
Barsena bergegas menuju kelas, dia ingin memastikan kalau Hani mungkin ada di kelas namun ternyata nihil. Di kelas dia hanya mendapati kerumunan orang-orang yang juga sedang melihat video konferensi pers Srindra.
"Ada yang lihat, Hani gak?" tanya Barsena.
Namun semuanya mengaku tidak melihat Hani. Barsena kembali bergegas meninggalkan kelas, baginya dia tidak memiliki waktu banyak saat kemungkinan Hani dalam bahaya.
"Barsena!" teriak Andri.
Barsena menoleh, terlihat Andri berlari ke arahnya dengan nafas tersenggal.
"Ichal di mana?" tanyanya dengan nafas tersenggal.
"Ichal di rumah sakit, tadi dia pingsan!" jawab Barsena.
"Pingsan?! Dia kenapa lagi?" cecar Andri.
"Mending lo lihat sendiri aja, gue gak punya banyak waktu. Hani dalam bahaya!" ujarnya langsung berlari meninggalkan Andri.
"Hani pacaranya Ichal! Yang ternyata pewaris tunggal semua perusahaan termasuk sekolahaan ini sama sekolahnya yang dulu?! Woy, Barsena gue belum selesai nanya!" teriak Andri pada Barsena yang sudah hanya terlihat punggungnya saja.
"Waduh, konspirasi nih!" gumam Andri.
"Btw, Si Salsa ke mana ya?" gumamnya lagi.
"Andriiiiiiii! Lo lihat Salsa gak?" Chika berteriak dengan nafas tersenggal pula.
"Lo nanya sama gue? Biasanya juga lo yang selalu nempel sama dia kaya prangko," jawab Andri.
"Gue serius Andri, jangan bercanda! Salsa dari tadi gak ada, gue takut dia ngelakuin aneh-aneh atau terjadi sesuatu sama dia!" pekik Salsa cemas.
"Bener juga sih, tapi gue serius gak tahu Salsa di mana!"
"Aduh, gimana nih? Pasti Salsa sembunyi karena takut bullyan anak-anak!" cemas Chika.
"Ayo dong bantu gue cari Salsa!"
"Oke, ayo!" seru Andri.
Mereka terus mencari hampir ke seluruh penjuru sekolah namun tak kunjung menemukan sosok Salsa juga.
"Lihat Salsa gak?" Andri bertanya pada beberapa orang yang sedang berkerumun dan bergosip.
"Ngapain kalian cari nenek sihir itu? Udah mat* kali karena terlalu malu buat jatuh miskin!" hardik salah satu orang lalu diiringi tawa dari yang lainnya.
"Maksud lo apa br*ngs*k?!" murka Chika.
Chika menarik kerah orang itu dan nyaris melayangkan tinju pada wajah orang itu.
"Sabar, Chika! Ayo cari Salsa lagi!" Andri mencoba melerai Chika yang terlalu murka.
"Jaga omongan kalian! Jangan asal jeplak aja kalau ngomong!" ucap Andri.
"Halah! Nenek sihir juga gak pernah ngomong baik-baik sama kita, ngapain kita ngomong baik-baik sama dia!" seru orang itu lagi.
"Diam b*ngs*t!" umpat Chika.
Andri langsung menarik tangan Chika mencoba menjauhkan Chika dari mereka.
"Lepasin, Andri!" bentak Chika.
"Lo tenang dulu Chika! Kita harus fokus cari Salsa!" ucap Andri.
Andri dan Chika menjelajah seluruh area sekolah untuk mencari Salsa. Chika juga mencoba menelepon Salsa namun nihil, Salsa sama sekali tidak mengangkat panggilan teleponnya yang sudah nyaris ratusan.
Begitupun dengan Barsena yang kini sudah melajukan mobilnya dengan kencang, berulang kali dia mencoba menelepon Hani namun nihil tak ada jawaban sama sekali bahkan sekarang ponsel Hani malah tidak aktif. Sudah ratusan panggilan yang Barsena lakukan namun tetap tak ada jawaban.
Mobilnya berhenti tepat di depan rumah Hani, dari luar gerbang yang terkunci dia melihat rumah itu nampak kosong. Beberapa kali Barsena meneriakan nama Hani namun tak ada jawaban.
"Kamu di mana, Han?" batin Barsena.
Dia kembali melajukan mobilnya dengan sangat kencang pula dan berhenti tepat di depan rumahnya.
"Baron! Keluar kau!" teriak Barsena.
Padahal dia masih sadar kalau Baron adalah ayahnya sendiri. Namun, karena amarah yang menguasai dirinya Barsena meneriakan nama ayahnya sendiri dengan penuh amarah.
"Kak, kenapa Kak? Kenapa panggil, Ayah kayak gitu?"
__ADS_1
Kira yang mendengar itu langsung mencecar Barsena karena itu dianggap sangat tidak wajar.
"Ayah mana?" tanya Barsena.
Dia masih tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Entahlah Barsena langsung menyangka ayahnya lah yang menculik Hani, karena memang Baron sudah sering memakan uang dari Surya Pratama. Maka bukan hal yang mustahil kalau Surya memerintahkan ayahnya untuk menculik Hani, karena Hani merupakan pewaris tunggal dari perusahaan yang sekarang Surya rebut.
"Ayah belum pulang, Kak. Ada apa ini?"
Rona wajah cemas tak bisa disembunyikan dari wajah gadis kecil yang dipaksa dewasa sebelum waktunya itu.
"Nanti kakak jelaskan! Kamu jaga diri ya! Kunci pintu! Kakak ada urusan mendesak!"
"Ta--tapi, Kakak mau ke man--,"
Belum sempat Kira menyelesaikan kalimatnya, Barsena sudah menghilang. Dia kembali berlari menuju mobilnya.
"Kemana gue harus cari Hani?"
Barsena berkali-kali memukul setir mobil dengan cukup keras. Perasaan antara cemas dan juga amarah tak bisa dia sembunyikan.
Di tengah perasaan kalang kabut yang menerpanya, ponselnya berdering. Di melihat nama 'Ichal' tertulis di sana.
"Kenapa, Chal?"
"..."
"Lo 'kan belum sehat. Gue gak bisa ajak lo!"
"..."
"Tadi aja lo hampir mat* depan gue! Gue gak mau kalau kejadian itu kembali terulang!"
"..."
"Haaaaah." Barsena menghela nafas panjang mendengar ucapan Ichal di seberang sana.
"Oke, gue ke rumah sakit jemput lo!"
Barsena langsung memutus sambungan telepon.
Dia lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Ichal dirawat.
***
Beberapa saat lalu ...
Ichal berhasil melewati masa kritisnya dan berhasil siuman. Saat siuman dia langsung menanyakan Hani pada kedua orangtuanya, namun Edi dan Tamara tak mengetahui keberadaan Hani. Dengan satu jawaban dari kedua orangtuanya, Ichal bisa langsung mengetahui bahwa Hani masih belum ditemukan. Barsena belum berhasil menemukan Hani, dan Ichal yakin kalau sekarang Hani sedang dalam bahaya.
"Mah," panggil Ichal.
"Iya, kenapa, Sayang?"
"Ponsel aku mana?"
Tamara mencari ponsel Ichal di tumpukan seragam sekolahnya.
"Ini, Sayang!"
Ichal menekan nomor lalu beberapa saat menunggu jawaban dari seberang sana.
[Kenapa, Chal?]
"Gue harus ikut lo cari Hani!" jawab Ichal
[Lo 'kan belum sehat. Gue gak bisa ajak lo!]
"Sekarang gue udah gak papa!"
[Tadi aja lo hampir mat* depan gue! Gue gak mau kalau kejadian itu kembali terulang!]
"Hani masih pacar gue! Banyak yang harus gue jelasin sama Hani, gue terlalu banyak salah sama Hani! Gue harus ikut cari Hani!"
[Haaaaah.]
[Oke, gue ke rumah sakit jemput lo!]
***
__ADS_1
Barsena menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah sakit tempat Ichal dirawat. Dia turun dan menuju kamar tempat Ichal.
"Kamu mau ke mana Chal? Kamu masih sakit, Nak!"
Langkah Barsena terhenti di depan pintu saat mendengar suara Tamara yang mencoba menahan Ichal untuk pergi.
"Hani dalam bahaya, Mah!"
Suara lemah Ichal terdengar menggema di ruangan sepi itu.
"Tetap saja, Chal kamu masih belum siap. Kondisimu belum sehat!"
Kali ini Edi membuka suara mencoba menahan anaknya. Kondisi Ichal sekarang benar-benar sangat berbahaya untuk keluar dari rumah sakit. Karena serangannya bisa terjadi kapan saja apalagi sekarang kondisinya benar-benar lemah.
"Mamah sama Papah, doain Ichal. Ichal pasti bisa pulang dengan selamat sama Hani juga," ucap Ichal.
Tamara berhambur memeluk Ichal dengan isak tangis, begitupun Edi memeluk Ichal dan Tamara.
"Baiklah, Papah ijinkan kamu. Tapi kamu harus janji, pulanglah dengan selamat." Edi menepuk pundak Ichal mencoba menyemangati.
"Papah sama Mamah bakal buat alasan pada dokter Rizky. Karena sudah pasti dia tidak akan mengijinkan kamu pergi!" ucap Tamara.
Barsena masih mematung di depan pintu, tanpa sadar air matanya jatuh.
"Gue yakin lo emang orang yang tepat untuk Hani, Chal!" batin Ichal.
Ichal mengganti baju pasiennya dengan baju seragam yang tadi di pakainya.
Ichal membuka pintu dan melihat Barsena yang sedari tadi sudah berdiri di sana.
"Oh, udah di sini?"
Barsena mengangguk. "Udah siap?" tanyanya.
"Mah, Pah, Ichal sama Barsena pamit." Ucap Ichal lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya begitupun dengan Barsena.
"Mamah takut terjadi sesuatu sama mereka, Pah!"
Tamara menangis di pelukan Edi saat melepas kepergian anaknya.
"Mamah tenang. Doain mereka, Papah juga gak akan tingal diam!" ucap Edi.
***
"Kita ke mana dulu?" tanya Barsena.
Ichal terdiam lama sekali, wajah pucatnya terlihat kusut sekali. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan, hingga wajah tampannya menjadi pucat dan kusut sekali.
"Bunda udah tahu kalau Hani diculik?" tanya Barsena.
"Belum," jawab Ichal lemah.
"Kita harus ketemu Bunda dulu, kita harus bilang ini! Hani dalam bahaya," ucap Barsena.
"Kenapa Bunda harus tahu? Bukannya kita melibatkan Bunda hanya untuk masalah Laras?"
"Hani itu adiknya Laras, Chal. Hani dan Laras itu anak adiknya Bunda." jawab Barsena dengan suara bergetar.
"Maksud lo?!"
"Lo lihat aja konferensi pers Bunda tadi siang, semuanya udah jelas,"
Ichal langsung merogoh ponselnya dan melihat video yang Barsena maksudkan, matanya membulat tangannya bergetar.
"Jadi ada kemungkinan semua ini ulah orang-orang yang mau Hani celaka? Orang-orang yang terancam karena keberadaan Hani?!"
Ichal tak bisa menyembunyikan amarahnya. Dalam pikirannya hanya Hani sedang dalam bahaya.
"Gue yakin, Ayah gue juga terlibat dalam semua praktik kotor ini," lirih Barsena.
Ichal menepuk pundak Barsena. Dia tahu betul ini benar-benar pilihan sulit, di sisi lain dia harus menyelamatkan Hani namun di sisi lain sejahat apapun Baron tetaplah ayah kandungnya.
"Jadi sekarang kita harus kasih tahu Bunda, ini semua terlalu beresiko. Ayah gue punya anak buah preman yang kuat, kondisi kita kurang menguntungkan kalau harus pergi berdua," ungkap Barsena.
Ichal mengangguk menyetujui apa yang Barsena katakan. Barsena langsung melajukan mobilnya dengan kencang menuju alamat yang sesuai dengan arahan Ichal.
Hingga sampailah mereka di depan kediaman Srindra yang nampak dijaga dengan ketat. Memang setelah konferesi pers tadi siang, penjagaan di rumah ini semakin diperketat. Ini semua di bawah perintah Ardi si orang kepercayaan Srindra.
__ADS_1