa?" tanya Barsena penasaran.


"Lihat nanti aja, yang sekarang aja aku belum lulus." Hani tertawa menjawab pertanyaan Barsena.


"Aku mau ambil spesialis jantung, Barsena," batin Hani.

__ADS_1


***


"Aku pulang duluan, ya. Bunda udah nungguin di rumah." Hani berpamitan pada yang lainnya.


Hani fokus mengemudikan mobilnya, dan berhenti di sebuah salon.


"Sekarang kenapa lagi?"


"Aku rindu," lirih Hani.


Pegawai salon rambut itu hanya menghela nafas panjang mendengar jawaban Hani. Pegawai itu bahkan sudah kenal dekat dengan Hani saking seringnya Hani datang ke tempatnya bekerja. Sudah sejak dua tahun lalu, Hani datang untuk memotong sedikit demi sedikit rambut panjangnya.


Awalnya pegawai itu merasa aneh dengan permintaan aneh Hani yang meminta memotong sedikit ujung rambutnya. Dahulu hampir setiap hari Hani datang ke salon rambut itu dengan permintaan yang sama hingga rambutnya benar-benar pendek.


"Kamu tahu gak? Kamu tuh satu-satunya pelanggan aneh yang dateng ke sini. Cuma potong sedikit doang, tapi kamu bayar full, buang-buang uang!" gerutu pegawai itu sambil memotong sedikit rambut Hani seperti biasanya.


"Lihat! Rambut kamu udah pendek banget kaya gini! Move on, lah! Udah dua tahun loh ini."


Hani hanya tertawa mendengar pegawai itu terus menggerutu kesal.


"Udah beres. Sana pulang! Awas kalau kamu datang lagi ke sini!" omel pegawai itu.


Hani tertawa melihat ekspresi lucu pegawai itu saat mengomel. Kalimat itu sudah Hani dengar selama dua tahun setiap Hani datang untuk memotong rambut.


Hani melambaikan tangan lalu keluar dari salon rambut itu.


"Awas kalau datang lagi ke sini! Aku gak bakal terima kamu!" teriak pegawai itu sambil tersenyum.


"Laki-laki kayak gimana yang bikin kamu potong rambut tiap kamu rindu?"


"Cinta itu memang sulit. Untung aku jomblo," gumam pegawai itu sambil menggeleng.


***


Hani melihat bayangan dirinya di kaca spion mobilnya, dia merapikan rambutnya yang kini benar-benar pendek.


Hani menyalakan mesin mobilnya, saat dia menatap lurus ke depan hendak melajukan mobilnya dia melihat sosok yang selama ini dia rindukan berdiri jauh di depan mobilnya.


Tanpa sadar air mata Hani menetes tanpa diundang.


"Serindu ini aku sama kamu, Diaz. Aku bahkan sekarang sering berhalusinasi tentang kamu," gumam Hani sambil menghapus air matanya.


Hani menatap sosok itu lama sekali. Walaupun dia menganggap itu hanya halusinasi, dia ingin memuaskan rasa rindunya dengan menatap sosok itu sepuasnya. Sosok itu tetap berdiri di sana dan tetap menatap Hani yang berada dalam mobil bahkan sekarang terlihat tersenyum lembut ke arah Hani. Mereka sekarang saling menatap satu sama lain.


Walaupun dari jarak yang lumayan jauh, Hani dengan jelas bisa melihat senyum itu. Dengan tergesa Hani membuka kembali pintu mobilnya, dan langsung berlari ke arah sosok itu.


Hani langsung memeluk sosok itu tanpa peduli jika seandainya itu benar hanya ilusi.


Tangisan Hani langsung pecah saat memeluk sosok itu. Dia meraung keras sekali. Tangisannya lebih pilu dari tangisan yang dulu-dulu.


"Aku rindu!" raung Hani.


Perlahan sosok itu menggerakan tangannya memeluk Hani. Makin lama pelukannya makin erat mendekap Hani seolah tak akan melepaskannya lagi.


"Aku juga rindu." Sosok itu akhirnya membuka suara.


Walaupun sudah lama Hani tak mendengar suara ini, Hani bisa langsung mengenali suara ini adalah milik sosok yang selama ini dia rindukan. Sosok yang selama ini membuat dirinya berantakan. Sosok yang menjadi alasan rambutnya dipotong sedikit demi sedikit hingga menjadi sependek ini.


Dia Ichal. Ichal kembali setelah dua tahun lamanya menghilang dari jangkauan semua orang.


Hani makin mengeratkan pelukannya begitupun Ichal. Mereka berdua tenggelam dalam luapan rindu masing-masing. Tangisan Hani terus terdengar seolah musik yang sengaja diputar untuk mengiringi luapan rindu itu.


***


Kini Ichal dan Hani duduk di bangku taman. Hanya keheningan yang mengelilingi mereka. Hani dan Ichal tampak canggung sekali setelah lama tak bertemu. Padahal tadi Hani menangis di pelukan Ichal, tapi sekarang dia sampai tak berani melihat Ichal saking canggungnya.

__ADS_1


"Apa kabar?" Ichal membuka suara setelah keheningan yang mengelilingi mereka berdua. Ichal menatap Hani yang tertunduk.


"Ba–baik," jawab Hani gagap.


"Aku rindu, Han." Ichal meraih tangan Hani dan menggenggamnya erat sekali.


Hani langsung melepaskan genggaman tangan Ichal. Hal itu membuat Ichal tersentak kaget.


"Kenapa, Han? Kamu gak rindu sama aku?" lirih Ichal.


Hani mengangkat kepalanya lalu menatap Ichal tajam.


"Dua tahun, Diaz! Selama itu kamu gak ada kabar. Kamu udah gak peduli lagi gimana perasaan aku?" teriak Hani. Tanpa sadar air matanya kembali menetes.


"Kamu orang paling jahat yang pernah aku kenal. Kamu gak peduli gimana khawatirnya aku di sini nunggu kabar kamu? Setiap detik aku nunggu kabar kamu.


"Kamu tahu? Setiap detik aku bertanya dalam hati, apa operasi kamu lancar? Apa kamu baik-baik aja di sana? Jangan-jangan operasi kamu gak lancar? Jangan-jangan kamu meninggal di sana? Aku benci setiap aku mikir kaya gitu.


"Aku gak tahu harus ngapain setiap aku rindu sama kamu, yang bisa aku lakukan cuma potong rambut setiap hati aku sesak karena rindu sama kamu." Hani kembali menangis dengan tersedu-sedu.


Ichal menghapus air mata Hani yang membanjir di pipinya. Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Hani, Ichal langsung mendekap Hani kembali ke pelukannya.


"Jadi itu alesan rambut kamu jadi sependek ini, Han?" bisik Ichal dengan suara bergetar sambil tetap mendekap Hani di pelukannya.


Hani hanya mengangguk pelan di pelukan Ichal.


"Maafin aku, Han. Maafin aku yang butuh waktu lama buat kembali," bisik Ichal.


Sebenarnya saat operasi itu dilakukan terjadi masalah hingga Ichal hampir kehilangan nyawanya dan terbaring kritis dalam waktu yang cukup lama. Sebelum operasi dilakukan, Ichal sempat meminta pada ayah dan ibunya jika operasinya tidak berjalan sesuai rencana maka jangan memberi kabar apapun pada teman-temannya terutama pada Hani.


Walaupun bingung kedua orangtuanya tak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan Ichal. Itulah akhirnya sampai tak ada kabar apapun dari Ichal.


Baru sekitar seminggu yang lalu Ichal benar-benar pulih setelah perawatan yang sangat panjang dan hari ini dia memutuskan untuk segera kembali. Ichal sudah tidak bisa lagi menahan rasa rindunya yang sudah lama tertahan. Bahkan saat dia terbangun setelah melewati masa kritis nama pertama yang dia sebut adalah Hani.


Kini Ichal dan Hani kembali bertemu setelah sekian lama.


***


Di atas pasir putih dan suara deburan ombak serta desiran angin yang menenangkan, Hani berlari dengan tawa ceria. Sementara itu Ichal mengikuti Hani sambil tersenyum. Dia tak menjauhkan sedikitpun pandangannya dari Hani. Seolah pandangannya sudah terkunci selamanya untuk Hani.


Hani berlari ke arah Ichal lalu melompat memeluk Ichal. Suara tawa mereka terdengar di antara deburan ombak. Ichal berjanji pada dirinya sendiri, dia tak akan pernah meninggalkan Hani lagi sampai maut yang akhirnya memisahkan.


"Dan pada akhirnya, cewek aneh itu menjadi milikku."


Tamat.


.


.


.


Dari aku, si pemalas :


Hai teman-teman yang setia mengikuti dan menunggu cerita ini dari awal. Aku mengucapkan banyak terima kasih, pada kalian semua. Walaupun hanya beberapa orang yang membaca cerita ini, tapi aku benar-benar berterima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam.


Setelah melewati proses yang panjang akhirnya aku berhasil juga menyelesaikan cerita ini sesuai dengan apa yang aku mau dan sesuai dengan konsep dan jalan cerita yang aku mau dari awal.


Ada satu orang yang sering mendukungku untuk melanjutkan cerita melalui komentar yang sering ditinggalkan atau melalui pesan pribadi, aku banyak-banyak berterima kasih padamu. Walaupun waktu yang kubutuhkan lama sekali, tapi kamu selalu menungguku melanjutkan cerita. Kita sama sekali tidak saling mengenal, tapi kamu terus mendukungnya. Thank you so much:*


Aku menulis cerita ini dari yang awalnya benar-benar berantakan, hingga sedikit demi sedikit mulai belajar memperbaiki aturan penulisannya.


Mungkin selanjutnya aku akan merevisi dari awal hingga tulisan ini menjadi lebih rapi dan tak membuat sakit mata yang membaca cerita ini. Karena kalau boleh jujur rasanya aku ingin menangis saat melihat naskahku yang di awal, itu benar-benar membuat sakit mata, maafkan aku teman-teman.


Selanjutnya tetap dukung aku, ya. Terima kasih.

__ADS_1


Ikuti instagramku : @ieusugir


__ADS_2